
ke esokan harinya karena harus melakukan terapi Qanaya terpaksa meninggalkan Gea sendiri bersama dengan seorang suster.
Namun karna ada sedikit urusan penting Suster itu juga keluar meninggalkan Gea sendiri di sana.
Hingga seseorang masuk tak berapa lama setelah nya,ia melangkah ke tempat tidur Gea yang masih setia berbaring dengan tak sadarkan diri, namun ia tak melakukan apa hanya menatap wajah Gea dengan begitu lekat.
Ia kemudian menjulurkan tangannya untuk menyentuh tangan Gea memastikan sekali lagi kalau ia memang bisa menyentuh gadis itu.
hampir tak percaya ia masih bisa menyentuh nya dengan begitu saja, jantung nya berdegup begitu cepat ia kemudian menggenggam tangan Gea dengan begitu penuh perasaan memejam kan matanya hingga sebuah keajaiban tiba-tiba terjadi tangan Gea tiba-tiba bergerak dan menggenggam tangan nya juga dengan erat.
hal itu tentu saja membuat pria tampan yang tak lain adalah Gerald itu terkejut dan langsung membuka matanya dan melihat tangan Gea yang menggenggam nya.
"jangan tinggalkan aku sendiri lagi"ucap Gea dengan lirih namun sebenarnya ia masih belum sadarkan diri.
Gerald semakin di buat terkejut mendengar nya,"tentu saja"
"aku bahkan tidak akan pernah membiarkan mu pergi sekalipun kau ingin pergi"ucapnya dengan dingin dan datar tapi kemudian sudut bibir nya tertarik ke atas.
***
ke esokan harinya Gea akhirnya sadar,namun saat ia sadar ia tak menemukan siapapun yang berada di samping nya hal itu membuat nya sedikit kecewa.
''ku fikir ibu benar-benar berada disini menjaga ku"ucapnya dengan tersenyum merendahkan harapan nya.
Ia terus diam dengan membuka mata selama 15 menit,namun sebenarnya tatapan nya begitu kosong.
hingga beberapa saat kemudian pintu terbuka,ia tak berniat menoleh kepalanya rasanya begitu malas untuk menoleh kemanapun.
"Gea"panggil seorang pria dengan nada lembut dan penuh kasih sayang membuat Gea menoleh namun tak menampakkan ekspresi apapun.
"Paman"ucapnya.
Jonathan begitu bahagia akhirnya Gea sadar secara spontan ia memeluk Gea dengan menangis,"kau sudah sadar"tangisnya bahagia.
"paman akan panggil dokter untuk memeriksa mu"ucapnya setelah Sadar dengan apa yang dilakukan terlalu berlebihan bagi Gea.
__ADS_1
Gea tak menjawab ia hanya terus diam dengan mengangguk kan kepala nya.
"Maafkan paman yang sudah membuat mu seperti ini"ucapnya setelah selesai memanggil dokter, duduk di samping Gea dengan mata berkaca-kaca.
"paman melakukan nya demi anak paman dan aku melakukan nya untuk uang,jadi untuk apa paman minta maaf"jawabnya dengan tegas membuat Jonathan tak mampu berkata-kata ucapan Gea begitu menohok.
"uang itu untuk apa?"tanya Jonathan meskipun ia sudah tahu.
"apakah aku harus memberitahu mu?"tanyanya dengan ekspresi datar namun Jonathan tak menjawab hanya mengangguk kecil dengan dada sesak.
"...aku membutuhkan uang untuk membayar hutang orang tua ku...dan juga membayar pengobatan Ibu ku"jawabnya dengan air mata yang menggenang.
"orang tua?apa kau punya ayah?"tanya Jonathan dengan mata yang terus menahan air mata.
Gea menggelengkan kepalanya,"Aku hanya punya ibu"jawabnya dengan tatapan kosong,entah ia punya ibu atau tidak sebenarnya.
"Kemana ayah kamu?"
"Tidak tahu dan aku juga tidak mau tahu"jawabnya dengan tegas kemudian langsung menghapus air mata Nya yang mengalir.
keadaan di ruangan itu menjadi hening seketika hingga pintu terbuka membuat Jonathan menoleh melihat Qanaya masuk.
"Ibu"ucap Gea dengan begitu terkejut saat melihat siapa yang datang.
"Kak Gea sudah sadar"ucap Windi begitu senang langsung mendorong kursi roda Qanaya mendekati tempat tidur Gea.
"Qanaya"ucap Jonathan bergumam kecil.
Qanaya terdiam melihat Gea yang sekarang sudah sadar meskipun ia sangat bahagia melihat Gea Sadar namun ia tidak tahu cara mengekspresikan betapa bahagia nya ia,ya dia memang mempunyai gengsi yang begitu tinggi.
Gea juga hanya terdiam melihat sang ibu.
di dalam keheningan Jonathan memilih Keluar membiarkan meninggalkan mereka yang tampak begitu menegang kan.
Windi tahu kedua orang itu mempunyai ego yang begitu tinggi,
__ADS_1
"Kak Gea,Ibulah yang menjaga kakak di sini selama kakak di rawat, bahkan ruang rawat ibu juga di pindahkan kemari karna Ibu tidak ingin meninggalkan kakak"Jelas Windi berharap ia bisa memperbaiki hubungan Sang ibu dan kakak nya itu.
Gea Begitu tak percaya mendengar nya,ia melihat sang ibu yang masih terdiam namun ia bisa melihat tatapan sang ibu yang tidak sedingin dulu lagi bahkan begitu jelas matanya berkaca-kaca.
hingga Qanaya tak bisa menahan air matanya lagi dan membuat bulir-bulir bening mengalir di wajahnya karna tak mampu menahan nya lebih lama lagi,"maafkan ibu"ucapnya dengan terisak.
Ia menurunkan Egonya yang tinggi,"Ibu tahu,ibu sudah membuat mu sendirian selama ini kau benar kalau ibu melampiaskan kesalahan masa lalu ibu padamu"ucapnya dengan air mata tak berhenti mengalir.
"Ibu minta maaf,ibu benar-benar minta maaf"ucapnya dengan terisak-isak.
"Ibu ingin memulai nya dari awal lagi,ibu ingin menebus kesalahan ibu"ucapnya kini menatap Gea dengan bersungguh-sungguh.
Gea menangis karena begitu terharu sekaligus tidak percaya kalau sang ibu mengatakan itu.
perlahan tangan Qanaya mengusap air matanya membuat Gea semakin menangis itu adalah kali pertama sang ibu menyentuh wajah nya menghapus air matanya.
Qanaya melihat bayangan-bayangan Gea yang saat kecil menangis terisak-isak namun ia sekalipun tak pernah menghapus air matanya atau mengobati luka nya selalu membiarkan nya, mengingat itu semakin membuat nya merasa bersalah begitu kejam nya ia.
"Ibu"ucap Gea dengan bibir bergetar kemudian langsung duduk dan memeluk Qanaya begitu erat menangis dengan begitu bahagia.
Qanaya mengusap-usap rambut nya dengan lembut dan air mata yang tak berhenti mengalir,"maafkan ibu yang tak pernah memperdulikan mu"ucapnya terus menerus dengan Gea yang tak berhenti terisak-isak memeluk erat sang ibu.
Melih Windi menangis Qanaya menarik tangannya untuk saling berpelukan.
***
akhirnya setelah seminggu Gea di perbolehkan pulang,Ia begitu bahagia karna ibu nya memutuskan untuk tinggal di kota.
"Ibu aku sudah menelfon Tante Jihan untuk menjemput kita"ucap Gea.
"Gea katakan untuk tidak perlu menjemput kita,Karna kita tidak akan tinggal di tempat mu sebelum nya"ucapnya memberi pengertian pada Gea.
"Kenapa bu?bukankah Tante Jihan mengatakan kalau itu adalah rumah ibu dengan nya dan kalian adalah sahabat",ucap Gea yang tak mengerti apapun.
"itu dulu namun sekarang tidak lagi,Ibu sudah mengontrak rumah tidak jauh juga dari kampus mu"ucap Qanaya dengan tersenyum.
__ADS_1
Gea tersenyum hangat ternyata seperti itu rasanya punya ibu,ia mengangguk"baiklah aku akan memberi tahu tante Jihan"ucapnya kemudian menelfon Jihan.