
"sebaiknya biarkan dia istirahat,jangan menganggu nya"ucap dokter itu meminta Jihan dan Jonathan untuk keluar.
saat semua orang keluar Gea yang masih tidak Sadarkan diri menitik kan air matanya.
"ayo pergi"ajak seseorang.
Gea yang tiba-tiba entah ada di mana menggelengkan kepalanya nya,"aku tidak mau"ucapnya.
"kenapa untuk apa lagi kau ada di dunia ini?semua nya hanya rasa sakit dan menyedihkan lalu kenapa kau tidak setuju untuk pergi ayolah"
Gea diam dan menundukkan kepalanya memang benar tak ada kebahagiaan untuk nya di dunia ini karna hal yang membuat nya bahagia setiap saat adalah ketika membayangkan dirinya sukses dan membuat sang ibu bahagia dan menyayangi nya,tapi hari ini semua impian dan harapan itu hilang sehingga kebahagiaan nya tak ada lagi.
apakah ia memang harus pergi?
Untuk apa di dunia jika tidak ada harapan dan kebahagiaan.
"cepat ayolah! lagipula kau sudah mengakhiri hubungan dengan ibu mu dia juga tidak ingin melihat mu"
Gea menangis mendengar itu,"benar untuk apa lagi aku hidup,aku sudah tak punya harapan lagi aku tak punya kebahagiaan lagi"ucapnya kemudian berdiri dan menjamah tangan yang sedari tadi menunggu tangan nya.
"bawa aku sejauh-jauhnya,aku sudah lelah aku sudah menyerah"ucapnya membuat seseorang itu tersenyum lebar dan mengangguk kemudian mulai berjalan membawa Gea untuk masuk ke sebuah cahaya yang terang.
Gea menoleh ke belakang tak ada siapapun di sana yang menahan kepergian nya,"aku di takdir kan di dunia sendiri dan aku pergi juga sendiri"ucapnya.
"Dok!!!Dokter!!!!"teriak suster yang baru saja masuk dan melihat patien monitor Gea yang terus bergerak lurus membuat suster itu panik dan takut.
dokter yang mendengar nya tanpa memikirkan apapun lagi berlari masuk,begitupun dengan Jonathan dan Jihan yang berada di luar bersama sang dokter.
Dokter itu dengan cepat mengambil alat kejut jantung dan segera menggunakan nya untuk membuat Gea tetap sadar dan bernafas.
Jihan menutup mulut menangis melihat Gea yang seperti sesak nafas panjang,"ku mohon bertahan Gea,Tante mohon"gumam nya Terus melihat dokter itu yang meletakkan alat kejut jantung itu pada Gea berulang kali bahkan alat patien monitor itu tetap saja bergerak lurus.
"Dokter lakukan yang terbaik saya mohon!!"ucap Jonathan dengan begitu panik dan takut saat melihat kondisi Gea.
Jihan tiba-tiba teringat sesuatu dan langsung berlari keluar.
__ADS_1
***
"jangan tinggalkan ibu Gea,ibu tahu kesalahan ibu jangan pergi"gumam nya dengan terisak.
"ibu kita cari kak Gea kemana? mungkin kah Gea tidak ada lagi di rumah sakit?"tanya Windi yang juga begitu khawatir.
hingga Jihan tiba-tiba muncul dengan nafas ngos-ngosan,"Qanaya"panggilnya membuat Qanaya dan Windi menoleh bersamaan.
"Windi ayo kita cari Gea"ucapnya mengalihkan pandangannya dan menyuruh Windi untuk mendorong nya pergi dari sana,ia tidak ingin melihat wajah Jihan karna itu hanya akan mengingatkan nya pengkhianatan yang di lakukan sahabat nya itu.
Jihan dengan cepat memegang kursi roda Qanaya,"Qanaya tunggu!aku tahu kau begitu membenci ku tapi bisakah kau melupakan ini sesaat dan ikut aku"ucapnya dengan begitu terburu-buru.
Qanaya sama sekali tidak mengalihkan pandangannya pada Jihan,"aku tidak ingin melihat mu!aku juga tidak ingin ikut dengan mu pergilah"gertak nya dengan tekanan penuh kebencian.
"Qanaya,Gea sedang sekarat dan dia membutuhkan mu"ucapnya membuat Qanaya begitu terkejut dan langsung melihat nya.
"apa maksud mu?"tanyanya dengan mata melotot merah.
"iya,Gea sedang sekarat sekarang dan kau harus ikut aku"ucapnya dengan air mata yang mengalir.
"bawa aku sekarang juga!!"Ucapnya dengan jantung yang berdegup kencang.
***
Bagai di Sambar petir,Jonathan begitu terkejut mendengar nya ia langsung menarik kerah dokter itu,"Aku tidak mau tahu Dia harus sembuh!!kau harus membuat nya sadar!!"ucapnya begitu marah dengan mata yang begitu merah.
"maaf tuan tapi kami sudah melakukan nya dengan sebaik mungkin tapi kami benar-benar tidak bisa menolong nya lagi"ucap dokter itu dengan rasa bersalah.
Jonathan menggelengkan kepalanya kuat dan rahang nya yang mengeras,saat melihat suster melepaskan alat oksigen dari Gea ia langsung melarang nya.
"jangan lakukan itu!!kau akan membuat nya tidak bisa bernafas"teriaknya pada dokter itu kemudian kembali memasang kan alat oksigen itu pada Gea.
"aku yakin dia masih hidup jangan coba lakukan itu pada putri ku!!"teriaknya seperti orang yang kehilangan akal.
"Papa mohon bangun nak!!"Isak nya setelah Sadar kemudian memeluk tubuh Gea yang begitu dingin.
__ADS_1
Ia memegang wajah Gea yang begitu pucat dan matanya yang tertutup rapat."Papa minta maaf nak!!", tangisnya dengan putus asa saat menyadari Gea memang tidak bernafas lagi.
Dokter dan suster itu tak bisa melakukan apapun lagi, mereka hanya menunduk.
hingga pintu terbuka membuat mereka menoleh melihat Jihan yang datang bersama dengan seorang di kursi roda dan seorang gadis.
Qanaya begitu terkejut melihat Pria paling di benci nya memeluk putrinya,tapi perasaan nya begitu tidak tenang saat melihat pria itu menangis dengan terisak-isak jantung nya tiba-tiba berdebar lebih kencang begitupun dengan Jihan.
"Dokter kenapa ini?apa Gea sudah sembuh?",tanya Jihan pada dokter itu namun Dokter itu menggeleng kepalanya.
"maaf kan kami nyonya tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin,tapi kami tidak bisa menyelematkan nya"ucap dokter itu membuat Jihan begitu tak percaya dan hanya menggeleng kan kepala nya.
Qanaya seketika membeku begitu sulit menerima Ucapan dokter itu air matanya mulai menetes darahnya yang tiba-tiba berhenti membuat nya tak bisa memikirkan apapun.
Jonathan yang belum menyadari kehadiran Qanaya masih memeluk Gea yang tak bernyawa lagi dengan terus menangis.
Windi mendorong kursi rodanya menuju Brankar Gea membuat Jonathan berbalik berfikir itu adalah Syella putrinya tapi betapa terkejut nya ia saat melihat Qanaya yang duduk di kursi roda itu.
"Qanaya"ucapnya dengan tak percaya.
namun Qanaya sama sekali tak memperhatikan nya,ia berdiri dari kursi rodanya membuat Jonathan mundur seakan membiarkan Qanaya di sisi brankar Gea.
Qanaya menutup mulut nya ia mulai terisak-isak saat melihat Gea yang tak sadar kan diri dengan alat oksigen yang di pasang secara tidak teratur wajah nya yang pucat.
ia menggelengkan kepalanya kuat dan mulai menangis pecah dan memeluk tubuh Gea yang tak bernyawa lagi,"Gea!!!!!!"teriaknya dengan hidup nya yang seperti tak bersama nya lagi,terisak-isak memanggil Gea dan menggoyangkan-goyangkan tubuh Gea berharap dia bangun,padahal baru beberapa menit yang lalu mereka berbicara.
"tidak!tidak!bangun Ge!!!jangan tinggalkan ibu Gea!!!"teriaknya dengan putus asa terus menggoyangkan tubuh Gea namun gadis dengan wajah pucat itu seperti tak mendengar nya tampak tidur dengan begitu nyenyak.
"jangan tinggalkan ibu untuk selamanya!!ibu masih ingin melihat mu!!"tangis nya dengan begitu keras.
"kau ingin mengakhiri hubungan anak dengan ku!!aku sudah setuju!bukan kah dari dulu itu yang kau inginkan!!aku setuju sekarang!! bahkan jika kau tidak ingin melihat ku!aku akan pergi sejauh mungkin sampai kau tak pernah melihat ku lagi!!"
ucapan Gea itu membuat nya menjadi semakin kehilangan akal dan menangis dengan begitu keras dan putus asa,ia menangis dengan berteriak tak sanggup.
Jihan berusaha menenangkan nya meski ia juga menangis dengan terisak-isak.
__ADS_1
Jonathan juga semakin menangis saat melihat Keputusasaan dalam tangis Qanaya,Ia semakin merasa bersalah sekaligus merasa begitu jahat.
bersambung.....