HAK PATEN MILIK MAFIA

HAK PATEN MILIK MAFIA
BAB R&V 10


__ADS_3

"Assalamualaikum tante"


waalaikum salam" jawab bunda sambil menerima salaman teman teman vio.


"kalian sudah kumpul semua, sekarang sarapan dulu, sebelum berangkat" ucap bunda vio.


"Ayo raka," ucap bunda sambil mendorong pelan raka ke ruang makan. hal itu membuat vio kesal, siapa anaknya, siapa yang di perhatikan , vio yang masih di belakang hanya bisa mengelus dadanya. melihat bundanya yang terlalu menyayangi anak orang sungguh membuat hatinya teriris. teman vio melihat ke arah vio dan bundanya yang menggandeng tangan raka. vio yang di lihat hanya pasrah


"kok dia akrab banget sama tante?" tanya sasa.


"iya vi, kok mereka terlihat dekat" ucap jesi menyetujui pertanyaan sasa. vio hanya bisa menaik turunkan bahunya.


"Vi, kamu tidak mau sarapan" teriak bundanya.


"iya bun" jawab vi. "ayo" ajaknya kepada teman vio. mereka mengikuti vio yang jalan terlebih dahulu.


sesampainya di ruang makan, vio langsung duduk di samping bundanya."Vi jangan duduk di situ," tegur bundanya.


"kenapa bun, biasanya juga vi duduk di sini"


"kamu pindah di samping raka saja, dia pacar kamu bukan" tanya bunda.


"tidak perlu bun, vi duduk di sini saja, vi sudah pw" jawab vi dengan lembut.


teman teman vio masih berdiri, belum mendudukkan diri, "vi pacar kamu pasti tidak nyaman kalau duduk di sebelah orang lain" jelas bunda. vio melihat ke arah raka yang masih setia dengan wajah datarnya yang sedang menatap dirinya. vi membalas dengan tatapan tajam ke pada raka.


raka yang di tatap vi bukan takut, tapi gemas, dan tanpa ada yang menyadari jika raka tersenyum sangat tipis.


"Ayo vi, keburu kesiangan" ucap bunda. vio dengan kesal pindah ke samping raka dengan menghentakkan kakinya, raka yang tidak melepas tatapannya pada vio, sampai vio duduk di dekatnya.


Vio menarik kursi dan duduk dengan kasar. "Ayo kalian duduk" ucap bunda  pada teman vio. "iya tante" jawab sasa dan mereka dengan senyuman dan anggukan kepala.


Bunda membuka piring yang sudah di siapkan dan mengambil nasi juga lauk pauknya, begitu juga dengan vio. " ayo ambil sendiri, jangan malu malu, anggap saja rumah sendiri" ujar vio pada temannya.


"ya" jawab rana yang duduk di sebelah vio. mereka mengambil makanan yang di sediakan oleh bunda vio. sebelum makan vio membaca doa, dan memakan nasi yang sudah ada di sendok. dan itu tidak lepas dari tatapan raka.


"loh, raka kok gak makan?" tanya bunda yang melihat raka hanya menyilangkan tangannya sambil menoleh melihat bunda vio. "vi, ambilkan makanan raka, kok kamu makan sendiri sih" ucap bunda vio.


"dia punya tangan bunda, mungkin saja dia kenyang iya kan" tanya vio pada raka. "tidak" jawab raka yang menoleh ke arah vio.


"tuh, ambilin vi, dia malu sama teman kamu mungkin" ucap bunda.


"bunda, dia cowok bukan cewek yang pemalu" jawab vi kesal.


"Violeta" panggil bunda. vio menghembuskan napas kasar dan membuka piring raka lalu mengambilkan nasi, dengan kesal. raka tersenyum tipis, dia serasa di layani oleh istrinya. "cukup" ucap raka, saat melihat vi mengambil satu centong nasi.


"kalau makan yang banyak, sebentar lagi kita kan perjalanan jauh, ya gak bun" ucap vi dengan sok manis. vi tersenyum jail, dan menambah satu centong nasi lagi. "mampus aku kerjain" batin vio.


"iya" jawab bunda denga senyum manis.


"lauknya pakai apa?" tanya vi pada raka.


''ikan laut, sama sayur" jawab raka. dengan cekatan vi mengambil laut dan sayurnya. "nih, makan yang banyak" ujar vi. raka menerima dengan senang dan tersenyum tipis.


pergerakan vi tidak lepas dari teman temannya,. setelah beberapa menit, vi sudah menyelesaikan makanannya . Vio mengambil air putih yang berada di samping piring, vi meneguk air itu hingga tinggal setengah.

__ADS_1


"Alhamdulillah" ucap vi setelah makan. vio melihat ke arah raka yang masih makan, terlihat dari wajahnya kalau raka sudah kenyang, dan dia berusaha menghabiskan makanan yang ada di piring..


"habiskan tinggal satu sendok lagi," ucap vi pada raka. raka menatap tajam gadisnya yang sudah mengerjainya.. tatapan raka tak membuat vi takut melainkan bahagia, kapan lagi ngerjain singa.


"raka mau tambah" tawar bunda. vi melihat ke arah bundanya semangat. "oh mau tambah, sini vi ambilin" ujar vi sambil mengambil tempat nasi dan mendekatkan ke raka. raka menatap tajam vio. "tidak, aku sudah kenyang sayang" ucap raka.


"wow, vi kenapa wajah kamu merah?" tanya bunda pura pura tidak tahu.


raka menatap dengan kemenangan, melihat wajah gadisnya yang memerah, "apaan sih bunda, mana ada wajah vi merah" ucap vi menutupi kegugupannya.


"iya, vi wajah kamu merah" ujar rana.


vi membulatkan matanya menatap rana, rana yang sadar dengan tatapan vi langsung cengengesan. "ayo kita berangkat" ujar vi mengalihkan pembicaraan.


"raka menatap vi sambil minum air putih sampai tinggal setengah, lalu ikut bangkit menyusul gadisnya yang jalan terlebih dahulu ke ruang tamu.


"bun vi pamit ya, bunda hati hati" pesan vi


"iya, kamu juga jaga diri, jangan ceroboh" ujar bunda. vio menganggukkan kepalanya, sambil mencium punggung tangan bundanya.


tas vio sudah di masukkan sama raka, "bun, raka pamit" ujar raka yang berdiri di samping vio.


"iya hati hati di jalan, bunda titip vio ya" ujar bunda pada raka.


"iya bun' raka mencium tangan bunda. begitu juga dengan temannya yang ijin pamit.


''kita berangkat ya bun, assalamualaikum'' ucap mereka.


"waalaikum salam," jawab bunda sambil melambaikan tangannya saat mobil sudah jalan meninggalkan rumah vio.


perjalan yang akan kita tempuh sekitar tiga jam, dan sekarang belum dapat dua jam mereka semua tidur, tapi tidak dengan raka, yang setia menatap gadisnya, dengan perhatian raka menyenderkan kepala vio ke bahunya, vio grusuk grusuk mencari posisi yang enak. dengan tangan yang memeluk raka, kepala yang bersandar pada dada raka. raka tersenyum saat melihat gadisnya nyaman berada dalam pelukannya, raka mengusap kepala vio ketika vio merasa tidak nyaman akibat jalan yang kurang rata.


Raka menutup mulutnya yang mulai menguap. raka mencari posisi yang nyaman untuk tidur dengan pelan takut gadisnya terganggu. raka menyandarkan kepalanya di atas kepala vio, dan mulai menyusul sang kekasih ke alam mimpi.


******


Huaaam jesi menutup mulutnya yang menguap. dengan pelan dia menggerakkan ototnya yang kaku. tidur di mobil sangat melelahkan apa lagi selama ini. jesi melihat jeslin yang masih tidur bersandar pada tasnya. jesi melihat jam tangan toska yang melingkar di pergelangan tangan.


"huuuamm, jam 8" gumannya sambil menutup mulutnya yang menguap kembali. jesi melihat ke arah luar jendela mencari tahu mereka sudah sampai di mana. karena tidak tahu, jesi setengah berdiri inginn bertanya pada supir.


Niatnya ingin bertanya tidak di lakukan ketika melihat temannya tidur di pelukan kekasihnya, dengan syok jesi kembali duduk dan segera membangunkan jeslin.


"jes, bangun" bisik jesi, sambil menggoyang jesi.


"apa an sih jes" guman jeslin yang masih belum sadar.


"suut, jangan berisik, bangun coba kamu liat vio" ujar jesi pelan.


jeslin membuka matanya sedikit dan membenarkan posisi duduknya." kenapa sih?" kesal jeslin


jesi memberi aba aba ke pada jeslin agar tidak berisik." kamu liat vio" perintah jesi.


jeslin yang kepo, karena bestienya ini terlihat serius. jeslin berdiri setengah duduk melihat ke arah vio. jeslin menutup mulutnya dan kembali duduk dengan pelan. jeslin melihat ke arah jesi dengan tatapan kaget.


"vio sama raka berpelukan" bisik jeslin. yang di anggukin oleh jesi. " enak banget ya kalau punya cowok" ujar jeslin merasa iri pada vio.

__ADS_1


"kita foto yuk, nanti kasih tahu vio gimana?" usul jesi


"setuju, buruan" jawab jeslin.


"kok aku?"


"terus, siapa? aku? gak bisa, aku lurus mereka, kalau kamu kan bisa." jawab jeslin.


jesi berdiri setengah duduk, dan mengambil ponselnya. ponsel jesi di arahin ke vio dengan raka " jes gak jelas, gimana dong?" tanya jesi, yang sudah kembali duduk dengan menunjukkan hasil jebretannya.


"pakai tongsis coba" usul jeslin.


"boleh juga" jesi mengambil tongsisnya dan meletakkan ponselnya ke benda itu, jesi menarik tongsis dan menyodorkan ke depan, pas ke arah vio dan raka.


"buruan, keburu bangun " ujar jeslin.


"bentar, ini masih di pasin"


jesi menekan tombol yang berada di tongkat itu beberapa kali, ketika sudah puas, jesi menarik tongkatnya ke belakang, dan melihat hasil jebret tannya dengan jeslin.


"good" comen jesin melihat hasil foto yang jesi ambil. jesi tersenyum puas.


huaam jesi dan jeslin melihat ke depan dengan sembunyi sembunyi ketika mendengar vio menguap, dan sepertinya terbangun. jesi dan jeslin langsung pura pura tidur.


Vio menutup mulutnya yang menguap, masih dengan mata terpejam. "kok nyaman banget ya" batin vio.


Vio yang mencium aroma yang sangat dia kenali, langsung membuka mata, dan yap. vio melihat jika dirinya sedang berada di pelukan raka. "Astagfirullahal adzim "ucap vio pelan. vio mengangkat kepalanya yang berat. "duh gimana ini" batin vio, berusaha melepaskan pelukan raka kepadanya.


vio melihat ke depan, ke arah temannya yang masih tertidur, vio membangunkan raka pelan dengan memukul dadanya.


raka yang merasa terganggu dengan pergerakan, mengangkat kepalanya yang berada di atas kepala vio. raka menutup mulutnya yang menguap dengan tangan yang memeluk vio.


vio yang merasa kepalanya gak berat, langsung menoleh ke raka. "lepasin" ujar vio pelan takut temannya bangun. gak lucu kalau dia nanti jadi bahan bulliyan.


dengan sengaja raka mengeratkan pelukannya ke vio membuat vio tambah kesal dibuatnya. "lepas rak, dosa, " ucap vio sambil mencubit tangan raka.


"sebentar saja" ujar raka.


"sebentar apanya, dari tadi loh kamu peluk aku" ucap vio masih dengan nada berbisik. dan jangan lupa tangannya yang terus mencubit lengan raka..


"lepas atau aku tidak akan berbicara padamu" ancam vio, membuat raka melepas pelukannya. vio menjauhkan dirinya dari raka, dan merapikan hijabnya yang sedikit berantakan.


Sebenarnya bukan raka takut ancaman gadisnya, tapi tidak tega, karena suaranya seperti akan menangis.


vio langsung melihatke adaan temannya, di lihat mereka masih tidur, vio menghembuskan napas lega.


"jangan di ulangi raka, kamu membuat aku tambah banyak dosa" vio mengingatkan raka. vio mulai terdiam menatap jalan sambil hati ber istigfar ke pada Allah.


"mau gak dosa?" tanya raka. "kita nikah" ucapnya santai


Vio membulatkan matanya dan memukul lengan raka "gak usah asal kamu bicara"


Raka menahan tangan vio yang memukulnya bertubi tubi." aku tidak asal, jika kamu siap, sekarang aku siap melamarmu" jawab raka serius.


"lepas" perintah vio. raka melepaskan tangannya yang menahan tangan vio.. vio menarik tangannya dengan wajah yang di tekuk kesal.

__ADS_1


__ADS_2