HAK PATEN MILIK MAFIA

HAK PATEN MILIK MAFIA
BAB R&V 29


__ADS_3

HAPPY READING READER'S


*****


Selesai makan siang vio dan bunda duduk di ruang tengah, membuka kardus belanjaan vio. vio duduk di karpet bulu dan menghidupkan televisi.


"Vi, bunda minta tolong ambil gunting " ucap bunda sambil mendorong kardus besar itu ke ruang tengah.


vio langsung beranjak ke dapur untuk mengambil gunting, "ini bun" ujar vio


bunda menyenderkan tubuhnya ke sofa, untuk mengatur napasnya yang tidak beraturan, vio meletakkan guntingnya di sofa belakang bundad.


"pindahkan meja ini ke sana" ucap bunda ngos ngosan, sambil menunjuk ke arah dinding.


vio mengangkat meja ke arah yang di tunjuk bundanya. "sudah bun" ujar vio sambil duduk di samping bundanya.


bunda menarik kardus itu dan meletakkan di depannya dengan bantuan vio. bunda mengambil gunting dan membuka kardus hasil belanjanya putri semata wayangnya ini. dan


JREENG bunda vio membulatkan matanya, dan melihat ke arah vio yang cengengesan menunjukkan gigi putihnya.


"vio, ini banyak sekali" ujar bunda vio, yang melihat isi kardus pertama yang di buka isinya kebutuhan rumah, seperti sabun mandi, pasta gigi, sikat gigi, sabun cuci baju, sabun cuci piring, sabun pembersih lantai dan banyak lagi.


"ini kamu mau jualan?" tanya bunda vio


"ya gak papa bunda, jadi bunda tidak perlu beli beli lagi" balas vio cengengesan


bunda vio menggelengkan kepalanya. "ini bisa di pakai satu tahun lebih, lain kali kamu jangan begitu" tegur bunda vio.


"ya' jawab vio sambil menundukkan kepalanya.


"raka juga, kenapa di turuti, kalau bunda jadi raka  bunda meninggalkan kamu, dan cari yang lebih baik" omel bunda


"kamu beresin gudang, ini nanti bunda letakkan di gudang sisanya" ujar bunda.


"vi? sendirian?" tanya vio


"ya maunya sama siapa lag vi,?" tanya bundanya. "bunda mau ambil kardus lainnya, sana cepat" ujar bunda, yang mengambil satu satu  barang yang habis di rumah karena sekarang memang biasanya waktunya belanja bulanan. bunda mengambil , seperti sabun mandi pasta gigi, shampo dan lainnya.


"bun, gudangnya berantakan sekali." keluh vio.


"bunda tidak mau tahu, salah sendiri belanja banyak begini, atau bunda letakkan di kamar kamu saja? bagaimana?" tanya bunda.


"jangan jangan, nanti kamar vi yang berantakan."


"nah, mangkanya kamu beresin gudang saja sana, bunda mau ambil kardus lainnya" ujar bunda yang berdiri. dan melangkah ke ruang tamu.


"ya" balas vio sambil melangkahkan kakinya ke samping dapur.

__ADS_1


vio membuka pintu gudang, lalu menghidupkan lampunya. mata vio membulat ,"ini gudang apa gudang" ucap vio


vio masuk ke gudang yang sangat berantakan dan berdebu. ruangannya juga pengap. vio membuka jendela yang tembus ke halaman belakang. vio menepukan tangannya untuk menghilangkan debu yang menempel di tangannya. "kotor banget" ujar vio.


vio keluar dari gudang, lalu mencuci tangannya yang terkena debu. vio masuk ke kamarnya dan mengambil masker miliknya. selesai memakai masker, vio membuka laci di dapur, untuk mengambil sarung tangan medis.


"semangat vio" ujar vio pada dirinya sendiri. dengan kemucing dan sapu yang baru saja dia letakkan di dekat pintu. vio memasang kaca mata beningnya yang dia bawa dari kamarnya, lalu memakai, agar debunya tidak masuk ke mata.


vio menghidupkan kipas angin yang ada di gudang, untuk membantu menghilangkan kepengapan. "bismillahirrohmanirrohim" ucap vio sebelum memulai pembersihan.


vio mengambil kemucing dan membersihkan debu pada barang yang ada di gudang, mengangkat barang dan menata barang barang agar terlihat rapi.


Di lain tempat bunda vio mengelap keringatnya yang bercucuran. "sedikit lagi" ujar bunda vio, mulai mendorong kardus ke ruang tengah.


"berat banget, memang apa isinya sih?"


bunda vio membuka isi kardus ke dua. dengan napas yang masih belum normal. "astagfirullah vio" ucap bundanya.


bunda vio mengeluarkan makanan camilan yang vio beli, "apa sih yang ada di dalam pemikiran anak itu, sampai membeli camilan begini banyaknya" ujar bunda vio  yang tidak habis pikir dengan putrinya itu.


******


"Halo bos"


"bagaimana?" tanya orang di seberang sana


"sial, ternyata raka pandai memanipulasi, khuk khuk, kamu tetap di situ , sampaikan apa saja informasi yang kamu dapat ke saya. paham" ucapnya sambil menahan kesakitan


"baik bos"


panggilan terputuskan. orang itu melihat sekitar, takut ada yang mendengarkan obrolannya. setelah merasa aman dia langsung pergi dari tempat itu, untuk melanjutkan pekerjaannya.


"bagas"


bagas yang berjalan menghentikan langkahnya "ada apa tuan?" tanyanya hormat.


"ke mana davit " tanya raka, pada salah satu anak buahnya


"maaf tuan, saya kurang tahu, nanti saya cari" jawabnya


raka menganggukkan kepalanya. "cari dia, saya tunggu di lobi, " ucap raka, lalu berjalan menuju lobi. bagas menundukkan kepalanya saat raka melintasinya. bagas melanjutkan langkahnya.


seringai terbit di wajahnya menatap kepergian raka, melihat punggung raka yang tak terlihat dia kembali melangkahkan kakinya.


"Davit" panggil bagas.


Davit yang bau saja keluar dari arah toilet melihat ke arah suara. "ada apa?" tanya davit.

__ADS_1


"kita di tunggu tuan di lobi" ujarnya


"baik, kita ke sana sekarang"


mereka masuk ke liv untuk turun ke lobi dasar. ting, pintu liv terbuka mereka keluar dan menunduk hormat pada raka. "kalian ikut saya" ujar raka tanpa basa basi


"baik tuan" balas mereka. bagas membukakan pintu mobil untuk tuannya, setelah raka masuk. davit dan bagas memasuki mobil tersebut. davit mulai menjalankan mobilnya setelah mendapat perintah tujuan tuannya.


Ting, raka membuka ponselnya yang berbunyi.


BUNDA


Sebelumnya bunda mau mengucapkan terima kasih dan maaf yang banyak sama nak raka. tapi lain kali tolong jangan di turuti kemauan vio yang gak jelas. maaf suda buat nak raka repot


ANDA


Tidak masalah buat saya bun, yang penting anak bunda senang saya juga senang


raka memasukkan kembali ponselnya ke dalam jas, dan melanjutkan kegiatannya dengan tablet yang dia pegang.


"tuan sudah sampai" ujar davit


"kalian ikut saya" ujar raka.


davit dan bagas turun dari mobil, bagas membukakan pintu untuk tuannya. dan mengikuti langkah tuannya dari belakang. setelah masuk markas, darren menyambut kedatangan raka, dan melihat ke arah belakang raka. orang yang di tatap derren menunduk hormat padanya, derren membalas dengan anggukkan saja. lalu kembali menatap raka dengan seringainya.


"bagaimana?" tanya raka


"aman, dia ada di bawah tanah" jawab deren


raka menganggukkan kepalanya sambil duduk santai di sofa yang di ikuti derren. bagas dan davit tetap setia berdiri di belakang raka. mereka adalah orang kepercayaan raka. jadi ke mana raka mengajak davit pasti bagas ikut begitu juga sebaliknya.


"Apa lo sudah ingat apa yang mau lo beritahu gua?" tanya raka sambil mengambil win yang di sediakan di meja.


"untung lo ingatan gua." balas derren sambil meletakkan gelasnya.


"dia selamat" ujar derren sambil menghidupkan api dan mendekatkan api tersebut ke rokoknya.


"siapa?" tanya raka sambil menaikkan satu alisnya.


"lintang" jawab derren santai.


"bagaimana dia bisa tahu?" batin seseorang yang kaget dengan informasi derren, tapi secepat mungkin dia mengganti raut wajahnya seperti biasa saja.


seringai derren keluar melihat keterkejutan sahabatnya. "ada seseorang yang menolong dia" jawab derren, sambil meniupkan asap rokoknya ke udara.


"siapa?" tanya raka

__ADS_1


 TBC


__ADS_2