HAK PATEN MILIK MAFIA

HAK PATEN MILIK MAFIA
BAB R&V 25


__ADS_3

HAPPY READING


pagi hari, setelah meminta ijin ke bundanya sebelum pergi kerja, vio langsung siap siap di kamarnya untuk berangkat ke rumah sasa. sasa meminta vio dan yang lain main ke rumah dia,, karena orang tuanya ada pekerjaan di luar kota, yang di pastikan akan pulang larut malam nanti.


"Assalamualaikum" ucap vio yang baru saja datang.


"waalaikum salam" jawab mereka yang sudah kumpul. vio langsung meletakkan tasnya dan ikut bergabung dengan temannya.


"sa, ini lemari apa?" tanya jesi


"camilanku" jawab sasa sambil melihat ke arah yang di tunjuk jesi.


"aku buka ya?" ijin jesi. sasa menganggukkan kepalanya." sekalian bawa ke sini jes" ucap sasa


jesi membuka lemari mini yang berwarna coklat."subhanaallah" ucap jesi melihat isi dalam makanan sasa.


"kenapa jes?" tanya rana.


jesi menggeser badannya dan melihatkan ke rana" banyak banget sa, ini kamu yang ngabisin semua?" tanya rana.


sasa menganggukkan kepalanya."ahu sendiri aku suka ngemil" jawab sasa.


rana mengambil beberapa camilan dan membawanya ke meja, vio melihat ke arah rana yang meletakkan makanan ringan di meja.


"tapi kamu kok gak gemuk ya sa?" tanya vio heran


sasa menghentikan gamenya di ponselnya dan mengambil camilan yang rana bawa" takdirnya begini mungkin" jawab sasa sambil membuka bungkusan camilannya.


vio menganggukkan kepalanya berkali kali. lalu kembali fokus ke tontonannya apa lagi kalau bukan korea.


"vi" panggil jeslin. vio melihat ke arah jeslin "thanks" ucap vio sambil menangkap camilan kesukaannya yang di lempar jeslin. yang juga kebetulan camilan kesukaannya.


mereka asik dengan dunianya mereka sendiri , jesi, jeslin dan vio sibuk dengan drakornya, sasa sibuk liat sosmed, dan rana fokus baca novel yang dia temukan di meja belajar sasa.


Dering lagu bts mengalihkan atensi mereka. vio mengambil ponselnya lalu mengecilkan folume ponselnya tanpa niat mengangkat panggilan.


"kenapa tidak di angkat vi?" tanya jeslin.


"malas" jawab vio yang kembali fokus ke drakornya.


mereka semua menatap satu sama lain, lalu kembali fokus pada kegiatan masing masing. tak lama ponsel vio berdering kembali. vio hanya melihat dan menutup kembali ponselnya.


"mending kamu angkat dulu deh vi, siapa tahu penting" usul jeslin


"gak perlu, gak penting juga kok" jawab vio yang membenarkan bantal yang dia pangku.


"kalo gak penting, mana mungkin terus menghubungi kamu vi" ucap rana saat ponsel vio terus berdering.


"bener, mending kamu angkat dulu sana" ucap sasa.


vio menghela nafas keras, dan mengikuti saran teman temannya. "aku angkat telphon dulu" ijin vio mengambil ponselnya yang terus berdering, dan keluar kamar sasa.

__ADS_1


vio mengangkat ponselnya di belakang rumah sasa, yang ternyata taman mini, vio langsung duduk di kursi yang di sediakan di sana.


"DARI MANA SAJA KAMU, KENAPA TIDAK MENGANGKAT TELPHON SAYA?" ujar seorang di seberang sana. vio sedikit menjauhkan ponselnya karena suara bentakan dari seberang.


"Assalamualaikum" ucap vio santai.


"KENAPA TIDAK MENGANGKAT TELPHON SAYA, ?" tanya raka tanpa menjawab salam vio. emosinya sangat menggebu, terdengar dari deruhan nafas raka oleh vio.


"maaf" jawab vio yang tidak mempunyai nyali. apa lagi ini raka dalam mode singanya.


"jawab saya vio" geram  raka


"hpku ke silent " jawab vio bohong.


"jangan pernah buat saya marah, atau kamu akan menyesal" ucap raka dengan penekanan.


"i-iya" jawab vio. tak terasa air matanya menetes menahan rasa sesak di dadanya. seharusnya dia yang marah bukan raka, tapi vio tidak punya keberanian untuk melawan raka.


"nanti malam aku ke rumah kamu," ucap raka yang mulai santai.


"ngapain?" tanya vio sambil mengusap air matanya


"mau ngajak kamu makan malam" ucap raka


vio memutarkan bola matanya jengah, waktu itu dia jalan sama cewek lain, sekarang mintak jalan sama dirinya, kenapa dia tidak merasa bersalah sedikit pun" iya" jawab vio. "aku tutup ya, assalamualaikum" ucap vio, tanpa menunggu jawaban dari seberang vio sudah langsung memutuskan panggilannya.


"bagaimana caranya lepas dari raka" guman vio menatap ke depan dengan pandangan kosong.


vio menghapus air matanya dan bergegas kembali masuk ke rumah sasa.


"iya, jadi gak pingin balik" ucap rana.


jeslin yang ke bawa perasaan dengan drakor sekarang malah menangis bombai karena mau balik ke pondok.


vio yang baru datang langsung paham ke mana arah perbincangan mereka. "sabar," ucap vio menghampiri mereka.


"nanti pasti aku besuk ke sana" ucap vio sambil mengelus punggung rana yang ada di dekatnya.


"bagaimana kamu mau besuk kita, kamu juga kembali ke pondok" balas rana.


"kok bisa, kata siapa?" tanya vio yang tidak tahu kabar terbaru.


"surat sudah beredar, mending kamu baca sendiri" ucap jesi sambil nyemil. jesi tidak sealai teman lainnya. yang harus menangisi ke kembaliannya ke pesantren.


vio mengambil ponsel rana yang di berikan ke vio. vio langsung membaca surat dari pesantren tentang kembalinya santri.


terdapat garis tebal di dalam surat tersebut** "untuk yang sudah lulus\, dan hendak berhenti dari pesantren wajib mengikuti oca terlebih dahulu\, yang akan di laksanakan saat balikan santri ke pesantren"**


rahang vio jatuh ke bawah, "yah, kok masih balik?" ujar vio sedih.


"mangkanya jangan sok sokan, balik juga kan kamu?" ejek jesi sambil tertawa melihat wajah vio.

__ADS_1


"uhh, pasti butuh waktu lama ini, belum lagi pendaftaran santri baru, itukan perkiraan sebulan" ujar vio.


"ya, terima nasib saja dah, lagian suruh siapa berhenti" ucap jeslin, yang sudah mulai membaik.


"bilang saja iri kamu" ejek vio


"iya juga sih" jawab jeslin jujur apa adanya.


"kalau gitu aku gak usah bawa baju, pinjam baju kalian saja ya" tanya vio dengan usulannya.


"yee, enak saja, bawa sendiri" jawab sasa.


"aku malas, nanti kalau pulang harus bawa lagi" ujar vio.


"kalau tidak mau bawa lagi, kamu bagikan saja sama kita ya gak?" usul rana yang tidak masuk akal menurut vio.


"yee, enak di kamu" sarkas vio.


"BTW, tadi telphone dari sapa?" tanya sasa


vio langsung kembali ke wajah sedihnya. "raka" jawab vio yang tidak ingin bohong ke teman temannya.


"kenapa di tekuk gitu muka kamu vi?" tanya rana "lagi ada masalah?"


vio menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "kalian ingat waktu kita ke mal, yang mirip raka, itu benar dia" ucap vio .


"kenapa kamu gak bilang, " ujar sasa kaget.


vio tak menjawab pertanyaan sasa, "terus, kamu maunya bagaimana?" tanya jesi.


vio menarik turunkan bahunya. "aku juga tidak tahu," balas vio.


"kamu tidak tanyakan langsung ke raka?" tanya jesi, yang mendekat ke vio. vio menggelengkan kepalanya.


"aku gak berani, kalian tahu raka seperti apa" ucap vio.


"kamu cinta sama dia" tanya rana


"gak" jawab vio sambil menggelengkan kepalanya.


"kamu gak bisa apa, mintak putus sama dia?"


"aku gak bisa, aku jadian sama dia saja terpaksa," balas vio. vio melihat ke teman temannya "kalian tahukan siapa raka, dia pasti akan nekat kalau aku mintak putus darinya. dan mana lagi musuh dia banyak," ucap vio.


"kalian tahu, aku kemarin hampir celaka karena musuh raka, tapi untungnya ada anak buah raka yang mengawasi aku." ucap vio. teman teman vio membulatkan matanya kaget.


"kenapa gak cerita sama kita?" tanya sasa


"aku takut kalian jadi target juga" jawab vio .teman vio menggeleng gelengkan kepalanya. tidak habis pikir vio memikirkan sejauh ini tentang mereka.


"aku capek " keluh vio. yang memang semenjak kenal raka, dirinya selalu merasa takut.

__ADS_1


"sudahlah vi, sebentar lagi kamu kan juga balik ke pesantren, jadi ada waktu untuk istirahat" ucap sasa sambil mengelus lengan vio, menyalurkan ketenangan


TBC


__ADS_2