
"****" umpat derren melihat layar laptopnya. dengan rahang yang mengeras dan tatapan yang tajam.
"dia di diamkan semakin jadi saja" ucap derren menatap layar laptopnya. "raka juga, kenapa penghianat di biarkan menghirup udara segar, tidak seperti biasanya" sewot derren yang masih fokus melihat layar laptopnya.
Derren langsung mengambil ponselnya dan menghubungi raka. "funk " kesa raka saat yang jawab Operator.
"ke mana ini orang, apa perlu gua yang turun ya" ujar derren yang berusaha menghubungi raka.
"hmm" ucap orang di seberang sana
"dari mana saja lu, baru angkat telepon gua?" tanya derren dengan emosi
"ada apa?" tanya raka
"penghianat itu berulah lagi, lu tidak mau menghabisi dia?" tanya derren
"kenapa lu yang repot?" tanya raka,
derren yang masih dalam metode emosi semakin di buat emosi oleh pertanyaan raka. "ya, masalah buat gua, berhubung gua ini orang baik, jadi gua tidak mau udara yang kita hirup ini tercampur dengan udara orang penghianat'' balas derren
"nanti gua urus, biarkan dulu dia menikmati hidup" balas raka yang tidak memuaskan derren.
"kalau lu_"
"funking" umpat derren saat raka memutus sambungannya. "untung sahabat gua, kalau bukan sudah gua cincang lu" ucap derren menatap layar ponselnya
Di lain tempat, raka yang setia menunggu gadisnya keluar dari gerbang biru, dari banyaknya perempuan, raka tidak melihat gadisnya muncul. raka melihat jam tangan rolex yang melingkar di lengannya. ternyata sudah satu jam dirinya menunggu. apakah gadisnya ini tidak tahu jika dirinya bukanlah orang sabar dalam hal apa pun. sepertinya gadisnya ini ingin main main dengannya. dia harus kasih hukuman untuk gadisnya yang mulai berani dengannya.
raka menghubungi seseorang tak butuh waktu lama perempuan yang raka hubungi itu datang degan setelan ala santri menunduk hormat di hadapan raka
"kamu cari gadis saya, suruh dia keluar temui saya, bila dia menolak, katakan aku akan melukai orang tuanya. sana" ujar raka pada perempuan itu
"baik tuan, saya permisi" balas perempuan itu
raka hanya melihat anak buahnya itu masuk ke gerbang biru, raka mengambil ponselnya dan mengecek pergerakan anak buahnya yang berkhianat.
Di dalam pesantren putri ramai dengan santriwati yang membuat dia bingung mencari gadis tuannya. karena tak kunjung dapat, dan tuannya hanya memberikan foto tanpa memberi tahu nama, bahkan asrama gadisnya itu.
"permisi dek, saya mau tanya," ujarnya pada salah satu santriwati "tahu orang ini ?" tanyanya sambil memberikan foto gadis yang tuannya kirim
"maaf kakak, saya tidak tahu" jawabnya
"ya sudah terima kasih"
"eh, dek mau tanya" ujarnya mencegat salah satu santriwati yang sedang berjalan." tahu orang ini gak" tanyanya
"oh, ini vio, dia ada di asrama" jawab santriwati itu
"di mana ya asramanya?" tanyanya
__ADS_1
"mbak ini siapanya ya?" tanya teman dari santriwati itu
"saya kerabatnya, saya baru berkunjung ke sini" jawabnya
"oh, ya sudah mari saya antar" ujarnya
"terima kasih" ujar orang suruan raka.
dia pun mengikuti langkah santriwati yang akan membawanya ke kamar gadis tuannya ini. "sudah sampai, ini asramanya, kalau begitu saya tinggal ya mbak" pamit mereka
"ah, iya, terima kasih" ujarnya
ketika ada cewek yang keluar dari kamar tersebut dia langsung bertanya keberadaan vio yang dia cari. tak butuh lama setelah cewek itu memanggil ke dalam dan keluar dengan perempuan yang persis dengan foto yang di kirimkan tuannya
"maaf, sampean siapa?" tanya vio bingung
"nona ini nona vio?" tanyanya
"ya saya sendiri"
"saya suruhan dari tuan raka, beliau sedang menunggu anda di luar" ujarnya dengan hormat
"siapa vi?" tanya sasa
"tapi maaf saya todak bisa keluar" ujar vio
''kenapa?" tanyanya
Di pesantren ini baru balik sehari di ijin kan untuk keluar tapi tidak keluar dari komplek pesantren hanya di ijin kan pas malam balikan untuk selanjutnya peraturan akan berjalan dengan sewajarnya.
"Anda mending temui tuan, jika tidak orang tua anda yang akan terkena imbasnya" ujarnya
vio membulatkan matanya. "sampean jangan mengancam saya" ujar vio
"ini yang di sampaikan oleh tuan raka, dan saya yakin nona tahu jika tuan tidak pernah bermain main dengan ucapannya" ujarnya dengan tegas
"baik saya akan temui dia" ujar vio pasrah.
"mau ke mana vi?" tanya temannya yang keluar kamar
"mau keluar sebentar, ada raka" ujar vio
"mari" ujarnya
vio menganggukkan kepalanya dan berjalan terlebih dulu, di ikuti dengan orang suruhan raka. "dia sejak kapan di sana?" tanya vio
"mungkin satu jam lebih" ujarnya
"di mana?" tanya vio pada orang suruhan raka
__ADS_1
"di sana" tunjuknya
vio langsung melihat ke arah laki laki yang bersandar di mobil hitamnya dengan memainkan ponselnya.
"tuan" panggilnya dengan tak lupa menundukkan kepalanya
raka langsung melihat ke depan dan memasukkan ponselnya. "sana" perintah raka
"baik tuan, saya permisi" ujarnya dengan sopan.
tatapan raka menusuk ke gadisnya yan menundukkan kepalanya. " liat apa?" tanya raka
vio mengangkat kepalanya. "dari tadi?" tanya vio
"hm" itu jawaban raka dengan wajah datarnya
"kenapa tidak keluar?" tanya raka
"aku lelah, mau istirahat" balas vio dengan ketakutan
'masuk mobil" perintah raka
"mau ke mana? aku tidak boleh keluar pesantren, nanti aku di saksi" ujar vio
"maafkan aku, aku benar kelelahan, niatnya mau istirahat tapi anak buah kamu datang" jelas vio dengan wajah melas dan jangan lupa dengan pupil eyesnya.
raka mengalihkan tatapannya, dia selalu tersentuh dan tidak tega jika melihat gadisnya seperti ini. seakan hatinya seperti di hujani dengan belati yang sangat tajam. raka menghela nafas, dan kembali menutup pintunya yang tadi sempat dia buka.
"batasnya sampai mana?" tanya raka mengalah, karena dia juga tidak mau jika gadisnya di hukum, andai di luar mungkin dia akan melawan orang yang menghukum gadisnya.
"sampai penutup itu" balas vio sambil menunjuk batasan dirinya.
"kita cari makan, aku lapar" ujar raka
"tapi makanan di sini tidak seperti di luar" beritahu vio
"whatever, selama bersama mu no problem with me" balas raka
mereka pun mencari makan dengan berjalan beriringan. vio melepaskan nafasnya dengan lega, karena rayuannya berhasil, dan raka tidak dingin seperti tadi. vio melihat ke arah wajah raka dari samping, karena raka yang lebih tinggi membuat vio sedikit mengataskan kepalanya untuk melihat raka. satu kata yang vio ucapkan untuk mendeskripsikan raka. tampan.
wajah yang sempurna, hidung mancung, mata yang sangat indah tidak beda jauh dengan pacar haluan dirinya.
"puasin saja liatnya" ujar raka membuar vio malu karena ketahuan memperhatikan raka.
"siapa juga yang liat kamu" elak vio yang di balas dengan kekehan raka.
"wow dia lebih tampan jika tersenyum" puji santriwati yang berkumpul di halaman
__ADS_1
raka mendehemkan suaranya dan kembali mendatarkan wajahnya, vio yang melihat jika raka jadi objek pemandang mereka merasa tidak rela,