HAK PATEN MILIK MAFIA

HAK PATEN MILIK MAFIA
BAB R&V 9


__ADS_3

Drrt drtt, vio yang baru selesai membereskan perlengkapan solat yang dia pakai, langsung mengambil ponselnya yang sengaja di getarkan. tertera nama raka, vio dengan terpaksa mengangkat panggilannya.


"Assalamualaikum" ucap vio sambil duduk di ranjangnya.


"waalaikum salam, besok jam berapa kamu berangkat dari rumah?"


"sekitar jam setengah enam, kenapa?"


"ok, besok aku jemput"


"tidak" ucap vio sepontan.


"kenapa?"


Vio bingung mencari alasan ke raka, jujur dia ingin berangkat bareng teman temannya. jika bersama raka, vio tidak bisa bebas.


"maksudku, aku bareng temanku, mereka akan datang ke rumah dan kita sudah sepakat untuk..."


belum selesai bicara raka memotong ucapannya "tidak ada penolakan" panggilan terputus.


tut tut tut. vio melihat layar ponselnya setelah mendengar suara panggilan terputus dari seberang. "waalaikum salam" ucap vio kesal.


Vio meletakkan kembali ponselnya ke nakas, "kenapa dia mengaturku seperti ini, memangnya dia itu siapa, keluarga bukan, saudara bukan, teman bukan, apa lagi pacar," keluh vio sambil membaringkan tubuhnya ke kasur. vio memejamkan matanya berharap kekesalannya ke raka berkurang." ya Allah, kenapa kau mempertemukanku dengannya, cobaan apa lagi ini." ucap vio menatap langit kamarnya.


"kenapa harus dia, kenapa bukan Jungkook oppa, jimmin-ah, suga oppa, jin oppa, namjoon oppa,, J-hope oppa, atau V, oppa, kalau salah satu dari mereka, aku mau dengan setengah hatiku" vio memejamkan matanya lagi dan merakan pijatan tangannya di kening yang tiba tiba sedikit pusing.. memang dasarnya jika berurusan dengan raka, membuat kepalanya pusing. Vio menarik napas dan mengeluarkannya pelan dari mulut.


Vio kembali duduk, melihat ke koper yang sudah dia turunkan tadi sebelum sholat. vio mengambil tas kopernya dan meletakkan di atas kasur. vio mengambil juba dan kerudung 5, dan membawanya ke atas kasur, vio membuka kopernya dan melipat baju dan kerudung sesuai ukuran koper.


TOK TOK TOK" Vio bunda boleh masuk?"


"ya bun, masuk saja" jawab vio sambil memasukkan baju dan hijab yang sudah dia lipat sesuai ukuran tas.


vio melihat ke arah bundanya yang duduk di kasur vio." ada apa bun?" tanya vio yang merasa di perhatikan oleh bundanya.


"tidak, bunda hanya mau ngecek kebutuhan kamu," jawab bunda vio sambil mleihat barang yang sudah di mak=sukkan ke dalam tas kopernya.


"sudah semua bunda, gak perlu khawatir"


"obatannya sudah? tanya bunda.


"sudah" jawab vio ambil melihatkan obat obatan yang dia bawa.


"minya anginnya, vitamin kamu, perlengkapan mandinya sudah" tanya bunda


"sudah semua" jawab vio sambil menutup tas kopernya, vi ikut duduk di sebelah bundanya.


"nanti, di sana kamu jangan banyak tingkah, jangan mencar, bunda gak mau ya vi, sampai dapat kabar buruk tentang kamu dan yang paling penting sholatnya jangan tertinggal" nasehat bunda. yang sering bunda capkan saat vi akan melakukan kegiatan pesantrennya di luaran.


"iya bunda, siap, vi akan jaga diri, bunda tenang saja," ucap vi menenangkan bundanya.


"ya sudah..." ucap bunda vi sambil mengelus kepala vi yang di baluti hijab.


"raka besok ikut?" tanya bunda.


"hmm, gak bun, kenapa?"


"tadi dia nelfon bunda, katanya mau jemput kamu"


vi menghadap bundanya kaget." dia tahu no bunda dari mana?" tanya vi, perasaan dirinya tidak pernah memberi tahu no bundanya pada raka.


"bunda" jawab bunda vio.


dengan muka keselnya vio merengek pada bundanya ''ngapain buda kasih,dia itu bukan siapa siapa kita bunda"


"raka pacar kamu sayang, dan bunda kasih no bunda, karena dia minta no bunda, katanya untuk tanyak tanyak tentang kamu ke bunda." jelas bunda.


"bunda, dia itu hanya modus, atau jangan jangan bunda suka ya sama raka?" tanya vio sambil memicingkan matanya.


"ya, bunda suka sama dia..."


"bunda, tidak boleh seperti itu, bunda masih punya ayah, bagaimana kalau ayah tahu, vio gak mau ya bun kalau keluar vio pecah" ucap vio tegas.


"hee, bilang saja kalau kamu cemburu" goda bunda pada vio.


"gak ada, mana ada vio cemburu, vio hanya tidak mau.."

__ADS_1


belum selesai vio bicara bundanya sudah memotong ucapannya. "bilang saja kalau cemburu, kamu tenang saja, bunda suka raka karena dia calon menantu  bunda yang baik"


vio membulatkan matanya, "gak ada bun, dia bukan camen bunda, vio tidak mau, seharusnya bunda itu gak restuin dia, atau bunda marahin dia  karena ngajak vi pacaran. dia itu tidak sebaik yang bunda liat" jelas vio.


"tapi dia sopan vi, walaupun dia bukan santri, tapi sikap dia seperti santri, ingat jangan liat seseorang dari luar." nasehat bunda.


"bunda, tidak tahu saja, vi menerima dia karena sesuatu bunda, tapi vi tidak bisa bilang" batin vi dengan raut muka sedih.


"Ya, sudah terserah bunda, vi mau istirahat" ucap vi,


"ya sudah, bunda keluar dulu, mau siapin tempat buat camilan kamu" ucap bunda violet, sebelum pergi bunda mencium kening vi dengan penuh kasih sayang. vi tersenyum tulus. setelah bundanya keluar dan kembali menutup pintu kamar vi, raut wajah vi kembali sedih lagi. pasti bundanya ini sudah kena jampi jampinya raka. beo vio.


tapi setelah sadar dengan ucapannya yang melantur vi langsung baca istigfar karena telah berprasangka buruk ke raka.


Vio mengambil ponselnya dan menghubungi teman temannya lewat vidio call yang langsung terhubung ke 4 temannya.


"Assalamualaikum" ucap vi setelah melihat panggilannya terhubung semua.


"waalaikum salam" jawab mereka.


Vi melihat temannya yang sedang paking untuk besok." vio, kamu sudah paking?" tanya rana, yang memasukkan bajunya ke koper.


"sudah," jawab vio, yang melihat rana sedang menutup koper.


"Alhamdulillah akhirnya selesai juga" beo mereka.


"eh guys, kalian jadi mau berangkat bareng sama aku?" tanya vio


"ya, jadi lah, besok kita akan ke rumahmu jam 5" ucap jesi.


"hmm, ok kalian jangan sampai telat ya, karena perjalanan kita lumayan jauh, aku gak mau sampai ke siangan" ucap vio.


"ok"


"ya sudah, aku tutup, mau istirahat" pamit vio


"ok, Assalamualaikum" ucap rana.


"waalaikum salam" jawab mereka barengan. panggilan pun terputus. vio meletakkan ponselnya di nakas, dan mulai memejamkan matanya. tapi nihil, vio belum bisa tidur, dan akhirnya mengambil ponselnya untuk membawa ******* kesukaannya.


Raka menggerakkan ototnya yang kaku, dan menutup layar laptop, raka baru selesai jam 22.00 dari jam 18.00. raka mengambil ponselnya dan menggeser layar lalu mengangkatnya ke telinga.


"besok wakili saya di rapat, saya ada urusan"


"(.....)


raka menutup panggilannya dan langsung ke luar ruangan. sampai di lobi, mobil raka surah terparkir rapi di depan lobi, raka memasuki mobil dan melajukan dengan kecepatan tinggi menuju apartemennya. dia sengaja bermalam ke apartnya karena hanya apartemen ini yang dekat dengan rumah gadisnya.


 Sesampainya di apartemen, raka langsung membersihkan dirinya dan istirahat.


Allahuakbar Allahuakbar suara alarm yang di pasang oleh vio, untuk membangunkannya di sepertiga malam, untuk solat hajat. vio mematikan alarm ponselnya yang semalam dia gunakan untuk baca novel sampai ke tiduran. vio mengambil chager di dalam laci, melihat baterai ponselnya hampir lowbed, setelah itu baru masuk ke kamar mandi untuk ambil wudhu'


selesai ambil wudhuk vi langsung mengambil perlengkapan solatnya. selesai solat, doa, vi mengambil Al qur'annya dan mengaji sampai adzan subuh berkumandang.


*****


Selesainya solat subuh vio langsung mandi dan siap siap, karena sebentar lagi temannya akan sampai. vi memakai juba warna violet yang di baluti hijab putih, jika kalian bertanya, kenapa tidak warna ungu. karena memang wajib putih untuk hari pemberangkatannya. Vio melihat jam yang bergambar tujuh bujang tampan dan mapan yang terpajang manis di dinding kamar vio, yang menunjukkan jam 04.30.


Drrrrt Drrrt Vio melangkah menuju nakas dan melepas changer, sebelum mengangkat panggilannya.


"assalamualaikum lin"


"waalaikum salam. kamu sudah siap siap?"


"sudah, kamu kapan otw?"


"ini sudah mau otw, tunggu aku di ruang tamu ya" ucap jeslin.


"ok, aku tunggu, assalamualaikum"


waalaikum salam" jawab jeslin sebelum mematikan ponselnya.


"vio mengambil sepatu sandalnya yang berwarna putih dan tak lupa kaos kakonya juga. selesai memasang vio langsung turun ke bawah sambil membawa tas selempangan dan kopernya ke ruang tamu.


"Astagfirullah hal adzim" ucap vio saat melihat raka yang sudah duduk manis di sofa ruang tamu.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap raka.


Vio bergidik ngeri saat raka mengucapkan salam, vio mengucek matanya pelan. "kalau ada orang mengucap salam itu di jawab" ucap raka.


Vio yang sadar, jika ini memang raka baru menjawab salam raka" waalaikum salam"


"kamu sejak kapan di sini?" tanya vio sambil meletakkan tas slempangnya di sofa depan raka.


"baru" jawab raka yang terpesona melihat keanggunan vio.


"kamu raka kan?, kok bisa ada di sini sekarang, katanya jemput setengah enam, kerasukan pasti" ucap vio.


raka hanya tersenyum menanggapi ucapan vio. " kerasukan apa vi" tanya bunda yang datang dari belakang dengan membawa secangkir teh hangat untuk raka.


"bunda, ah enggak, vi kaget saja tadi, tiba tiba melihat raka ke sini, subuh subuh" ucap vi alasan, kalau dia bilang jujur yang ada dia akan di omelin sama bundanya di depan raka. secara bunda sekarang lebih suka sama raka dari pada dirinya.


"raka datang kok di bilang kesurupan, di minum raka, bunda tinggal ke belakang dulu, mau nyiapin makanan"


ucap bunda.


"bunda ngerepotin saja, tapi ini makasih ya bun" ujar raka.


vio membulatkan matanya. saat mendengar raka memanggil bundanya dengan sebutan bunda, "raka, kenapa kamu panggil bundaku bunda, gak sopan banget" tegur vio yang tidak suka.


"bunda yang suruh, diakan calon menantu bunda" jawab bunda. sebelum pergi ke dapur.


Vio mengembungkan pipinya sambil ngikutin bundanya dari belakang. vio ikut berhenti sat bundanya berhenti dan menatapnya." kamu ngapain ikut bunda?" tanya bunda.


"mau bantu bunda lah apa lagi"


"tidak perlu, bunda hampir selesai, mending kamu temani raka" ujar bundanya.


"tapi..."


"tidak ada tapi tapikan, sana, dia itu tamu, tamu itu raja"


"ya, salah dia, kenapa datang subuh subuh, mana ada tamu datang subuh?"


"sudah sana"


Vio kembali ke ruang tamu menemani raka yang sedang menatapnya. "kenapa ngeliatin mulu" tanya vio kesal, pasalnya siapa saja yang di pandang sama orang ganteg pasti saling sendiri. dan vio tidak mau sampai terlihat kesaltingannya.


"kenapa?" tanya raka. " takut salting"


"bukan salting, tapi risih" jawab vio.


"Nanti bareng sama beberapa temanku, gak papa" tanya vio.


"gak masalah" ucap raka, sambil minum teh buatan calon bundanya.


"Assalamualaikum" ucap jeslin yang ada di depan pintu.


"waalaikum salam, sini masuk" ajak vio. jeslin melihat ke raka dan menatap ke vio meminta penjelasan. jeslin meletakkan kopernya di dekat sofa singgel yang dia duduki.


"hai raka" sapa jeslin.


raka hanya menganggukkan kepalanya dan jangan lupa muka datarnya sudah mulai di pasang."sejak kapan di sini?" tanya jeslin yang memang kadar ke kepoannya akut.


"tadi."


jeslin menganggukan ke palanya dan melihat ke vio. "nanti kita bareng raka ke lokasi" ucap vio yang mengerti dengan tatapannya jeslin.


"oh,,"


"Assalamualaikum" ucap ke tiga orang yang baru datang bersamaan.


"waalaikum salam" jawab vio. setelah salaman satu sama lain. tatapan mereka mengarah ke raka yang hanya diam


Jeslin yang mengerti langsung memberi tahu mereka. "eh kalian sudah datang semua" ucap bunda yang baru keluar dari dapur.


"Assalamualaikum tante"


waalaikum salam" jawab bunda sambil menerima salaman teman teman vio.


"kalian sudah kumpul semua, sekarang sarapan dulu, sebelum berangkat" ucap bunda vio

__ADS_1


__ADS_2