
Happy reading...
Vio lari dari asrama ke ruang pertemuan. jantungnya berdetak sangat cepat, akibat lari dan juga ketakutan.
"vi, kamu kiriman" ujar leta teman vio.
"ya, ini mau ke sana" jawab vio sambil lari ke arah pertemuan, tanpa melihat leta.
"vi kiriman" ujar syana,
"ya" balas vio.
vio menghentikan larinya saat selangkah lagi menuju belokan gerbang pertemuan, vio mengatur napasnya, supaya tenang. vio menarik napas dalam dalam, sebelum melangkah ke pintu gerbang.
"duh, aku kok takut begini ya" ujar vio gelisah.
vio mengintip dari tembok belokan ke gerbang pertemuan, vio membulatkan matanya sambil memundurkan dirinya.
"duh, raka seram banget, mukanya gak bersahabat begitu.' beo vio panik.
"bagaimana ya, apa aku tidak usah temui?" tanya vio pada dirinya
"tapi kalau tidak di temui, nanti tambah marah, dan nekat lagi" jawab vio, "duh, kok begini ya. samperin, tidak" ujar vio gelisah sambil mondar mandir.
"temui saja deh, dari pada tambah marah nantinya" putus vio setelah bergulat batin dengan dirinya.
vio kembali mengintip, "duh, kok gak yakin begini ya. " ucap vio
"vi" panggil seseorang sambil memegang bahu vio
"assatagfirullahal adzim" ucap vio kaget. ''ih kamu kagetin saja" ucap vio sambil memukul pelan temannya.
"ya maaf, kamu ngapain dari tadi aku lihatin gelisah begitu?" tanya teman vio
"gak papa." jawab vio
"kamu tadi di panggil, kenapa tidak ke sana, apa lagi tadi suara cowok yang memanggilmu" ujarnya.
"ah, iya itu abang aku" jawab vio bohong.
"abang?" tanyanya sambil mengingat. "bukannya kamu anak tunggal?" tanyanya
"ah, iya benar, itu abang aku, tapi bukan kandung" jawab vio.
"oo, terus kamu ngapain ke sini? sana samperin" ujarnya
"ya sebentar lagi," jawab vio yang masih panik.
"kamu kenapa sih, kok panik begitu?" tanyanya
"tidak papa, aku hanya takut saja menemui abangku, dia galak" ujar vio, sambil mengintip raka dari tembok
"kalau tahu galak, kenapa kamu buat dia menunggu, nanti tambah ,marah loh" ucapnya
"kamu tidak usah nakutin aku begitu" ujar vio yan langsung panik
"nggak, aku gak takutin kamu, mending kamu temui saja" ujarnya sambil mendorong vio, vio dengan susah payah menahan dengan kakinya, tapi apalah daya, teman vio ini badannya gemuk dan tidak sebanding dengan dirinya.
vio terjungkal ke depan, vio menatap horor temannya yang mendorong, dengan wajah tanpa dosanya dia hanya cengengesan dan menunjukkan 2 jari sebagai perdamaian.
vio melihat ke arah luar gerbang, di sana dia melihat raka menatap tajam dirinya. dengan keberanian, yang ada, vio langsung menghampiri raka.
"vio ya?" tanya pengurus
vio melihat ke arah pos siaran." iya mi" jawab vio yang di jawab dengan anggukkan kepalanya.
"vio langsung keluar dengan tatapan menunduk ke bawah, hingga sampai di hadapan raka yang tetap menatapnya tidak bersahabat.
"maaf lama" ucap vio membuka suara.
__ADS_1
raka langsung membalikkan badannya dan melangkah menuju tempat yang di pilih oleh bagas. vio hanya bisa mengikutinya dari belakang hingga sampai di tempat paling pojok .
raka melihat ke vio, vio yang melihat kaki raka berhenti akhirnya mengangkat kepalanya. "sana naik" ucap raka dingin
tanpa membantah, vio langsung naik dan duduk di dekat tembok, raka yang melihat vio duduk, langsung ikut duduk menutupi jalan keluar petak.
vio masih tetap tidak berani menatap raka, tidak ada suara di antara mereka, vio menundukkan kepalanya sambil memainkan ujung hijabnya, sedangkan raka menatap tajam gadisnya yang membuat dia menunggu.
"ke mana?" tanya raka
"ha'?" beo vio sambil mengangkat wajahnya menatap raka
"tadi?" tanya raka
vio mengernyitkan alisnya bingung." apa,? aku tidak paham" ujar vio
"ck, ke mana tadi, kok gak datang?" tanya raka
"aku gak dengar panggilan, ke asikan baca novel" jawab vio.
"semakin ke sini kamu semakin ngelunjak ya" ujar raka
vio menundukkan kepalanya takut melihat tatapan raka yang menusuk. suasana di petak terasa seram, apa lagi di pojok, vio seperti merasa ada sosok makhluk gaib jika bersama raka yang dalam keadaan marah, seperti saat ini.
"maaf" ujar vio
raka tidak merespon, tetap diam, "maaf, aku usahakan tidak mengulangi lagi" ujar vio dengan mata yang sudah berkaca kaca.
raka yang sedikit melihat tersentak kaget, "kamu tidak di ajarkan cara mintak maaf?" tanya raka
air mata vio sudah jatuh dari matanya, vio langsung menghapus air matanya menggunakan kerudung yang dia pakai, vio mengangkat wajahnya menatap raka. "maaf, aku usahakan tidak mengulangi lagi" ucap vio tulus.
raka mengangkat tangannya untuk menghapus jejak air mata vio, vio langsung memundurkan dirinya, "bukan muhrim" ucap vio sambil menghapus jejak air matanya sendiri.
raka langsung menarik tangannya. "kapan kamu keluar dari sini?" tanya raka
KRUY KRUY vio menundukkan kepalanya malu, raka yang mendengar ketawa kecil sambil menggelengkan kepala.
"lapar?" tanya raka
"hehe iya, aku belum makan" balas vio
"gas, cari makan" perintah raka yang di sanggupi oleh bagas.
"kamu ke sini kenapa tidak membawa makanan atau camilan apa gitu"
"lupa, aku keburu tadi, " balas raka.
"loh, vio" sapa reta, yang duduk di sebelah petak vio dan raka.
"reta" balas vio, vio langsung berdiri dan menghampiri orang tua reta lalu bersalaman dengan mereka.
"kiriman juga?" tanya ibu reta
"iya tante." balas vio sambil senyum tulus.
"kalau begitu vio balik dulu" ujar vio sebelum balik ke petaknya.
vio hanya menyalami orang tua reta, walau di sana ada abangnya, bukan apa, abang reta tidak beda jauh dengannya,
vio melihat ke arah raka yang memandang ke sebelah dan jangan lupakan tatapan dan juga urat raka yang muncul di bagian lehernya.
"ka" panggil vio, sambil mengikuti arah pandang raka
raka menatap vio, teduh. " bukannya santri ada yang bercadar, kenapa kamu tidak pakai?" tanya raka
vio mengernyitkan dahinya " tidak semua" jawab vio
"mending kamu pakai cadar saja' ujar raka
__ADS_1
"kenapa?" tanya vio
"aku tidak suka milikku di lihat apa lagi di tatap puja oleh orang lain." jawab raka
"memang siapa yang menatapku, lagian itu hak mereka yang penting aku tidak menatap balik" ujar vio menjelaskan
"tidak ada bantahan, kamu kalau keluar pesantren hat=rus pakai cadar" ujar raka tanpa penolakan.
"gak, " tolak vio
"aku tidak meminta kesepakatan mu" ujar raka
"tuan ini pesanan anda" ujar bagas.
raka menghela napasnya, dan memberikan satu bungkusnya ke vio. "makan' ujar raka
"terima kasih om bagas" ucap vio sambil membuka bungkusan nasinya
"sama sama nona" jawab bagas
raka mendengus, "kenapa kamu bilang terima kasih sama dia,?" tanya raka
"kenapa?" tanya vio
"uang yang di pakai itu uang ku" beritahu raka
vio menganggukkan kepalanya, "tapi yang jalan om bagas" ucap vio
"dia tidak akan jalan tanpa perintahku" ucap raka tak mau kalah.
"terus mau kamu bagaimana? kamu tidak ikhlas membeli nasi ini untuk ku?" tanya vio
"tidak begitu" ucap raka
"terus bagaimana?" tanya vio
"seharusnya kamu bilang terima kasih ke aku, bukan ke dia" ujar raka
bagas yang mendengar perdebatan bosnya dengan kekasihnya hanya menggeleng kepala, yang tidak habis pikir dengan bosnya yang haus dengan kata terima kasih dari vio
vio melepas nafas beratnya. "ya, terima kasih raka, sudah membelikanku nasi bungkus" ujar vio dengan senyuman terpaksanya.
"ya " jawab raka datar, tapi dalam hatinya dia senang. entah hanya mendengar ucapan terima kasih dari vio membuat dirinya sebahagia ini.
"loh, om bagas, gak beli?" tanya vio yang melihat nasi hanya 2 bungkus.
"saya sudah sarapan nona" ucap bagas sambil melirik ke tuannya, yang sedang menatap tajam.
vio mengikuti pandangan om bagas, raka yang di lihat langsung meneduhkan tatapannya. "kamu miskin?" tanya vio. membuat raka mengernyitkan dahinya.
"tidak, aku bahkan bisa beli pesantrenmu ini" ujar raka yang tidak terima jika di bilang miskin
"aku tidak percaya" balas vio
"mau bukti?" tanya raka yang merasa tertantang. "nanti aku akan membeli pesantrenmu ini" ujar raka
"kalau kamu tidak miskin, kenapa beli nasi hanya 2 bungkus, apa kamu tega melihat pak bagas yang tidak makan" ujar vio
raka menatap bagas tajam, bukan tanpa maksud, dia paling tidak suka jika gadisnya perhatian degan orang lain.
raka langsung mengeluarkan dompetnya dan memberikan segempuk uang ke bagas." marung sana " perintah raka.
mendengar kata perintah, bagas akhirnya pergi ."baru percaya aku" ujar vio
"kan aku sudah bilang, membeli pesantren mu pun aku bisa" ujar raka mengulang kembali kata katanya.
"semahal apa pun kamu membeli, pesantren ini tidak akan pernah di jual" ucap vio . lalu membaca doa sebelum makan.
vio makan dengan hidmat, hanya fokus ke nasi bungkusnya. beda dengan raka yang sesekali melihat ke arah vio. padahal vio tidak akan hilang atau berubah jadi kecil.
__ADS_1