HAK PATEN MILIK MAFIA

HAK PATEN MILIK MAFIA
BAB R&V 13


__ADS_3

HAPPY READING READERS!!!! JANGAN LUPA LIKE, COMEND DAN FOLLOW, KARENA LIKE KALIAN SEMANGATKU, COMEND KALIAN INTROPEKSI UNTUKKU, DAN FOLLOW KALIAN ADALAH SUATU KEHORMATAN TERSENDIRI UNTUKKU.


SALAM KENAL SEMUA....


Jam menunjukkan jam 5 sore, kegiatan ngajar mengajar sudah selesai, kita bertiga menunggu mobil jemputan yang di sediakan dari posko.


"vi, tadi itu kenapa sih?" tanya jesi yang duduk di teras mushola, pas samping vio. tidak ada respon dari vio, jesi melihat ke arah vio yang sedang melamun. jesi menyenggol vio pelan, sampai vio meihat ke arahnya.


vio menaikkan alisnya sebelah,. "kenapa kamu bengong.?" tanya jesi mengalihkan pembicaraan.


vio menggelengkan kepalanya. "enggak". jesi memutar bola matanya jengah.


"vi vi, aku kenal kamu bukan sehari dua hari, mending cerita deh, darri pada di pendem, gak enak" usul jesi yang memang paling ngerti dirinya.


"raka" satu nama yang vio ucapkan. jesi yang mengerti menganggukkan kepalanya. "entar lagi kamu hubungi dia, langsung vidio call, dan minta maaf"' nasehat jesi, yang mendapat anggukan dari vio.


"belum datang mobilnya?" tanya rana yang baru datang dari toilet.


"belum"


"eh, vi tadi itu kenapa sih, kelompokmu" tanya rana yang penasaran. jesi menyetujui pertanyaan rana,


"hmm, nanti saja ya aku cerita, sekarang aku lagi bingung mikirin raka" jawab vi dengan lesu.


"ok, deh"


TIN TIN TIN klakson mobil bunyi vi dan teman temannya langsung berdiri saat melihat mobil dari posko ada di depan mushola.


"Assalamualaikum" ucap vio dan teman temannya.


"waalaikum salam" jawab orang yang berada di mobil.


"sudah lama menunggu?" tanya ustad yang menyetir.


"lumayan tad" jawab jesi mewakili temannya.


mobil berjalan dengan santai, jalanan yang di lewati bukan seperti jalan besar, tapi perkampungan, dan harus hati hati karena terkadang banyak anak warga yang bermain lari larian.


mobil berhenti pas di depann posko, vi yang duduk di dekat pintu langsung turun dan masuk ke kamarnya, sebelum itu dia sudah pamit terlebih dahulu pada ustad dan teman temannya.


vio membuka tasnya dan mengambil ponsel, sambil duduk di karpet dekat tasnya. vio menganga melihat panggilan tak terjawab seratus lebi dan jangan lupa pesannya yang penuh dengan amarah.


Jesi menyusul vio yang duduk di tempayt tidurnya. kenapa vi panik gitu?" tanya jesi.


"vi." panggil jeslin yang baru masuk " loh, kamu kenapa, vi? panik gitu" tanya jeslin yang khawatir pada temannya ini.


vio tidak menjawab pertanyaan jeslin." bagaimana ini jes?" tanya vio.


"telfon bali saja, vidio call" ucap jesi.


vio mengganggu dan menghubungi raka dengan vidio call seperti yang di sarankan oleh jesi. jeslin yang tidak tahu apa apa menyenggol jesi sebagai tanda.


"vio lupa ngabarin raka dari siang" jelas jesi. jeslin menganga. sambil melihat ke arah vio yang menatap ponselnya.

__ADS_1


Raka mengambil ponselnya yang berbunyi dan tanpa melihat langsung menekan tombol hijau, lauspeacer panggilan. karena merasa lelah bergulat dengan emosi, sapai lelah menunggu kabar dari gadisnya yang mulai nakal.


vio yang terpesona melihat wajah tampan raka yang tertidur, sepertinya dia belum sadar jika dirinya menghubungi dengan vidio call.


"siapa?" tanya raka dengan mata terpejam. vio tidah menjawab


teman vio yang mau bertanya langsung diam, melihat aba aba dari vio. "dia tidur" ujar vi tanpa suara pada temannya.


jesi dan jesin mengangguk paham. dia ingin melihat namun belum semua, vio sudah menjauhi ponselnya pada ke dua temannya ini. bukan vio pelit, tapi temannya ini tidak bisa liat cogan, sekali liat pasti teriak histeris.


"liat vi" ujar jesi yang kepo tingkat dewa.


"diam, tidak boleh" balas vio masih dengan berbicara tanpa suara.


"siapa sih, ganggu saja, bisu atau gimana" teriak raka


vi melihat ke laar ponselnya kaget melihat raka semarah ini. tapi rasa takutnya tak sebanding dengan rasa terpesonanya dalam wajah raka yang tampan. dengan senyuman jailnya, vio menscren muka raka yang terpangpang dengan polos. yang membawa kesan lucu di mata vio.


vio yang tersenyum, langsung membulatkan matanya saat raka membuka mata, dia mengucek matanya dan melihat lagi ke ponselnya yang terpangpang jelas muka gadis yang dia tunggu tunggu kabarnya.


"kemana?" tanya raka dengan wajah datar dan tatapan seperti menusuk.


wajah polos raka berubah jadi sangar, "maaf" cicit vio sambil menundukkan tatapannya.


dalam hati raka tidak bisa memungkiri, dia senang, ketika bangun tidur, pemandangan indah  pertama yang dia liat adalah wajah vio. andai setiap hari dia bis melakukan ini. tapi itu bukan sekedar harapan, tetapi pasti terjadi. raka tidak akan membiarkan harapannya hanya menjadi harapan saja, tapi akan dia buktikan suatu saat akan terjadi.


"jelasin" ujar raka


raka menarik napas dan membuangnya pelan, dia tidak boleh lepas kontrol, sampai membuat gadisnya sedih dan menjauhinya.


"sudah makan?" tanya raka


"belum, nanti makannya. kamu sudah makan?" tanya vio menatap layar ponselnya.


"belom, aku tidak mikir makan karena nunggu kamu kabarin aku" ucap raka jujur, dengan di bumbui lemas, agar gadisnya merasa bersalah ke padanya.


"maaf, kamu makan sekarang aku temani" ujar vio.


"kita ketemuan di vila ku, nanti a.."


belum selesai bicara vio memotong omongan raka." aku temani lewat hp, aku tidak bisa keluar, sekarang aku sedang jalani tugas, dan ini sudah dalam pengawasan yang ketat. jadi tidak papa ya aku temani di sini saja" ujar vio dengan perhatian. agar raka tidak nekat menghampirinya.


"ok, tapi kalau sudah balik, kamu janji temani aku makan ?"


"ok" jawab vio dengan senyumnya yang membuat raka luluh. raka mengambil makanan yang dia pesan dan memakannya dengan vio di seberang sana yang menemani. lagi lagi raka harus mengalah. ada apa dengan dirinya. dia bukan tipe orang yang luluh, dia merasa semenjak mengenal gadisnya ini, dia seperti bukan dirinya. tapi dia merasa senang melakukan ini.


*****


vio senyum senyum memandang cowok yang baru dia kenal, dan langsung mengklaim dia milik dirinya. vio membenarkan posisinya dari yang duduk sekarang tertidur, dengan menggunakan mukena yang belum dia lepas. selesai sholat isya' jama'a vio langsung ke ruangan tempat vio dan teman lainnya istirahat.


"vi" panggil sasa. vio mengalihkan pandangannya ke sasa.


" ada apa?" tanya vio.

__ADS_1


"kamu tidak mau kelua, atau mau nitip?" tawar sasa.


"kalian mau ke mana?"


"mau jalan jalan, mencari udara segar, sekalian cari jajan" jelas sasa.


vio memikir, pikir "gak deh, aku gak ikut, tapi nitip boleh" ujar vio dengan cengengesan.


"sini, kamu mau nitip apa" tanya sasa, yang mendekat ke vio.


vio membuka tasnya dan mengambil uang sepuh ribu. "hmm, apa saja deh, yang penting bisa buat  ngemil" kata vio, yang tidak mau merepot temannya yang sudah baik ke padanya. lagi pula dia juga tidak tau ada apa saja di luaran.


"ya sudah, aku jalan dulu, assalamualaikum" pamit sasa


"waalaikum salam, terima kasih loh sa" jawab vio


sasa mengacungkan jempolnya lalu menutup pintu . vio mengambil ponselnya,, melanjutkan kegiatannya menatap foto raka yang dia ambil saat tidur.


"kenapa tampan sekali ya, ibumu ngidam apa waktu mengandung mu" beo vio menatap foto raka di layarnya.


"astagfirullahal adzim" ucap vio yang sadar dengan ucapannya, vio mematikan ponselnya. "apa jangan jangan aku di guna guna lagi sama raka, kenapa aku selalu memikirkannya" ujar vio pada dirinya sendiri.


"akh,, kenapa berpikiran buruk seperti ini sih" kesal vio.


"vi, kamu gak boleh suuzon sama orang, apa lagi orang tampan" ucap vio pada dirinya.


vio mengusap wajahnya kasar, mungkin karena sedang gabut, jadi wajah raka yang selalu muncul. vio butuh refreesing. vio segera membuka mukena, melipat dengan rapi, lalu meletakkan di kumpulan mukena yang di sediakan. vio memasang hijabnya dan berjalan ke luar untuk mencari udara segar. dia menyesal tidak mengiyakan ajakan sasa.


Sesampainya di teras, posko sepi, sepertinya temannya itu ikut semua keluar. huuff " tau begitu ikut saja enak" vio duduk di kursi yang berada di teras dengan membaca novel rana yang di tinggal di meja teras.


"sumpah bisen banget" ujar vio, yang kehabisan gaya.


"assalamualaikum" ucap bu asih, istri ustad ridwan


"waalaikum salam"


"loh vio tidak ikut teman temannya vio jalan jalan?" tanya bu asih.


"hehe, nggak buk, tadi saya malas untuk jalan, tapi sekarang saya bosen, jadi menyesal tidak ikut mereka" jawab vio, sambil curhat.


"lah, sendirian jadi kamu di sini?"


"ya nggak buk, kan ada ibu sekarang yang menemani saya"


pandangan mereka teralihkan ke ponsel vio yang berdering. vio melihat siapa yang menghubunginya "raka" baca vio dalam hati. vio melihat ke arah buk asih yang masih setia menatap vio. "buk, saya permisi dulu, mau angkat telpon dulu" ijin vio.


"dari pacarnya ya" goda buk asih. vio yang malu malu hanya tersenyum membalas pertanyaan buk asih.


"saya permisi ke dalam dulu buk. Assalamualikum" ucap vio, dan langsung masuk ke dalam kamarnya.


"waalaikum salam" jawab buk asih dengan senyum dan geleng geleng kepala.


salam kenal untuk yang baca dari aku Aya.

__ADS_1


__ADS_2