
HAPPY READING....
******
Raka merebahkan dirinya di king bed size miliknya, dia mengambil ponsel ketika mengingat pesan bunda kekasihnya. raka menekan no pesantren yang dia minta ketika mengunjungi gadisnya itu pun dengan paksaan, dan tidak menerima penjelasan dari vio saat itu. . dia mensejajarkan ponselnya ke telinga.
"maaf nomor yang anda tuju sedang sibuk" kata suara di seberang. dia langsung mematikan panggilan dan menekan nomer yang lainnya. lalu meletakkan ke telinganya.
"maaf nomer yang..." raka langsung memutuskan panggilannya saat suara perempuan yang entah siapa membuat dia emosi. dia raka melempar ponsel Iphone pro 14 keluaran terbaru itu ke sembarang arah dan beruntungnya ponsel tersebut jatuh ke sofa dan mantul ke lantai marmer yang di baluti karpet bulu tebal.
"****" umpat raka sambil mengusap wajah dan rambunya.
suhu dingin di kamar raka tidak terasa akibat emosi raka yang sudah mencapai ubun ubunnya.
"akh,," teriak frustasi.
"sekali lagi perempuan tidak jelas itu lagi yang berbicara, tak segan segan akan gua cari dan membunuh dia," ujar raka sambil mengambil ponsel lainnya dan langsung menekan nomer yang terakhir. raka meletakkan kembali ponselnya sejajar dengan telinganya.
TUT TUT TUT "krusuk krusuk, Assalamualiakum mencari siapa?" tanya suara perempuan
raka melihat layar ponselnya, lalu mendekatkan ke kembali ke telinganya. "saya cari vio " jawab raka sambil membenarkan osisinya jadi duduk
"vio, kamar beapa pak?" tanyanya
"A2" jawab raka datar.
"baik, tunggu sebentar kami panggil" ujarnya
VIO A2, VIO A2 INTERLOKAL TIDAK DI TUTUP" terdengar suara di seberang.
raka dengan setianya mendengarkan suara bisik seperti suara tawon dari seberang
Dilain tempat waktu yang sama vio yang sedang kumpul dengan temannya yang bercanda tawa di gazebo yang ada di halaman asrama.
"Vi kamu interlokal" ujar jesi
Vio menghentikan tawanya. "kamu nanyak?" tanya vio
"serius vi, " ujar jesi
"VIO A2 INTERLOKAL, VIO A2 INTERLOKAL" suara toa.
"tuh kan, kamu sih gak percaya" ujar jesi
vio langsung turun dari gazebo " tunggu sini" ujar vio saat melihat jesi yang juga turun
"ikut ya?" tanya jesi
"no, kalian tunggu sini saja" ujar vio lalu lari ke arah wartel,
"mbak, vio A2" ujar vio pada petugas.
"oh, sini" jawabnya sambil memberikan ganggang telepon. vio langsung menghampirinya dan duduk di kursi yang di sediakan.
vio menarik napas sebelum menempelkan ganggang telpon ke indra pendengarnya.
"Assalamualakum" ucap vio ragu
"waalaikum salam" jawab suara bariton dari seberang, suhu yang tadinya panas akibat banyaknya santri di ruangan ini, sudah tidak terasa lagi oleh vio,
"a-ada apa?" tanya vio sambil memainkan kabel telepon
__ADS_1
"kenapa lama sekali menganggkat teleponku?" tanya raka dengan intonasi datar
"maaf, tadi masih jalan" jawab vio seadanya. padahal tidak sampai 5 menit raka menunggu, tapi di permasalahkan.
"kenapa tidak memberi tahuku?" tanya raka
"bagaimana bisa aku memberi tahumu kalau aku sedang jalan" jawab vio
terdengar suara helaan napas berat. " kenapa tidak memberi tahuku tentang ke pulangangan mu?" tanya raka
"ha', oh, itu aku tidak pegang nomer kamu" kata vio
"hafalkan nomer ku mulai saat ini" perintah raka
"tidak bisa, " ucap vio
"kenapa?" tanya raka sambil mengernyitka dahinya tapi tidak bisa di lihat oleh gadisnya.
"hafalanku banya di sini, dan itu persyaratan pulang" balas vio polos.
"jam berapa pulang?" tanya raka
"belum tahu, tunggu semua selesai baru bisa pulang"
"bunda jam berapa ke sana?" tanya raka
"insyaallah pagi sekitar jam 9"
"hm, ok nanti aku usahakan bisa menjemputmu" ucap raka
"Vio waktu habis" ujar pengurus.
vio melihat ke arah pengurus, "ah, iya mbak sebentar lagi" balas vio
"waktu apa?" tanya raka yang tidak mengerti
"waktu panggilan, sudah ya, aku tutup. assalamualaikum" ucap vio, belum mendengar balasan dari raka vio langsung menutup panggilannya.
"makasih ya mbak" ucap vio
"ya" balasnya.
vio langsung keluar dari ruang interlokalan dan kembali ke gazebo tempat temannya kumpul.
"siapa vi?" tanya sasa
vio membenarkan posisi duduknya, lalu mengambil susu yang dia beli tadi.
"raka" jawab vio setelah selesai meminum susunya.
"raka?" tanya mereka
"dia bilang apa?" tanya rana yang penasaran
"aku tebak pasti masalah lo gak kabari dia kan?" ucap jeslin
tidak ada jawaban dar vio." mangkanya vi, aku kan sudah bilang, kabari raka" ujar jesi
"iya, katanya kamu mau menerima dia, katanya mau membuka hati buat dia" ujar jeslin
"iya ini masih proses, di kira gampang apa?" ujar vio
__ADS_1
"ya gampang lah, lagian aku heran, raka itu perfec tapi kemu kok bisa tidak suka sama dia" ujar rana
"iya kalau boleh nih ya aku mau loh ada di posisi kamu" ujar sasa
"ya itu mau kamu" sewot jeslin sambil mendorong sasa
"lah, kan aku sudah bilang aku mau, emang kalian gak mau punya cowok tampan seperti raka?" tanya sasa
"ya, gak nolak lah" jawab jesi dan rana
"fabiayyi ala irobbikuma tukadziban" ujar jeslin
"tapi, kamu benaran mau buka hati untuk raka?" tanya sasa
"ya tidak ada salahnya, semua tergantung niat bukan, dan aku niat untuk merubah raka" ujar vio
"setuju sih, biar seperti di novel novel, psikopat jatuh cinta, atau mafia in love" ujar jeslin mengngat cerita novel yang pernha dia baca
"novel mulu" ucap jeslin
"ye, sirik aja kamu" balasnya.
"tapi vi benar juga, kalau kamu membuka hati untuk dia mungkin dia akan berubah dan menjadi lebih baik" ujar sasa
"itu keinginanku" balas vio
"ya, ketulusan bukan di lihat dan di beritahukan oleh ucapan, tapi ketulusan akan dirasakan oleh orang yang kita sikapi." ujar rana
"benar sih, aku harap sih kamu bisa menuntun dia "
"BTW, mafia itu suka ngebunnuh gitu gak sih?" tanya sasa
"dar novel yang aku baca tentang mafia, gitu sih' balas jesi
"vi, raka pernah gak membunuh orang"
vio terdiam memikirka pertanyaan temannya ini" aku tidak tahu, tapi menurut kalian bagaimana?"
"kalau aku sih iya" jawab sasa
"eh, jangan suuzon, istigfar sa" balas rana
"dari pada mengira ngira dan jatuhnya fitnah, mending kamu tanya kan langsung saja sama sang mpuknya" ujar jesi
"dodol, ye kali tanya langsung, untung kalau masih di tatap, kalau di todong pistl bagaimana?" tanya jeslin
"ya tinggal baca s yahadat lah, biar matinya dalam ke adaan dan ketegasan islam" jawab jesi santai
"kalian ini ada ada saja" ucap vio. yang dari tadi hanya menyimak argumen yang keluar dari temannya, walau tidak ada yang serius.
"vi, bagaimana nanti kalau kamu s udan buka hati raka malah bersama cewek lain?" tanya rana
"ya gak mungkin lah ran, setahu aku seorang mafia yang dinginnya ngalahin kutup utara, itu setia sama satu cewek." ujar jeslin
"iya, malah biasanya, dia tidak akan melepakan dia" sambung jesi "posesif gitu sih singkat padatnya" tambahnya
"sudah, kalian debat mulu. kalau dia jodohku ya akan tetap bersamaku, tapi jika bukan, aku percaya Allah sudah menyiapkan jodoh yang lebih baik darinya." ujar vio
'so kalina tidak perlu debat, " tambahnya.
"Mending kita balik ke asrama yuk" ajak rana
__ADS_1
mereka semua kembai ke asrama sambil membawa sampahmereka unuk di buang ke tempatnya.
TBC