HAK PATEN MILIK MAFIA

HAK PATEN MILIK MAFIA
BAB R&V 28


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA....


****


Derren sambil bersiul menelusuri lorong menuju ruangan raka. bukan pertama kalinya derren menginjakkan kaki di kantor Angelio. dia sudah tidak asing lagi di kalangan karyawan kantor ini, jadi tidak heran jika mereka juga membungkukkan badannya saat dia melintasi mereka.


sesampainya di depan ruangan, derren melihat ke meja sekretaris raka yang ada di depan ruangannya.


"dimana dia?"tanya monolog.tidak mau repot, ia langsung masuk ke kamar tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"wow" beo derren melihat sekretaris raka yang tergeletak di lantar dengan darah yang mengalir mengotori lantai. derren berjalan berjinjit mendekati raka.


"kenapa lo bunuh dia?" tanya derren sambil sedikit duduk di meja kerja raka menatap korban dengan melipat kedua tangannya di perut.


"pengganggu" balas raka, sambil mencium pistol kesayangannya dan meletakkan kembali ke dalam jasnya.


derren mengangguk anggukkan kepalanya paham. ini sudah biasa dia lihat, memang raka ini tidak berubah dari dulu. jika dia merasa terganggu tanpa pikir panjang langsung di musnahkan.


"tepat waktu lo datang" ujar raka. "beresin ke kacauan ini" kata raka tanpa bantahan.


derren hanya bisa pasrah dan mengambil ponselnya untuk menghubungi orang suruhannya yang akan menyelesaikan dan membersihkan kekacauan yang di buat oleh sahabatnya ini, sungguh merepotkan. tapi apa daya dia.


"sudah bentar lagi orang suruhan gua datang" ujar derren. raka tidak  menjawab, mala sibuk dengan laptopnya.


derren merasa datang ke kantor angelio saat ini mendapatkan ke sialan . derren yang tidak berani mengganggu raka yang sedang sibuk dengan komputernya, akhirnya memilih diam, sampai raka selesai mungkin.


"ada perlu apa lo ke kantor gua?" tanya raka.


derren langsung membenarkan posisinya, dan tersenyum lebar setelah mendengar raka membuka suaranya. jadi dia tidak perlu menunggu lama untuk menyampaikan tujuannya dia ke sini.


derren memberikan berkas ke arah raka. raka menghentikan kerjanya melihat benda yang baru saja derren berikan kepadanya.


"gua mau ngajak lo kerja sama sama gua untuk bisa kerja sama dengan  dengan Thailand " ujar derren.


raka mengambil berkas yang di letakkan derren. raka membaca dengan seksama isi berkas tersebut.


"gua mohon lo bantu gua buat bisa kerja sama dengan Thailand, " ujar derren.


"Apa keuntungan gua?" tanya raka.


"lo akan dapat setengah hasilnya bagaimana?" tanya derren


raka menimang nimang. "memang Thailand tidak berisiko?" tanya raka ragu.


"ya gua tahu, tapi kalau kita menang kita untung besar,''

__ADS_1


raka berpikir keras, di dalam dunia bisnis, yang ada campur tangan  dengan dunia bawah tanah itu tidak mudah, bahkan kerugian pun bisa di dapatkan, dan yang paling parah peperangan yang akan memakan korban jiwa.


"gua yakin kalau lo gabung sama gua, kita bisa menang tender" ujar derren yakin


"ok, karena lo sudah bantu gua, jadi tidak ada salahnya jika gua juga bantu lo. " ujar raka


"benaran?" tanya derren meminta ke pastian.


"atur saja pertemuannya," ujar raka.


"ok, kalau begitu, gua balik bye.." ujar derren.


raka melanjutkan pekerjaannya. saat derren hendak keluar dari ruangannya. "gua kok merasa tidak enak ya?" tanya derren pada dirinya. derrenn kembali menghampiri raka.


'kenapa balik?" tanya raka.


"gua tadi mau ngasih tahu lo sesuatu, tapi gua sudah lupa apa yang akan gua beritahu ke lo" jelas denren.


raka menaik turunkan bahunya, "gak penting kali," ujar raka


"ya kali ya, nanti kalau gua ingat gua beri tahu lo" ujar derren langsung keluar dari ruangan raka untuk kembali ke kantornya.


******


TOK TOK TOK


"maaf mbak, apa benar dengan saudari violet?" tanya laki laki tersebut.


"ya saya sendiri, " jawab vio sopan


"saya mau mengantar belanjaan anda" ujar mas mas itu.


"oh, ya letakkan di sini saja, " ujar vio menunjuk teras. di rumahnya tidak ada orang hanya dirinya, pembantunya juga sudah pulang sejak tadi.


"baik mbak" ucapnya.


vio menutup mulutnya yang menguap, belum selesai menguap mulut vio tertutup melihat orang membawa 3 kardus besar.


"ini semua belanjaan saya?" tanya vio


"iya benar, silahkan anda tanda tangan dulu" ujar mas mas itu


vio mengambil pena yang di berikan, dan langsung menandatangani surat penerimaan yang di berikan oleh pengantar barangnya.


"kalau begitu saya permisi " pamitnya.

__ADS_1


"ya, terima kasih" ujar vio


setelah mereka pergi, vio melihat ke arah 3 kardus besar yang baru saja di letakkan oleh pengantar. vio berkacak pinggang sambil melihat 3 kardus itu. "bagaimana cara membawa ke dalam ya?" tanya vio pada dirinya sendiri.


"masa iya ini belanjaannya, banyak banget. perasaan waktu belanja aku tidak mengambil banyak segini" ujar vio


dengan terpaksa, vio mendorong kardus besar tersebut, untung ukurannya pas dengan pintu, jadi vio tidak ribet.


merasa lama jika di dorng, vio mencoba mengangkat kardus itu, tapi sayangnya bukan terangkat yang ada tangan vio yang kejepit.


"auu" keluh vio sambil mengibas ngibaskan tangannya.


"tidak ada cara lain, mending aku dorong saja deh" monolog vio.


setelah susah payah, akhirnya 3 kardus itu masuk juga ke dalam rumahnya, vio langsung menutup pintu utama. lalu merebahkan dirinya di lantai kramik rumahnya.


keringat vio berceceran, nafas ngos ngosan, vio menyalakan kipas, dan menikmati angin yang menerpa dirinya.


"huuf, alhamdulillah, akhirnya selesai juga." beo vio. "ini gara gara raka nih" ujar vio sambil ngos ngosan.


"andai dia tidak buat aku kesal, pasti gak akan seperti ini."


vio sengaja belanja banyak, bahkan camilan yang dia beli bisa lebih dari satu tahun, dan kebutuhan rumah dan juga dirinya. niatnya kasih pelajaran raka dengan menguras isi atmnya, eh mala ketiban sendiri. sedangkan raka biasa saja. malah dengan santainya dia menyuruh membeli baju.


vio memejamkan matanya sambil mengendalikan nafasnya.


TOK TOK TOK "assalamualaikum" ucapnya dari seberang pintu


vio membuka matanya "waalaikum salam" ucap vio. "masuk bunda, pintunya gak vi kunci" ujar vio sedikit berteriak


"kena? ya Allah vi, kamu kenapa?" tanya vio panik menghampiri vio yang masih tiduran di lantai.


"vi tidak papa" balas vi sambil mencium punggung tangan bundanya. "kamu habis ngapain kenapa tiduran di lantai?" tanya bunda


"vi cap"


"ini apa vi, kok ada kardus besar, ini punya siapa?" tanya bunda.


"satu satu bunda" ujar vio


"cepat jawab"


vio menceritakan kejadian dari awal ke bundanya" kamu tidak boleh begitu, jangan di ulangi lagi. " tegur bunda setelah mendengar penjelasan vio.


"iya tidak lagi" jawab vio.'vi mau sholat dulu bun" ijin vio

__ADS_1


"iya, setelah itu kita makan" ucap bunda yang sudah berdiri.


TBC


__ADS_2