HAK PATEN MILIK MAFIA

HAK PATEN MILIK MAFIA
56


__ADS_3

Setelah mencari mengelilingi penjuru Mall, raka tidak menemukan vio. "Agh, sial," umpatnya. dia mengambil ponsel dan mengetik beberapa huruf setelah itu langsung keluar dari Mall, tujuan utamanya sekarang adalah rumah gadisnya. Raka menancap gas dengan kecepatan tinggi, tidak peduli dengan umpatan dan klakson orang yang dia lewati, raka terus menghubungi vio yang tidak tetap tidak mengangkat panggilannya. "Agh" raka melampiaskan emosinya dengan memukul stir mobilnya berulang kali.


"LO BODOH, GAK SEHARUSNYA LO LAKUKAN INI!!" Teriak raka, sambil memukul stir mobilnya. Keadaan raka saat ini sangat kacau.


Dia terus menghubungi ponsel vio yang tersambung namun tidak ada jawaban dari pemiliknya, membuat raka semakin khawatir dengan gadisnya.


"Kalau sampai gadis gua kenapa napa, lo dan bokap lo harus tanggung semuanya!!!" ucap raka penuh penekanan.


Di lain tempat vio yang sudah sampai di rumah, langsung pamit masuk kamar ke bundanya, sambil membawa boneka yang dia beli tadi, vio langsung meletakkan bonekanya di atas kasur, lalu melepas tas selempangnya. Vio mengambil ponsel yang sengaja dia selent ketika raka menghubungi nya berkali kali. Layar ponsel vio menyala, dengan panggilan yang tertera nama raka, vio hanya melihat layar tanpa niat untuk mengangkatnya, hingga panggilan berakhir, terera di layar ada pemberitahuan panggilan tak terjawab 100 dari raka.


Vio meletakkan ponselnya di nakas, samping bed size nya, kejadian beberapa menit lalu kembali berputar di ingatannya, bagaimana espresi raka yang terlihat biasa saja saat bertemu dengannya, tak terasa air mata vio jatuh tanpa di sadari oleh mpunya.


"Apa kamu hanya mempermainkan perasaanku?" tanya vio yang entah pada siapa.


Vio melihat ponsel yang menyala di atas nakas, dia pun mengambil ponselnya " kenapa dia terus menghubungiku?" tanya vio sambil tersenyum pahit.


Vio memutuskan untuk mengangkatnya, sebelum dia mengangkat panggilan raka, vio menarik, lalu mengeluarkan nafasnya pelan, supaya sedikit rileks. Vio menggeser ikon hijau dan mengangkat ponselnya ke telinganya.


"Kamu di mana?" tanya raka dengan nafas yang menggebu gebu.


"Aku di rumah, kenapa?" tanya vio yang berusaha untuk biasa. Terdengar suara helaan nafas raka


"Aku kesana" kata raka


"mau apa? ini sudah malam, mending kamu langsung balik saja, aku juga mau istirahat"


"Kita harus berbicara, aku mau jelasin yang tadi"


Vio terdiam, air matanya jatuh, dengan cepat vio langsung menghapusnya," tidak perlu" balas vio pelan. mengingat ke jadian beberapa menit yang lalu, entah kenpa vio merasa sakit di bagian dadanya, sambil memegang dadanya, vio menarik napas dalam dalam saat dadanya  sesak.


"Ini perlu, kita ketemu sekarang" paksa raka


"besok saja ya," ucap vio " aku mau istirahat" lanjutnya


"Aku mau sekarang, kamu sudah berani melawanku, kamu tahu kan aku tidak suka di bantah, kamu lupa sama konsukuensinya?!!!" geram raka penuh penekanan


Vio melepas napas lelahnya, "ya, aku tidak lupa kok sama konsukuensinya, kita ketemu sekarang, di mana?" tanya vio

__ADS_1


"Aku jemput" panggilan langsung terputus sepihak dari raka.


Vio meletakkan ponselnya di kasur, vio terus mengucapkan istigfar untuk menenangkan hatinya yang tidak karuan,


          Suara klakson bunyi, tanpa melihat dari jendela kamarnya vio sudah tahu siapa dia, vio menghapus jejak air matanya, meihat ke cermin pantulan dirinya, vio mengambil bedak baby dan memakainya di mukanya agar tidak terlihat jika dia baru saja menangis.


Vio membuka pintu kamarnya, "Siapa vi?" yanya bunda yang baru keluar dari kamarnya.


"Oh, itu raka bun" jawab vio


"Loh kok gak turun?" tanya bunda


"Ya, vio sama raka mau keluar sebentar, gak jauh kok bun,"


"mau ke mana?"


'ke taman depan" baas vio sambil mencium punggung tangan bundanya


"Ya sudah, kamu hati hati"


"Iya, jangan malam malam"


"Iya, vi berangkat dulu, assalamualaikum" ucap vio sambil menunjukkan senyumnya.


"Waalaikum salam" jawab bunda, sambil menatap kepergian putrinya dengan terheran heran.


 Vio membuka pintu dan kembali menutupnya dari luar, vio langsung menghampiri raka yang masih ada di dalam mobil, vio mengetuk kaca mobil raka dan langsung di buka oleh pemiliknya.


"Masuk" ucap raka


"Kalau mau ngobrol di taman depan saja, kita jalan kaki" ucap vio


Tanpa protes raka langsung keluar dari mobilnya "Ayo" ujar raka sambil mengunci mobilnya dengar remot.


Vio mengikuti raka dari belakang, tak ada niatan untuknya jalan di sebelah raka, raka menghentikan langkahnya dan melihat ke arah vio yang berada di jarak 2kilan.


"Sini" kata raka, mau tak mau vio melanjutkan langkahnya sampai di samping raka, "Aku mau jelaskan yang tadi, sebenarnya dia itu-"

__ADS_1


"calon tunangan" sambung vio melihat ke raka, "aku sudah tahu, tadi kan dia sudah kasih tahu" lanjut vio terus berjalan.


"Dengerkan dulu penjelasanku" ujar raka yang tak habis pikir dengan pikiran gadisnya, apa dia tidak percaya dengan cintanya. apa dia tidak melihat bagaimana kacaunya dirinya saat ini.


"Ka, kamu tidak salah pilih, dia itu cantik dan  sangat cocok dengan mu, jadi, kapan kalian akan bertunangan?" tanya vio


Raka melepas nafas beratnya, "besok" jawab raka datar, sambil memasukkan tangannya ke saku.


Vio yang mendengar jawab raka langsung melihat ke arahnya, mencari kebohongan di wajah raka, tapi vio tidak menemukannya, raka terlihat santai. vio kembali melihat ke depan ke arah jalan " jam berapa?" tanya vio


"Pagi sampai malam" balas raka


Vio menganggukkan kepalanya berulang kali dengan pelan, "selamat ya, semoga kalian bersama terus sampai tua" ujar vio, Vio mengedipka matanya berkali kali, agar cairan bening di matanya tidak jatuh di depan raka,


"Kenapa sesakit ini Ya Allah" batin vio, sambil mengatur nafasnya yang tiba tiba sulit untuk bernafas.


Vio menghentikan langkahnya, begitu juga raka yang mengikutinya, "kamu sudah kan jelasinnya, kita balik yuk" ajak vio sambil menatapnya sebentar dan kembali melihat ke depan saat di rasa mata vio berair. dia tidak mau jika sampai raka melihatnya.


"Aku beum jelaskan semuanya, bahkan tentang hubungan kita" kekeh raka


"Apa yang mau kamu jelaskan lagi? semua sudah jelas bukan?" tanya vio


"Bagaimana caranya aku menjelaskan, kalau dari tadi kamu mengambil kesimpulan sendiri, tanpa mendengarkan penjelasan, dan alasanku?"


Vio melihat ke jam yang melingkar di tangannya, "sudah malam, aku harus balik" pamit vio sambil meninggalkan raka yang tetap diam.


Raka menggenggam tangannya hingga kukunya memutih, sampai tidak terasa jika kuku raka menancap di telapat tangannya yang sudah mengeluarkan darah, "BERHENTI ATAU--"


"ATAU APA?" bentak vio sambil menghentikan dan menghadap ke raka, "MAU BUNUH ORANG TERDEKATKU? IYA!?" Tanya vio dengan emosi, "Ini masalah aku dan kamu, jadi jangan pernah melibatkan orang lain, jika kamu ngin meluapkan amarahmu dengan membunuh, bunuh aku!!" lanjut vio. Bendungan air mata yang dia tahan tahan, akhirnya jatuh tak terkendali, dengan cepat vio menghapus air matanya dan langsung melanjutkan langkahnya untuk kembali ke rumahnya.


"AGH,," teriak raka, sambil memukul udara, nafas raka naik turun, untungnya jalan taman sepi, tidak ramai seperti malam minggu, "Kau harus membalasnya" ujar raka dengan penekanan, raka melangkahkan kakinya dengan  tidak bertenaga menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah vio.


Sebelum masuk mobil raka memandang rumah vio, lebih tepatnya jendela kamar vio yang remang, hanya ada cahaya lampu tidur yang menerangi ruangan tersebut.


Raka melepas nafas beratnya. "Maaf, aku janji ini yang terakhir membuatmu menangis, kamu tenang saja, aku akan balas air matamu dengan darah, sakitmu, akan aku balas dengan belipat lipat" ujar raka sambil melihat ke jendela kamar vio. "good night my honey" ucap raka, lalu masuk ke mobil dan menancap gasnya dengan kecepatan tinggi.


Vio membuka korden jendela kamarnya, saat mendengar suara mobil raka yang berjalan menjauh dari pekarangan rumahnya, air mata vio kembali jatuh, "apa pilihanku salah untuk merubahmu dengan menerimamu masuk ke dalam hatiku?" tanya vio entah pada siapa,

__ADS_1


__ADS_2