
HAPPY READING!!..
Avan mendengus, "Bajingan" umpat Avan tersenyum sinis ke Raka yang menatapnya datar.
Raka melepas napas beratnya. "Maaf" ucap raka
Avan tertawa sumbang, "Sejak kapan seorang Raka, king mafia meminta maaf" ejek Avan. Dia menghampiri Raka dan memberi bogeman kuat padanya
Pukulan yang di lontarkan oleh Avan begitu kuat, dan Raka tidak ada persiapan membuat wajahnya berpaling, Raka kembali menatap datar ayah dari gadisnya, tanpa niat membalas
Avan yang melihat wajah raka datar, tanpa ada ringisan setelah di pukulnya merasa salut, dan tak heran jika dia di pilih jadi King Mafia dunia.
Raka langsung mengambil tempat duduk di sofa ruangan. "Saya tahu kau kecewa dengan saya" ujarnya, "tapi jangan pernah jauh kan putrimu dengan saya, kau pasti tahu resikonya" lanjut Raka menatap tajam pria berumur yang duduk di kursi kerjanya.
Avan tersenyum miring, "sepertinya bukan saya yang akan menjauhkan putri saya, tapi dia sendiri yang akan meninggalkan anda" balas Avan.
Raka terkekeh, "itu tidak akan terjadi, karena putrimu mencintaiku" ujar Raka
"Kita lihat saja, dan saya. Tidak akan tinggal diam jika kau menyakiti putri saya" kata Avan
"Saya tidak ada niat untuk menyakiti putrimu" ujarnya
"Tapi kau sudah menyakitinya, kau tahu dia mencintaimu, tapi." ujarnya sambel mendengus" kau malah tunangan dengan putri Jacson, apa itu tidak menyakiti putri saya?!!." Ujar Avan emosi
Raka melepas nafasnya berat. "Saya tahu. Pertunangan ini tidak akan lama" ujar Raka
"Maksud kau?"
"Pertunangan ini hanya syarat kerja sama antara daddy saya dan Jacson" jelas Raka, "setelah rencana daddy saya selesai, pertunangan ini juga selesai"
"Rencana,? rencana menguasai daerah Jacson" tebak Avan tepat sasaran. "Apa tidak ada cara lain, bukan kah kau bisa membantu daddy mu itu King Mafia?" tanya Avan
"Ya, saya bisa, tapi bukan kah kau sudah mengenal watak seorang Andrew?" tanya Raka balik.
Avan bedecak, "sama saja, kau sudah menyakiti putri saya."
"Saya, sebagai kekasih putrimu, saya meminta maaf pada mu calon mertua" ujar Raka datar.
Avan mendengus "saya belum merestuimu" balas Avan dengan mengeluarkan smirknya.
"Tak masalah, yang saya butuh putrimu bukan restumu" ujarnya, sambil bangkit, Raka merapikan jasnya
"Saya ke mari hanya ingin menjumpaimu mertua" ucap Raka lalu keluar dari ruangan Avan.
"Gila" umpat Avan
Avan memijat kepalanya yang berdenyut nyeri, selama dia jauh dengan keluarga, Avan tidak pernah absen untuk menyuruh orang suruhannya memberi kabar tentang mereka, dan Avan begitu khawatir saat putrinya bertemu dengan King mafia dunia. Avan yang mengetahuinya, langsung menyusun rencana untuk king mafia, tapi semakin kesini, Avan mendapat kabar jika kemungkinan besar king mafia menyukai putrinya, tapi itu tidak memutuskan rencananya, rasa ingin membantai semakin kuat. hingga pada saat orang suruhan Avan yang memata matai putrinya melaporkan, jika putrinya sudah membuka hati dan mulai mencintai king mafia, Avan bepikir dua kali untuk menjalankan rencananya. menurutnya bagi seorang ayah, tidak ada yang lebih penting dari kebahagian istri dan juga anaknya.
__ADS_1
Raka keluar dari gedung kantor besar dengan di ikuti anak buahnya, Tujuannya saat ini adalah mantion
Sesampainya di mansion raka di sambut oleh ratusan bodigat yang berjejer rapi di setiap sudut mantion, Raka langsung masuk ke kamarnya, dia membuka jas, dna melempar asal jasnya, Raka membaringkan dirinya di bed size besar dan luas. terlihat wajah vio saat raka memejamkan matanya,
Raka mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang ada di indonesia. "Hallo" ucap raka
Hening tidak ada balasan dari seberang "Dad" panggil raka
"Hmm" gumam di seberang.
"Bagaimana misimu?" tanya raka
"2 hari lagi slesai" ujarnya
Raka mematikan sambungn, terlihat wajah vio yang dia jadikan wallpeaper ponselnya.
"Aku kangen kamu" ucap Raka sambil memeluk ponselnya. ponsel raka yang baru saja di aktifkan langsung berjejer notivikasi, Raka melihat satu satu notivikasi, hanya ada pesan dan panggilan dari Mila, Derren, Daddy dan orang kantor yang menghubunginya.
*****
Pagi hari yang cerah, vio membuka jendela kamarnya agar udara segar masuk ke dalam, Ia membersihkan kamarnya dan merapikan tempat tidur, membersihkan debu yang ada di jendela dan tempat lainnya, dengan di temani musik BTS ke sukaannya.
Vio naik ke kursi untuk membersihkan foto yang di pajang di dinding yang lumayan tinggi, Vio ikut bernyanyi di pagian lirik lagu BTS yang dia tahu, sampai di tengah lagu, lagu itu berhenti berganti dengan nada dering teleponnya, vio melihat ke arah ponselnya yang ada di nakas, pelan pelan vio turun dari kursi dan mengecek siapa yang pagi pagi begini menghubunginya.
Dahi vio mengernyit saat melihat yang menghubunginya bukan no indonesia, karena penasaran vio memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut yang sebelumnya vio sudah menon aktifkan blututnya.
Vio mengangkat ponselnya, tidak ada suara di seberang, vio melihat kembali layar ponselnya siapa tahu sudah tidak tersambung, "Masih nyambung kok" gumam vio yang mengarahkan ponselnya kembali ke telinganya.
"Assalamualaikum" suara bariton yang sangat familiar terdengar dari seberang saat dia hendak mematikan sambungannya.
"Waalaikum salam" jawab vio, terdengar dari sana suara nafas berat.
"Aku rindu" ucapnya, seketika badan vio tegang endengar suara orang yang belakangan ini menghantui pikirannya.
"Raka" ucap vio.
"Bagaimana ke adaan mu?" tanya Raka
Vio langsung terduduk di kasur, "baik" jawab vio lemas, "kamu ganti nomer?" tanya vio
"Tidak, ini hanya sementara.Aku ada di luar negeri, ada kepentingan di sini," jelas Raka
"Ooh"
"Kamu ada di mana?" tanya Raka
"Ada di kamar, ini aku bersih bersih kamar, kamu sejak kapan di sana?'' tanya Vio
__ADS_1
"Keesokan setelah kita bertemu di taman rumah mu"
"Tunangan mu ikut ke sana?" tanya Vio sambil menggigit bibir bawahnya, ada rasa sakit sebearnya menanyakan perempuan lain, apa lagi yang notebel tunangan orang yang sudah mengisi hatinya beberapa hari ini.
"Tidak, aku sendiri" jawab Raka, yang entah membuat Vio bernafas lega mendengarnya. "Vi, kamu percaya kan sama aku?" tanya Raka
Vio terdiam, "Entahlah" balasnya
"Dengar dan percaya sama aku, dia memang tunanganku sekarang, tapi tidak untuk besok" ujar Raka
"Maksud kamu?"
"Aku tunangan sama dia, itu karena ada alasannya,"
"Alasan apa?" tanya vio penasaran
Raka menceritakan semuanya pada Vio, tidak ada satu pun yang dia lewatkan, termasuk rencana besok yang akan di lakukan Andrew.
"Astagfirullah, kenapa bisa sampai begitu ka, berdosa jika mengambil tanah milik hak orang" ceramah vio
"Tanah yang di miliki ayah Mila, itu bukan tanah miliknya, dia merampas dari orang kalangan bawah" jelas raka.
"Lalu, daddy mu akan mengambil alih dari ayah Mila, dan mengembalikan pada orang yang berhak?" tanya Vio
"Untuk itu aku tidak tahu, dan bukan urusanku"
"Itu urusanmu sebagai anak.Ka semua yang kita lakukan di dunia, itu di pertanggung jawabkan kelak" ujar vio tak habis pikir dengan Raka
Raka menghela nafasnya, "terus apa yang harus aku lakukan?" tanyanya
"Ya, kamu nasehatin daddy kamu, kalau bisa, jangan sampai ada perperangan apa lagi sampai tumpah darah" ujar vio. "mending nih ya, kalau tumpah darah karena jalan Allah, matinya tidak sia sia, dia akan mati syahid, dan orang yang mati syahid akan masuk syurga tanpa hisab" tutur Vio
"Ya, nanti aku coba cari cara agar tidak terjadi perang"
"Kamu ada di mana?" tanya Vio
"Itali"
"Di sana pagi atau malam?"
"Siang, jam 1" jawabnya
"Ka, aku tutup ya, aku mau lanjut bersih bersih" ujar vio, melihat pekerjaannya yang belom selesai
"Iya sudah, Assalamualaikum" ucap Raka
"Waalaikum salam" balas vio, lalu mematikan sambungannya.
__ADS_1
Vio mengaktifkan kembali blututnya, lagu yang sempat berhenti kembali berlanjut, Vio kembali naik ke kursi untuk melanjutkan membersihkan foto yang tadi sempat tertunda.
TBC