
"Hmm, " suara jeslin yang pura pura meregangkan ototnya di belakang dengan suara di buat seperti baru bangun tidur. "sudah sampai" beo jeslin yang sedikit berdiri melihat ke depan.
"iya, baru sampai" jawab vio menoleh ke jeslin yang ada di belakang.
"jes, wake up" ucap jeslin dengan suara lemasnya.
"hmm, "rengek jesi yang merentangkan tangannya sengaja mengenai muka jeslin. jeslin menghentak kan tangan jesi dengan kesal.
"santui napa lin" ucap jesi mengibaskan tangannya yang sedikit nyeri.
"mangkanya jangan usil dulu" elak jeslin.
"bangun" ucap vio sambil mengguncang teman yang ada di sebelahnya pelan. setelah setengah sadar vio membangunkan yang di depan.
"ayo turun" ujarnya. vio turun lewat pintu yang di sebelah raka. raka yang sudah di luar melunturkan bahunya dan tangannya yang kebas.
"kenapa rak?" tanya jeslin.
"kebas" jawab raka singkat.
"haa' kok bisa? memang kena tindih ?" sambung jesi bertanya. dengan senyum jahilnya.
"gak" selesai menjawab, raka melihat desa yang mereka tuju. sangat seperti perkampungan. dia menghirup udara segar dengan melihat ke arah sawah.
Jeslin, dan jesi melihat ke arah vio yang melihat ke sekeliling. "jangan jangan, di tindi kamu ya vi?" tanya jesi.
"mana ada" jawab vio dengan memalingkan mukanya ke arah pemandangan.
"iya in saja jes" tutur jeslin pada jesi.
"ayo kita ke posko" ujar vio
jesi dan jeslin masih senyum senyum gak jelas ke vio. vio yang melihat hanya bergidik ngeri melihat tingkah temannya ini takut ada jin mana gitu yang nyangkut.
Mereka mengambil barang lalu membawanya ke posko . Vio yang merasa ada raka yang mengikuti di belakang langsung melihat ke arahnya.
"ngapain?" tanya vio.
raka mengataskan sebelah alisnya, "masuk" jawab raka.
vio menarik napas dan mengeluarkannya sebelum menjelaskan ke raka. "masuk kemana?, ini itu tugas aku, mending kamu pulang, cukup sampai di sini ngantarnya paham?" jelas vio pada raka.
"ke mana kamu pergi aku ikut, buat jaga kamu" jawab raka, yang melewati vio untuk menyusul teman teman vio.
sebelum jauh, vio langsung menarik baju raka dengan kekuatannya yang dia punya, walau tidak sampai mundur, setidaknya raka berhenti berjalan dan melihat ke padanya.
"sudah, pleace, ini acara aku, jadi yang tidak di tugaskan di minta pulang. jangan buat malu deh" kesal vio pada raka yang selalu mau enaknya sendiri.
raka menatap wajah vio yang kesal ke padanya, vio yang membalas tatapannya terpesona, karena rak senyum, entah tapi senyum kali ini beda, biasanya raka selalu mahal jika di suruh senyum, jangankan ke publik, ke dirinya saja hanya sedikit.
"wow, fabiayyi ala irobbikuma tukadziban" beo vio tanpa sadar. '' ternyata kalau kamu senyum tampah tampan" puji vio yang masih dalam mode pesona.
__ADS_1
BLUSS, muka raka dan telinganya memerah dan jangan lupa dengan jantungnya yang mendugem di dalam. hanya karena pujian vio raka jadi merasa panas di area wajahnya.
"raka, kenapa wajah kamu merah" ucap vio yang pura pura kaget. jelas vio tidak sepolos itu, dia tahu jika raka sendang blasing. karena bagaimana pun vio hobi membaca apa lagi novel.
"panas" jawab raka, yang mengendalikan dirinya. tapi terlihat salting di mata vio.
vio melepas tawanya yang dia tahan, melihat wajah raka yang dalam mode lucu saat ini, membuat vio tidak bisa lagi menahan tawa. "kamu blasing?" tanya vio dengan ketawa yang semakin jadi sehingga wajah vio memerah.
Raka menatap datar vio, kesal? tidak. dia hanya malu "Aku balik dulu, setelah acaramu selesai aku jemput" ujar raka.
Vio memegang perutnya dan menghapus air matanya yang keluar sedikit akibat tertawa. " ya, 5 hari lagi kamu jemput" ujar vio.
raka menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan vio yang masih tertawa, walau tidak seperti awal. "raka" panggil vio. io yang melihat raka berhenti langsung menghampirinya dan mengeluarkan ponselnya lalu mengarahkannya pada raka.
"senyum kayak tadi" suruh vio yang melihat raka dari layar ponselnya. raka menaikkan satu alisnya. dengan kesal vio menurunkan ponselnya dan kembali mengunci ponsel miliknya.
"ni, liat" vio menunjukkan layar ponselnya yang mati dan menekan tombol sehingga ponselnya hidup.
wajah raka langsung memerah, kali ini bukan karena blasing. tapi amarah, melihat latar kunci hp gadisnya terpang pang foto laki laki yang tersenyum.
"ganti" ujar raka, dengan tatapan tajamnya.
vio melihat kembali layarnya dan menghidupkan kamera, lalu mengarahkan pada raka. "senyum. mau aku gantikan?," raka mengangguk. "ganti foto mu saja" ujar raka dengan datar.
"aku suka cowok tampan, yang terpajang di layar ponselku." balas vio. " kalau kamu tidak mau foto sambil senyum. ya aku tidak akan mengganti foto dia" ujar vio.
raka menggenggamkan tangannya sampai kuku nya memutih, menahan amarah pada gadisnya ini yang mulai berani membantah. raka memilih meninggalkan dari pada dia harus lepas kontrl dan gadisnya tidak akan mau bertemu dengannya lagi.
"assalamualaikum" ucap vio yang baru bergabung dengan kumpulan.
"waalaikum salam, duduk vio" ujar vina.
vio membalas dengan senyuman. dan duduk di dekat jesin. jeslin melihat kke belakang vio tidak menemukan raka. " ke mana raka?" tanya jeslin pelan.
"balik" jawab vio. jeslin menatap vio yang sedang kesal " kenapa, ribut?" tanya jeslin yang ke kepoan nya kambuh
"nggak. nanti au ceritanya, gak enak sama yang lain" ucap vio. jeslin menganggukkan kepalanya dan mulai bergabung dengan yang lain.
******
Di mobil raka memukul setir kemudinya. dia sedang emosi karena gadisnya, dengan melampiaskan dia meminta sopirnya untuk pergi dan mengendarai mobil sendiri.
"AGGH, siapa orang yang ada di layar kunci vio" raka memegang kepalanya yang sedikit pening. hingga sampai di vila yang baru saja dia beli kemarin, karena tahu jika vio ada tugas di daerah ini.
raka langsung membuka pintu dan mendudukkan dirinya di sofa dengan kasar. raka memejamkan matanya untuk menahan emosi yang mempengaruhinya. bayangan wajah laki laki yang terpajang di loc scren ponsel vio sangat jelas di ingatannya.
"AGGH" raka langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang untuk datang.
10 menit pintu terbuka. "ada apa?" tanya derren. yang langsung duduk di hadapan raka.
tanpa ada jawaban dari raka. membuat derren kesal dan hendak pergi " cari tahu siapa orang yang ada di lock scren vio" ujar raka sambil memijat kepalanya pusing.
__ADS_1
tanpa bertele tele, derren langsung melacak, tawa pecah mengisi kesunyian ruangan. raka yang melihat sahabatnya tidak jelas mulai bersiap, takutnya dia kesurupan penjaga vila.
"lo cemburu sama dia" ujar derren yang menunjukkan layar ponselnya. raka geram saat melihat wajah cowok, yang bisa di bilang tampan.
"siapa?" tanya raka serius.
"lo gak tahu?" tanya derren sambil tertawa. " dia ini artis, " jelas deren.
raka yang mengetahuinya ada sedikit ke lega walau hanya sedikit. bagaimanapun dia juga cowok, walau kemungkinan besar gadisnya tidak akan bertemu dengan Idol itu.
"balik" ucap raka. derren menghentikan ketawanya. " gila lo, cuma nanya itu doang. nyesel gua ke sini" ujar deren.
tanpa menjawab raka langsung meninggalkan derren masuk kamar untjk bersih bersih.
Dilain tempat, kota yang sama. vio bercerita kepada jeslin mengenai pertengkaran singkat dengan raka. "gila, raka cemburuan banget ya?" tanya jeslin yang masih tertawa.
"tahu, aku juga heran" beo vio.
"tapi kenapa dia tidak mau kamu foto?" tanya jesi.
"tahu, mungkin insekyur sama oppaku." balas vio.
Ting
vio melihat pesan masuk dari raka. vio membulatkan matanya saat raka mengirimkan fotonya yang tersenyum dan jangan lupa dengan pesannya. **ganti sekarang. **
Anda
Yang senyum baru aku ganti
Raka
Anda
hmm, good, sudah aku ganti
" kenapa vi?" tanya jeslin.
"gak, ini raka kirim fotonya dia" balas vi.
"liat ong" ucap jesi
"gak boleh" vio langsung memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.
"Dulu saja kamu tidak mengakui vi, kenapa sekarang jadi protektif begini," kata rana, yang juga penasaran .
"biasa saja, tapi ya bagaimana ya, aku tidak mau pamer senyum raka ke kalian, takut sombong" balas vio. "Ya sudah, ayo masuk, itu sudah pada ngumpul" ajak vio sambil berdiri.
__ADS_1