HAK PATEN MILIK MAFIA

HAK PATEN MILIK MAFIA
53


__ADS_3

Suasana di pesantren sangat ramai dengan wali santri calon alumni yang berdatangan dari berbagai daerah. para pengurus pesantren juga ketua kamar yang memiliki anak didik yang hendak berhenti juga sibuk ke sana ke sini untuk mengurus persyaratan.


"Vi, semua data yang di minta sudah lengkap?" tanya ketua kamar vio yang baru saja datang dari kantor sekertariat.


"sudah mi, ini tinggal ke bu nyai."


"yang lain mana?"


"masih di dalem"


"ya, sudah ummi ke dalam dulu" ketua kamar vio langsung masuk ke dalam kantor keamanan,menemui 2 anak didiknya.


"sudah?" tanya sasa yang menghampiri vio di depan kantor keamanan bersama teman lainnya.


"sudah, tinggal ke bu nyai"


"ngapain di sini?" tanya jesi


"orang tua vio mana?" tanya ummi yang baru keluar dari kantor di ikuti reta, dan lala.


"masih di jalan mungkin mi"


"ya, sudah, nanti kalau datang panggil ummi, kita pamit ke bu nyai" ujarnya 'ya sudah ummi ke kantor perizinan dulu, mau ngurus yang lain"


vio menyalimi ketua kamarnya begitu juga dengan yang lain. "semangat mi" kata jesi, yang di balas dengan senyuman oleh ummi.


"yuk, cari makan" kata jeslin, vio menganggukkan kepalanya.


"kalian ikut?" tanya vio pada reta dan lala


"iya, deh. sekalian sarapan" ujarnya


"banyak juga ya yang mau berhenti" kata rana


"kenapa, kamu mau berhenti juga?" tanya jesi


"ya, enggak lah" balas rana


"kalau aku sih mau, tapi tunggu waktunya. " ujar sasa "ya, kali sampai tua di sini" sambung sasa


"ya tidak papa, malah bagus, nanti aku titipin anak aku ke kamu" lala ikut menanggapi


"ya, gak papa sih, asal suamiku tentara, jadi jika dia bertugas, aku gak kesepian" balas sasa santai


"amiiin" kompak mereka


*****


Di ruang tamu andrew di buat kesal oleh anak sulungnya yang dia tunggu tunggu tak turun juga. andrew dengan setelan jas navi menyilangkan kakinya satu sama lain. "ck" andrew melihat jam tangan yang melingkar di lengannya.


"MAID" panggil andrew


maid yang mendengar tuannya memanggil langsung terburu buru menghadap majikan. "saya tuan"


"  kata kan pada raka  untuk segerah turun" perintah andrew dengan wajah datarnya


"baik tuan"


andrew menyecap kopi favoritnya yang di sediakan oleh salah satu maidnya. andrew melihat ke arah liv yang berbunyi, tanda akan terbuka.


andrew menurunkan lipatan kakinya dan langsung bangkit dari duduknya. "ck lama, seperti perempuan" semprot andrew. sambil melangkah ke luar


raka menatap daddynya jengah, lalu mengikuti daddynya dari belakang. anak buah andrew membukan pintu mobil begitu juga dengan raka yang duduk di sebelah daddynya.


"Jalan" perintah andrew, mobil yang di tumpangi mereka pun jalan sesuai tujuan. tidak ada obrolan antar anak dan bapaknya, mereka sibuk dengan urusan sendiri. andrew sibuk dengan tabletnya mengecek data data perusahaan, berbeda dengan raka yang melihat ke luar jendela  dengan pikiran yang tak lepas dari gadisnya.


suara derring dari ponsel membuyarkan lamunannya. raka mengambil ponselnya yang ada di saku jas dalamnya. dia menghidupkan ponselnya. tertera nama bunda vio, dengan cepat raka membuka pesan


Bunda vio


kamu benar tidak ikut?


RAKA

__ADS_1


tidak bun, kerjaan numpuk, nanti jika selesai raka pasti ke rumah bunda


merasa di perhatikan, raka melihat ke daddynya yang melihat ke arahnya, raka memasukkan ponselnya kembali. "siapa?" tanya andrew


"kepo" jawab raka yang kembali melihat jalan


mendengar jawaban sang putra andrew mendengus kesal, dan kembali dengan tabletnya, tidak mau ambil pusing tentang putranya yang penting dia mau membantunya untuk menyelesaikan urusannya.


         Tak lama mobil berhenti di sebuah resto bintang lima yang ada di jakarta, andrew dan raka keluar dari mobil dan mereka merapikan setelannya, "ayo" ujar andrew yang masuk terlebi dahuu.


raka mengeluarka ponselnya dan mencari kontak bunda vio ..andrew meihat ke belakang ke putra semata wayang nya yang masih saja diam di tempat sibuk dengan ponselnya.


"raka" panggil tegas andrew.


raka melihat sang suara. "ck, duluan," jawab raka


"jangan lama lama" ujar andrew sebelum masuk ke dalam.


raka menganggkat ponselnya yang sudah terhubung dengan bunda vio, tak selang lama panggila masuk


"assalamualaikum, bunda di mana?" tanya raka


"waalaikum salam, bunda masih di jalan, kenapa?"


"nanti, kalau vio sudah sammpai rumah, surh kabari raka ya bun"


"oh ya, nanti bunda sampaikan, bunda sudah sampai, bunda tutup?


"ya, terima kasih bun, assalamualaikum"


"waalaikum salam"


raka memasukkan ponselnya kembali dan langsung masuk ke dalam. yan langsung di sambut oleh pelayan di sana


"selamat datang" sambut karyawan tersebut.


tanpa menjawab raka langsung ke ruangan VVIP dengan wajah datarnya, di sana sudah ada tiga orang raka langsung menghampiri mereka.


"ini dia" ujar andrew


"perkenalkan saya jacson" sambil mengulurkan tangannya


"raka" jawabnya datar.


"dan kenalkan ini putri saya mila jacson" perempuan yang memakasi dres anggun itu pun ikut berdiri sambil mengulurkan tangannya, yang mau tidak mau raka menerimanya


"mila" ucapnya sambil menatap raka terpesona


"raka" balasnya datar dan langsung melepaskan tautan tangan mereka.


"silahkan duduk" kata jacson


Raka duduk di samping daddynya, tidak minat untuk melihat ke arah mila yang duduk di depannya sambil mencuri curi pandangan. Raka mengepalkan tangannya di bawah meja, ingin rasanya dia menghabisi perempuan yang sok baik di depannya ini.


"pelayan" panggil jacso sambil mengangkat tangannya ke arah pelayan yang berdiri di depan pintu ruangan VVIP, pelayan itu pun masuk dan membungkuk hormat.


"ada yang bisa saya bantu tuan?" tawarnya


"kita mau pesan sekarang" ujar jacson sambil mengambil daftar menu yang di sediakan di meja.


"saya hot coffe latenya 1 sama steck 1" pesan jacson "kalian pesan apa?" tanyanya


"coffe americacino 2" ujar andrew.


"bagaimana dengan makanannya?" tanya jacson


"sama kan saja" balas andrew


"stecknya jadi  4, kamu minum apa sayang?" sambil melihat ke arah putrinya


"saya stoberi jus 1" pesan mila.


"baik, mohon di tunggu sebentar," ujarnya lalu pamit pergi

__ADS_1


"bagaimana dengan persepakatan kita tuan andrew?" tanya jackson.


andrew terkekeh, "kalau saya terserah putri anda, apakah dia mau dengan putra saya?"


jacson melihat ke arah putrinya yang malu malu " saya rasa putri saya menyukai putramu tuan, iya kan sayang?" tanyanya sambil melihat sang putri yang menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum malu.


Raka yang menjadi pengamat dalam pembicangan mereka membuat dirinya muak, apa lagi ketika dia melihat tingkah putrinya yang sangat menjijikkan baginya. Berbeda sekali dengan vio kekasihnya, yang menunjukkan sikap apa adanya, tidak jaim dan tidak malu mengeluarkan tingkah konyolnya di depannya. tidak seperti perempuan di luar sana yang selalu menjaga sikap, perpura pura baik, padalah bad. Mengingat vio membuat dirinya rindu, dan ingin segera menemuinya.


"Bagaimana dengan putramu tuan?" tanya jacson melihat ke arah raka yang sulit di tebak espresinya.


Andrew melihat ke anak sulungnya sambil tersenyum. "Dia tidak akan menolak"


"saya ingin tahu jawabannya langsung darinya" kata jacson melihat raka, "bagaimana ?" tanya jacson pada raka


raka menaikkan alisnya. "apakah jawaban daddy saya tidak cukup?" tanya raka dingin


jacson terkekeh, "baiklah, kalau begitu kita sepakat"


"Permisi, ini pesanannya." ujar pelayan resto sambil meletakkan hidangan, "selamat menikmati" ujarnya sebelum pergi


"silahkan" ujar jacson.


raka menseruput kopinya, menikmati rasa kopi yang memanjakan lidahnya, lalu beralih ke hidangan yang sudah di sediakan.


"Jadi, bagaimana tentang bisnis kita?" tanya andrew.


Jacson mengelap sisa makanan di mulutnya. "akan saya sepakati, setelah anak kita bertunangan" jawabnya


raka memegang pisau dan garpunya sangat kuat menahan emosi, jika dia tidak menghormati daddynya, sudah pasti pisau ini akan melayang ke jantung jacson.


Andrew melihat ke arah raka yang menatapnya tajam. andrew melepas napas beratnya. "kenapa tidak sekarang saja? bukankah mereka sudah menyetujui nya?" tanya andrew


"Kau tidak sabaran sekali tuan, tapi maaf saya akan menandatangani ketika putra putri kita sudah tunangan" jawab jacson kekeh. "ah, bagaimana jika kita percepat saja tunangan mereka?" usul jacson.


Andrew melihat ke arah putranya, ada sedikit merasa bersalah telah mensangkut pautkan putra semata wayangnya ini.


"Bagaimana, kalian setuju?' tanya jaksion melihat ke arah putrinya dan raka


"kalau aku terserah daddy saja" jawab mila


"Raka, bagaimana deganmu?"


raka mengalihkan pandangannya ke arah jacson. lalu melihat ke arah daddynya, yang juga menatapnya dengan espresi datarnya, tapi bisa raka liat dari matanya jika iya menyuruhnya untuk menyetujui.


"Gimana baiknya saja" jawab raka datar. Raka menyesap kopinya,


"Ok, lebih cepat lebih baik, jadi pertunangan kalian akan di lakukan lusa" finis jacson


khuk khuk raka yang meminum kopinya tersedak mendengar pernyataan jacson hingga kopinya menumpahi dirinya, mila dengan sepontan mengambil tisu dan mengelap jas raka yang kotor.


Raka terkejut dengan perlakuan perempuan yang baru dia kenal beberapa menit yang lalu, bukan senang, melainkan raka menahan amarahnya yang akan meledak, dia paling tidak suka jika ada yang menyentuh dirinya, kecuali gadisnya.


Raka menyentak kasar tangan mila alhasil sang empu menjauh darinya, "maaf, aku reflek" ujar mila sambil menundukkan kepalanya takut.


"Mila" jacson menahan putrinya agar tidak jatuh


raka yang sadar dengan kejadian tadi langsung melanjutkan sandiwaranya, "maaf, saya reflek" ujar raka


"kamu tidak papa?" khawatir jacson pada putrinya


"tidak, aku baik baik saja dad" jawab mila sambil tersenyum meyakinkan daddynya


"kenapa kamu kasar dengan putri saya" emosi jacson menatap nyalang ke raka


"dad"tahan mila. "sudah, dia kan bilang tidak sengaja, lagian dia juga sudah meminta maaf" ujar mila sambil mengelus punggung daddynya.


"maafkan putra saya, dia memang orang yang tidak suka di sentuh oleh orang lain, mungkin tadi dia reflek saja" ujar andrew


"ya, sudah, tapi jangan kamu ulangi lagi, paham?" ujar jacson. yang langsung di angguki oleh raka, emosi raka semakin membara saat tangannya di pegang oleh mila.


"kamu tidak perlu merasa bersalah" ucapnya sambil mengelus tangan raka


raka menatap tajam mila, sehingga membuat mila yang menyadari,langsung melepaskan tangannya, dan saat itu ponsel raka berdering. tanpa melihat sang penelpon, raka langsung mengangkatnya

__ADS_1


"assalamualaikum" ucap suara perempuan yang dia rindukan saat ini, emosi raka perlahan menurun, raka melihat layar ponselnya memastikan jika yang menghubunginya benar kekasihnya.


"saya angkat telepon dulu" pamit raka, langsung menjauh dari keramaian. tempat yang menjadi tujuannya  rooftop resto.


__ADS_2