
HAPPY READING...
*****
Raka mengantar vio pulang setelah setengah hari mereka di mal. itu pun karena vio selalu merajuk kepadanya.
"terima kasih, kamu mau mampir dulu" ucap vio basa basi sambil membuka sabuk pengamannya.
"tidak usah, aku langsung ke kantor" jawab raka, sambil melihat ke arah vio
"alhamdulillah" puji vio dalam hati.
"ya sudah kalau begitu, aku masuk dulu" ucap vio sambil membuka pintu mobilnya. karena tidak bisa di buka, vio melihat ke raka yang masih menatapnya.
"buka kuncinya" ucap vio.
"kamu berubah " ucap raka
vio mengernyitkan dahinya. "berubah bagaimana?" tanya vio bingung.
"ya, sedikit mengabaikanku"
vio merasa panas dingin, rasa takut itu tiba tiba datang, "maaf" ucap vio sambil menundukkan kepalanya. "jangan sakiti orang terdekatku ka" minta vio memohon. karena setiap vio melakukan kesalahan, orang terdekatnyalah yang mendapat sasaran raka.
"aku suka, alasan perubahan kamu saat ini" ujar raka sambil senyum bahagia.
vio yang menundukkan wajahnya langsung mengangkat melihat arah objek. tidak memiliki keberanian untuk bertanya, vio hanya menatap heran raka.
raka hendak mencubit pipi vio yang menggemaskan tapi sayang sebelum itu terjadi sang empunya sudah menghindar terlebih dahulu.
"mau ngapain?" tanya vio yang sedikit memundurkan badannya sampai mepet dengan pintu.
"gemas" ucap raka.
vio mengalihkan pandangannya, raka semakin gemas, melihat wajah vio memerah merona, apa lagi dia penyebab rona merah itu muncul.
"aku mau langsung masuk, buka kunci" ucap vio.
"tunggu" cegah raka
"apa?'' tanya vio.
"aku tahu alasan kamu berubah, karena melihatku jalan dengan perempuan lain" tebak raka.
vio membulatkan matanya, bagaimana dia bisa tahu" ucap vio dalam hati
"aku hanya mau menjelaskan, dia sekretarisku," ucap raka.
vio hanya mengangguk anggukkan kepalanya. "sudah? sekarang buka pintunya" ujar vio. entah mengapa mendengar penjelasan raka, membuat dirinya lebih tenang.
"kamu marah?" tanya raka.
__ADS_1
"untuk apa?" tanya vio "mau kamu jalan sama siapa pun aku tidak peduli" ujar vio
ucapan vio tidak sesuai dengan tindakan, padahal semenjak dia memergoki raka jalan dengan perempuan lain, tanpa memberi tahunya dia jadi sering murung di kamarnya, vio tidak tahu kenapa dengan reaksi hati badan dan pikirannya.
"kenapa?" tanya raka dengan nada dingin. vio melihat ke raka, tatapan raka tidak selembut tadi, suasana di mobil tiba tiba dingin, dan menegangkan.
"ya, aku tahu batasan privasi, " ucap vio, entah itu dari hati atau memang tujuannya. yang jelas mulutnya spontan memberikan alasan tersebut.
"aku milik kamu vi, dan sebaliknya, urusan kamu, urusan aku begitu sebaliknya" ujar raka.
vio menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah raka yang menyeramkan ketika sedang emosi. " iya." balas vio, mengiyakan ucapan raka, dari pada dia membangunkan singa yang tidur, walau sebenarnya dia sudah melakukannya.
"aku mau turun" ucap vio.
raka memejamkan matanya menahan emosi. dia tidk ingin lepas kendali di hadapan vio, apa lagi sampai vio jadi korbannya. raka berusaha agar gadisnya tidak takut jika sedang jalan dengannya.
raka membuka matanya dan melihat ke kekasihnya yang masih menundukkan kepalanya. "langsung istirahat, jangan lua kabariku" ucap raka
vio melihat ke arah raka, tidak ada lagi amarah di matanya. "iya, kamu juga hati hati" ujar vio
"aku masuk dulu" pamit vio. "assalamualaikum" ucap vio sambil membuka pintu mobil.
"waalaikum salam" jawab raka sambil melihat gadisnya masuk rumah. lalu melajukan mobilnya ke arah kantor.
*****
"assalamualaikum" ucap vio setelah membuka pintu rumahnya.
vio langsung merebahkan badanya di kasur sizenya. menatap langit langit kamarnya. yang berwarna violet purple. melepas penat di badannya. mengingat dia terlalu banyak mengelilingi mal, alhasil kaki vio seperti mau lepas saja.
FLASHBACK
dengan terpaksa vio memilah baju setelah menemukan yang cocok untuknya, vio langsung menemui raka yang duduk di kursi mal.
"sudah" ucap vio sambil membawa sepasang baju ke raka. raka melihat belanjaan vio yang dia bawa. raka berdiri dan memasukkan ponselnya ke saku jas miliknya.
"mana belanjaannya" tanya raka.
"ini" ucap vio menunjukkan setelan baju.
"belanja yang benar" ujar raka
vio mengernyitkan dahinya. "ini sudah benar" ucap vio
raka menghela nafas beratnya. "bak" panggil raka pada pegawai mal.
"iya tuan, ada yang bisa saya bantu" ujarnya.
"bawakan baju yang tertutup yang ada di mal ini sekarang, patikan cocok untuk dia" ujar raka
"baik tuan" balas mereka patuh.
__ADS_1
vio membulatkan matanya. "tidak perlu ka," ucap vio
raka tidak mendengarkan bantahan vio, dan kembali duduk sambil mainkan ponselnya kembali. 10 menit pegawai mal datang dengan troli yang berisi penuh pakaian. vio membulatkan matanya.
raka bangkit dari duduknya." ini sudah sesuai?" tanya raka
"itya tuan" jawabnya.
"bungkus semua" ucap raka enteng.
"tidak" bantah vio
raka mengernyitkan dahinya. "kenapa" tanya raka
"jangan semua juga ka, kamu jangan boros boros jadi orang, uang kamu bisa kamu tabungin saja" nasehat vio yang tidak habis pikir.
"kamu lupa aku siapa?" tanya raka.
vio menghela napasnya. "bak pilihkan 5 baju saja "ucap vio
"kenapa tidak semua" tanya raka
percuma vio menjelaskan panjang lebar, raka yang keras kepala tidak akan mendengarkan ocehannya. "aku lelah, mau balik" ucap vio. sambil melangkah ke luar mal.
"bagaimana ini tuan?" tanya pegawai tersebut.
"turuti perintah dia, dan segerah kirim ke alamat yang sudah saya berikan" ujar raka, lalu menyusul vio yang sudah sampai di parkiran.
rasa mengantuk di rasakan vio sangat berat, dan akhirnya dia membenarkan posisi tidurnya, tak lama nafas vio mulai normal.
Di lain tempat raka melangkahkan kakinya ke kantor, semua karyawan yang di lewati raka menunduk hormat, raka melangkahkan kakinya ke ruangannya
baru duduk di kursi kebesarannya, seseorang mengetuk pintunya dan masuk ke ruangan raka.
"ada apa?" tanya raka pada sekretarisnya.
sekretaris raka menghampiri raka dengan seksi mendekat ke arah raka." aku hanya mau mengucapkan terima kasih, karena sudah menolongku saat itu' ujarnya sambil mengelus pundak raka.
"jauhkan tanganmu" ujar raka
bukannya menjauhkan tangannya dia malah menggoda raka, raka yang sudah tidak tahan, karena tubuhnya di pegang pegang langsung mengeluarkan benda dari balik jasnya, dan menodongkan ke kepala sekretarisnya itu.
tindakan yang tidak sesuai dengan pikirannya, membuat dia melangkah menjauh dari raka. "maafkan saya" ujarnya.
raka mengeluarkan smirknya. "sayangnya saya bukan orang yang pemaaf" ujar raka.
"ucapkan kata kata terakhir" ujar raka.
sekretaris raka melangkah mundur dengan wajah yang ketakutan. tanpa menunggu lama lama, raka langsung melepas tembakannya, dan pas mengenai wajah sekretarisnya yang tidak sempat menghindar,
TBC
__ADS_1