
HAPPY READING....
****
Vio memasukkan baju dan keperluannya untuk di pesantren, dengan lantunan sholawat yang dia dengar dari ponselnya. vio ikut menirukan lantunan sholawat yang kebetulan dia juga hafal dengan liriknya.
"Alhamdulillah" ucap vio setelah selesai menutup resleting tas kopernya.
vio mengambil ponselnya yang berdering lagu BTS kesukaannya yang berjudul magic shop. vio menggeser ikon hijau, dan mengangkat ponselnya ke arah wajahnya.
"assalamualaikum" ucap orang di seberang sana
"waalaikum salam" jawab vio, menatap orang yang ada di layar ponselnya.
"sudah siap yo?" tanya jesi
"alhamdulillah, sudah. kamu sendiri bagaimana?" tanya vio
"sudah dari semalam"
"wiih, gak sabar ya pasti mau balik" ujar vio yang duduk di bed sizenya.
"ye, tidak begitu juga, kalau boleh nih, aku ingin tambah" keluh jesi
"ya, tambah kalau begitu" usul vio santai
"masalahnya tidak boleh sama mama, jadi mau tidak mau deh" balasnya dengan menampakkan wajah sedihnya.
"yang lain mana?" tanya vio.
"bentar aku gabung dulu" ucap jesi.
vio menganggukkan kepalanya, setelah terhubung, mereka pecah jadi 5 kotak di layar. "wihh, kalian kok bahagia banget mukanya?" tanya rana yang baru terhubung.
"salam dulu kek" ujar jesi
"hehe, iya lupa. assalamualaikum my friend" ucap rana yang cengengesan
"waalaikum salam," jawab mereka kompak.
"tadi bilang apa ran?" tanya jeslin
"salam" jawab rana
"sebelumnya"
"oh, kalian kok bahagia banget mukanya" ulang rana
"bahagia dari mananya rana?" sewot sasa
"tahu ini anak" ucap jesi
"lah, memangnya kalian tidak bahagia?" tanya rana
"aku sih B saja" jawab vio santai
"ya kamu B saja, kamu kan tidak lama " balas sasa
"sudah, kalian nikmati saja, apa yang terjadi jika di nikmati pasti nikmat" ucap vio
"benar tuh" balas rana
"tumben?" tanya sasa
"kenapa?" tanya rana
__ADS_1
"vio bijak begitu, lagi sakit vi?' tanya sasa
"alhamdulillah, sehat kok. no worry" balas vio
"vi, jangan lupa bawa makanan banyak, kamu kan habis borong makanan di mall sama raka" ujar jeslin.
"kalian tahu dari mana?" tanya vio bingung pasalnya dia tidak menceritakannya ke siapa pun
"bunda kamu status" jawab sasa
vio menepuk jidatnya. "jangan lupa bawa, sayang kalau tidak di makan mubazir nanti" ucap sasa semangat
"ok, nanti aku bawa. tapi nanti bantu aku ya bawa ke dalam" ujar vio
"siap, " jawab sasa sambil hormat kan tangannya
"aku bantu habisin vi, jadi tenang saja" ujar jeslin
"ye, tahunya makan doang" seru rana
"eh rana, kalau mau juga, tidak perlu sewot" balas jeslin.
"ya, karena aku ini anak baik, dan suka menolong, maka dengan senang hati aku bantu menampung makananmu di perutku" ujar rana
"eh, kalian jam berapa berangkat?" tanya vio
"habis asharan saja guys" usul rana
"setuju, habis ashar ya kita berangkat" sambung sasa
"ya, tunggu di gerbang, nanti bareng masuknya" ucap jeslin.
"ok setuju kalau itu, " sambung sasa
"ya sudah aku mau pelukan perpisahan dengan bed, bantalku dulu.." pamit rana
"ya sudah, bye. assalamualaikum" ucap sasa
"waalaikum salam" jawab mereka.
vio meletakkan ponselnya di atas nakas, dan langsung merebahkan dirinya di kasur, yang akan dia tinggalkan.. menikmati kenyamanan kasurnya. dengan menutup mata, hingga sampai pikirannya ke raka. "astagfirullahal'azim" ucap vio langsung mendudukkan dirinya dan mengambil ponselnya.
"aduh vio, bagaimana bisa kamu lupa kabari raka" ucap vio pada dirinya sendiri.
vio menatap layarnya yang hitam, sampai muncul wajah tampan raka yang tersenyum ke padanya.
seketika vio di buat gugup, dia terpesona dengan ketampanan raka, dan lagi dia juga takut jika raka marah, karena vio terlambat memberi tahu dia.
"ada apa" tanya raka
"hmm, aku hanya mau memberi tahumu, aku akan balik ke pesantren nanti sore" ujar vio pelan.
raka langsung mengganti posisinya jadi duduk "kenapa tidak memberi tahuku dari jauh hari?" tanya raka dengan wajah datarnya
"kabarnya dadakan, jadi tidak sempat memberi tahumu" ucap vio
"bukannya kamu sudah selesai?" tanya raka
"iya, tapi ada yang harus aku urus di sana" ucap vio jujur
"nanti bareng aku" ujar raka tanpa penolakan, dan langsung mematikan panggilannya.
vio yang melihat sambungan terputus hanya diam dengan di selimuti rasa takut,
"aduh vio, kenapa bisa lupa" ucap vio pada dirinya.
__ADS_1
"bagaimana kalau dia marah," ucap vio frustasi.
"astagfirullahal'azim" ucap vio sambil menarik nafas, berusaha menenangkan dirinya
"tenang vio, semua akan baik baik saja" ujar vio meyakinkan dirinya sendiri.
Vio merebahkan dirinya dengan setengah badan yang di kasur dan kakinya di biarkan gelantung di sisi ranjang. vio memejamkan matanya sambil beristigfar untuk menenangkan hatinya yang gelisah.
"apa ketika aku kembali ke pesantren, raka tidak akan mengganggu aku lagi ya?" tanya vio pada dirinya, membuka matanya sambil melihat ke arah langit kamarnya.
"apa aku lanjut saja di pesantren" beo vio. "tapi, bagaimana jika raka melukai bunda?" bingung vio.
"aghh,, astagfirullah hal azim" ucap vio sambil mengusap wajahnya.
"kenapa, harus bertemu dengan dia ya Allah. " keluh vio
"andai tidak pernah bertemu dia, pasti tidak akan begini jadinya" sesal vio
"tapi mau bagaimana lagi vio, ini sudah takdir, dan kamu harus melewatinya," ucap vio untuk menyadarkan dirinya. vio beristigfar sebanyak banyaknya, meminta pengampunan pada Allah, sambil memejamkan matanya.
"percaya vi, semua pasti ada Hikmahnya" ujar vio sendiri
TOK TOK TOK" vi, bunda masuk ya." ucap bundanya
"ya bun" balas vio sambil membenarkan posisinya jadi duduk. dan tersenyum ke bundanya yang sudah duduk di sebelah vio.
"bunda kapan datang?" tanya vio sambil mencium punggung tangan bundanya.
"baru saja, oh ya, kamu sudah siap siap?" tanya bunda mengelus kepala vio yang di tutupi hijab.
"sudah bun' jawab vio sambil senyum.
"yakin gak ada yang tertinggal?" tanya bunda memastikan. bukan hanya sekali vio selalu melupakan barangnya ketika mau kembali ke pondok.
"ya, vio sudah mengecek bolak balik, Insya Allah tidak ada yang tertinggal" balas vio.
"kamu kenapa?" tanya bunda melihat bola mata vio.
vio menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tulus. "tidak papa, memangnya vi kenapa?" tanya vio balik.
bunda vio tersenyum. "kamu anak bunda, dan bunda tahu bola mata putri bunda ini terlihat sedih, kenapa, sini cerita sama bunda" ujar bunda vio.
Mata vio sudah berkaca kaca, terharu mendengar ucapan bundanya. "vi, sedih saja, bentar lagi balik ke pesantren," jawab vi, jujur, karena itu juga alasan dia sedih.
bunda vio tersenyum "kan hanya sebentar vi, hanya mengurus oca, setelah itu kamu akan kembali lagi ke rumah" ujar bunda vio
"ya sih bunda, tapi " jawab vi menggantung ucapannya. "apa aku jujur saja ya ke bunda tentang raka yang mengancamku selama ini" batin vio. "tapi nanti bunda_"
"tapi kenapa vi, kok diam?" tanya bunda
vio menarik napasnya sebelum melanjutkan ucapannya. "tapi, vio rasa, ingin melanjutkan ke pesantren" balas vio
"alhamdulillah kalau begitu, bunda setuju saja sama pilihan kamu" ucap bunda vio.
"tapi vio masih ragu bunda" ujar vio.
"ya sudah, kamu pikirkan saja lagi nanti, bunda ikut kamu saja, kamu mau lanjut di luar boleh, di pesantren pun silah kan" ujar bunda.
vio menganggukkan kepalanya. "ya sudah vi, bunda mau siapkan makanan kamu dulu, mau bawa bera nasinya?" tanya bunda
"2 bungkus saja bunda, yang lain pasti bawa juga" ujar vio
"ya sudah, bunda keluar dulu" pamit bunda
vio menganggukkan kepalanya, sambil melihat bundanya menutup pintu kamar vio kembali. vio melanjutkan rebahannya.
__ADS_1
TBC