
Keadaan Vio sudah membaik dari sebelumnya, walau dia terkadang sdikit takut jika tidur sendiri, Dan Ia juga tidak berani jika keluar rumah sendiri.
"Vi, kamu dirumah atau ikut bunda ke supermarket?" tanya bunda.
"Ikut bun, Vi bosan"
"Ya sudah kamu siap siap dulu sana"
Vio langsung masuk kamar dan mengganti bajunya, setelah selesai Ia langsung keluar dan menemui bundanya yang ada di ruang tamu." Ayo bun" ucap Vi.
Bunda mengalihkan pandangannya ke Vio, "sudah?" tanya bunda
"Ya" jawab vi.
"Ya sudah ayo jalan" ajaknya.
Mereka pun keluar rumah, taksi yang di pesan bunda sudah datang, Bunda mengunci pinntu, dan menyusul putrinya yang sudah masuk ke dalam mobil.
"Jalan pak" ujar bunda vio
Sopir itu membawa mobilnya dengan kecepatan sedang menuju super market yang di minta bunda. 10 menit, mereka sampai di sana, mereka keluar dan langsung masuk ke dalam, Bunda mengambil kereta dorong, di ikuti Vio dari samping.
"kamu mau beli apa?" tanya bunda.
"parfum bun" balas vio.
"ya sudah, sana kamu ambil parfumnya, bunda tunggu sini" ujar bunda.
Vio mencari rak parfum yang berada di tegah, Vio memilih parfum yang dia suka, saat vio mencoba salah satu parfum yang terdapat tulisan faster ke tangannya, ada seseorang yang wajahnya tertutup mendekati Vio.
Vio yang masih trauma dengan kejadian itu, sedikit menghindarinya, dan mencari parfum lain. Vio terus berwaspada ke arah orang tersebut, hingga akhirnya orang itu mengambil parfum yang dia pilih, dan langsung pergi dari area parfum.
Vio menghembuskan nafas lega, "cuma firasat aku saja" ujar Vio pada dirinya., sambil membaca istigfar, meminta pengampunan karena telah suuzon pada orang.
Vio melanjutkan pencariannya, tidak lama kemudian ada orang yang memakai hoodi dan masker, Vio pura pura biasa, mungkin orang ini seperti yang pertama, hanya mau membeli, bukan mendekatinya.
Vio tidak ambil pusing dan sibuk memilih parfum yang dia cari, orang itu semakin mendekat di samping vio. "Jauhi Raka, atau lo akan mati" ucap orang tersebut dengan nada misterius.
Vio sedikit menjauhkan dirinya, dan menatap orang itu dengan waspada, dia ingin pergi tapi kakinya tidak bisa di gerakkan, seakan berat tertindi barang besar.
Orang itu terus mendekat, sambil memutar parfum yang di pajang di rak. "Lo sudah ambil punaya gua, dan gua tidak akan pernah membiarkan itu semua. mending lo jauhin raka, atau lo akan menyesal" ujarnya sambil menatap Vio yang ketakutan
"Bisa Vio lihat sedikit mata orang itu menatap dirinya tajam, ada sedikit tarikan di salah satu sudut bibirnya, merasa puas.
"Ka-kamu si-siapa?" tanya Vio
orang tersebut tidak menjawab melainkan tersenyum sinis, "camkan ucapan gua" ujarnya sambil pergi melewati Vio.
"AU" keluh Vio saat lengannya berdarah, Vio memegang lengannya dan melihat ke arah orang tersebut yang juga melihat ke arah Vio, dengan mengeluarkan smirknya. "itu peringatan buat lo" sambil melanjutkan jalannya.
__ADS_1
Vio melihat lengannya yang berdarah, goresannya tidak dalam, tapi susah membuat darah berhenti. Vio melepas ikat kepalanya dan mengikatnya di lengan, agar darahnya tersumbat.
Vio mencari toilet untuk membersihkan darahnya, Ia tidak mau bundanya khawatir, Di dala toilet, Vio membasuh darah di tangannya dan juga hijabnya dia jadikan panjang, agar bisa menutupi lengannya yang terluka. Setelah di lihat Aman, Vio langsung keluar, dan mengambil parfum yang dia pilih, lalau menghampiri bundanya yang sibuk memilih makan.
Vio meletakkan parfumnya di kereta dorong, "Sudah Vi?" tanya bunda menatap anaknya.
"ya bun, bunda masih lama?"
"gak, ini sudah selesai" ujarnya sambil memasukkan saos ke kereta ranjang. "yuk kita bayar"
Vio mengikuti bundanya dari belakang,. selesai bayar bunda langsung memberhentikan taksi yang tidak ada penumpangnya. "Ayo Vi" ujar bunda.
"Au" keluh Vio saat mobil melewati jalan yang sedikit berbatu, sehingga membuat bunda bergoyang dan mengenai lengan Vio yang terluka.
"Kamu kenapa?" tanya bunda panik.
"Gak papa bun" jawab Vio menahan sakit.
Senggolan bunda yang tidak sengaja, membuat darah yang tadinya berhenti kembali ke luar, sehingga membasahi hijab Vio yang warnanya cerah.
"Vi, ini kamu kenapa?" tanya bunda khawatir, sambil menarik ke atas hijab putrinya. "Ya Allah, ini kamu kenapa bisa kayak gini? kenapa gak ngasih tahu bunda sih sayang" ujarnya panik.
"Pak, kita ke rumah saki ya" ujar bunda mengganti alamat tujuan.
"Ini gak papa bun, gak perlu ke rumah sakit" ujar Vio sambil meringis menahan nyeri yang sangat dalam.
"sudah bunda Vi gak papa" jawab Vio.
Mobil berhenti, Bunda dan Vio langsung keluar, dengan bunda yang membawa barang belanjaannya, mereka masuk dan langsung ke ruang UGD untuk melanjutkan pemeriksaan.
Dokter keluar dari dalam ruangan, bunda langsung menghampirinya. "bagaimana dengan anak saya?" tanya bunda cemas.
"putri ibu baik baik saja, dia hanya terkena gores senjata tajam" ujar dokter tersebut.
Bunda menutup mulutnya tidak percaya, "saya boleh jenguk dia" tanya bunda vio
"boleh silah kan" kata dokter tersebut, yang langsung pergi dari UGD, bunda langsung masuk dan langsung menjumpai putrinya yang tertidur pulas.
"kenapa bisa seperti ini vi" tangis bunda pecah.
1 jam vio istirahat, akhirnya membuka matanya, "kamu sudah bangun?" tanya bunda
''Bunda, haus" keluh Vio
dengan senyum tulus bunda mengambilkan air yang berada di nakas, dan memberikannya pada Vio. vio langsung menerima, dan membaca doa sebelum meminum air tersebut.
"Alhamdulillah" ucapnya setelah selesai minum, bund avio mengambil gelasnya dari tangan vio dan meletakkannya di nakas. "terima kasih bun"
"sama sama sayang, kamu mau makan?" tanya Vio
__ADS_1
"kita kapan pulang?" tanya Vio, tidak betah berada di rumah sakit. "sebentar lagi kita apulang, tunggu infus kamu habis."
Vio melihat ke arah infus yang di antung yang tinggal sedikit. "makannya nanti saja bun di rumah" jawab vio.
ya sudah' ucap bunda sambil mengelus kepala putrinya.
Bunda sudah memberi tahu ke jadian ini pada suami dan juga raka, mereka sekarang sibuk mencari pelaku yang menyakiti vionya. "sayang, ayah akan balik" ucap bunda semeriang.
"benarkah, gak bohongkan? gak kayak yang lalu kan?" tanya vio
"ya kalau yang ini fiks sudah, ayah akan datang"
"akhirnya, bisa peluk ayah juga" ujar vio, ada sorotan bahagia di dalam matanya.
"bunda jangan kasih tahu ayah tentang ke jadian ini ya" minta vio
dahi bunda mengerut," kenapa?" tanyanya
"vio hanya tidak mau ayah khawatir" balas vio
"iya bunda gak akan bilang nanti" ucap bunda
"promise?" tanya vio
"promise" ucap bunda, sambil menunjukkan senyum tulusnya. "kalau nanti bunda gak bilang sayang, karena bunda sudah bilang barusan" batin bunda. yang mengelus kepala vio.
TOK TOK TOK, masuk" ucap bunda.
"permisi" ujar dokter yang baru saja masuk" bagaimana keadaan anak saya?" tanya bunda sambil berdiri dari duduknya, memberi jalan untuk dokter yang hendak memeriksa vio.
"sebentar saya periksa dulu" ucapnya
"Keadaannya baik, darah normal, dan untuk luka, tolong jangan di kenakan air terlebih dulu, biarkan lukanya mengering, dan jangan lupa di ganti. setelah 3 hari kamu bisa kembali ke mari untuk kontrol, saya akan memberikan resep nanti bisa ibu tebus ke apotik" jelasnya.
"makasih dok, berarti saya boleh pulang?" tanya vio
"ya boleh, sebentar lagi ada suster yang akan melepas infus kamu" balasnya.
Vio dan bunda menganggukkan kepalanya. "terima kasih dok" ucap bunda
"sama sama, kalau begitu saya permisi mau periksa pasien yang lain" pamitnya.
Dokter tersebut keluar dari ruangan vio, 5 menit kemudian, suster masuk, dan menyampaikan maksud kedatangannya.
"silah kan sus" ujar bunda.
suster tersebut membuka infus vio dan memberikan resep dokter ke pada bunda vio. "terima kasih sus" ucapnya.
"sama sama, hati hati di jalan, semoga cepat sembuh" ujarnya sebelum keluar.
__ADS_1