
"Aku khawatir dengan keadaan vio, kita susul yuk" ujar sasa
"iya, khawatir juga, mana tuh anak belum balik lagi" ujar jesi yang melihat ke arah jam dinding kamar.
"dari pada gak jelas mending kita samperin saja " ujar sasa sambil berdiri di ikuti yang lain, mereka langsung ke luar asrama menuju ruang pertemuan.
sesampainya di perbatasan gerbang, sasa dan lainnya sibuk mencari vio dan raka." mereka duduk di mana ya? kok tidak kelihatan?" ujar jeslin
"iya, apa ada di luar petak?" tanya sasa.
"eh, Re, kamu lihat vio gak?" tanya sasa, yang melihat ada teman sekolahnya yang baru masuk
"vio,?" tanyanya sambil berpikir. "tidak, aku tidak liat, mungkin dia di petak" ujar Rere
"oh iya dah terima kasih ya" ujar sasa
"duluan aku ya" pamit Rere.
"iya" jawab sasa.
"nunggu siapa?" tanya pengurus pos.
"nunggu teman mi" balas jesi mewakili semua.
"jangan di situ, kalian menghalangi orang lewat" tegur pengurus.
"iya" jawab jesi, yang langsung bergeser ke pinggir. begitu juga dengan yang lain.
Dilain lokasi lain. vio terus memaksa untuk masuk ke dalam, tapi tidak di ijin kan oleh raka.
"tunggu sudah tutup, baru kamu masuk" ujar raka santai sambil menatap vio yang memelas di hadapannya.
"tidak bisa begitu ka, waktu berkunjung hanya 30 menit, kalau lebih nanti aku di saksi" jelas vio
"anggap saja itu hukuman kamu, karena kamu membuatku menunggu." balas raka.
bukan karena dia tidak mau menunggu gadisnya, tapi dia risih setiap ada perempuan yang lewat, tadi selalu menatap puja dirinya, dan itu membuat raka ingin mencungkil mata mereka.
"kamu tidak kasihan sama aku" ujar vio yang sudah berkaca kaca.
"aku peduli, sayang bahkan cinta sama kamu, mending ini hukuman kamu, mau aku tambah?" tanya raka
vio mengendurkan bibirnya ke bawah, sambil menunduk dan memainkan tangannya. "aku usahakan tidak membuat kamu menunggu." ujar vio
"ok" balas raka
vio mengangkat wajahnya ,melihat raka dengan berbinar. "jadi aku boleh masuk?" tanya vio
"tidak" jawab raka, membuat vio menghela napas lelah, berbagai cara sudah dia lakukan, tapi tidak membuat raka mengizin kan dirinya masuk.
hingga tiba saatnya bel panjang berbunyi, keamanan pengurus pesantren mengontrol untuk menyuruh masuk semua santri putri,
__ADS_1
"sudah bel panjang, aku masuk dulu" pamit vio dengan lesu
raka berdecak kesal padahal dirinya belum puas dan masih rindu dengan kekasihnya, ingin peluk tapi tidak di izinkan sama empuknya akhirnya raka ikut bangkit dan berdiri di depan vio dengan tagan yang di masukkan ke saku celananya. "besok aku akan kemari lagi" ujar raka
"tidak bisa, k__"
"kenapa?" potong raka dengan wajah yang tidak bersahabat. dia baru menemui gadisnya 4 jam, dan itu belum membuat dirinya puas.
"kamu boleh berkunjung, hanya hari jum'at" balas vio
"tidak ada yang bisa memerintahku." geram raka
vio yang melihat wajah raka memerah karena emosi, langsung berusa menenangkan raka. "ini peraturan pesantren, dan aku sebagai santri harus mengikuti. tenangkan dirimu" ujar vio yang hanya bisa menenangkan raka dari ucapannya.
"Vio, masuk" ujar pengurus yang mengontrol
vio membalikkan badannya melihat arah suara. "iya, ini sudah mau masuk" jawab vio.
"ya sudah ayo bareng saya" ujarnya.
vio mengalihkan pandangannya jadi ke raka. "aku balik dulu" pamit vio
"Assalamualaikum" ucap vio
"Waalaikum salam" balas raka
"kamu tidak salaman dulu sama kakak kamu?" tanya pengurus itu
vio berpikir antara menyalami punggung tangan raka atau tidak, jika iya, dia bukan muhrim, jika tidak kemungkinan besar akan ketahuan.
"ayo vi, adan duhur akan segera di mulai sebentar lagi" ucap pengurus tersebut. vio melihat kembali ke pengurus.
"ayo" balas vio
"kamu belum salaman sama kakak kamu" ujar pengurus tersebut, yang melihat tangan raka yang masih menjulurkan tangannya.
"vi, kamu sudah di ajarkan tentang menghormati orang tua bukan" ujar pengurus.
"iya, sudah" balas vio
"ya sudah sekarang kamu salaman sana, setelah itu kita masuk" ucapnya
mau tidak mau, vio menerima uluran tangan raka dan mencium punggung tangan raka sambil melirik ke pengurus yang terus memerhatikan dirinya.
saat vio mencium tangan raka , raka tersenyum puas, dan sempat mengelus punggung tangan vio. setelah salaman dengan raka, vio hendak melepaskan tangannya, tapi selalu di tahan sama empunya.
"jaga diri baik baik, " ujar raka yang tetap memegang tangan vio
"iya" balas vio yang berusaha menarik tangannya.
"layo vi" ajak pengurus yang menunggu vio.
__ADS_1
"iya, ayo" ujar vio yang tetap berusaha melepaskan tangannya dari raka dan akhirnya raka melepaskan tangannya.
vio dan pengurus langsung masuk ke gerbang, saat vio sampai berbatasan raka memanggil dirinya. vio hanya menolehkan kepalanya, dan di sana dia melihat raka yang mencium punggung tangannya yang tadi di cium
Vio mengucapkan banyak istigfar dalam hatinya, dan langsung menghilang dari pandangan raka.
"VIO" Panggil sasa dan kawan kawannya, yang sudah menggunakan mukena di depan surau yang di lewati vio.
vio langsung menghampiri mereka. "ada apa?" tanya vio
"kamu baru masuk?" tanya sasa
"iya" balas vio dengan lesu.
"tadi kita nungguin kamu di gerbang pembatasan" ujar jesi memberi tahu
"iya, karena lama, ya akhirnya kita balik" sambung sasa
"kamu tidak papa?" tanya rana
vio menghela nafas lelahnya. "ya begini lah" ujar vio sambil merentangkan kedua tangannya.
"raka tadi marah sama kamu?" tanya rana yang penasaran
vio menganggukkan kepalanya. "tapi tidak lama," balas vio
"vi, kamu pasti di panggil nanti" ujar sasa
"iya vi, mana lama banget kamu di luar tadi" sambung jesi
"memang kenapa bisa lambat?" tanya rana
"aku tadi mau masuk, tapi tidak di bolehkan sama raka, jadi ya samai di susul pengurus, baru raka membolehkan" jelas vio
"raka tidak bawa apa apa?" tanya jeslin yang tidak melihat vio membawa satu keresek pun.
"gak, hanya di beri uang" ujar vio
"berapa?" tanya sasa yang penasaran
vio menaik turunkan bahunya sambil menggelengkan kepalanya. "kok bisa tidak tahu?" tanya jeslin
"tidak aku lihat," jawab vio. "aku ke kamar dulu" pamit vio.
"ya" jawab mereka.
vio langsung melangkahkan kakinya ke arah asramanya, badannya lelah, begitu juga batinnya. sampai kamar kamar lumayan sepi, hanya ada yang halangan, karena yang suci sudah turun untuk persiapan sholat jama;'ah duhur.
vio merebahkan dirinya di tempatnya, dan langsung terlelap tanpa mengganti baju dan membuka hijabnya.
Di dalam mobil raka terus senyum senyum sambil mencium punggung tangannya sendiri. "gua harus memiliki dia untuk selamanya." putus raka.
__ADS_1