
HAPPY READING...
****
Tengah malam, raka dengan 1 anak buahnya sudah siap dengan setelan serba hitamnya. "ayo" ujar raka yang di ikuti oleh bagas salah satu anak buah raka. bagas menjalankan mobilnya menuju tempat yang akan menjadi target.
sesampainya di sana, raka melihat ke arah gedung lantai 2 " kamu yakin itu kamarnya?" tanya raka pada bagas.
"yakin tuan, saya sudah memastikan" balas raka. "kamar nona vio ada di bagian tengah, yang lampunya menyala 1" ujar bagas.
raka menganggukkan kepalanya. sambil menutup penutup wajahnya. "kamu sudah pastikan semua keamanannya?" tanya raka. bukan karena takut ketahuan , tapi jika memang iya, pasti gadisnya akan kena hukuman, dan lebih parahnya gadisnya akan marah besar ke padanya.
"saya sudah merentas semua cctv di bagian yang akan kita lalui tuan" jawab bagas.
"good, ayo" ujar raka,
mereka berjalan dengan mengendap endap dengan bagas yang memimpin, karena bagaslah yang tahu jalan menuju vionya.
raka naik ke pembatas dengan tangga mini yang sudah di siapkan oleh bagas, memang dia itu anak buah yang cekatan dari yang lain.
"ke mana selanjutnya" bisik raka.
"kita naik ke atap kamar mandi tuan," ujar bagas. lalu memastikan tidak ada santri satu pun di kamar mandi.
"aman tuan" lapor bagas,
"jalan" ujar raka.
mereka menaiki atap kamar mandi yang terbuat dari seng, saat mereka jalan satu langkah, raka dan bagas langsung menghentikan langkahnya karena menyebabkan bunyi yang sangat keras.
"bagas, lewat yang ada kayunya" perintah raka.
"baik tuan"
raka menghembuskan nafas beratnya hanya ingin bertemu dan melepas rindu ke kekasihnya harus butuh perjuangan ekstra seperti ini,-
raka dan bagas langsung menginjak balkon mini yang biasanya di tumbuh dengan tanaman di kamar vio. "ini benar?" tanya raka.
"benar tuan" ujar bagas.
"buka" ujar raka, sambil berkacak pinggang melihat bagas membuka jendela kamar vio.
CEKLEK "sudah tuan" lapor bagas. raka menganggukkan kepalanya, bagas mundur dan membiarkan bosnya untuk melihat ke dalam.
raka membuka jendelanya setengah, setelah bagas memberitahu dirinya jika semua anak kamar vio sudah tertidur.
raka melihat ke kanan ke kiri tapi tidak menemukan gadisnya ."kamu yakin ini kamarnya?" tanya raka menengok ke belakang.
"yakin tuan" ujar bagas.
__ADS_1
raka kembali melihat ke dalam, sambil mencari cari , tapi nihil dia tetap tidak menemukan gadisnya. raka melangkah mundur,
"yakin apa, dia tidak ada" geram raka, yang emosi, jangan sampai bagas ini salah kamar, karena merasakan perjuangan dirinya yang hanya ingin bertemu dengan kekasihnya jadi gagal, dan sia sia.
"saya sudah pastikan, dan saya yakin di sini tuan" balas bagas.
"kalau di sini, dia mana?, kamu liat sendiri, cari dia, jika tidak ada kamu saya hukum" ujar raka marah, raka membuka penutup wajahnya, emosi dalam dirinya membuat suhu tubuhnya meningkat.
bagas kembali membuka jendela memasukkan kepalanya bagas melihat ke sederet orang tidur tapi tidak menemukan nonanya, bagas melihat ke bawah dengan nafas lega, setelah melihat nonanya yang tidur . bagas langsung mengeluarkan kepalanya, menatap tuannya yang menatapnya dengan tajam sambil berkacak pinggang.
"ada?" tanya raka sambil melipat tangannya ke dada .
bagas mendekati tuannya, "nona ada di bawah jendela tuan" ujar bagas memberitahu.
raka langsung melepaskan lipatan tangannya,"sudah kamu pastikan?" tanya raka ulang.
"sudah tuan" ujar bagas sambil menundukkan kepalanya.
raka langsung memasukkan kembali wajahnya dan langsung melihat ke bawahnya, senyuman merekah di bibirnya, "cantik" guman raka yang terpesona melihat wajah tenang gadisnya.
vio tidur menghadap samping, dengan menggunakan baju tidur pink dan celana biru lengan panjang, dan dengan menggunakan penutup kepala, sehingga raka tidak bisa melihat rambut vio
raka menumpukkan tangannya di jendela, dan meletakkan dagunya di atas tangannya, sambil melihat ke bawah, melihat pemandangan yang sangat indah, bahkan bisa di bilang, tidak ada pemandangan yang indah seperti saat ini.
vio mengganti posisinya menjadi terlentang. vio mengerjapkan matanya dan membuka matanya, karena merasa tenggorokannya kering.
vio spontan duduk dan membulatkan matanya, "raka" ucap vio pelan.
raka yang baru sadar jika gadisnya sadar pun juga kaget, tapi dia langsung membenarkan posisinya dan tersenyum ke vio yang membulatkan matanya.
vio mengambil hijabnya dan memasang jarum ke hijab, vio melihat teman temannya, takut ada yang terlihat auratnya, dan lebih pentingnya lagi dia takut temannya ada yang bangun dan melihat raka. jika santai itu lebih baik, tapi bagaimana jika kaget dan spontan teriak, sudah di pastikan anak kamar akan bangun dan juga ikut berteriak, jika itu terjadi bis bisa satu daerah bangun dan ikut berteriak. jika itu terjadi alamat sudah keamanan akan datang.
"kamu ngapain ke sini?" tanya vio
"kangen" jawab raka
"tapi tidak begini caranya ka" ujar vio yang menutupi rasa malunya,
"di kamar kamu panas?" tanya raka
"biasa saja" balas vio
"kamu serius, tapi wajah kamu kok merah begitu?" tanya raka sedikit khawatir.
vio menghela napasnya " aku lagi panik, kamu ke sini, jadi lebih baik kamu balik, takut ketahuan" ujar vio yang terlihat jelas paniknya
"aku masih kangen," ujar raka
"kenapa tidak bersama bunda ke sini?" tanya vio
__ADS_1
"bunda sibuk" balas raka.
"eh eh, mau ke mana?" tanya vio sambil mencegah raka yang hendak naik.
"masuk" jawab raka santai.
"jangan ka, nanti kalau ada yang bangun bagaimana, sekarang mendingan kamu balik ya, sumpah aku tidak tenang" ujar vio, yang sambil melihat ke arah pintu, takutnya ada keamanan yang menyelusuri kamar kamar.
"tapi aku masih kangen sama kamu sayang" ujar raka
pipi vio langsung memerah, dan jangan tanyakan bagaimana kondisi hatinya. "sudah ka mending balik ya pliss" mohon vio
"tidak" jawab raka santai.
vio menghela nafasnya ."tunggu sebentar" ujar vio
raka menganggukkan kepalanya sambil melihat vio ke lemari bajunya. pandangannya tidak lepas dari pergerakan vio.
vio kembali ke raka setelah menutup kembali lemari bajunya dengan membawa kartu berwarna biru. dan memberikan ke raka.
raka menaikkan satu alisnya tapi tetap mengambil kartu yang di berikan ke padanya, raka melihat depan belakang kartu dengan bingung. "apa ini?" tanya raka
"kamu balik sekarang, besok temui aku, pakai kartu ini di ruang pertemuan" ujar vio
"bisa?" tanya raka
vio menganggukkan kepalanya. "sekarang kamu balik ya, aku takut ketahuan" ujar vio memelas.
melihat wajah gadisnya membuat dirinya tidak tega, mau tidak mau dia harus menuruti permintaan gadisnya. toh, besok mereka akan bertemu.
"ok, aku balik, assalamualaikum" ucap raka
"waalaiikumsalam" jawab vio.
"balik" ujar raka pada bagas yang berdiri di belakang seperti patung raka melewati jalan yang dia lewati sebelumnya. vio langsung menutup jendelanya dan mengambil air yang ada di botol samping dia tidur, vio meminum air tersebut untuk membuatnya lebih tenang dan kembali merebahkan dirinya .
CRAK CRAK, "vi" panggil sasa dengan suara seraknya. sambil mengucek matanya.
"kamu kok bangun?" tanya sasa yang tidur di sebelah vio
"aku baru selesai minum" jawab yang tidak sepenuhnya bohong.
"itu suara apa?" tanya sasa
"penyusup kali" ujar vio, sambil membenarkan posisi tidurnya.
"vi jangan bercanda deh" ujar sasa sambil merapatkan dirinya ke vio
"mangkanya tidur" ujar vio
__ADS_1