Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 10


__ADS_3

Melihat nomor 'Mantan' tengah menghubunginya, Salma lekas mengangkat panggilan itu.


"Apa?!" tanya Salma.


"Maksudmu apa sih, Yank? Jangan aneh-aneh, deh!"


Aku nggak aneh-aneh, kamu aja yang berusaha ngibulin aku? pikir Salma. "Kenapa emangnya?"


"Hani, kamu emang ketemu Hani?"


Salma teringat dengan pesan singkat yang tadi masuk ke nomor Sabda, pesan singkat dari Hani yang memunculkan keraguan dalam dirinya. "Jangan pura-pura, deh! Aku nggak papa kok, yang penting kamu jujur sama aku. Dan sebaiknya kalau udah punya satu itu—ya udahlah, jangan sampai kamu ngulangi kejadian di masa lalu!"


"Apaan sih, Sayang, jangan nuduh-nuduh gini deh, udah tua loh kita, omongin aja!"


"Weh lah, siapa yang nuduh? Aku cuma mau ngingetin kamu aja buat jujur sama aku! Salah? Ya, sudah kalau gitu nggak usah ditanggapin!"


"Aku merasa udah jujur ke kamu loh!"


"Belum, ada yang kamu sembunyikan!"


"Yang Hani tadi? Emangnya kenapa, katakan saja! setelah kejadian itu hubungan kami tetap jalan. Dia menikah sama kekasihnya, udah bahagia punya anak satu namanya—eh, siapa ya aku lupa namanya. Aku janji mau ngunjungin dia tapi belum sempat. Hanya itu!"


"Kenapa panggil-panggil Pap ke kamu? Ih, bikin overthingking."


"Emang dia panggil, Pap?"


"Hm, dia ngirim pesan ke kamu. Aku nggak buka cuma lihat sekilas aja." Salma berkata dengan ketus.


"Ow, aku belum buka hape. Sampai rumah aku langsung makan dan chat kamu. Eh, jadi gara-gara ini kamu marah-marah gak jelas! Ihs, kaya ABG aja. Tapi, kamu boleh juga kok panggil aku pakai sebutan 'Pap'!"


"Enggak. Panggil Mantan aja!"


Terdengar suara kekehan kecil dari ujung panggilan. "Akhirnya, kamu cemburu lagi saat ada wanita yang dekat denganku."


"Enggak! Ngapain cemburu— kalau udah mantan ya dibuang aja!"


"Lah, tadi marah-marah!"

__ADS_1


"Cuma kesel aja. Aku khawatir kamu bohongin aku dan bikin patah hati cewek lain."


"Enggaklah, Sayang. Jadi, gimana tawaranku tadi? Besok kita nikah ya!"


"Enggak. Masih banyak yang harus kamu hadapi, termasuk restu ayah dan Ibu," jawab Salma.


"Sal, nanti keburu kamu diambil orang lah."


"Emangnya barang? Aku punya perasaan Mas, jangan khawatir akan hal itu. Aku hanya akan mau menerima pria yang benar-benar tulus mencintaiku."


"Aku tulus loh, Sayang. Tulus mencintaimu," jawab Sabda.


Salma tidak merespon kali ini dia menimbang keputusannya, haruskah menceritakan sosok pria yang tadi mengiriminya pesan. Apa nanti Sabda bisa berlapang dada dan menerima jika ada orang lain yang sedang merindukannya.


"Ody, di mana?"


"A—ada di depan sama Aruni. Mau aku panggil?"


"Enggak, aku mau istirahat aja, soalnya capek banget."


"Hm. Ya sudah. Aku matiin kalau begitu."


Bentakan ketakutan itu membuat Salma mengurungkan niatnya untuk memutus sambungan. "Mau ngomongin apa juga aku bingung, Mas! orang tadi habis ketemu lama."


Hening, Salma berharap Sabda sudah terlelap dan dia bisa segera menarik Aundy masuk ke dalam kamar.


"Sal!"


"Hm, belum tidur ternyata. Kenapa?"


"Aku tadi bertengkar sama ibu. Dosa enggak ya?!"


Salma mulai curiga dengan pernyataan Sabda. Dia bisa menduga kalau dialah penyebab pertengkaran itu. "Mas!"


"Aku tahu, Sal! Aku paham kamu nggak bakalan suka! Tapi ibu juga nggak mau mengubah sikapnya. Dia nggak mau ngerti keinginanku, dia itu kaya nggak mau lihat putranya bahagia."


Salma hanya bisa menarik napas dalam. Dia menyesal karena tidak bisa memberi solusi apapun pada Sabda.

__ADS_1


"Malam ini, aku tidur di rumah Rendi—ibu ngusir aku!"


"Sampai kapan?!" tanya Salma. "Sampai kapan mas Sabda akan terus begini?" ulangnya lagi.


"Ya, sampai ibu paham kalau kamu adalah pilihanku. Sampai dia mau nerima hubungan kita."


"Mas Sabda salah ngerti nggak. Ini ibu loh."


"Iya, aku paham. Aku cuma mau gertak ibu aja, biar ibu juga paham kalau kebahagiaanku cuma aku yang bisa menentukan."


"Saran Salma sih jangan lama-lama, Mas! Takut kualat!"


"Hm, iya—deh. Tapi, emang kamu rela aku nikah sama wanita pilihan ibu?!"


"Enggak."


"Ya, udah. Kita berjuang sama-sama ya!"


"Udah-udah aku mau lihat Ody dulu! Aku matikan."


"Padahal masih kangen loh!"


"Enggak, aku matiin aja! Aku panggil Ody dulu!" Panggilan suara itu langsung diputus oleh Salma, dia bergegas menjemput Aundy yang sibuk bermain dengan Aruni.


Tiba di lantai satu kedatangan Salma disambut laporan dari Aruni. "Eh, Mbak—punya nomor dokter yang dulu ke sini itu enggak. Itu kayae pak Farhan sakitnya tambah parah deh!"


"Terus, di mana dia sekarang?"


"Di kamar, Mbak."


Salma mengajak Aruni untuk menemaninya naik ke lantai dua, masuk ke kamar Farhan. Sampai di dalam kamar itu, dia melihat Farhan meringkuk di bawah selimut tebal yang menutupi tubuhnya.


Mengetahui suhu tubuh Farhan yang kelewat normal Salma kembali turun ke lantai satu, dia mencari nomor dokter yang biasa datang.


"Hallo, apa benar ini dokter Anton?" Mendengar sahutan dari seberang, Salma lekas memberi perintah, meminta dokter untuk datang ke kedai. Jelas saja dia panik lantaran Farhan sakit di saat posisinya ada di kedai. Itu artinya, dia wajib bertanggungjawab.


"Ody, masuk kamar dulu ya, Sayang! Biar bunda urus Papa Farhan!" Minta Salma saat melihat Aundy masih sibuk di ruang depan.

__ADS_1


Gadis itu tidak membantah dia masuk ke dalam kamar. Sembari menunggu sang bunda masuk, dia justru bermain dengan ponsel ibunya yang tergeletak di atas ranjang.


"Ody, telepon ayah dulu ah," gumamnya sambil mencari-cari nomor Sabda. Sayangnya tidak menemukan nomor yang ia cari. Sampai akhirnya Aundy masuk ke roomchat ponsel Salma. "Apa ini nomor baru ayah? Pasti ini nomor baru ayah!" Gumamnya saat melihat daftar nomor pesan baru yang belum disimpan oleh Salma. Aundy segera menghubungi nomor itu.


__ADS_2