
Suara mesin mobil yang berhenti di depan rumah membuat sosok wanita yang tadinya menatap lembaran foto kini segera beranjak dari kamar.
Bu Habibah menyingkap kain gorden yang ada di ruang tamu untuk melihat siapa yang datang ke rumahnya di jam malam seperti ini.
Sabda memang mengatakan akan pulang, tapi belum bisa diprediksi kapan pria itu akan tiba di rumahnya. Dan sekarang, melihat sosok Sabda turun dari taksi wanita paruh baya itu bergegas keluar.
Senyumnya merekah, menyambut kepulangan Sabda. "Alhamdulillah, selamat sampai rumah. Ibu udah kangen banget sama kamu, Lo, le?" Kata Bu Habibah seraya mengusap kepala Sabda yang kini sedang mencium punggung tangannya.
"Assalamualaikum, Bu—apa ibu sehat? Kok kurusan?" tanya Sabda, sengaja menggoda ibunya. Memang sudah enam bulan dia tidak kembali ke Semarang, karena dituntut menyelesaikan tugas dari kantor yang tak pernah habis.
"Wa'alaikumsalam—gimana nggak kurus to, Le. Setiap malam ibu selalu kebangun mikirin nasibmu nanti saat ibu pergi. Siapa yang akan merawatmu, Nak!"
"Sabda, kan laki-laki nggak usah terlalu stress mikirin nasib Sabda, Bu. Sabda juga sudah bisa jaga diri kok, kan udah gedhe."
"Dasar kamu ini! Masuklah ibu sudah beliin sayur lodeh tewel kesukaanmu." Bu Habibah menuntun Sabda memasuki rumah.
Sebenarnya Sabda tak berselera untuk makan. Lagi-lagi ibu tidak memasak itu yang membuatnya malas pulang ke rumah. Padahal apapun masakan ibu, enak tidak enak dia akan selalu menikmatinya. Tapi demi menghargai sang ibu, Sabda tetap melangkah menuju meja makan.
Sabda lekas mengambil piring kosong, mulai menyantap hidangan yang tersaji di atas meja. Di sini pun, Sabda hanya duduk sendirian—sang ibu justru sibuk entah melakukan apa di dalam kamarnya.
Sabda ingin segera menyelesaikan makan malamnya. Supaya bisa memberi kabar kepada Salma dan Aundy.
Tidak sampai lima menit, piring Sabda sudah kosong, menyisakan potongan laos yang ikut terciduk dari mangkok sayur. Tepat ketika Sabda hendak beranjak, Bu Habibah justru menghampirinya. "Tunggu sebentar, le! Ada yang ingin ibu sampaikan sama kamu," cegah Bu Habibah meminta Sabda untuk kembali duduk.
"Ada apa, Bu?" Tanya Sabda.
Bu Habibah bungkam, wanita itu sibuk menyusun beberapa lembar foto gadis di atas meja. Sepertinya, itu adalah kandidat calon istri pilihan Bu habibah yang sengaja disiapkan untuk Sabda. "Enam bulan terakhir ini, ibu sudah menembusi orang tua mereka. Semua orang berada, Da. Dan kamu pasti akan ikut bersinar jika menikahi salah satu dari mereka," jelas Bu Habibah.
'Ibu benar-benar kebangetan. Kenapa sih, nggak ngasih waktu aku untuk istirahat sebentar saja? Padahal tahu kalau aku baru saja kembali dari perjalanan jauh.' batin Sabda mengeluh. Meski begitu, Sabda pura-pura mencermati foto lima gadis itu. Dia tampak menimang-nimang mana yang akan menjadi pilihannya. Dia melakukan itu demi menghargai kerja keras sang ibu.
"Enggak ada, Bu! Mereka jauh dari selera Sabda."
Bu Habibah tampak membuang napas kasar, kecewa dengan jawaban Sabda, mengingat lima gadis di foto itu tidak ada yang menarik perasaan Sabda.
"Kalau begitu, ini saja!" Bu Habibah menunjukkan foto sosok gadis berambut pendek. Seorang polwan yang kini bertugas di wilayah Banyumanik, tampak gadis itu sedang berpose mengenakan pakaian dinas. "Namanya Berliana Eka Wahyudi. Umurnya baru 23 tahun, Da! Cantik, pintar, berkarir, dan yang penting dari keluarga terpandang!" Bu Habibah menyimpan kembali foto gadis yang tadi berjajar rapi di atas meja. Menyisakan satu lembar foto milik Berliana. "Cantik, kan? Ibu akan menghubungi keluarganya, mengabari jika besok kita akan datang ke rumah mereka, tentu tujuannya untuk melamar Berlin! Pokoknya kamu harus menurut, supaya ibu mati dengan damai!"
__ADS_1
Sabda menarik napas dalam-dalam, berusaha memendam kekesalannya pada sang ibu. Bagaimana pun Bu Habibah adalah wanita yang sudah melahirkannya. Dia tidak ingin berbuat kasar terhadap ibunya.
"Bu, ibu duduk dulu deh!" Sabda menepuk kursi kosong di sampingnya. Berniat menjelaskan pelan-pelan, supaya Bu Habibah paham dengan apa yang diinginkan.
Wanita itu menurut, mengambil duduk di samping Sabda. "Kenapa? Apa sebenarnya kamu udah punya calon?"
"Tepat sekali tebakan Ibu."
"Siapa? Orang mana? Apa pekerjaannya? Orang tuanya gimana? Apa lebih baik dari Berlin? Pokoknya keluarganya harus terpandang supaya bisa mengangkat derajat keluarga kita ya, Da!"
Kembali Sabda menarik napas dalam sebelum menjelaskan kepada Bu Habibah. "Mungkin wanita ini bukan sosok yang menjadi kriteria ibu. Bahkan jauh dari kata pantas menurut ibu. Tapi, ketahuilah, Bu. Hampir setiap saat nama wanita inilah yang selalu Sabda sebut dalam doa."
Wajah Bu Habibah berubah pias, hanya satu nama yang kini melintas di kepalanya. Tapi sebelum Sabda mengatakan siapa sosok wanita itu, dia berusaha menyangkalnya. "Siapa dia? Apa ibu mengenalnya?"
"Ya ibu mengenalnya."
"Siapa, Da? Anak pak Rohmadi?" Bu Habibah kembali menebak tapi langsung dijawab gelengan kepala oleh Sabda.
"Bukan, Bu!" Tegasnya lagi.
Sabda ragu hendak mengatakan semuanya pada sang ibu. Dia cukup tahu pasti ujung -ujungnya Bu Habibah akan menolak kehadiran Salma di hidupnya. "Dia—
"SABDA!" Bu Habibah teriak lantang, tak sabar untuk mendengar jawaban dari Sabda.
"Dia Salma, Bu. Sabda berniat kembali rujuk dengan Salma. Karena sampai saat ini, Sabda belum bisa move on darinya. Selain itu, ini semua juga demi Ody, cucu ibu, darah daging Sabda."
Bu Habibah beranjak dari kursi, wajahnya merah padam mendengar nama mantan menantunya itu disebut oleh putranya.
"Bu, Sabda minta restu sama Ibu. Izinkan Sabda menikah kembali dengan Salma," mohon Sabda sambil memegangi lengan Bu Habibah. "Sabda ingin bahagia, dan kebahagian Sabda adalah membuat Ody dan Salma hidup bahagia, Bu!" Bujuk Sabda ketika Bu Habibah tidak merespon apapun.
"Sampai mati ibu tidak akan merestui hubungan kalian! Dengarkan ibu, Da! Apapun itu, ibu tidak pernah Mengizinkanmu menikahi Salma."
"Kenapa? Kenapa ibu begitu membenci Salma? Apa dia pernah ngelakuin kesalahan besar yang membuat ibu sebenci ini sama dia?" Sabda penasaran, tapi pertanyaan itu tak membuat Bu Habibah mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar. Sabda pun membiarkan Bu Habibah berlalu dari meja makan. "Ya, sudah terserah ibu, tapi perlu ibu tahu, Sabda akan tetap menikahi Salma. Tanpa atau dengan restu dari ibu!"
"Owh, jadi kamu lebih memilih perempuan itu ketimbang ibumu?! Silakan pergi, SABDA! PERGI DAN JANGAN LAGI MENGINJAKAN KAKIMU DI RUMAH INI! KALAU KAMU TETAP MEMILIH SALMA, ITU ARTINYA KAMU BERSEDIA KELUAR DARI HAK WARIS BAGHASKARA!" Ancam Bu Habibah membuat mata Sabda memanas perih.
__ADS_1
Sabda bingung, entah apa yang merasuki tubuh ibunya itu. Sampai-sampai tega berbuat begitu padanya. Tapi kali ini dia tidak akan menyerah. Dia memilih meninggalkan rumah, dari pada harus kembali dipisahkan dengan Salma.
"Baiklah kalau itu maunya ibu! Sabda akan pergi. Tapi sampai kapanpun Sabda akan tetap menganggap ibu sebagai ibu kandung Sabda. Kita hanya berbeda dalam pilihan. Tidak seharusnya ibu bersikap seperti ini pada Sabda, dan maaf kalau Sabda mengecewakan ibu dan memilih tetap berada di pendirian Sabda. Maaf, Bu!" Sabda meninggalkan rumah, menahan air matanya supaya tidak terlihat lemah di depan sang ibu. Dia bahkan belum bertemu dengan pak Ageng Baghaskara. Tapi, sudah diusir oleh ibunya karena mereka berdua berbeda pilihan.
Malam ini Sabda memutuskan untuk numpang di rumah Rendi, dia sudah lelah dan ingin segera beristirahat. Jadi jalan satu-satunya adalah mendatangi rumah Rendi yang tidak jauh dari rumahnya.
"Ceileh, bujangan lagi nongol! Wajahnya di tekuk gitu!" Cibir Rendi saat menyadari kedatangan Sabda.
"Diam! Mau numpang tidur!"
"Itu hotel banyak plus tukang pijatnya juga!"
"Bang-sat, tenanan kie, koen! Mumet sirahku!" Sabda terbawa logat Jawa Timur, yang biasa dilemparkan teman sekamarnya. Kebiasaan bergaul dengan para pria, jadi terkadang dia lepas kontrol.
"Mbak Salma gimana? Udah ketemu? Valid kan alamatnya?" Tanya Rendi, dari pria itulah Sabda bisa menemukan keberadaan Salma dan Aundy.
Sabda menganggukan kepala. "Hm, makasih ya!" Ucapnya lembut.
"Terus kapan nikahnya sama Amuraku?" goda Rendi.
"Besok. Pengenku besok! Pengen nikah beneran aku, Ren! biar bisa nunjukin ke dunia kalau kita nggak bisa dipisahin dengan cara apapun." Sabda menjatuhkan tubuhnya di atas kasur busa milik Rendi. Dia membuka roomchat milik Salma. Melihat wanita itu sedang online. Sabda buru-buru mengetikan pesan.
Sabda : Cintanya mas sabda, lagi apa? Besok nikah sama mamas, mau? 🙏🥹
Amoraku : Enggak mau.
Sabda : Aku udah nggak betah men-duda pengen cepet-cepet halalin wanita. Tapi nggak ada wanita lain sebaik dan secantik kamu. Yuk cuz ke penghulu. 😍
Amoraku : Lebay! Nggak mempan digombalin sama kamu. Nanti kalau udah dapatin aku, bakal dicampakkan kaya dulu lagi.
Belum juga Sabda selesai mengetik pesan balasan untuk Salma. Pesan berikutnya dari Salma kembali masuk.
Amoraku : Itu si Hani kenapa panggilannya Pap? Fix kan kalian memang nikah hari itu! Jangan bohongi aku lagi, aku capek main-main terus.
Sabda mengernyit, sejak kapan Salma bertemu Hani? Pikirnya, perasaan—Hani juga tidak pernah kepo dengan kehidupan Salma.
__ADS_1
Tanpa berlama-lama lagi, Sabda segera menghubungi nomor Salma. Dia ingin berbicara langsung dengan mantan istrinya itu. Meluruskan maksud dan tujuan Salma melemparkan tuduhan itu padanya.