
Biasanya kalau perasaan perempuan sedang kacau, dia akan pergi berbelanja untuk sekedar menghibur diri, membeli barang kesukaannya, mendatangi warung makan yang diinginkan lalu mengisi perutnya sampai kenyang. Salma menginginkan itu, dia sama seperti tipe wanita kebanyakan lainnya.
Akan tetapi, situasi dan kondisi membuatnya terpaksa harus bertahan di dalam rumah. Mau ke mall besar juga tidak bisa, masakan restoran pun tidak sesuai dengan selera lidahnya.
Dan hasilnya sungguh membuat nyaman penghuni rumah. Tercium parfum apel dari lantai, debu-debu di atas meja sudah tersapu bersih, cucian piring dan baju sudah selesai, lipatan pakaian bersih juga sudah masuk ke dalam lemari. Nyaris setengah hari Salma bersih -bersih rumah. Akhirnya, siang ini dia bisa meluruskan kakinya di sofa.
Salma masih enggan membangunkan Sabda. Ya, setiap masuk malam pola tidur pria itu ikut berubah, siang dijadikan malam begitupun sebaliknya. Salma menarik napas dalam, menjatuhkan tubuhnya sambil merilekskan pikiran. Lelah, penat tentu saja. Dia ingin istirahat. Tapi acara gosip di layar tv menarik fokusnya.
Salma mendengar dan mengamati apa yang sedang terjadi di rumah tangga para artis ibu kota. Semakin marak aja berita perselingkuhan, beruntung dia dan Sabda sudah tidak menjalani LDM. Jadi, setiap hari dia bisa memantau ponsel suaminya. Yang kebanyakan phone book pria itu diisi oleh nama-nama pria.
Saat sedang memperhatikan layar, tiba-tiba saja Salma dikejutkan oleh kepala Sabda yang mendarat di pangkuannya. Pria itu memejamkan mata sambil tidur tengkurap, seolah dia bantal ternyaman yang kini sedang digunakan.
Jika biasanya Salma mengusap kepala, lalu menyisir rambut pria itu dengan jari, kali ini dia tidak melakukan itu. Salma hanya diam, sambil menatap layar.
"Ody, pulang jam berapa, Yang?" tanya Sabda, tidak mengubah posisi tidurnya.
"Jam dua." Salma menjawab singkat.
"Mau dibuatin es teh dong, Yang! Panas banget di kamar, coba deh panggil service AC buat benerin pendingin udara kamar belakang."
"Bikin sendirilah sana! Males banget!" Salma menjawab ketus.
"Aku kalau bikin es teh nggak enak, kerasa manis aja."
Salma mengalah, karena apa yang dikatakan Sabda adalah fakta, bahkan warnanya justru bening. "Minggir dulu kepalanya!"
"Begini dulu!" Minta Sabda sambil memeluk pa ha Salma.
"Ya, sudah kalau gitu bikin aja sendiri!"
"Kamu marah sama aku ya, Yang?"
"Nggak, cuma lagi kesel aja sama kamu! Nggak boleh, dosa kan marah sama suami!"
Sabda langsung membalikan tubuhnya, hingga dia bisa melihat wajah Salma dari jarak dekat. "Kesel kenapa? Gara-gara aku ngelarang kamu makan mangga?"
"Dah tahu nanyak!" Kata Salma, terdengar sewot.
"Mangga nya sudah dimakan kan? Masih juga marah? Aku cuma nggak mau kamu sakit, Sayang! Soalnya bakalan repot banget. Kita ini hidup jauh dari keluarga, kalau sakit harus ngelibatin tetangga, aku nggak mau merepotkan mereka. Jadi kita wajib saling jaga! Jangan marah ya, katanya cinta sama aku? Nggak enak diem-dieman gini!"
__ADS_1
"Tapi kemarin, kamu juga beli mangga juga kan!"
"Itu karena aku sayang kamu. Nggak mau bikin istriku ini kecewa! Coba pikir lagi, kamu pasti akan semakin marah kalau aku nggak beliin kamu mangga?" Sabda mengusap perut Salma yang terlihat kempes, saat mendengar sesuatu dari perut Salma, seperti bunyi air yang beriak. "Masih diare?" Selidiknya.
"Udah enggak. Aku masih lelah habis beres-beres rumah."
Sabda tersenyum simpul sambil menatap sekeliling. "Alhamdulilah ... Kukasih ladang pahala mau nggak? Dari tadi pengen nubruk kamu tapi nggak tega, soalnya main pun rasanya pasti beda."
"Ih, kebiasaan cowok kalau habis emosinya meledak-ledak langsung ambil jatah."
Sabda menahan tawa, kemudian tangannya bergerak membuka kancing daster Salma, satu persatu hingga seluruh kancingnya berhasil terbuka semua. Dalam hatinya, berteriak, yes! Yes! Berbeda dengan Salma yang masih mengerucutkan bibir.
Tanpa banyak basa-basi, mereka bermain di sekitar ruang tv. Berpindah-pindah tempat kadang di sofa, kadang di karpet, sudah berulangkali berganti gaya. Dan percayalah kekesalan yang semalam melanda mendadak lenyap seketika. Bukan hanya dari dalam diri Sabda, Salma pun sama.
Sabda tersenyum puas saat berhasil mengeluarkan larva panas dalam dirinya. Begitu pun Salma yang masih memagut bibir Sabda seakan tidak rela melepaskan milik suaminya.
Mereka saling memisahkan diri saat terdengar suara ketukan pintu dari arah depan rumah. Salma langsung berlari kecil ke arah kamar tanpa peduli jika pakaian dal lam serta daster satin yang tadi dikenakan masih teronggok di lantai.
"Buka pintunya, Yang! Sepertinya suara teh Lina!" Seru Salma, akan semakin lama jika menunggunya memakai pakaian lengkap, keburu teh Lina pergi. Lagian, wanita itu—udah tahu Sabda di rumah kenapa juga harus bertamu, sih?
"Salmaaaa ...."
Teriakan kembali terdengar, semakin lantang dan mau tidak mau Sabda segera memakai baju serta celana dengan gerakan cepat. Beruntung saja burung elang yang tadi menggembung kini sudah melemah jadi dia bisa menyembunyikannya dari wanita yang kini bertamu.
"Eh, Mas Sabda di rumah? Kirain masih masuk pagi." Kata teh Lina sungkan.
"Iya, nanti masuk malam."
"Ow, gitu. Ya udah nanti aja. Maaf ganggu, aku cuma perlu sama Salma kok."
"Hm, iya—tadi Salma lari ke kamar."
Astaga, mas Sabda. Pasti setelah ini aku akan menjadi bahan olokan ibu-ibu di komplek. Apalagi teh Lina kalau bicara suka keceplosan. Gerutu Salma saat mendengar jawaban Sabda.
"Heheh, ya udah Mas, bilang ke Salma jam lima suruh ke rumahku ya!" Pesan teh Lina.
"Ya." Tanpa menunggu wanita itu berpamitan, Sabda langsung menutup pintunya rapat. Bahkan menarik gorden agar teh Lina tidak mengintip. Dia menyusul Salma yang sepertinya sedang mandi.
Setelah tubuh keduanya bersih, giliran Sabda yang mengambil makan siang. Sabda membawa sepiring makanan itu ke depan tv, berniat menikmatinya dengan Salma yang kini masih sibuk menyisir rambutnya yang terlihat basah.
__ADS_1
"Sapa yang jemput Ody?" Tanya salma melirik ke arah jarum jam yang hampir menunjukan pukul dua siang.
"Mau aku, atau kamu juga ikut?"
"Aku di rumah saja, di luar panas!" Kata Salma sambil menyeruput es teh manis buatan Sabda, rasa dingin langsung menyegarkan mulutnya yang sedari tadi menahan rasa haus.
Sabda mengangguk, lalu menyodorkan suapan ke depan mulut Salma.
"Kenyang, kebanyakan minum!" Tolak Salma, saat perutnya terasa penuh.
Sabda melirik ke arah gelas es teh yang tadi dibawa. Kesal saat menyadari es teh buatannya langsung habis diminum Salma. "Buatin lagi sana!" pinta Sabda dengan emosi. Jika tadi Salma menolak sekarang dia patuh, emosinya sudah hilang berganti perasaan berbunga-bunga yang kini menyelimuti diri.
Salma beranjak—melangkah menuju dapur, Sabda memang begitu tiap makan harus ada minuman. Jadi, dia harus selalu menyajikannya di depan pria itu. Meski terkadang lelah karena sabda banyak memerintah, tapi dia bahagia dengan hubungan pernikahannya saat ini.
Pukul dua siang, Aundy sudah tiba di rumah. Masih ada waktu sedikit untuk Sabda bermain dengan anak gadisnya itu. Sebelum pukul tiga di kembali masuk kamar untuk kembali tidur. Kadang kalau dia nggak bisa tidur, Sabda memilih bermain game sambil menunggu jam lima di mana bus jemputan Karyaman tambang lewat di jalan poros komplek perumahan.
Tapi sore ini, Sabda begitu manja. Pria itu meminta Salma untuk mengantarnya ke jalan depan.
"Ody, mau ikut enggak?" tawar Salma, yang sudah mengenakan jaket serta helm di kepalanya.
"Ke mana, sih, Bun?"
"Bunda mau nganterin ayah sekalian mampir ke rumah adek Akmal (anak teh Lina)."
Aundy menggeleng, Akmal lebih kecil darinya jadi nggak bisa diajak seru-seruan.
"Nanti kalau bunda kelamaan nyusul ya!" Pesan Salma.
Sabda yang sudah siap mengecup singkat pipi Aundy, itupun dia mencuri-curi. Jika tidak, anaknya sudah enggan menerima kecupan darinya.
"Ayah ih, manja! Gitu aja suruh nganterin! Nggak kasihan sama bunda. Capek tauk!"
"Nggak papa, emang Ody aja yang boleh dianterin?!"
"Ih, dasar ayah manja! Setelah ini, pasti besok nyuruh dimandiin sama bunda."
"Heh, tadi udah—bunda tiap hari mandiin ayah! Beda sama Ody yang udah nggak dimandiin sama bunda."
"Mas!" Seru Salma menarik lengan Sabda. Perdebatan mereka tidak akan habis seandainya dia tidak bergerak untuk menghentikan.
__ADS_1
"Dadah Ody! Jangan lupa mandi!" Salma melambaikan tangan saat motor matic warna hitam itu sudah meninggalkan rumah sederhana yang begitu banyak kehangatan. Dia beralih memeluk pinggang Sabda setelah Aundy tak lagi terlihat dari pandangan.
Setelah ini Salma sudah berencana singgah ke apotek terlebih dahulu, untuk membeli test kehamilan. Dia curiga karena merasakan tubuhnya yang tidak beres. Bukan hanya itu, gairahnya pun meningkat drastis. Dia haus akan sentuhan, bahkan saat di dalam kamar mandi tadi, dia dengan berani meminta Sabda untuk me-replay adegan di depan tv.