
Air hujan kembali mengguyur rumah Sabda malam ini, siraman air yang jatuh ke bumi mengiringi suara Aundy yang sedang bercerita sambil memeluk tubuh Sabda. Awalnya, Sabda begitu menikmati setiap kalimat yang dilontarkan Aundy. Membuka telinganya lebar, sesekali menjawab pertanyaan gadis itu.
Akan tetapi kantuk yang menyerang berhasil menguasai, hingga perlahan dia benar-benar masuk ke alam mimpi. Sabda tidak lagi mampu menjawab setiap apa yang ditanyakan putrinya.
"Ayah, kenapa jadinya Ody yang ngelonin ayah!" Gadis itu menggerutu. Lalu terpaksa memejamkan mata, menyusul Sabda yang sudah terlelap terlebih dahulu.
Kebiasaan Aundy jika sudah terlelap, gadis itu tidak akan bangun di tengah malam. Kecuali saat dia ngompol atau kebelet pipis. Jadi, Sabda merasa aman meninggalkan Aundy demi menyusul ke kamar istrinya.
Suasana tenang yang tercipta justru membuat Sabda tersentak dari tidurnya. Dia teringat dengan janjinya yang hendak tidur dengan Salma. Pelan-pelan, Sabda mulai meninggalkan ranjang yang ditempati Aundy.
Namun, saat langkahnya tiba di ruang keluarga—Sabda justru menemukan Salma tidur meringkuk di depan televisi. "Udah dibilangin masih aja bandel!" gumamnya menggerutu kesal karena Salma enggan menuruti ucapannya dan mengakibatkan darah di tubuhnya menjadi santapan lezat nyamuk-nyamuk nakal.
Tak tega membangunkan Salma, Sabda menggendong wanita itu berniat memindahkan ke atas ranjang yang ada di dalam kamar. Dengan gerakan hati-hati khawatir menganggu, Sabda merebahkan tubuh Salma.
Belum juga menjauhkan tangannya dari tubuh Salma, mata wanita itu sudah terbuka. Sejenak mereka beradu pandang dengan jarak paling dekat. Bahkan, Sabda bisa merasakan hembusan napas hangat yang keluar dari hidung Salma.
"Jam berapa ini, Mas?" tanya Salma dengan suara serak. "Aku harus masak bikin sarapan untuk kalian!"
Ngelindur?
"Masih jam sebelas malam, Sayang—tidur lagi, nggak usah mikirin buat sarapan. Kalau nggak sempat masak, ya udah beli! Jangan diambil pusing masalah pekerjaan rumah. Kalau kamu mau, ya silakan dikerjakan! kalau nggak, ya udah nanti aku kerjain!" kata Sabda dengan suara lembut, di sisi lain jemarinya ikut membelai wajah Salma, menelusuri tulang pipinya.
"Mas, enggak bisa begitu! Dulu—
Ucapan Salma tak lagi terdengar karena sudah dibungkam rapat oleh bibir Sabda. Pria itu suka sekali melakukan hal yang membuat wajah Salma bersemu, atau membuat debaran jantung Salma mendadak sampai ke pendengaran Sabda. Wajah terkejut yang semakin menggemaskan. Jadi, Sabda selalu ingin melakukannya.
"Kamu mau bilang; dulu pekerjaan rumah adalah kewajibanmu?" tanya Sabda setelah berhasil membebaskan bibir Salma. "Rasanya puluhan kali aku meminta maaf, itu tak akan berarti apa-apa! aku tahu kenangan buruk itu tidak akan pernah hilang dari pikiranmu. Tapi, aku ingin kamu menggantinya dengan hal yang baru. Yang bisa membuatmu bahagia. Ini rumah kita, bukan rumah ayah dan ibu. Dan kamu satu-satunya ratu di rumah ini. Sayang, kamu bebas mau ngelakuin apapun. Dan tidak ada yang bisa melarangmu!" Sabda memindahkan tubuhnya di sisi kiri Salma.
"Kamu nggak bakalan marah, misalkan nanti saat pulang kerja rumah masih berantakan?"
"Nggak. Aku tahu ini hanya sementara, dan sepuluh atau dua puluh tahun lagi. Aku bakalan merindukan sekacau apa rumah kita. Ody udah besar, dia akan punya kehidupan sendiri. Dan kamu, mungkin sudah nggak lagi kuat buat menghamburkan barang-barang. Yang ada kita hanya bisa menghabiskan waktu berdua. Merindukan momen yang pernah kita lalui. Jadi, apapun nanti, jangan pernah kita saling melepaskan. Aku ingin bertahan denganmu supaya kita bisa bertemu lagi di kehidupan selanjutnya."
Ucapan dari Sabda mendapat pelukan mesra dari Salma. Wanita enggan melepas justru semakin erat memeluk tubuh suaminya.
__ADS_1
"Kamu pasti lelah, tidurlah! Besok kita harus mencari sekolah buat Ody!"
"Pengen dipeluk sampai pagi!"
Sabda mengukir senyuman, kemudian membenarkan posisinya demi bisa membalas pelukan Salma. Hujan di luar sana semakin deras, sekalipun nanti mati lampu, rumah mereka akan tetap terang karena Sabda sudah memasang lampu emergency. Udara yang semakin dingin membuat mereka benar-benar enggan untuk melepaskan pelukan.
Saat pagi datang, mereka bangun di waktu yang hampir bersamaan. Setelah menunaikan kewajibannya, Salma bergegas menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Sabda sudah membelikan stock sayuran, jadi memudahkan Salma untuk menyiapkan menu makanan pagi ini.
Salma merasa bahagia sekali bisa merasakan moment seperti ini dengan Sabda. Pria itu mau membantunya mencuci gelas dan piring, memasukan baju kotor ke dalam mesin cuci. Tugas Salma hanyalah berada di depan kompor untuk menyajikan sarapan.
Sarapan sudah hampir siap, sudah tersaji di atas meja makan. Bertepatan ketika Sabda selesai menyapu rumah.
"Ada lagi yang bisa dibantu, Sayang? Mumpung aku masih cuti ini?"
Salma menoleh ke sumber suara, kemudian menggeleng sambil tersenyum lebar. "Istirahat aja, makan pisang goreng dulu!"
"Ody dibangunin nggak, Yang?"
"Nggak perlu. Biarkan dia bangun sendiri." Salma melirik apa yang tengah dilakukan suaminya. "Mau ke mana? Kok ganti celana? Itu kan kotor? Kenapa dipakai lagi?" protes Salma.
Salma menggeleng, lalu menyodorkan secangkir teh hangat untuk Sabda. "Minum dulu!" Paksa Salma, saat Sabda hendak menolak. "kebiasaan, suka sarapan telat! Mulai sekarang nggak boleh gitu lagi!" Salma memaksa Sabda supaya duduk. Lalu membiarkan pria itu pergi setelah menelan dua potong pisang goreng.
Sembari menunggu Sabda mencuci motor, Salma sibuk mencuci panci yang baru saja digunakan. Rupanya pekerjaannya masih saja menumpuk meskipun Sabda sudah membantunya. Dia masih harus menjemur pakaian yang baru selesai dicuci.
Saat hendak bertanya kepada Sabda di mana dia harus menjemur. Tampak pria itu sedang berbicara dengan seseorang. Dan sialnya, perempuan itu adalah tetangga yang kemarin mengirimi semangkok mie kuah.
Salma menahan langkahnya, bersembunyi di balik kain gorden demi bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Sebenarnya Salma juga penasaran dengan apa yang tengah mereka bicarakan.
"Mas Sabda, masa lupa sama Linda? Mas Sabda kan dulu pernah bilang ke Linda. Kalau kita jodoh, pasti akan dipertemukan lagi, masih ingatkan?"
"Heh?" Sabda bingung, masa iya aku pernah berkata seperti itu ke Linda? Kenapa aku tidak ingat sama sekali? "Iya, Mbak, tapi kan itu kalau saya masih single. Tapi masalahnya, sekarang Allah sudah mengirimkan jodoh terbaik buat saya," tambahnya.
"Yang kemarin itu? Yang nerima semangkok mie pemberianku? Itu istrinya Mas Sabda? Lah, kukira kakaknya, kok tua banget? Kaya nggak ada yang lebih muda aja!"
__ADS_1
Salma yang berdiri di balik gorden hanya bisa me raba wajahnya. Emang iya aku kelihatan tua? Lalu menatap gadis yang berdiri di balik pagar rumah, jauh lebih fresh dan kencang, mungkin karena wanita itu punya uang banyak untuk perawatan wajah.
"Serius itu istrinya Mas Sabda, ih aku nggak percaya! Paling ini akal-akalan Mas Sabda aja biar nggak aku deketin, kan? Itu kakakmu kan, Mas?"
"Ayah!"
Salma ikut terjingkat mendengar teriakan Aundy dari jendela kamarnya. Karena Sabda mencuci motor tepat di samping kamar Aundy—tentu saja gadis itu bisa mendengar dengan jelas obrolan mereka berdua.
"Iya, Sayang—udah bangun?" Sahut Sabda, sambil tersenyum ke arah Aundy, tangannya tak henti bekerja mencuci motor.
"Jadi serius itu istrimu, Mas? Udah dapat anak juga ya? Berarti Mas Sabda nikah sama janda? Pantesan aja, Mas Sabda mau walaupun tua, ternyata mas lebih milih yang berpengalaman ya!"
"Mbak Linda, dijaga ucapannya, ada anak saya!" tegur Sabda, dia tidak ingin Aundy salah mengartikan ucapan Linda.
"Dia siapa sih, Yah?!" Tanya Aundy, kepalanya sudah setengah mencuntul di jendela kamar. "Kekasih ayah? Pacar ayah? Awas nanti bunda marah?" peringat Aundy lalu beralih menatap wanita itu. "Tante, kamu siapa? Jangan deket-deket ayahku! Nanti disantet bunda loh!"
Ucapan Aundy mulai ngelantur. Salma yang mendengar pun lekas keluar seraya membawa cucian basah yang siap jemur.
"Udah selesai, Yang?"
"Udah, aku jemur di sini nggak papa, kan?"
"Nggak papa, kan memang sini tempatnya! Masuklah biar aku yang jemur."
"Udah aku saja! Mas saja yang masuk, buruan mandi!" Salma membelalak an matanya, berusaha memperingati Sabda untuk masuk ke dalam rumah.
Pria itu menurut sambil menahan tawa saat mengerti makna dari kode yang dilemparkan Salma.
Sedangkan Salma, masih sibuk menjemur pakaian, sesekali melirik ke arah gerbang di mana seorang perempuan berambut sepinggang sedang mengamatinya. Mungkin kalau diadu cantik, benar wanita itu jauh lebih cantik darinya—Salma mengakui itu. Tapi, jangan harap dia bisa sedikit saja masuk ke rumah tangganya. Cinta nya Sabda hanya untukku! Dia nggak boleh dikasih celah! Pikir Salma.
"Ada perlu apa ya, Mbak? Dari tadi kok berdiri di situ, nggak capek?" tegas Salma, setelah selesai menjemur pakaian.
"Nggak ada. Cuma pengen memastikan saja kalau kamu benar istrinya mas Sabda."
__ADS_1
"Iya, nggak perlu saya sodorkan buku nikah kan? saya benar istrinya Sabda. Mbak naksir sama suami saya?" Melihat wanita itu hanya diam Salma kembali berbicara. "Menjauhlah, Mbak! Nggak baik ganggu rumah tangga orang! Di luar sana yang single dan mau sama Mbak itu buanyak sekali!" tegas Salma. "Eh, tunggu! Sekalian saya mau ngembaliin mangkok. Tolong tunggu sebentar ya!" Salma kembali melangkah memasuki rumah, dia justru menemukan Sabda dan Aundy yang terkikih di balik kain gorden.