Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 53


__ADS_3

Hari kedua mereka tiba di Tabalong, Aundy sudah mendapatkan sekolah baru—yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah. Satu masalah berhasil teratasi dengan baik, Sabda dan Salma bisa menghirup napas lega, berharap di sekolah yang baru Aundy bisa cepat beradaptasi dengan teman-temannya.


 Saat ini, keluarga kecil Sabda tengah duduk di depan layar tv. Terdengar jelas tawa Aundy yang mengisi kesunyian. Sabda pun tak kalah heboh dari Aundy. Suasana rumah sederhana itu berubah bak pasar bubrah karena Aundy sudah mengangkut selimut, bantal serta gulingnya ke depan tv. Mereka berdua bertarung layaknya tokoh-tokoh Marvel yang ada di film-film itu.


  Berbanding terbalik dengan Salma, yang hanya duduk di sofa peninggalan pemilik rumah sebelumnya. Wajahnya terlihat masam, netranya fokus ke arah layar padahal tidak tahu dengan jelas mengenai apa yang sedang dilihat saat ini. Hatinya justru berkeliaran, memikirkan ucapan Linda tadi pagi. Mengingat kembali perkataan wanita itu membuat aliran darahnya mendidih. Emosi semakin mendominasi menyadari tidak diperhatikan oleh Sabda. Masih nggak peka?! Batin Salma. Perlahan mulai jenuh, Salma memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.


  Langkah kakinya mendatangi lemari kayu. Dia bercermin di depan lemari, meraba pipinya, melakukan hal itu berulang-ulang. "Apa aku yang terlalu lebay?" bibirnya mengerucut.


  "Mas Sabda juga nggak menanggapi! Tapi—bisa saja kan, dia mulai diam-diam berhubungan." Kedua tangannya bergerak aktiv mengikat rambutnya tinggi-tinggi, selayaknya anak remaja yang sedang dirundung asmara, dicepol asal, lalu mematikan diri kalau dia masih pantas berpenampilan seperti itu. "Masih pantas, kan? aku juga bisa kok keliatan muda dan berkelas!" gumamnya tersenyum sendiri di depan cermin. "semua bakal indah, kalau ada uang!" imbuhnya, senyumnya semakin lebar.


  "Kamu ngapain, Yang!"


  Suara itu! suara yang selalu membuat telinganya berdengung—kini menyapa pendengaran Salma. Membuatnya tersipu karena ketahuan sedang berusaha mempercantik diri.


  Sentuhan hangat yang melingkar di pinggangnya membuat Salma memutar badannya menghadap Sabda. Dia menatap Sabda masih dengan bibir yang kembali mengerucut.


  "Kamu ngapain?" ulang Sabda seraya mencubit hidung istrinya.


  Salma menggeleng, kemudian mempertemukan sepasang matanya dengan Sabda. "Selama kita menikah, kamu udah ngasih apa aja ke aku?"


  "Nafkah lahir, nafkah batin."


  "Bukan itu, maksudku yang terlihat! Yang nyata, Mas!" protes Salma.


  "Rumah, motor, aku beli itu semua untuk KAMU Sayang ...."


  Benar juga! Tapi bukan itu yang aku inginkan, Mas! Kesal Salma, karena Sabda tak juga memahami keinginannya.


  "Bukan itu Mas yang untuk aku sendiri?"


  "Tunggu! Tunggu deh." Sabda memerhatikan raut Salma. "Apaan nih? Kamu lagi pengen apa?"


  "Perasaanku, kamu nggak pernah ngasih kejutan ke aku? Yang buat aku makin terSabda-sabda gitu."


  Sabda terkekeh, karena gemas dia mengecup pipi kanan Salma. Respon Salma yang langsung menghapus jejak bibirnya membuat dia paham, wanita itu sedang tidak baik-baik saja. "Sayang mau apa? Aku cuma bawa uang lima puluh ribu! kalau cukup ntar aku belikan! Kamu tahu sendiri, gajiku yang megang kamu! Kalau mau sesuatu kamu juga bisa tinggal beli! Tanpa nungguin aku, kan?"


  "Aku nggak pengen apa-apa!" Salma membuang muka, menghindari tatapan Sabda.


  "Ya sudah jangan ngambek terus! Nanti cepet tua!"

__ADS_1


  "Jadi aku udah tua gitu? Wajahku sudah banyak keriputnya?" tanya Salma, dengan nada nyolot.


  "Sayang, jangan kaya gini. Aku tahu kamu menginginkan sesuatu, tapi jangan main petak umpet terus. Bisa nggak sih cewek itu langsung to the point gitu, ngomong, Mas ... Aku pengen ini."


  "Anterin aku ke supermarket." Salma berbicara, membuat Sabda tersenyum simpul.


   "Yakin?" tanya Sabda.


  "Iya."


  "Ada syaratnya," sahut Sabda.


  "Tuh—kan!? Cowok emang nggak tulus ke wanita!"


  "Pengen nggak main ke planet Mars? Ngambekan nggak jelas, jengkelin banget, tapi kenapa kok bisa gitu ya? Aku cinta mati sama kamu? Aneh tapi nyata. Kalau masih ngambek kaya gini, aku angkut kamu ke planet lain biar Ody nggak dengar kamu marah-marah."


  "Ya udah, aku ngalah! Ayo pergi aku mau beli skincare yang mahal biar keliatan awet muda."


  Sabda ingin sekali terbahak tapi khawatir Salma semakin murka. Jadi, sebaiknya dia tertawa dalam hati saja. "Boleh! Ke manapun kamu mau akan aku anterin! Tapi, rebahan dulu di ranjang!" pintanya Sabda.


  Melihat tatapan Sabda, Salma pun mengerti yang dimaksud arti rebahan di atas ranjang. Maksudnya sambil membuka kedua kakinya lebar kan? Sambil bermain-main dengan tubuhnya. Tapi, ini pertama kali untuknya usai menjalani kuretase sedikit berdebar tapi mau tidak mau dia harus melakukan tugasnya sebagai seorang istri. "Kunci dulu pintunya," pinta Salma dengan setengah suara. Sabda yang mendengar perintah itu terlihat begitu bersemangat. Dia berlari kecil mengunci pintu lalu kembali mendekati Salma dengan kaus yang sudah terbebas dari tubuhnya.


  Sabda puas, hatinya merasa senang, setelah ini apapun yang diinginkan Salma pasti akan dituruti olehnya. "Jangan keras-karas nanti kedengaran Ody!" Sabda mengingatkan saat posisinya kini sudah berbalik, kini giliran dia yang memberikan kenik matan dunia untuk Salma. Sampai gairahnya mencapai ubun-ubun, dia justru mengeluarkan miliknya yang sudah menggembung sempurna. Dia ingat dengan perkataan dokter, jika sebaiknya menunda dulu untuk memiliki anak.


Sabda ambruk di atas tubuh Salma, dengan napas yang masih memburu. Berulangkali dia mendaratkan kecupan di wajah Salma.


  "Kamu nggak puas, Mas?" tanya Salma, tiba-tiba.


  "Nggak juga. Rasanya masih sama, seperti saat pertama mereka bertemu."


  "Tapi kan pria sukanya keluar di dalam!"


  "Hanya sementara, kan, besok masih bisa! tapi menurutku semuanya masih terasa menyenangkan!" Sabda mengakhirinya dengan menggigit pucuk dada Salma hingga wanita itu menjerit kesakitan.


"Sakit ngerti nggak, coba punyaku sini kugigit begitu!" Salma menampilkan wajah kesal.


  "Gemes banget aku loh! Bisa nggak sih nggak selucu ini!" Kata Sabda, kali ini justru memainkan dengan lidahnya.


  "Udah puaskan, ayo pergi!" ajak Salma seraya menahan bibir Sabda agar berhenti mengganggunya.

__ADS_1


  Sabda pura-pura memejamkan mata. "Capek, bobo dulu satu jam!"


  "Kamu bikin mood ku hancur ngerti nggak!" kata Salma dengan suara ketus.


  "Iya—iya, mandi dulu! Habis itu aku anterin kamu pergi."


  Salma begitu bersemangat. Dalam hatinya terus merencanakan hal yang membuatnya tidak boleh kalah dari Linda. Kalau bisa dia wajib tampil cantik di atas perempuan itu.


  Dan siang ini, karena Aundy mengantuk dan tidak ingin ikut, mereka hanya pergi berdua saja. Tiba di supermarket, Sabda terus mengikuti langkah Salma yang sedang memilih skincare serta alat make up yang bagus untuk wajah.


  "Ini kan udah beli, terus ngapain lagi beli ini, Yang?!" Tanya Sabda ketika Salma memilih cushion padahal sudah beli bedak.


  "Ya, enggak papa. Pokoknya aku nggak boleh kalah cantik dari tetangga depan rumah."


  Kali ini Sabda baru menyadari jika itu semua Salma lakuin hanya untuk memenangkan sesuatu. Dia berusaha menuruti apapun yang diminta Salma, Sabda membelikan apa yang dipegang Salma. Bahkan, untuk makan es krim pun Sabda ayo aja.


Dan di sinilah, ketika mereka sedang beristirahat sambil menikmati es krim berdua, lupa dengan status keduanya yang sudah menjadi orang tua. Sabda baru berbicara dengan Salma.


  "Kamu lucu ngerti nggak?" Sabda berkata seperti itu sambil menikmati cone ice krim di tangannya.


  "Kenapa?" Salma merespon dengan malas.


  "Kamu mau bersaing dengan Linda?" tanya Sabda, meski sebenarnya dia sudah tahu.


  Salma menunduk, bibirnya bergerak menikmati es krim vanilla di tangan.


  "Aku pikir kamu beli ini semua tujuannya buat aku? Buat nyambut aku setelah pulang kerja! Biar kelihatan lebih menggoda di depanku. Eh tak tahunya buat saingan sama Linda."


Hening, Sabda meraup es krim di tangannya.


  "Lain kali jangan diulangi ya. Aku suka Salma bukan Linda. Berapa kali kujelaskan Sabda itu dihadirkan untuk melengkapi Salma. Tanpa kamu bersaing dengan Linda pun, kamu sudah dimenangkan oleh takdir. Kamu sudah memilikiku, sepenuhnya. Bahkan hati, paru-paru, limpa, empedu, lambung—semua milikmu." Sabda mengakhiri dengan tawa, berusaha menjelaskan halus.


  Salma terdiam, ucapan pedas dari Linda memang mengusik kedamaian hatinya. Tapi, jika dipikir lagi—ucapan Sabda memang benar. Mereka sudah disatukan, jelas saja dia yang menang.


  "Jangan peduli dengan ucapan tetangga, itu tidak baik untuk hubungan kita. Kita fokus jadi keluarga bahagia. Mengerti Nyonya Sabda?"


Salma menoleh ke arah Sabda. "Terus ini semua buat apa?" tanya Salma, seraya menunjukan plastik berisi makeup dan skincare di tangannya.


"Ya buat kamu! Dipakai, ya! Sayang udah dibeli!" Sabda mengambil tangan Salma yang memegang es krim, lalu memakan es krim vanilla milik istrinya. Terakhir dia menyapu bibirnya sendiri dengan lidah. "tapi pakainya di depan aku aja! Pakai lipstik semerah darah itu! Pasti cantik banget!" ekor matanya melirik ke arah Salma, lalu berkedip berulangkali. "Aish, ayo kita pulang!"

__ADS_1


Sebenarnya Salma malu dengan tingkahnya saat ini, tapi apa boleh buat—dia tidak mungkin bisa bersembunyi dari Sabda.


__ADS_2