
Di tempat lain Sabda yang baru saja selesai berbincang dengan pak Samsul langsung menjauh. Selanjutnya, dia berniat memberitahu Salma mengenai harga pas yang diajukan pak Samsul.
Pria itu hanya bisa menurunkan harganya sebesar sepuluh juta saja. Itupun, pak Samsul sudah memberinya bonus satu buah motor matic yang biasa dia gunakan wara-wiri istrinya.
Rencananya, kalau memang Salma cocok dengan harganya. Secepatnya Sabda akan mendatangi kantor notaris demi mengurus akad jual-beli dengan pak Samsul.
Namun, Salma seolah menghambat niatnya. Wanita itu sulit sekali dihubungi. Padahal sudah hampir lima belas kali Sabda mencoba menghubunginya via telepon. Tapi tak segera dijawab oleh Salma.
"Apa masih ngantar Ody?" Gumamnya sambil menilik jam yang melingkar di pergelangan tangan. Tapi rasanya tidak mungkin karena sudah menunjukan pukul setengah sembilan lewat. Itu artinya, di Jawa sudah lewat dari pukul setengah delapan.
Sabda tak kehilangan cara, dia mencoba menghubungi Biyan, pegawai di kedai Kayu Manis. Beruntung nomor pria itu masih ada di log panggilan. Jadi dia bisa menanyakan keberadaan Salma pada pria itu.
Sama halnya dengan Salma, pria itu begitu sulit dihubungi. Sabda menyerah menunggu Salma menghubunginya terlebih dahulu. Dia mengalihkan perhatiannya dengan bermain game di ponselnya.
Sepuluh menit berlalu, di saat Sabda sedang asyik bermain game. Biyan menghubunginya. Sabda langsung menjawab panggilan Biyan. Tanpa basa-basi dia langsung melempar pertanyaan ke Biyan.
"Lihat Salma nggak, Yan? Dari tadi nomornya kutelepon nggak diangkat."
"Mbak Ma ada kok, Mas. Sepertinya ada di dalam kamar Aruni. Gimana? Mau aku panggilkan?" Tawar Biyan yang paham dengan nada bicara Sabda.
__ADS_1
"Ya. Cepat ya!" Minta Sabda. Sesaat kemudian dia hanya mendengar suara langkah Biyan. Sepertinya pria itu sedang berjalan menuju ke kamar Aruni.
"Mbak Ma, dicari sama Mas Sabda, dia telepon aku nih!"
Tidak ada sahutan apapun yang bisa didengarkan Sabda saat ini. Dia hanya bisa mendengar suara Biyan.
"Mbak Ma! Buruan ini Mas Sabda nungguin!"
Sabda yang mendengar itu hanya bisa menghela napas kasar, masa iya Aruni lebih penting darinya. Kesal sekali rasanya saat tahu dia dinomor duakan.
Tak lama terdengar suara langkah, lalu suara berisik menyapa pendengaran Sabda. Pria itu menantikan Salma berbicara, dia butuh penjelasan atas panggilannya yang diabaikan oleh Salma.
"Kamu ngelakuin apa ke Runi?!"
"Kamu menidurinya, kan?!"
Tuduhan itu membuat Sabda sakit hati. Tangannya mere mas ponselnya kuat-kuat. "Astaghfirullah, percuma aku salat lima waktu kalau kelakuan ku kaya gitu!" Bantah Sabda. "Kenapa kamu nuduh aku yang nggak-nggak?! Kamu masih nggak percaya sama aku? Kamu pikir aku main-main sama pernikahan kita ini?" Sabda ikut terbawa emosi. Rasanya menyakitkan sekali saat Salma tak lagi percaya padanya.
"Kenapa nyolot gitu?! Aku cuma tanya!" ucap Salma dengan nada marah.
__ADS_1
"Nggak! Kamu nuduh aku! Dari suaramu aku yakin kamu masih nggak percaya sama aku! Sulit ngasih kepercayaan sama aku? Kamu masih ngira kalau aku bakalan duain kamu!" Sabda mengungkapkan kekesalannya.
"Mas! Runi itu hamil, dan aku nggak tahu siapa yang ngelakuin itu padanya."
Sabda menggelengkan kepala, bibirnya tersenyum masam. "Kenapa kamu menuduh aku yang melakukannya? Apa kamu punya bukti?"
"Aku nggak menuduh, aku cuma tanya!"
"Salma, kalau kamu mau tahu kebenaran itu, harusnya kamu tanya ke Aruni bukan sama aku. Kamu lihat sendiri, setiap malam aku tidur dengan kalian, bisa-bisanya kamu bilang, 'aku ngelakuin apa ke Runi? Emang kamu mau aku ngelakuin apa? Ternyata kamu menganggap aku serendah itu ya!" karena emosinya tak terkendali Sabda langsung saja memutus panggilan itu. Dia tidak ingin semakin emosi dan mengeluarkan kalimat kotor yang mungkin akan melukai perasaan Salma.
Sabda berusaha mengambil tempat untuk menenangkan diri. Baru beberapa menit memikirkan ucapan Salma, walkie talkie di sakunya berbunyi. Sabda diminta untuk datang ke masjid karena salah satu operator dalam naungannya berada dalam masalah.
Ya, biasanya di kala hujan deras seperti ini, masjid besar yang ada di tengah lahan pertambangan itu beralih fungsi, menjadi tempat berteduh operator alat berat.
Sabda melajukan Toyota Hilux nya, menuju masjid. Dia ingin tahu apa yang terjadi di sana. Dan ternyata, hanya masalah sepele, yang menurutnya bisa diselesaikan secara personal kenapa harus memanggilnya.
Sabda yang butuh meluapkan emosi nyaris saja beradu pukul dengan salah seorang mandor lain. Tak ada yang ingin mengalah, mereka sama-sama membela operator yang ada dibimbing. Beruntung bisa dilerai oleh rekannya, hingga masalah pun selesai dengan baik. Meski pihak lawan tidak terima saat melihat wajah Sabda yang masih saja mengerikan.
Sehari terasa sangat lama bagi Sabda, hujan deras yang datang sepanjang waktu membuat banyak operator hanya tiduran di serambi masjid, mereka seakan sedang menikmati waktu libur bersama. Berbeda dengan Sabda, tak terhitung sudah berapa puluh kali dia mengamati ponselnya, memeriksa pesan masuk, sialnya semua itu tidak ada satupun yang dikirim oleh Salma.
__ADS_1
Saat jam pulang kerja, hari sudah petang. Sabda tiba di mess pukul tujuh malam. Sebelum memasuki kamar mandi, Sabda berusaha melihat lagi ponselnya. Nihil, lagi-lagi tidak ada pesan yang dikirim oleh Salma.
"Bahkan sudah tahu dia yang salah. Tapi nggak juga minta maaf," gumamnya sambil melepas kemeja bersiap untuk mandi. Dalam hati Sabda bertekad, sebelum mendengar Salma minta maaf dia enggan menghubungi wanita itu.