Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 13


__ADS_3

Salma berlari kecil keluar kamar, menuruni anak tangga, membawa wajah merah bak kepiting siap santap menjauh dari Sabda.


"Bodoh! Bodoh! Bisa-bisanya aku bertingkah semurahan ini! Apa—dia mengira aku melakukan hal yang sama dengan pria lain! Astaga Salma, istighfar!" Ia berusaha mengontrol diri, menarik akal sehatnya supaya waras.


Salma sudah berdiri di anak tangga paling bawah, sibuk memukul kepalanya dengan tangan kanan, marah dan kesal pada dirinya sendiri.


Suara lonceng yang bergemerincing membuatnya tersentak. "Mohon maaf kedai belum buka!" kata Salma tanpa menatap sosok yang baru saja memasuki kedai. Kakinya justru mendekat ke arah meja makan, berniat membereskan piring kotor yang tadi digunakan untuk sarapan. Di tengah gerakan tangan Salma yang sibuk membereskan piring kotor tubuh Salma tiba-tiba saja menegang menyadari sosok pria yang berdiri di balik pintu. Seutas senyuman muncul di bibir pria itu. Sepasang bola mata mereka bersirobok. Hingga suara sapaan itu, berhasil menarik kesadaran Salma.


"Hai, Salma apa kabar, Mantan?"


Astaga, mas Endra? A—ada apa? Ko—kok, bisa sih dia berada di sini?! Ta—hu dari mana alamat kedai ini! Pikir Salma. Pandangannya berubah kosong, tiba-tiba saja kenangannya setahun yang lalu melintas dalam ingatan. Selingkuh sampai punya anak, itulah yang Endra lakuin di belakangnya. Kejam, bukan?


"Apa boleh aku duduk—aku akan menunggu sampai kedai buka," sambung Endra ketika tak mendengar jawaban apapun dari Salma.


Sedangkan yang ingin dilakukan Salma adalah berlari ke lantai dua, bersembunyi di balik punggung Sabda. Tapi saat ini, tulang kakinya seakan mati fungsi, dia hanya bisa mematung dengan mata terus fokus pada Endra.


"Si—silakan, Mas!" Salma menjawab dengan bibir bergetar. Dia berharap saat ini Sabda sudah nyenyak, tidak tahu jika Endra datang berkunjung. Dia tidak ingin terjadi perkelahian antara Sabda dan Endra.


Pria itu tersenyum simpul, lalu melangkah menuju bangku yang ada di sudut ruangan.


Salma bergegas menyelesaikan tugasnya, beruntung satu karyawan laki-laki bernama Biyan segera datang, pria lekas membantu Salma menyiapkan biji kopi ke toples.


"Mbak Ma, Aruni ke mana?" Biyan bertanya saat tak melihat sosok Aruni.


"Kayae ke pasar. Dari tadi belum muncul." Salma menjawab lirih, dia tidak ingin obrolan mereka berdua didengar oleh Endra. "Tolong, layani pria itu!" Perintahnya setelah kopi siap diracik.


"Orang kaya sepertinya mbak—style nya aja kek gitu. Sepatu yang dikenakan itu bisa dibeli pakai hasil kerjaku selama dua Minggu."


"Udah buruan, pembeli adalah raja—layani dia dengan baik!" Pinta Salma.

__ADS_1


Biyan lantas berlalu, pria itu sama sekali tak menaruh curiga pada tingkah Salma. Dia dengan ramah melayani Endra.


"Aku mau kopi hitam saja. Sama tolong nitip pesan ke Salma, kalau aku mau bicara. Bisa?" Jawab Endra setelah mendengar pertanyaan pelayan pria di sampingnya.


Biyan melirik ke arah Salma, wanita itu baru saja menaiki lantai dua. Mengingat Salma masih mengenakan piyama batik, pasti wanita itu hendak membersihkan diri.


"Sepertinya, Mbak Salma lagi siap-siap. Nanti kalau beliau udah turun, biar saya perintahkan untuk menemui mas-nya." Biyan merespon baik permintaan Endra, dia tahu Salma berstatus janda, jadi bebas berkencan dengan siapapun.


Endra tersenyum tipis seraya menganggukan kepala. Mengiringi langkah pelayan yang tadi mendatanginya. Tujuannya menemui Salma adalah menjelaskan semuanya pada wanita itu. Dia harus jujur untuk bisa merebut kembali hati Salma. Toh, apa perceraian itu SAH? Mengingat dia sendiri tidak pernah hadir dalam proses persidangan.


Tak lama kemudian, kopi hitam pekat tersaji di atas meja. Endra mengamati dengan seksama kopi itu. Aroma pahitnya pun langsung menyerebak menggoda perutnya yang ingin segera menikmati. Dia meniup-niup uap panasnya lalu menyesapnya pelan-pelan.


"Mbak Ma! Mas -nya mau bicara sama mbak!"


Endra langsung menoleh ke arah tangga mendengar suara itu. Endra melihat Salma sudah mengganti pakaiannya, dia mengenakan apron yang melekat di tubuhnya. Wanita itu sudah berganti baju dengan seragam khas kedai.


"Aku harus bekerja, Mas. Jadi enggak punya waktu! Lain kali saja."


"Sebentar saja, aku butuh privasi."


Salma melirik ke arah Biyan. Mencoba memberi isyarat jika dia menyerahkan sepenuhnya situasi kedai kepada pria itu.


"Santai saja. Aman Mbak!" Biyan merespon, mempersilakan Salma untuk keluar kedai. "Silakan pergi!"


Salma berharap Sabda tidak bangun dan melihat dia jalan dengan Endra. Dan membuat semuanya salah paham. Kaki Salma melangkah terlebih dahulu, menuntun Endra keluar kedai.


Tidak ada tujuan pasti, mereka hanya melangkah menelusuri bibir pantai. Mencoba mendengarkan suara ombak yang terasa menenangkan. Endra berjalan pelan, sejajar dengan langkah Salma.


"Apa kabar kamu, Sal?!" Tanya Endra mulai basa-basi.

__ADS_1


"Alhamdulillah, seperti yang Mas lihat." Salma menjawab singkat.


"Yang aku lihat kamu baik-baik saja. Tapi luka di hatimu, apa sudah sembuh sepenuhnya?"


"Waktu sudah berjalan setahun. Setiap harinya, aku berusaha berdamai dengan masalalu. Karena tidak ada gunanya menyesali apa yang sudah terjadi. Aku hanya ingin memperbaiki diri saja. Fokus pada Ody dan gimana caranya bisa menghasilkan uang. Dan alhamdulilah, perlahan dan pasti aku bisa lupa kalau pernah jatuh hati padamu."


Lupa jatuh hati padaku? Apa semudah itu melupakanku? Pikir Endra. Tapi kedatangannya bukan untuk menuntut balasan cinta dari Salma. Itu bisa dibahas nanti.


"Apa kamu siap mendengar penjelasan ku?"


"Penjelasan apa?!"


"Aku nggak nyalahin kamu, dengan keputusan yang langsung menyerahkan surat cerai itu ke pengadilan. Semua wanita pasti akan melakukan hal serupa dengan yang kamu lakuin ke aku. Untuk ke depannya aku ingin memulai semuanya dengan keseriusan. Aku sadar kalau aku mencintaimu, Sal!"


Salma langsung menatap mata Endra. Langkahnya tertahan.


"Ya, aku mencintaimu, Salma. Setiap malam aku merindukanmu, aku rapuh, aku tidak semangat menjalani hidup."


Salma bergeming. Untuk apa Endra begini? "Bukankah Mas Endra sudah memiliki istri yang cantik? Kenapa harus mengejar ku lagi? Sayangi apa yang mas miliki, menyadari setelah kehilangan itu rasanya jauh menyakitkan, Mas."


"Salma, hubunganku sama wanita itu hanya bertahan tiga bulan. Aku menjatuhkan talak empat puluh hari setelah aku sadar. Bayi itu bukan darah dagingku, aku bukan ayah kandungnya. Kamu harus percaya sama aku, please ya!"


"Apa Mas Endra pernah tidur dengannya?!"


Wajah Endra berubah pias, mendengar pertanyaan itu. "Baik, aku ulangi sekali lagi; apa mas Endra pernah tidur dengan wanita itu?" Tanya Salma dengan suara tegas.


"Ya, aku pernah."


Salma tersenyum getir, seakan mengucapkan terima kasih kepada Endra atas luka yang sudah diberikan untuknya. "Dan sekarang? Maksud kedatangan mas Endra menemuiku hanya untuk mengajak rujuk? Apa Mas tahu aku paling benci dengan pengkhianat?!"

__ADS_1


__ADS_2