
“Salma!”
Teriakan bu Deva diiringi suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Salma yang baru saja menutup sambungan telepon. "Ya." Dia merespon.
“Sal, ada tamu! Nyariin kamu,” kata Bu Deva.
“Siapa, Bu?” Salma melangkah mendekati pintu kamar. “Siapa?” ulangnya setelah berdiri di depan Bu Deva.
“Enggak tahu. Baru kali ini ibu melihatnya, ibu pikir mau benerin mobil, tapi rupanya nyariin kamu. Bawa keluarga juga, apa kamu mengenalnya?”
Salma semakin bingung, hingga tak lama kemudian terdengar tawa dari pak Arif yang mempersilakan tamunya masuk ke dalam rumah.
“Mas Farhan,” gumam Salma. Dia sangat mengenali suara yang kini menyapa gendang telinganya.
Salma memang pernah memberikan alamat rumah di Semarang pada Farhan. Dulu, Salma pernah meminta tolong supaya Farhan mengirimkan paket ke rumah. Dan mungkin, pria itu bisa menemukan keberadaanya karena petunjuk itu. Yang menjadi pertanyaan, kenapa pria itu datang tanpa memberi kabar apapun padanya?
“Dia bos Salma, Bu. Suaminya Astrid.” Salma terlihat bingung. “Kalau dia nyariin Salma, bilang aja Salma baru mandi, enggak enak bau badan Salma terlalu menyengat.”
Bu Deva menahan tawa. “Jangan panik! Biar ibu kasih tahu dia kalau kamu lagi dandan cantik.”
“Ibu!”
“Ah, iya-iya. Sudah sana mandi!” minta Bu Deva, sedikit mendorong tubuh Salma supaya masuk kembali ke dalam kamar.
Bukannya langsung mandi Salma justru memeriksa benda pipih yang tadi dilempar ke kasur. Rupanya Farhan mengiriminya pesan singkat. "Astaga, jadi dia sudah mengabariku? Bodohnya aku yang nggak buka pesan darinya." melihat jam Farhan mengiriminya pesan, mungkin karena semalam dia terlalu lelah dan ngantuk jadi tidak mampu membuka pesan yang dikirim Farhan.
__ADS_1
Sepanjang kegiatannya di dalam kamar mandi, pikiran Salma tak henti memikirkan maksud kedatangan Farhan. Dan baru saja kakinya melangkah keluar kamar, sekarang dia tahu dan paham maksud Farhan dan keluarga nya datang ke Semarang.
Salma menahan langkahnya, pelan -pelan mengambil duduk di kursi anyaman yang ada di depan televisi. Dia berusaha mendengar obrolan mereka.
“Bukan bermaksud apa-apa, Pak, Bu. Saya hanya ingin serius menjalani hubungan dengan Salma.”
Patut diberi tepuk tangan meriah untuk Farhan atas keberaniannya yang langsung menghadap pak Arif. Padahal dia baru saja bertemu dengan kedua orang tuanya tetapi, sudah seberani itu. Dan lagi, sepertinya pak Arif menyambut ramah kedatangan Farhan dan keluarganya.
“Apa kamu yakin tidak ada maksud tertentu?" pak Arif melemparkan pertanyaan ke Farhan. "Sebenarnya berat untuk kami menerima niat baikmu. Mengingat kami sendiri hanyalah orang biasa, bahkan level kami jauh di atas keluargamu. Apalagi Salma, dia sudah menyandang status janda dua kali, akan jadi beban khusus untukmu, Nak Farhan.”
“Insya Allah, saya bisa menerima apapun kondisi Salma, Pak!” Farhan menjawab tegas. "Bukan hanya Salma, Aundy dan keluarga ini. Insya Allah saya bisa berhubungan baik."
“Eh, tunggu dulu! saya tidak ingin mengambil keputusan sepihak. Kita bicarakan setelah Salma ada di sini bersama kita. Soalnya yang akan menjalani itu Salma, jadi biarkan dia yang mengambil keputusan.” Pak Arif belajar dari masalalunya yang gagal memilihkan jodoh untuk Salma. Dan dia tidak ingin jatuh pada lubang yang sama dan membuat putrinya semakin menderita.
Salma masih bersembunyi di balik tembok pembatas, sebelum akhirnya tempat persembunyiannya diketahui oleh Bu Deva yang hendak mengambilkan makanan untuk tamunya.
Bu Deva terlihat begitu bahagia, sepertinya wanita itu sangat menyukai Sabda. “Salma, kamu dengar kan niat kedatangan pria itu?” tanya Bu Deva dengan suara berbisik. “Udah terima aja! Sepertinya dia juga lebih baik dari Sabda.” Bu Deva membujuk. “Kalau kamu jadi menikah dengannya. Itu artinya, kamu bisa membuktikan pada bu Habibah dan Tantri kalau kamu bisa dapatkan lebih dari anak anak mereka. Terlebih bu Habibah—kamu bisa menyombongkan suamimu itu di depannya.”
“Ibu!” Salma menarik lengan bu Deva, membawanya ke area dapur. “Cerita sama Salma, kenapa ibu benci sekali dengan bu Habibah?!” pinta Salma.
“Gimana nggak benci, mereka sudah menyakitimu! Jangan dikira ibu nggak tahu ya, Sal! Kemarin pas ibu datang ke nikahannya Panji, tetangga Habibah kebetulan juga hadir. Kamu tahu, dia menceritakan semuanya perlakuan bu Habibah selama kamu jadi menantunya.”
Rasanya sia-sia Salma menutupinya selama ini. “Ya, itu—itu kan karena Salma juga yang malas, Bu! ibu dulu sering manjain Salma, jadi ketika aku tinggal di rumah mertua, Salma jadi merasa sudah tidak perlu melakukan hal-hal itu.”
Bu Deva menggeleng, membantah pernyataan Salma. “Ibu nggak bodoh Salma, ibu tahu dan mengenalmu sejak bayi. Jadi jangan bohongi ibu!”
__ADS_1
“Terserah saja kalau memang ibu nggak percaya sama Salma!”
“Kamu masih ingin memilih Sabda? Jangan jadi wanita bodoh Salam. Ingat, kalau kamu kembali padanya, kamu harus berhadapan terus dengan Bu Habibah, dan seumur hidup itu berat.”
"Biarkan Salma yang memutuskan, Bu. Salma hanya butuh doa dan restu dari ibu." Salma menghembuskan napas kasar. Dia lantas meninggalkan bu Deva. Melangkah menuju ruang tamu, di mana Farhan dan keluarganya duduk di sana.
Setelah selesai memberikan salam, Salma duduk di samping pak Arif. Ibu Andini, ibu dari Farhan terlihat basa-basi menanyakan kabar Salma dan Aundy. Mereka memang pernah bertemu, saat kabar kematian Astrid mencuat wanita itu langsung datang ke Kulon Progo, menenangkan putranya.
Salma yang ditatap intens oleh Farhan, mendadak jadi salah tingkah. Dia merasa tidak nyaman, melihat tatapan Farhan berbeda dari biasanya.
Pak Eko yang menyadari itu mulai mengambil alih pembicaraan. Dia langsung menyatakan niatnya datang ke kota Semarang. Yaitu mengantar anaknya untuk melamar Salma.
“Gimana, Nak? Apa kamu mau menerima Farhan sebagai suamimu. Jujur kami sebagai orang tua berharap besar kamu mau menerimanya.” Pak Eko mengakhiri penjelasannya dengan pertanyaan. “Jika memang kamu mau, kita bisa memanggil penghulu untuk menikahkan kalian. Untuk surat-suratnya, bisa menyusul.” Pak Eko menoleh ke arah pak Arif. “Bukankah begitu lebih baik, pak Arif? Untuk apa menunda-nunda niat baik!”
Salma ingin sekali tertawa keras, siapa dia sampai-sampai dikejar tiga pria dalam waktu bersamaan. Bukankah dunia ini aneh, di luar sana masih banyak perawan ting-ting, yang jauh lebih cantik darinya. Tapi, kenapa justru memilih dirinya yang sudah janda, bahkan dua kali dan memiliki seorang putri.
Salma berusaha memikirkan pertanyaan yang tepat untuk dilemparkan kepada Farhan. Dia harus tahu, sejauh mana kesungguhan Farhan saat ini. Dia tidak ingin kejadian yang sudah berlalu terulang kembali.
“Boleh Salma bertanya sesuatu sama mas Farhan?” tanya Salma, sopan.
“Boleh saja silakan?!” pak Eko menjawab singkat.
“Apa Mas Farhan mencintai Salma?”
“Salma!”
__ADS_1