
Salma menggunakan sikunya untuk meninju sosok pria yang kini berdiri di belakangnya. Heran, dengan tingkah Sabda saat ini!
Apa pria itu tidak lelah? Wira-wiri kaya kereta express! Dia pikir, tubuhnya itu robot apa? kalau habis baterai bisa di charge ulang.
"Sayangku, kasar banget sih sama calon suami!" keluh Sabda, usai menerima hadiah dari mantan istri.
"Kamu ini! Ngapain sih mondar-mandir?" Salma menjewer daun telinga Sabda. "Ini tubuh, mbok ya dijaga! Nanti pulang cuti bukan tambah fit, tapi malah drop. Balik-balik dari Jawa bawa oleh-oleh sakit."
"Ih, Nyai perhatian banget! iya janji, setelah ini mau di sini aja nungguin kamu!" Sabda mendekatkan bibirnya ke pipi kanan Salma, bermaksud memberikan salam pertemuan.
Reflek, Salma langsung menahan bibir itu dengan telapak tangannya.
"Pelit, amat sih, Sayang! Eh ngomong-ngomong kamu udah masak belum? Aku laper banget. Perut aku sakit, telat makan." Sabda mengusap perutnya berulangkali, seakan menunjukan perutnya yang sixpack kepada Salma.
"Datang-datang cuma mau ngemis sarapan!" Cibir Salma. "Tuh anterin anak sekolah dulu, baru boleh makan!" Itu hanyalah alasan Salma. Sejujurnya dia belum memasak apapun pagi ini.
Untuk Aundy, biasa dia akan meminta snack di hari Jum'at. Gadis itu memang jarang sekali sarapan pagi. Pasti lewat dari jam delapan. Dia bilang kalau sarapan sebelum jam 8 pasti sampai di sekolah langsung mampir dulu ke toilet.
"Okay. Mana anakku?!" Sabda berbalik, menatap pintu masuk kedai. Tidak ada sosok yang dinantinya. Aundy masih sibuk di dalam kamar.
"Masih pakai bedak, mungkin!"
Mata Sabda membulat sempurna, jelas saja dia terkejut. "Secepat itukah anakku tumbuh besar?!" Sabda melirik Salma. "Apa kamu nggak menyesal sudah membuang waktu kebersamaan kita, Sayang? Akan semakin lama lagi kalau kamu menunda menikah denganku."
"Bodo' lah. Kalau nggak mau ya udah!"
"Kapan sih aku bilang nggak mau? Detik ini juga asal ada penghulu aku juga siap. Mau mahar berapa? tu isi ATM buat kamu semua!"
Salma mendengkus kesal. Dia hanya butuh Sabda meminta restu dari pak Arif, tapi sepertinya pria itu tidak begitu peka.
Tak lama sosok yang mereka nantikan tiba. Terlihat Aundy muncul mengenakan seragam Pramuka.
"Ayah! Kok udah di sini?" tanya Aundy, suaranya begitu riang, kedua tangannya kini memeluk erat tubuh Sabda.
"Iya, mana bisa ayah biarin kalian berdua diambil sama mantan!" jawab Sabda, dia mengambil alih tas punggung yang dibawa putrinya.
"Kamu juga mantan, enggak lupa, kan sama status kamu?" Protes Salma.
__ADS_1
"Ody, mau berangkat sekarang? Ayo ayah antar, Salim dulu sama bunda?" perintah Sabda, dia enggan membahas lebih jauh perihal mantan. Mengingat di sampingnya kini ada Aundy yang berusaha menelinga obrolan mereka.
Aundy menurut gadis kecil itu berjalan mendahului Sabda.
"Buruan siapin sarapannya ya, Sayang!" bisik Sabda saat melewati tubuh Salma, dia baru saja mengambil kunci motor yang biasa digunakan Salma.
"Mie goreng pakai telor ya."
"Heh, nanti usus aku tambah panjang loh." Sabda berlari mengejar Aundy, sebenarnya dia bukan pemilih makanan. Tapi masa iya! Di dalam mess dia sering makan mie, di rumah dikasihnya mie juga!
Salma menggeleng pelan, seraya menahan tawa—pandangannya masih tertuju ke arah Aundy dan Sabda yang tengah meributkan posisi duduk Aundy.
Melihat mereka sudah meninggalkan kedai, Salma bergegas masuk. Dia mulai sibuk di dapur, menyiapkan sarapan untuk anggota rumah, sebelum kedai dibuka.
Kebetulan, stock sayuran di dalam kulkas masih ada, jadi saat Sabda tiba di kedai, tak perlu menunggu lama makanan sudah tersaji di atas meja.
Senyum Sabda tak pernah sirna, saat melihat adegan Salma memasak di pagi hari. Kejadian ini adalah hal yang paling dinantikan. Dan hari ini, satu doanya dijawab oleh Sang Pencipta.
"Sepi banget, bos kamu sama si cewek itu—kemana sih?"
Salma baru menyadari jika Aruni tidak ada di sekitar mereka. Benar juga! sejak semalam aku tidak melihat wanita itu.
Sabda pun tidak mau ambil pusing, dia lekas memindahkan hidangan yang tersaji di atas meja ke piringnya. "Udah berapa lama ya, aku nggak makan masakan mu. Bukan hanya orangnya tapi ini yang aku kangenin dari kamu!"
Salma tidak menanggapi, dia justru mengambilkan udang yang ada di sayur capcay itu ke Sabda.
"Sengaja pengen aku gendut kamu, Sayang!" Kata Sabda, protes saat segala macam sayuran masuk ke piringnya.
"Emang ada yang peduli sekalipun kamu gendut? Nggak ada juga!"
Sabda kalah telak, memang selama ini tidak ada yang peduli dengan penampilannya. Bahkan, terkenal asal-asalan dibanding teman satu barak yang tinggal bersamanya. Dulu, masih ada Salma yang suka mengaturnya ini-itu, dia berharap bisa mengulangi hari-hari itu lagi.
Beberapa menit berlangsung, deburan ombak laut menjadi pengiring keduanya menikmati sarapan pagi ini. Sabda begitu lahap menyantap sarapan itu, ternyata bukan perkara menu makanan apa yang masuk ke dalam perutnya. Melainkan bersama dengan siapa dia duduk saat ini. Bahkan, dia sampai menghabiskan nasi beberapa centong, tak rela momen yang dirindukan itu berlalu begitu cepat.
"Sal, boleh aku numpang tidur? Ah, aku belum sempat mencari penginapan terdekat. Karena kelelahan, bolehkah aku numpang tidur di sini?" tanya Sabda.
Salma terlihat ragu, matanya terus berputar seakan sedang mencari-cari alasan.
__ADS_1
"Setelah tenagaku pulih aku akan segera mencari penginapan!" Sabda tak kehilangan kata-kata untuk membujuk Salma.
"Baiklah, habiskan sarapanmu dulu! Aku akan mengantarmu ke lantai dua."
"Boleh minta satu lagi?!"
"Apa?" Nglunjak banget nih calon suami! Pikir Salma.
"Dikelonin kamu!"
Sendok di tangan Salma nyaris melayang andai saja Sabda tak menahan gerakan tangan wanita itu. Bibirnya menebarkan senyum puas, usai berhasil menggoda Salma.
"Aku tahu kenapa kamu susah banget hilang dari pikiranku! Kamu itu nyenengin, setiap apa yang kamu lakuin rasanya tu enggan aku lewatkan!"
"Udah, ah! Kenyang aku! Dengerin ocehanmu yang tiada henti itu."
"Aku cinta kamu, Sal—selamanya. Jangan sampai kamu memberikan kesempatan kedua pada Endra! Aku serius, inilah maksudku langsung bertolak ke sini. Aku panik! Aku cemas saat tahu kabar mengenai Endra. Dan aku enggak mau kamu ngasih dia kesempatan. Aku akan memperbaiki semuanya! Aku janji pada diriku sendiri, kebahagian kalian adalah prioritasku!"
Salma bergeming, dengan tangan yang setia berada di genggaman Sabda. Angin pagi hari itu masuk dari arah pintu yang terbuka lebar, seakan alam sedang ikut menyaksikan apa yang baru saja diucapkan Sabda.
"Naiklah, aku akan mengantarmu ke kamar!" Pinta Salma. Kali ini Sabda tidak membantah, dia melepas cekalannya, lalu mengikuti langkah kaki Salma menuju kamar yang ada di lantai dua.
Tiba di dalam kamar. Seketika Sabda terpana melihat dekorasi kamar yang bernuansa tokoh kartun kesukaan anak gadisnya. Sabda mengu-lum senyum sambil melirik Salma. Dari dulu kamu memang tidak pernah mementingkan egomu. Kamu selalu ingin melihat sosok yang ada di sekitarmu hidup bahagia. Tak terkecuali menerima lamaran Endra. Dia hanya ingin kedua orangtuanya tidak menjadi omongan tetangga.
"Tidurlah dengan nyenyak sebelum aku mengusirmu!" pinta Salma. Saat dia hendak melangkah pergi meninggalkan kamar. Tiba-tiba Sabda kembali menarik pergelangan tangannya.
Rengkuhan kedua tangan pria itu membuat posisi Salma bak anak kanguru yang berada dalam gendongan ibunya. Jarak mereka berdua begitu dekat, bahkan pakaian mereka seluruhnya menempel, mengalirkan hawa panas yang mendadak menyerang wajah Salma.
Dalam hatinya ingin memberontak, ingin mendorong tubuh pria kekar yang kini tengah memeluknya erat. Tapi akal sehatnya, yang selama ini memendam kerinduan, membiarkan hal ini terjadi. Dia justru sibuk melepas kerinduan pada wangi parfum yang dipakai Sabda.
Hingga ketika Sabda menyatukan bibirnya, respon tubuh Salma hanya bisa membeku. Sepasang matanya yang bulat bertemu dengan manik hitam milik Sabda. Membuatnya kian pasrah, saat Sabda berusaha menyelami perasaanya.
Salma berusaha menghadirkan rasa yang sama dengan Sabda. Naf-su dalam dirinya perlahan hadir. Semakin menggelora, ketika piyama batik yang dikenakan tanpa dia sadari sudah dimasuki tangan nakal.
Dalam hati Salma berharap ada kejadian selayaknya atasan yang ketahuan ber cum bu dengan sekretarisnya. Dan membuat tubuh mereka tercerai berai dilanda gai-rah.
Tapi nyatanya itu hanyalah imajinasinya saja. Buktinya, semakin lama Salma justru terbuai dalam kehangatan dan sentuhan yang diberikan Sabda. Napas mereka mulai menggebu, pasokan udara di sekitar semakin menipis membuat Sabda menjauhkan bibirnya dari bibir Salma.
__ADS_1
"Ta—hanhh," lirih Sabda, seraya menjatuhkan tangannya di samping tubuh Salma. "Kita nikah dulu!" Napas keduanya menderu, bak selesai lari maraton 10 kilometer.