Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 58


__ADS_3

SABDA memutuskan untuk pulang sendiri ke Semarang. Mengingat kehamilan Salma yang sudah memasuki usia delapan bulan. Selain itu, dia wajib mematuhi larangan dari dokter yang mencegah istrinya bepergian keluar kota. Meskipun, wanita itu ingin ikut karena khawatir dengan kondisi sang ayah.



Dan sebentar lagi travel akan menjemput Sabda, mengantarnya ke Banjarmasin.



"Ody, jagain bunda ya. Untuk sementara jangan bandel, nanti berangkat ke sekolah bareng Keanu dulu. Ayah sudah menitipkanmu ke papanya Keanu." Sabda mewanti-wanti Aundy, berharap anak gadisnya itu akan paham dengan situasi.



Mau tidak mau, lagi-lagi dia harus merepotkan tetangga mengingat kondisi Salma yang tidak akan mungkin naik motor dengan memboncengkan Aundy di belakang.



"Ayah enggak lama, kan?" tanya Aundy, wajahnya sejak pagi tadi terlihat sedih setelah mendengar kabar jika sang kakek masuk rumah sakit.



"Nggak. Paling lama satu Minggu!" Sabda mengakhiri obrolannya dengan Aundy, mengecup penuh cinta putri kecilnya itu. Lalu melangkah di hadapan Salma.



"Aku pergi, ya, Yang!" Lirihnya sambil merengkuh tubuh Salma.



"Ati-ati. Harus terus ngasih kabar—aku bakal mikirin kamu terus-terusan kalau kamu nggak ngasih kabar ke aku." Salma berkata lirih. "Dan kamu tahu, aku dan Brandon bisa stress mikirin keadaanmu di sana." Salma menjelaskan, takutnya Sabda akan susah dihubungi saat berada di Semarang.



"Siap, Sayang ... kamu juga! Harus selalu kasih kabar ke aku! Kalau Brandon nakal bilang ke aku, biar nanti nggak kubawain oleh-oleh mainan. Sekalian baju-bajunya itu kukasih anaknya Aruni."



Salma terkekeh pelan, ya Aruni memang sudah melahirkan bulan lalu anaknya laki-laki, dan sekarang dia menjalani hidupnya bersama Alvian. Salma kemudian membalas pelukan Sabda. Masa bodoh dengan Linda yang memerhatikan mereka bermesraan, Salma justru terpancing ingin lebih mesra lagi, biar dia cemburu. "Jaga makan, jangan mabuk perjalanan! I love you, Mas." Salma mengakhirinya dengan kecupan singkat, terserah apa kata Linda, dia istri SAH kok!



"Love you more, Sayang."



Sedangkan Aundy menatap malas tingkah kedua orang tuanya. Pemandangan seperti ini sudah tidak jarang lagi ia temui. Dan dia bisa merasakan sebesar apa cinta ayah kepada sang bunda. Ia pun bertekad, kelak dia akan mencari laki-laki yang bisa selalu mencintainya, seperti sang ayah yang begitu mencintai bunda Salma.



Sabda kemudian berjongkok, mensejajarkan wajahnya di depan perut Salma yang buncit. "Jangan keluar dulu ya, Brand! Pokoknya kamu harus menunggu ayah pulang!"



"Ih, dibilangin namanya Brandon kok bandel, sih! Brand, brand! Dia bukan bear Brand, Mas Sabda!"



"Salah sendiri ngasih nama susah. Lama-lama kupanggil Bagas aja!"



"Ih—udah sana!" Salma sedikit mengusir Sabda yang setia berdiri di depan perutnya. "Brandon Baghaskara. Pokonya itu! Bukan Bagas!"



Sabda hanya menurut, lalu memeluk pinggang Salma erat, seakan ingin tahu apa yang sedang dilakukan anaknya di dalam sana.



Sampai pada waktu mereka berpisah Sabda baru menjauh dari hadapan Salma. Pria itu lekas memasuki mobil travel, meninggalkan anak dan istrinya untuk sementara waktu.



Meski sabda melakukan perjalanan pada malam hari. Tapi tetap saja, penerbangan ke Semarang dilakukan pada pagi hari. Dan tepat pukul sepuluh pagi pesawat yang ditumpangi Sabda berhasil mendarat di bandara Ahmad Yani.



Sabda tidak melupakan pesan Salma yang memintanya untuk selalu memberi kabar. Seperti saat ini, ketika pesawat berhasil mendarat, dia langsung sibuk menelpon istrinya mengabari jika saat ini hendak langsung bertolak ke rumah sakit.



"Hati-hati, Mas. Titip salam buat Ayah Ageng."



"Pasti." Sabda kemudian menutup, demi fokus mencari taksi yang bisa membawanya ke rumah sakit.


__ADS_1


Membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk Sabda berada di rumah sakit Jatisari. Kedatangannya langsung disambut isak tangis yang keluar dari mulut Bu Habibah. Wanita itu memeluk tubuh Sabda erat- erat, menumpahkan kekhawatiran yang sejak kemarin malam menerpa dirinya.



Satu tahun lebih tidak bertemu langsung dengan sang ibu, Sabda merasa tubuh ibunya jauh lebih kurus. "Apa yang terjadi? Kenapa ayah bisa terkena serangan jantung, Bu!" Sabda sedikit mengendurkan pelukannya, dia menatap sang ibu lekat guna mencari jawaban atas rasa penasaran yang mendera.



Wanita itu masih menangis, justru semakin jelas terdengar. Sabda langsung menuntunnya ke arah kursi tunggu. "Ibu duduk di sini dulu! Aku harus bertemu ayah. Aku mau bicara sama ayah dulu, Bu."



Bu Habibah menggeleng, tangannya lekas menahan lengan Sabda. "Sabda! Duduklah di sini, ibu, ibu butuh kamu. Ibu nggak mau jauh dari kamu, Da! Cuma kamu yang ibu harapkan ada di sini saat ini!"



"Tapi, sabda juga pengen ketemu ayah, Bu! Jadi tolong mengerti, bentar saja! Setelah itu Sabda akan menemani ibu."



"Sabda! Ayahmu tidak bisa ditemui. Dia belum sadar sampai detik ini." Bu Habibah menjelaskan penuh emosi.



Tubuh Sabda langsung lemas, dia kembali duduk dan menunduk, lalu menyugar rambutnya sambil menariknya kuat-kuat. "Apa yang terjadi? Selama ini ayahku nggak pernah cerita kalau dia memiliki penyakit jantung!" Sabda memejamkan mata, dia berusaha menahan emosinya yang meledak ingin diutarakan.



"Sabda, tempo hari ada tukang tagih utang. Dua pria datang ke rumah. Mengatakan kalau uang yang dipinjam ayahmu sudah jatuh tempo, dan dia harus mengembalikan uang pinjaman itu beserta bunganya. Jika tidak maka mereka akan menyita rumah ayahmu!" Bu Habibah kembali terisak-isak. "Sabda, jujur saja ibu nggak pernah tahu kalau ayahmu itu punya hutang! Ibu nggak pernah tahu kalau toko beras bapakmu itu bermasalah dan dia mengalami kesulitan. Jadi ibu merasa bodoh karena nggak tahu apa-apa di sini. Kemarin sore, ibu mendesak bapakmu untuk menceritakan semuanya. Setelah tahu semuanya, Ibu bilang padanya, kalau dulu ibu menikah dengan Arif, mungkin nasib ibu nggak akan seperti ini. Ibu bilang ke ayahmu kalau ibu sudah menyesal menikah dengannya! Ibu sudah salah memutuskan untuk menikah dengannya. Sabda, Ibu tidak tahu apapun, Da! Ayahmu nggak pernah bilang apapun sama ibu soal uang itu dan sekarang ibu ikut menanggungnya! Ibu shock! Ibu terbawa emosi!"



"Kenapa ibu tega mengatakan itu sama ayah!" Sabda protes. "Sejelek-jeleknya ayah dia selalu ada di saat ibu sedih, Bu! Sejelek-jeleknya ayah dia selalu ingin jadi suami terbaik untuk ibu. Dan sejelek-jeleknya ayah, dia tidak ingin ibu ikut memikirkan masalahnya. Ayah sangat mencintai ibu. Ibu nggak tahu, seberapa besar cinta ayah pada ibu! Tapi, ibu masih saja menyimpan rasa sama orang lain. Bahkan orang itu sudah memiliki anak dan anaknya itu istri Sabda, Bu!"



Bu Habibah menangis sejadi-jadinya. Ada beberapa orang yang langsung fokus menatap mereka berdua. Tepatnya menatap curiga ke arah Sabda yang dikira sudah melakukan tindak kejahatan. "Sabda maaf, ibu nggak tahu itu, Nak. Ibu menyesal. Ibu minta maaf. Ibu janji akan memperbaikinya, ibu janji akan minta maaf dengan ayahmu."



Sabda jadi ikut menitihkan air mata mendengar ucapan penyesalan sang ibu. Tapi, menurutnya penyesalan sang ibu tidak akan ada artinya. Karena kini sang ayah sudah terbaring lemah di atas ranjang. Dia berharap sang ayah berumur panjang, hingga dia bisa menyaksikan kebahagiaan mereka berdua.



"Berapa sih hutang ayah, Bu? Jangan sampai rumah itu disita. Banyak kenangan ku dengan ayah di sana. Sebisa mungkin, Sabda akan mempertahankan rumah itu."




Jujur saja, Sabda tidak memiliki uang sebanyak itu. Tapi dia akan berusaha menutup hutang bapak agar rumah itu tidak disita oleh debt kolektor. Seumur hidupnya, Sabda tidak mau terlibat tukang piutang, dan ini untuk pertama kalinya dia harus berhadapan.



"Bu Habibah!" Seorang perawat berseru, lalu memberitahu jika pak Ageng sudah bisa ditemui.



Sabda dan Bu Habibah tampak lega. Mereka serempak melangkah mendekati perawat.



"Jaga kondisinya ya! Jangan biarkan pasien stress!" pesan sang perawat sebelum meninggalkan mereka berdua.



Sabda membawa ibunya masuk ke ruangan pak Ageng. Saat kakinya berhasil masuk, Sabda hanya bisa menangkap senyum paksaan dari pria tua yang kini berbaring di atas ranjang. Terlihat pria ingin berbicara—tapi sepertinya mengalami kesusahan.



Sabda menggenggam tangan pak Ageng, seolah membiarkan pria itu menye dot habis energinya. "Ayah, Sabda pulang—Sabda mau jemput ayah. Kita akan ke Tabalong buat menunggu kelahiran anak kedua Sabda. Jadi, ayah harus sembuh ya! Kasihan Ody dan Salma udah nunggu ayah datang." Sabda terkekeh kecil. "Salma udah bisa masak, Yah! Masakannya enak banget, pasti ayah suka." Dulu saat awal menikah dengan Salma di pernikahan yang pertama, dia sering bercerita kepada ayahnya. Dan sekarang, dia seperti mengulang apa yang pernah mereka bicarakan dulu. Jujur, sejak kecil Sabda memang lebih dekat dengan ayah dari pada ibu.



Mendengar itu pak Ageng hanya bisa tersenyum simpul. "Maafin ayah, Da!" Kata pak Ageng dengan suara serak dan lirih. "Maaf nggak bisa ninggalin apa-apa buat kamu dan Ody. Ayah justru meninggalkan hutang pada kalian. Tapi percayalah, ayah sangat menyayangi kalian. Ayah ingin melihatmu bahagia dengan keluarga kecilmu."



Sabda berdecak pelan. "Ayah, jangan memikirkan itu. Sabda mau ayah sembuh dulu! Lalu kita pergi jalan-jalan!" Sabda tersenyum miring. "Katanya ayah pengen naik pesawat."



"Sabda ayah capek di sini. Ayah pengen pulang saja, Da! Aku ingin buka toko beras lagi, lalu kerja keras biar bisa melunasi hutang-hutangku itu. Biar kalian juga tidak sengsara memikirkannya."



"Mas Ageng, kenapa bilang begitu? Aku yakin, Sabda pasti bisa melunasi hutangmu. Dia akan mengurusi toko beras kita. Jadi, kamu harus sembuh dulu! kamu masih pengen makan masakan ku kan? Aku janji akan menyiapkan masakan enak untukmu. Aku juga akan melayanimu sebagai istri yang baik, Mas. Seperti yang kamu inginkan."

__ADS_1



Senyum Pak Ageng semakin lebar. Dia seperti tengah merengkuh kebahagian berlipat-lipat ganda. "Aku senang mendengarnya, Ibah ...." Dia merespon dengan suara berat. "Maaf ya belum bisa bikin kamu bahagia. Maaf kalau aku belum bisa membuatmu lupa dengan semua cinta pertamamu itu. Maaf kalau kehadiran Sabda membuatmu terbebani dan selalu menyalahkan aku. Tapi kalau boleh jujur, sebenarnya aku lega. Aku sangat bahagia bisa melihat kalian berdua ada di sini. Kalian harus akur terus. Setahun ini, aku berpikir keras untuk mempertemukan kalian berdua, mendamaikan kalian. Jika kepergian ku nanti bisa membuat kalian kembali bertegur sapa, aku ikhlas, dan aku jauh bisa berpikir tenang." Pak Ageng menatap Bu Habibah semakin dalam. "Salma anak baik, Ibah—dia tidak pantas mendapat perlakuan kasar darimu. Arif, Deva, dia berhasil mendidik Salma menjadi wanita kuat, tahan banting. Jadi sudah cukup, jangan sakiti dia lagi, itu sama saja kamu menyakiti Sabda. Saranku, sebaiknya kamu terima dia sebagai menantu kita. Aku yakin kamu akan ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan."



Pelan-pelan kepala pak Ageng menoleh ke arah Sabda. "Sabda— kamu harus jadi ayah yang baik untuk anak-anakmu! Kamu juga harus suami yang baik untuk Salma. Jangan seperti ayah ya!"



"Ayah sudah jadi ayah yang baik untuk Sabda. Jadi jangan berkata seperti itu, Yah!"



"Jangan tinggalin Salma lagi demi ibumu. Atau hidupmu akan hancur. Ayah senang melihat kamu bahagia, dan aku bahagia melihat ibumu di sini. Aku ikhlas kalau Allah memanggilku pulang."



"Ayah!"



"Mas!"



Keduanya kompak berteriak lantang. Seolah tidak menyukai dengan ucapan pak Ageng yang terdengar begitu menyedihkan.



Pak Ageng justru terkekeh pelan. "Sabda, kamu pulanglah, pasti lelah. Kamu bisa istirahat di rumah. Nanti kalau balik ke sini, ambilkan sarung warna putih di lemari ayah. Ada di rak bagian bawah sendiri. Nanti kalau waktu salat Azhar kamu yang jadi imam ayah ya! Ayah pengen shalat bareng kamu."



"Iya, bentar lagi Sabda pulang, Yah. Sekalian makan siang, soalnya dari kemarin Sabda juga belum makan."



"Pulanglah, Da! Biar ibu yang jaga ayahmu. Maaf ibu belum masak, tapi ibu janji setelah ayah keluar dari rumah sakit. Ibu akan masak untuk kalian."



"Iya, Sabda akan menunggu waktu itu, Bu." Sabda lalu berpamitan dengan pak Arif, dia bersiap untuk keluar dari ruangan itu. Membiarkan ibu dan sang ayah berada di sana.



Sepeninggal Sabda pak Ageng menatap Bu Habibah lekat. Saat ini hanya ada mereka berdua di ruang ICU. "Kamu kok tambah cantik kalau begini."



"Mas Ageng bisa aja, aku sudah tua, Mas! Kamu mau aku ambilkan apa, Mas? Mau makan, biar aku suapin kamu!"



"Nggak. Duduklah saja! Tolong pijitin kakiku, rasanya kebas dan kaku mungkin karena sudah lama aku tidur!" Minta pak Ageng dengan suara lemah. Bu Habibah pun tak menolak dia melakukan apa yang diminta suaminya.



Gerakan tangannya begitu lembut, seolah memutar ulang kenangannya di masa lalu yang tak pernah melakukan ini.



"Sepi sekali ruangan ini, ya! Kamu cerita dong, Bah! biar aku bisa mendengar suaramu!" Minta pak Ageng.



Bu Habibah pun mulai bersuara, seakan memutar kenangannya bersama pak Ageng di masa lalu. Menceritakan kebahagian mereka berdua saat Sabda lahir ke dunia. Momen saat pak Ageng menunggu waktu dia melahirkan di ruang bersalin, ada tawa dan rasa haru saat Bu Habibah menceritakan itu. Hingga tanpa Bu Habibah sadari, pak Ageng menghembuskan napas terakhirnya.



"Sabda itu yang ngasih nama kamu kan Mas? Aku dulu pengennya ngasih nama dia Arif. Beruntung saja aku nurut sama kamu." Bu Habibah terkikik. Lalu menoleh ke arah pak Ageng. "Sudah tidur? Kok cepet banget Mas?" Bu Habibah yang awam baru sadar ketika melihat mesin EKG menampilkan satu garis lurus.



Perawat yang mendengar suara itu langsung datang dan memintanya supaya pergi dan menjauh. Hingga lima belas menit menunggu di luar kabar duka pun sampai di pendengaran Bu Habibah.



"Pak Ageng baru saja pergi, Bu! Ibu yang ikhlas ya ...."



Tangisan terdengar mengudara di lorong depan kamar ICU. Bu Habibah seperti belum ikhlas menerima fakta jika suaminya telah tiada, tubuhnya mendadak lemas. Dia belum sempat shalat bersama, dia belum sempat menyiapkan makan untuk Ageng. Tapi kenapa suaminya pergi secepat ini. Berulangkali dia pingsan, dan dibantu oleh perawat.



Sedangkan di tempat lain, Sabda yang baru mencari keberadaan sarung warna putih milik sang ayah, langsung membeku mendengar pria itu telah tiada.

__ADS_1



Setelah panggilan tertutup, dia langsung memukul dengan kuat tembok tinggi di depannya. Seandainya dia tahu sang ayah akan pergi untuk selamanya, dia tidak akan beranjak sedikitpun dari ruangan itu, dia akan menunggu sampai waktunya tiba. Dan sekarang dia hanya bisa menangis di dalam kamar sang ayah.


__ADS_2