Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 19


__ADS_3

"Salma ..." Panggil Sabda yang mulai gusar ketika Salma tak juga membuka mata. Di sisi lain dia juga khawatir Aundy akan mencari keberadaanya. Sabda memang sudah menitipkan Aundy pada pelayan hotel, dia juga sudah berpesan pada Aundy kalau hendak menjemput Salma. Dan gadis kecilnya itu menjawab dengan anggukan kepala.


Namun, dia tidak memprediksi jika kepergiannya akan selama ini. Dan dia sudah mulai bosan melihat Salma tak kunjung membuka mata. "Sayang, ayo bangun!" Sabda menusuuk-nusuk pipi Salma dengan telunjuknya, terlihat lucu tapi begitu menganggu bagi Salma. Hingga perlahan apa yang dilakukan oleh Sabda mampu mengusik tidur wanita itu.


Salma terkejut. Dengan cepat menggeser badannya untuk memastikan siapa yang kini ada di sampingnya. Setelah yakin itu adalah Sabda, Salma bertanya dengan bahasa isyarat. Siapa yang mengizinkanmu masuk ke kamarku?! Begitulah kira-kira suara protes yang diajukan Salma.


Sialnya Sabda diam tanpa kata, ekspresi wajahnya begitu takjub, dia terkesima dengan wajah Salma sehabis bangun tidur.


"Sabda! Ada apa?!" Sarkasnya bertanya dengan suara keras.


"Eh, itu—anu, cepat ganti bajumu. Kita harus kembali ke hotel. Ody, dia —dia masih di hotel." Suara Sabda terbata-bata. Rupanya kecantikan Salma yang tampak natural mampu membius kesadarannya.


"Kamu tinggal dia sendirian?" Salma menyingkap selimut, setelah menyadari ucapan Sabda.


"Hm, iya." Takut kena sembur oleh Salma, Sabda segera keluar dari kamar. "Aku tunggu di luar ya, nggak usah mandi! Cuci muka saja!" pesannya sebelum menutup pintu.


Di tengah kesadarannya yang belum terkumpul sepenuhnya, Salma bergegas mendatangi kamar mandi. Dia menuruti perintah Sabda, tidak mandi hanya mencuci wajah dan menggosok gigi. Memasukan beberapa helai pakaian ganti untuknya. Siapa tahu ada kejadian yang tidak diinginkan jadi dia tidak perlu pulang ke kedai untuk mengambil pakaian.


Hanya perlu waktu lima belas menit, Salma sudah siap. Dia berdiri di depan meja kasir, tepatnya tidak jauh dari posisi Sabda saat ini. "Ayo, di mana Ody?!" tanya Salma.


Sabda mengangguk. "Dia masih tidur, ada di kamar hotel!" jawab Sabda, seraya membuka pintu, mempersilakan Salma untuk keluar terlebih dahulu.

__ADS_1


"Arun, aku pergi ya kamu bisa kan jaga kedai dengan Biyan aja?" pamit Salma, merasa sungkan meninggalkan kedai, mengingat hari ini pasti akan ramai oleh pengunjung.


"Aman, Mbak! Puasin deh liburannya." Senyum begitu cerah terbit dari bibir Aruni, gadis itu seakan mendukung sepenuhnya apa yang dilakukan Sabda hari ini.


"Liburan apa maksudnya?" Jelas saja Salma emosi. Tidak ada niat sedikitpun yang terbesit di pikirannya untuk sekedar menikmati waktu liburan dengan Sabda. Dalam hatinya masih menyimpan kekesalan yang teramat dalam akibat tingkah kekanakan pria itu kemarin.


"Ayo, nggak usah debat kasihan Ody!" Sabda menarik tubuh Salma, menuntun supaya lekas mendekati motornya.


Saat perjalanan menuju hotel, berulangkali Sabda meminta Salma untuk memeluk pinggangnya. Tapi ucapannya itu tidak diindahkan oleh mantan istrinya itu. Terpaksa Sabda mengemudi dengan tangan satu. Sedangkan satu tangannya, menahan telapak tangan Salma supaya tetap melingkar di pinggang. "Suruh pegangan saja sulitnya minta ampun! Kenapa? Takut dilihat Endra?" goda Sabda.


Terang saja Salma emosi mendengar itu. Apalagi hormon di tubuhnya sedang tidak baik. Dia bungkam, enggan menjawab apapun. Toh bukan ranahnya menjelaskan semuanya pada Sabda. Dia berusaha acuh.


"Enggak perlu! Langsung ke hotel aja!"


Sabda heran dengan sikap keras kepala Salma yang tak pernah lunak sedikitpun. Kalau dia menghentikan motornya di depan rumah sakit. Maka Salma akan semakin marah padanya, jadi dia memutuskan untuk langsung ke hotel. Berharap dia bisa membujuk Salma untuk pergi ke rumah sakit setiba di hotel nanti. "Ngalah, deh! Nyonya Sabda sedang tidak baik-baik saja, bukan cuma fisiknya tapi hatinya juga," kata Sabda, kini mulai melepas lengan Salma. Terserah wanita itu mau memeluknya atau nggak, yang penting mereka bisa segera sampai di hotel.


Perasaan Sabda seperti kupu-kupu yang baru saja bisa terbang. Dia bahagia, merasakan pelukan hangat dari mantan istrinya. Terlebih embusan napas di lehernya, seakan mampu mengusir udara dingin yang datang pagi ini. Ingin rasanya memperlambat laju motornya, tapi teringat keberadaan Aundy, dia seperti tidak memiliki waktu lagi untuk berpacaran dengan Salma.


Tiba di kamar hotel, Aundy masih terlelap di bawah selimut. Mungkin karena gadis itu tidur terlalu larut jadi dia masih saja terlelap.


"Tuh, anak kita kalau tidur—sama persis kaya kamu, kan?!" cibir Sabda, melihat tingkah Aundy yang berguling-guling di bawah selimut.

__ADS_1


"Siapin bajunya, aku ingin bawa Ody pulang!"


"Salma! Kamu sakit, biarkan Ody dan aku merawatmu di sini!" tolak Sabda.


"Emangnya kamu siapa?! Nggak ada kewajiban kamu untuk merawatku!"


Sabda menarik lengan Salma, kemudian membawanya ke balkon. "Aku Sabda, calon suamimu!" Melihat sepasang bola mata Salma membulat sempurna, Sabda kembali mengulanginya. "Masih kurang jelas? Aku suamimu." Dia menengadahkan tangan kanan, tepat di depan wajah mantan istrinya. "Mana ponselmu! Izinkan aku meminta langsung pada pak Arif. Kita harus segera menikah. Demi aku bisa terus ada di sampingmu, di saat kamu sedang sakit seperti ini! Selain itu, juga demi Ody, putri kita."


Salma masih berat memberi izin Sabda melakukan itu. Ada sesuatu yang mengusik hatinya. Antara takut dan khawatir Sabda akan sama seperti dulu lagi. Belum lagi sikap keras sang bapak yang kadang tidak bisa diprediksi.


"Bisakah kali ini aku percaya dengan apa yang keluar dari bibirmu? Kadang aku sudah menaruh harapan besar untuk kita berdua, tapi lagi-lagi aku kadang ragu dengan apa yang kamu lakuin."


"Masih kurang bukti, kalau aku serius sama kamu? Bukankah kita sudah mengenal lama, dan kamu tahu detail setiap sifatku, Sal!" ungkap Sabda. "Aku bukannya ingin buru-buru. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan nanti. Jadi, izinkan aku menghubungi pak Arif. Bukankah niat baik harus segera dilaksanakan?"


"Lalu? Gimana dengan Bu Habibah? Apa kamu bisa menikahiku tanpa mendapat restu dari orang tuamu?" tanya Salma, banyak sekali ternyata ketakutan yang ada di pikirannya.


"Aku akan tetap memberi kabar ayah, tapi datang atau nggak itu hak mereka."


Tangan Sabda masih menggantung, menunggu Salma memberikan ponselnya. Cukup lama, dia menunggu dengan hati yang berdebar-debar.


Hingga kekhawatirannya sirna saat Salma memberikan ponselnya. Kini giliran Sabda yang harus menumbuhkan keberaniannya berbicara dengan pak Arif. Apapun hasilnya, yang penting dia sudah berusaha, kalaupun mereka tidak mengizinkan dia kembali kepada Salma. Tekadnya sudah bulat, membawa Salma dan Aundy kabur dari pulau Jawa.

__ADS_1


__ADS_2