
Rasa mulas di perut Salma sudah hilang, menyisakan rasa pusing di kepala yang tak kunjung menghilang. Ia meneguk air sebanyak -banyaknya takut juga kehilangan cairan akibat diare yang tadi diderita. Imbasnya—dia justru berulangkali memasuki kamar mandi untuk buang air kecil. Istilah orang Jawa beser.
Saat ini, Salma tengah berada di rumah sendiri. Sabda membawa Aundy jalan-jalan, menuruti anak gadisnya yang mengeluh bosan berada di dalam rumah.
Salma memang tidak ikut lantaran tubuhnya masih terasa lemas. Dia hanya duduk di depan layar tv menyaksikan film Hollywood kesukaannya mumpung Aundy sedang tidak berada di rumah, jadi dia bebas menyaksikan film.
Salma sedikit terhibur dengan tayangan di depannya, apalagi film itu dibumbui dengan adegan dewasa. Membuat imajinasinya semakin liar. Hingga pesan dari Sabda mengalihkan perhatiannya dari layar tv.
Ayah Ody : Sayang, mau nitip apa?
Salma tersenyum simpul. Lalu mengetik balasan untuk Sabda. Mau mangga ya!
Seketika langsung mendapat pesan makian dari Sabda.
Ayah Ody : Diare belum tuntas mau makan mangga lagi, mau dihukum kamu?!
Salma tidak membalas lagi. Dia hanya memasang wajah kesal saat Sabda menolak permintaannya. Tak ingin menanggapi lagi, Salma kembali meletakan ponselnya di atas meja. "Gitu aja nggak boleh, yang mules aku kok! situ yang kesakitan!" Salma menggerutu, kesal.
Melihat kalender yang digantung di dinding, Salma berusaha mengingat lagi kapan terakhir dia dikuretase. Ya, memang sudah satu bulan sepuluh hari. Itu artinya jadwal haidnya sudah telat jauh. Tapi bukankah biasanya dia juga telat haid? Dan hal seperti ini sudah biasa terjadi dalam kamus hidup Salma. Sebaiknya dia tidak senang terlebih dahulu, mengingat kejadian sebelumnya.
Mendengar suara mesin motor yang berhenti di depan rumah. Salma berusaha memejamkan kedua matanya, pura-pura tidur. Dia tidak merespon saat Aundy berteriak memanggilnya. Hingga beberapa saat kemudian gadis itu menemukan keberadaannya yang sudah terlelap.
"Ayah, Bunda udah tidur kok!" lapornya saat Sabda sudah memasuki rumah.
"Owh, ya sudah—mangganya taruh aja dikulkas!" Sabda melangkah ke arah dapur, lalu mencuci tangan.
Sebenarnya Salma cukup tergoda dengan aroma mangga kueni yang menusuk indra penciumannya. Akan tetapi dia masih kesal dengan respon Sabda saat tadi membalas pesannya. Dasar pembohong, menggerutu tapi dibelikan juga! Makinya dalam hati.
"Ody masuk kamar buruan bobo! Besok masuk sekolah, kan?"
"Hm." Aundy yang sudah kenyang lekas berlari meninggalkan ruang tv. Gadis itu sudah berani tidur sendiri, Sabda membantu Salma mengatur pola tidur Aundy. Yang perlahan sudah menjadi kebiasaanya.
Sedangkan Sabda masih setia mengamati Salma. Pria itu menatap dengan senyuman tipis. Paham jika Salma hanya pura-pura tidur. "Bangun Yang! Kamu pura-pura kan? Belum lama aku mengetikan pesan ke kamu. Masa iya udah tidur!" Godanya.
Salma kekeh memejamkan mata rapat. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Sabda. Dan seketika pria itu mengangkat tubuhnya dari sofa. Lalu memindahkan ke ranjang yang ada di kamar. Salma tetap setia memejamkan mata, merengkuh guling berusaha semakin menyamankan posisi tidurnya. Hingga beberapa detik berlalu, bibir Sabda mendarat di pipinya, menyisakan rasa hangat yang menjalar hingga ke relung hati. Pria itu merebahkan tubuhnya di samping Salma. Dia membiarkan Salma seperti ini, karena jujur dia juga lelah.
Saat Salma berusaha terlelap dia justru kesulitan memejamkan mata. Dia kembali membuka mata, pandangannya langsung disambut oleh wajah Sabda yang terlihat lelah, mendadak rasa bersalah menyeruak.
Padahal pria itu sudah berusaha memberi yang terbaik untuknya, tapi dia merasa selalu belum puas dengan apa yang diberikan oleh Sabda. Mendadak air mata memenuhi kelopaknya, tangan Salma buru-buru merengkuh pinggang Sabda sedangkan kepalanya berada tepat bawah ketiak pria itu.
"Kalau aku menyebalkan seperti ini terus—apa kamu bakalan meninggalkan aku lagi? Kadang aku khawatir kamu nggak tahan sama sikapku ini!" Tidak ada respon dari Sabda meski Salma mengucapkannya sejelas yang dia bisa. "Mas! Mas Sabda, Bangun!" Rengeknya, mendadak tak terima ketika ucapannya tidak didengar oleh sang suami.
"Mas Sabda!" Salma begitu niat membangunkan Sabda, berulangkali dia mendaratkan ciuman di pipi Sabda. Hingga pria itu terkekeh karena geli.
"Apa, sih Sayang .... Tidurlah sudah malam ini!"
"Ini over shift, nggak mungkin kamu tidur jam segini!" Bantah Salma.
__ADS_1
"Kenapa memangnya? Aku belum istirahat, kan semalam udah begadang jadi ngantuk. Masa nggak boleh aku tidur!"
"Tadi pas jam istirahat emang nggak tidur?"
Sabda hanya diam, lalu membuka mata, Salma tidak tahu masalah yang kini menimpa keluarganya. Dan dia berniat menyembunyikan itu dari Salma, Sabda tidak ingin Salma ikut mencemaskan kondisi keluarganya.
"Tadi ada masalah sedikit di tambang. Jadi aku nggak tidur."
"Masalah apa? Nggak ada insiden fatality kan?"
"Nggak. Cuma masalah kecil kok." Sabda berusaha menepuk punggung Salma. "Bobok, Sayang! Udah malam."
Salma diam, kepalanya mendongak lalu memandangi Sabda. Dia membiarkan suasana hening sejenak. "Aku nyebelin banget ya, Mas?"
"Kadang." Sabda menjawab singkat.
"Pasti kamu kesel ya?"
"Kadang-kadang sih."
"Kamu bakalan bosen dan nyari cewek yang bisa buat kamu bahagia?"
Sabda membuka mata, sambil menunduk dia mengecup kening Salma. "Pengennya gitu, tapi aku sadar udah tua. Kasihan sama Ody."
"Ya nggak juga. Kamu ini pertanyaannya aneh-aneh. Udah tidur, besok kesiangan lagi!"
"Kan cuma sekali aja aku kesiangan. Kemarin enggak kok." Salma menjelaskan. "Sayang, kamu cinta nggak sama aku?"
"Cinta, banget." Sabda merespon tanpa membuka matanya.
"Kalau aku mati kamu bakal ngapain?"
"Merawat anak kita."
"Nggak nyari istri baru?"
"Kalau ada yang mau ya ... ayo aja!"
"Untung aku udah mati kalau belum pasti sakit hati." Salma merespon, membayangkan hari itu tiba.
"Hum."
Mendengar Sabda seperti enggan merespon ucapannya. Salma memilih menutup mulut membiarkan pria itu terlelap. Salma yang kesulitan tidur kembali beranjak dari ranjang usai mendengar dengkuran halus yang keluar dari bibir suaminya.
Dia melangkah ke dapur, mengupas mangga yang tadi sempat dimasukan Aundy ke dalam lemari pendingin. Sambil menunggu kantuknya datang, Salma melangkah ke depan tv. Menikmati potongan mangga yang tadi dikupas.
__ADS_1
Makan ini Salma tidur begadang karena benar-benar tidak bisa tidur. Hingga jarum jam sudah menunjukan pukul dua pagi, dia baru melangkah menuju kamar.
Sepasang tangannya memeluk tubuh Sabda dengan erat. Hingga rasa kantuk datang dan membuatnya terlelap begitu nyaman.
Sangking terlihat nyamannya Salma terlelap, Sabda sampai melarang Aundy yang berniat membangunkannya.
"Emang kenapa, Yah? Bunda sakit?" Protes Aundy, padahal tidak biasanya sang bunda bangun terlambat seperti ini.
"Hm. Kasihan kan, udah ayo kita keluar. Sarapan dulu." Hari ini, Sabda menyiapkan sarapan untuk Aundy, meski hanya roti tawar panggang isi kental manis coklat. Sejak mereka tinggal bersama, Sabda selalu memaksa Aundy untuk sarapan jadi gadis itu sudah mulai terbiasa dengan aturan yang dibuat Sabda.
"Hari ini aku dianterin ayah?"
"Iya. Nggak papa, kan?"
"Tapi jangan nyium Ody di depan gerbang sekolah ya. Malu."
Sabda terkekeh pelan seraya melepas apronnya. "Beres. Tapi Ody belum punya kekasih, kan?"
"Ih, ayah! Ya belumlah. Ody masih kecil!"
Aundy lantas memakan roti di depannya. Setelah selesai, Sabda segera mengantar putrinya itu pergi ke sekolah. Saat kembali ke rumah, Sabda bisa melihat Salma sudah membuka mata, tapi belum beranjak dari ranjang. Masih sibuk dengan layar ponsel di genggaman tangan.
"Badanku lemes banget, Yang!" Keluh Salma.
"Makan roti sana! aku bikin roti panggang buat sarapan!" Sabda kini sedang sibuk mengurusi lembar kerja operator yang ditangani.
"Nggak napsu makan."
Sabda melirik ke arah Salma. Pandangannya berubah kesal.
"Kamu minum teh jati cina itu lagi?" Tanyanya dengan suara tinggi. Sabda tahu di rak lemari dapur ada teh jati cina. Salma memang tertarik dengan produk itu karena kata tetangga bisa menurunkan berat badan secara drastis. Tapi ya itu efeknya pasti diare. Dan sabda curiga Salma sudah mengkonsumsinya. "Udah kubilang nggak perlu begituan, Yang!"
"Aku enggak minum kok. Aku belum coba. Itu kemarin baru dapat dari Teteh Lina."
"Awas saja kalau kamu minum. Kamu itu bandelnya melebihi Ody. Udah dibilang jangan makan mangga semalam kamu makan lagi, kan? Bukan apa -apa Yang! Aku ngelarang kamu, karena tahu imunmu sedang tidak baik. Dan aku nggak bisa lihat kamu sakit!" Sabda berkata tegas, sedikit menggunakan emosi mengingat apa yang dilakukan Salma semalam.
"Kamu tahu aku makan mangga? Berarti semalam kamu enggak benar-benar tidur?"
"Tahulah, siapa juga yang buang kulit mangga di wastafel selain kamu. Apa iya tikus bisa ngupas mangga?" Ketusnya.
Perkara mangga saja bisa jadi masalah besar. Saat ini, Salma sudah memasang wajah kesal karena Sabda bersuara lantang di depannya. *Ih dia nggak tahu apa, perempuan itu hatinya sangat sensitif*.
"Mau ke mana kamu?!" Tegur Sabda melihat Salma sudah menyingkap selimutnya.
Salma tidak menjawab, dia langsung melangkah menuju kamar mandi. Dari pada menangis di depan pria itu lebih baik menangis sambil menyiram wajahnya dengan air.
Sedangkan Sabda yang masih berada di dalam kamar tetap meneruskan pekerjaannya. Dia ingin segera pergi beristirahat mengingat nanti masuk shift dua.
__ADS_1