Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 27


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju rumah Rendi, Sabda terus melemparkan pertanyaan pada Aundy yang duduk manis di bangku samping kemudi. Gadis itu seakan sibuk menikmati perjalanan malam ini.


Rasa penasaran Sabda mendadak muncul saat teringat pernyataan Salma sebelum perpisahan mereka, beberapa menit yang lalu. “Ody, siapa bos bunda yang buka kopi itu?!”


Aundy menoleh ke arah Sabda, kerutan tipis menghiasi keningnya.


“Kok tiba-tiba ayah lupa,” kata Sabda disusul tawa gamang dari bibirnya.


“Siapa? Om biyan atau papa Farhan?” tanya Aundy, teringat di kedai Kayu Manis ada dua pria di sana.


“Itu yang di sininya brewoknya,” Sabda menunjuk pipinya sendiri, yang bersih tanpa bulu.


“Ow, papa Farhan. Iya, kenapa? Yang mau jadi papa sungguhannya Ody kan?” balas Aundy.


“Emang Ody mau punya papa modelan kek dia?” tanya Sabda sedikit protes.


Aundy mengendikkan kedua bahunya, seakan memasrahkan keputusan itu pada Salma. “Ody juga tidak bisa berbuat apa-apa, Yah! Soalnya semalam papa Farhan juga nelpon bunda suruh cepet-cepet balik ke sana.” Aundy berpikir sejenak. “Apa jangan-jangan papa sudah balik ke kedai ya? Dia mau nikah sama Bunda.”


Ucapan Aundy justru membuat Sabda semakin gusar. Ini tidak boleh terjadi! “Jangan begitu, Ody! Kamu harus dukung ayah kembali sama Bunda.”


“Ayah lamban! Papa Farhan juga boleh jadi papa Ody, dia baik juga kok! Sayang sama Ody!”


“Heleh, kamu nggak tahu gimana baiknya ayah tirimu dulu? terus dia nyakitin bunda. Kamu mau bunda menangis lagi?!” kata Sabda, protes. Dia akan jadi pria pertama yang menentang pernikahan Salma dengan Farhan.


Aundy menggeleng. “Ayah ini sukanya menghasut Ody! Pasti deh habis ini, Ody diminta lagi buat merayu Bunda!” omel Aundy, seketika itu juga dia lupa pernah mengalami trauma berat yang membuatnya takut menaiki mobil.


“Ody, bukan ayah lambat Sayang. Tapi Bunda tuh yang enggak mau, dia nunggu restu dulu dari akung mu! Seharusnya, Ody bantu ayah buat bujuk akung.”


Aundy melipat sepasang tangannya di depan dada. Kali ini dia memilih diam, enggan membantu ayah Sabda. Hingga beberapa menit kemudian hanya keheningan yang menghiasi minibus itu. Sebelum akhirnya Sabda bersuara saat merasakan ponselnya bergetar.


“Ody, Ody bantuin ayah dong, ponsel ayah getar nih, siapa tahu telepon dari bunda!” Sabda menunjuk saku kemeja batik yang dikenakan, meminta Aundy untuk mengambil ponselnya.


Gadis itu melakukan apa yang diperintahkan Sabda.


“Siapa?” tanya Sabda, setelah ponsel itu berpindah ke tangan Aundy.

__ADS_1


“Simbah.” Aundy menerima panggilan itu. Dia menyapa pak Ageng dengan ramah. “Hallo, Mbah Kung.”


“Aundy, sayang—kamu lagi sama ayah?” tanya pria di seberang panggilan begitu terkejut mendengar suara Aundy menerima panggilannya.


“Iya, tapi ayah lagi nyetir, Mbah! Jadi dia sedang tidak bisa diganggu!”


Sabda menahan tawa melihat wajah menggemaskan Aundy, perasaan semakin malam, tenaganya semakin full power saja. Melihat wajah serius yang ditampilkan Aundy Sabda segera menepikan mobilnya.


“Ada apa, Yah?” tanya Sabda, sudah mengambil alih ponselnya dari tangan Aundy.


“Kamu sedang bawa Aundy? Apa kamu keberatan jika bawa Ody pulang ke rumah? Sabda—ayah kangen banget sama Aundy.”


Sabda berpikir sejenak, bagaimana bisa dia membawa Aundy pulang ke rumah di saat hubungannya dengan sang ibu sedang tidak baik-baik saja. Apa tidak akan jadi masalah ke depannya? Dia tidak ingin Aundy memiliki kenangan buruk dengan ibunya.


“Ayah, tapi ibu?”


“Sabda, sekali saja! bagaimanapun Aundy itu juga cucuku, mumpung dia ada di Semarang.” Sabda menutup lubang kecil di ponselnya. Berniat mengatakan maksud dan tujuan pak Ageng menelpon.“Ody, apa kamu mau tidur di rumah embah Ageng?”


Aundy terlihat begitu berat untuk menjawab Ya. Seakan enggan untuk menemani sang ayah menginap di sana.


Sabda yang kasihan dengan pak Ageng, menyerahkan ponsel itu ke Aundy. Dia hanya bisa pasrah, membawa Aundy pulang ke mana.


“Hallo, ya Mbah?”


“Aundy, bobo tempat embah ya. Sekali saja!” bujuk pak Arif.


“Apa tidak apa-apa, Mbah? Nanti kalau mbah Bibah marah gimana?”


Pria di seberang sana terpingkal. “Mana bisa, mbah Bibah marah-marah, kan dia takut sama mbah kung. Ya, Sayang—nggak kasihan apa, Mbah ini juga kangen sama Aundy.”


“Iya, iya. Malam ini Ody temani Mbah kakung bobo. Tapi malam ini saja ya!”


"Iya, Mbah tunggu di depan rumah ya."


Setelah panggilan itu terputus, Sabda lekas melajukan mobilnya menuju rumah kedua orang tuanya. Dia terpaksa melakukan itu atas permintaan sang ayah.

__ADS_1


Dan malam ini, mereka bertiga tidur di kamar yang dulu ditempati Salma. Mereka bertiga berbagi cerita sambil menjemput rasa kantuk.


“Dulu, saat umur Aundy belum ada satu bulan. Mbah sering banget bantuin bunda jaga malam. Ody ini sukanya begadang kalau siang bobo, waktu kerjaan bunda Salma selesai Odynya bangun, jadi mbah itu paham gimana lelahnya bundamu.”


“Terus ayah ke mana, Mbah?!” tanya Aundy, sambil melirik Sabda.


“Ayahmu? Heh, dia cuma ngurus pekerjaan saja! Ayahnu pulang setelah kamu udah bisa ketawa.”


Sabda yang mendengar ikut terhanyut dalam kenangan cerita itu. Bibirnya tersenyum simpul mendengar apa yang dibicarakan sang ayah.


“Dulu, bunda juga sempat mau punya adik lagi. Mungkin, karena kelelahan—dedeknya Ody jadi nggak bisa berkembang.”


“Udahlah, Yah. Ceritanya yang seru-seru aja! Nanti Ody ikutan sedih.” Sabda mengingatkan, kehilangan adalah hal terberat dalam hidupnya, dan dia tidak ingin mengingat lagi masa terberat itu.


“Adiknya Ody cewek atau cowok, Mbah?”


“Ya enggak tahu, kan masih kecil banget.”


“Terus—apa ayah juga tahu?!”


“Iya tahu. Makanya ayah tu merasa sudah berdosa banget sama bunda. Ayahmu, tidak ada di saat bunda kehilangan calon adikmu. Ayah Sabda sampai nangis di perantauan, bingung harus berbuat apa, karena tidak bisa juga izin pulang.”


“Ow—“ Aundy menoleh ke arah Sabda. “Tapi, ayah masih sayang bunda, kan? Apa ayah nyalahin bunda karena udah ngilangin calon adiknya Ody!”


“Ayah tidur ajalah! Ceritanya nggak bakal selesai Ody!”


“Ih, Ayah! Tapi Ody penasaran!” rengek Aundy. Protes.


Pak Ageng hanya terkekeh, lalu menceritakan sepenggal kisah masa lalu mengenai hubungan Salma dan Sabda.


Sabda pun, yang tidur membelakangi Aundy, hanya bisa diam, air matanya setetes demi setetes mengalir melalui sela matanya yang tertutup rapat.


Separah itukah dia dulu mengabaikan Salma? ucapnya seiring pak Ageng yang menceritakan mengenai masa lalunya dengan Salma.


Jika dipikir lagi, Sabda merasa tidak pantas mendapat kesempatan kedua dari Salma. Tapi, dia juga ingin menebus segala perbuatan buruk yang pernah dilakukan. Mungkin setelah Aundy tidur dia harus berbicara empat mata dengan pak Ageng.

__ADS_1


__ADS_2