
Orang yang paling kecewa dengan jawaban Salma adalah Bu Deva. Terlebih lagi saat tahu alasan Salma menolak lamaran Farhan. Dia merasa kasihan dengan pria itu, sudah jauh-jauh keluarganya datang dari Malang ke Semarang, tapi lamarannya justru ditolak.
Dan setelah mendengar jawaban dari Salma. Mereka memutuskan untuk pergi berlibur bersama. Selain menghilangkan kecanggungan, Farhan yang baru pertama menginjakan kakinya di kota Semarang, sangat tertarik mengunjungi Lawang Sewu.
Namun, karena Aundy menolak turun karena takut, jadilah mereka hanya singgah di taman bunga celosia. Menuruti Aundy yang ingin pergi ke taman seraya menikmati es krim. Saat tiba di sana bocah itu justru sibuk dengan Farhan. Sedangkan Sabda dan Salma justru asyik berduaan. Sama hal nya dengan pak Arif dan Bu Deva, mereka duduk di tengah-tengah kerumunan bunga yang sedang tumbuh bermekaran.
Seolah sedang merekam setiap momen yang saat ini tercipta. Melihat cucunya terbahak, menyalurkan rasa bahagia dalam hatinya. Gadis itu tampak bahagia di temani orang yang menyayanginya.
Sesekali pandangan Bu Deva tertuju pada Salma. Tak jarang dia mendapati putrinya itu menunjukan senyum lepas yang beberapa tahun belakangan ini tak dilihatnya lagi.
“Salma itu bodoh nya kaya Sampean, Pak!” gumam bu Deva berbicara pada Pak Arif. “Jelas-jelas Farhan mau menerimanya, tapi kenapa justru ditolak. Malah milih Sabda.” raut kecewa terlihat jelas di wajah Bu Deva.
Pak Arif yang duduk di alas tikar, menatap ke arah Sabda dan Salma yang sedang tertawa. “Masalah hati nggak bisa dibohongi. Kamu mau kejadian kemarin terulang lagi. Cukup sekali kita mengatur perihal jodoh Salma. Ini aja kamu masih menyesal sudah menyodorkan Endra padanya. Jadi, untuk kali ini, biarkan Salma melakukan apa yang dia inginkan. Kita sebagai orang tua pasti senang kalau anak-anak kita bahagia, kan?”
“Lah, lya tapi sifat mantane sampean itu loh, menyebalkan sekali. Kayae sengaja mau balas dendam ke Salma.” Bu Deva menggerutu, wajahnya semakin masam.
“Bukan mantan, Bu! one and only you. Dari dulu sampai saat ini cuma Deva di hatiku!” pak Arif terpingkal melihat reaksi istrinya yang seakan jijik dengan ucapannya. Tapi asal wanita itu tahu, dia berkata jujur, selama hidupnya hatinya cuma untuk Deva. Mungkin karena dia terlalu tampan jadi, banyak wanita yang kepincut pada pesonanya. Tak terkecuali Habibah yang dulu berkawan dekat dengan Deva.
Singkat cerita, Habibah merasa ditikung setelah tahu ternyata Deva dan Arif berpacaran. Tapi sungguh, ada rasa penyesalan di hati Arif karena sudah merusak hubungan pertemanan mereka berdua. Itulah hati, nggak bakal bisa dibohongi.
Arif pikir, seiring berjalannya waktu semua sudah terlupakan. Sayangnya, kini Habibah seperti menunjukan perasaan dendamnya kepada mereka dan membalasnya pada Salma.
“Bu, bisakah kita berdamai dengan Ibah? Demi Salma.”
“Bukannya aku sudah ngelakuin itu dari dulu. Tapi semakin dibaikin wanita itu kok semakin nglunjak!”
“Ah, udahlah, emosi kalau aku bahas Ibah! Jangan sampai Salma dengar fakta ini!” bu Deva beranjak, berjalan mendekati Aundy yang sedang bercanda dengan keluarga Farhan.
__ADS_1
Mereka juga terlihat begitu menyayangi Aundy, mengingat bagaimana sosok bu Andini dan pak Eko yang begitu merindukan kehadiran seorang cucu. Sayangnya, sampai detik ini Farhan belum juga memberikan apa yang mereka mau.
“Saya kalau lihat Aundy ini keinget sama menantuku, Mbak. Sayang Allah lebih sayang padanya. Astrid itu wanita baik, tapi umurnya kenapa lebih pendek dari kita.”
Bu Deva mengangguk pelan. Dia belum pernah berada di posisi Bu Andini, dulu dia sama dengan Salma menikah di usia muda, lalu memiliki anak dan sekarang sudah mempunyai cucu. “Insya Allah disegerakan. Nak Farhan orang baik, Allah pasti sudah menyiapkan jodoh yang tepat untuknya.”
"Aamiin, semoga disegerakan!" tak menyangka dua keluarga yang semula tidak saling mengenal itu kini justru berhubungan baik. Tak ada dendam sama sekali yang ditunjukan keluarga Farhan, meskipun Salma sudah membuatnya kecewa.
“Jadi kapan nikahnya Salma dengan mantan suaminya itu.”
Bu Deva hanya tertawa sumbang. “Belum mikir sampai sana, Mbak.” Lalu menatap ke arah Salma yang sedang bermesraan dengan Sabda. “Kita ini kok kayak nganterin orang pacaran ya! Udah yuk, pulang!” ajak Bu Deva mulai tak nyaman dengan situasi saat ini.
“Bentar, Uti. Habis ini, kan papa Farhan nggak ketemu Ody lagi, jadi bentar lagi aja.” Aundy enggan pergi dia masih sibuk bermain tanah liat dengan Farhan.
“Ih, cucuku ini. Puas-puasin deh! Tapi habis ini kamu harus nurut sama Uti ya!” pesan Bu Deva.
“Semuanya, mandi juga!” tambah Bu Deva.
“Di Semarang Aundy jarang mandi juga ya, Bu?” tanya Farhan menggoda Aundy.
“Iya, dua hari sekali baru mandi.”
“Ih, enggak Uti—tadi mandi, kok.” Bantah Aundy, malu.
Bu Deva mendadak terhibur dengan wajah merona yang ditampilkan cucunya. Saat melihat Sabda dan Salma semakin intim, bu Deva merasa tidak terima, dia lekas menghampiri mereka berdua. Bahkan lupa tanpa mengucapkan kata pamit.
“Salma!”
__ADS_1
“Ya, kenapa, Bu?” Salma menoleh ke arah Bu Deva.
“Itu anakmu dijagain, malah ditinggal pacaran!” Bu Deva mengusir Salma dari kursi besi yang kini di duduki.
“Ibu, emangnya Salma masih ABG main pacaran. Kita cuma ngobrol biasa kok!” bantah Salma.
“Udah sana urus anakmu itu!”
Salma menurut, dengan berat hati meninggalkan Sabda. Saat pria itu hendak menemani Salma, bu Deva justru mencegahnya pergi.
“Aku ingin bicara denganmu!” minta Bu Deva lalu mengambil duduk di samping Sabda.
“Ya, boleh, Bu. Silakan saja?”
Bu Deva melihat ke arah Salma. Setelah merasa aman dia mulai bersuara. “Sabda, kamu sadar nggak sih kehadiranmu di kehidupan Salma itu mengganggu pria yang ingin menikah dengannya. Contohnya hari ini, kamu tahu sendiri, kan gimana reaksi Salma dan keluarga Farhan. Aku tu lebih setuju kalau Salma menikah dengan Farhan, terlihat orang tuanya lebih menyayangi Salma dari pada keluargamu.”
Sabda memberikan ruang supaya bu Deva mengutarakan isi hatinya.
“Kamu kalau memang mencintai Salma, harusnya bisa merelakan dia hidup bahagia dengan pria lain. Bukan justru menahannya seperti ini.”
“Saya pernah mencobanya, Bu. Mengikhlaskan Salma menikah dengan Endra. Dan hasilnya apa? Dia sama sekali tidak bahagia.” kali ini Sabda terpaksa menjelaskan takut kelupaan jika tetap membiarkan Bu Deva berbicara lagi.
Bu Deva tampak menelan air liurnya. Fakta, itu fakta yang terjadi di pernikahan ke dua Salma.
“Kami saling mencintai, Bu! hanya saja situasi yang tidak merestui hubungan kami. Tapi, saya ingin mengatakan pada ibu kalau saya enggak akan menyerah.” Sabda menoleh ke arah Aundy yang begitu bahagia duduk dengan Farhan. “Saya akan berjuang, Bu. Ody butuh kasih sayang seorang ayah. Kami bertiga masih menginginkan hidup bersama, jadi mohon restui kami. Bukankah kebahagian anak adalah tujuan ibu?”
“Ya, tapi ibu tidak ikhlas Salma disakiti oleh ibumu. Aku nggak mau putriku jadi ajang balas dendam dari tingkah ibumu Sabda. Sudah cukup! dulu juga saat kamu masih jadi suaminya kamu tidak bisa bersikap tegas. Dan aku yakin, ke depannya pasti akan sama juga.”
__ADS_1
“Maksud ibu apa? Balas dendam?” Sabda mulai berpikir keras, selama ini yang dia ketahui bu Habibah menolak kehadiran Salma karena menurutnya mereka berbeda status sosial. Tapi mendengar perkataan bu Deva, Sabda semakin penasaran. “Jelaskan ke Sabda, Bu! Maksud ibu apa mengatakan seperti itu?” desak Sabda—memohon.