Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 39


__ADS_3

Satu bulan terasa begitu lambat bagi Salma yang diterpa perasaan rindu pada suaminya. Setiap kali merasa waktunya luang, sebisa mungkin mengalihkan dengan kegiatan, demi bisa mengendalikan perasaanya pada pria itu.


Tak beda jauh dengan Sabda, setiap menelepon Salma, pria itu selalu mengeluhkan ingin segera bertemu dengannya. Kata kerinduan terlontar dari bibirnya. Tapi tak juga bisa mengurangi rasa yang di alami. Sampai-sampai, Sabda menjelaskan pada Salma jika lebih baik sakit gigi bisa diredakan dengan ponstan ketimbang rindu yang hanya terobati dengan pertemuan.


Saat itu Salma hanya tertawa, apa yang dikatakan Sabda memang benar adanya. Tapi apa daya, keadaan membuat mereka dipaksa kuat untuk menjalani hubungan jarak jauh.


Meski setiap hari Sabda menelpon. Percayalah ponselnya lebih dikuasai Aundy. Dulu, saat tahu Sabda sudah kembali ke Tabalong, Aundy enggan masuk sekolah. Dia ngambek dan bolos sekolah sampai tiga hari. Sampai akhirnya, setiap pagi wali kelasnya menjemputnya untuk berangkat sekolah. Itu berlangsung sampai dua Minggu setelah kepergian Sabda.


Dan hari ini, sudah tanggal 15. Biasanya Salma akan menstruasi di awal bulan. Tapi sudah pertengahan, yang ditunggu tak kunjung datang. Jadwal mestruasinya memang tak menentu.


Namun, sudah beberapa hari ini dia merasa ada yang berbeda dari tubuhnya. Berulangkali perutnya terasa kram, dia juga menemukan tanda-tanda anemia di tubuhnya.


“Kasih tahu nggak ya?” Salma ingin memberitahu Sabda perihal masalah yang sedang dialami. Akan tetapi, dia juga khawatir pria itu terlalu berharap dirinya hamil. Salma takut hasilnya akan membuat Sabda kecewa. Dia memutuskan untuk kembali meletakan ponselnya.


“Bunda, ayah nggak telepon ya?” tanya Aundy, yang baru saja masuk ke dalam kamar.


Sabda memang ada urusan, katanya mau ngecek rumah yang hendak dibeli. Karena kebetulan pemilik sebelumnya dimutasi ke tempat lain. Jadi mereka menjual beserta perabotnya. Salma berharap rumah itu berjodoh dengannya. Dua Minggu terakhir ini, sudah lima rumah disurvei oleh Sabda dan rumah yang didatangi tidak masuk dalam kriteria pria itu.


“Tidur dulu saja, Sayang! Ayah tadi ada urusan. Mungkin juga sekarang sudah tidur,” minta Salma, karena mungkin Sabda juga ketiduran. Mengingat perbedaan waktu antara Jawa dan Kalimantan Selatan.


“Ya, udah titip salam rindu untuk ayah ya, Bunda. Kita enam minggu lagi ketemu, kan?”


“Iya, insya Allah.” Salma mengecup singkat kening Aundy.


Salma kembali beranjak dari ranjang, berjalan ke arah dapur untuk mengisi botol air minum. Saat melewati kamar Aruni, dia seperti mendengar suara tangisan dari dalam kamar. Salma penataan, dia berhenti di depan pintu, menanyakan kondisi Aruni.


"Aku baik-baik saja kok, Mbak! Biasa korban drakor."


Salma tersenyum simpul, paham juga sih kalau Aruni pecinta drakor. “Okay, tidurlah, Run! Besok kita harus kerja keras.” Salma menggoda, lalu melanjutkan langkahnya ke arah dapur.


Tiba di kamarnya, Aundy sudah terlelap. Aundy sampai tidak berkutik saat ponsel di sampingnya bergetar. Ya, Sabda menelponnya, tepat pukul sembilan malam waktu Indonesia bagian barat.


“Belum tidur?”


“Belum aku baru aja sampai mess.”


“Besok masuk pagi, langsung istirahat aja.” Salma berusaha memberi pengertian, dia tidak ingin mengganggu Sabda, mengingat pekerjaannya penuh resiko.

__ADS_1


“Ody udah tidur, Yang?” Sabda tidak menggubris perintah Salma.


“Iya, tadi nungguin. Baru aja dia tidur. Dia titip salam rindu buat kamu.”


“Sebentar lagi kita bakalan sama-sama terus! Sabar ya, Sayang. Selangkah lagi!” kata Sabda berusaha menghibur.


“Ya, tenang aja. Aku bakal sabar kok.” Salma berjalan keluar kamar, menjauh dari Aundy supaya suaranya tidak menganggu gadis itu.


Tiba di kursi yang ada di teras samping dia kembali bertanya pada Sabda. “Jadi gimana rumahnya, cocok nggak?”


“Sayang, rumahnya ada di lingkungan perumahan, takutnya Ody nggak betah soalnya nggak banyak anak kecil kaya di Jawa.”


Salma merespon dengan tawa kecil. Salut dengan Sabda yang begitu memperhitungkan dari segala aspek, bahkan dulu ada yang sudah cocok tapi batal dibeli karena jauh dari lokasi pasar.


“Kalau Mas Sabda cocok nggak?”


“Aku sih cocok, dekat dengan rumah sakit, swalayan, sekolah. Pasar juga cuma tiga kiloan meter, ke jalan raya sekitar lima puluh meter jadi bisa jalan kaki kalau mau berangkat kerja.” Bus karyawan tambang akan lewat di sepanjang jalan utama jadi itu akan memudahkan Sabda berangkat kerja.


“Perumahannya padat nggak?”


“Lumayan. Udah banyak tetangganya, aku lihat sekilas juga bersih.”


“Nanti aku kirim foto ya!”


“Besok aja, nggak papa, mas Sabda istirahat dulu.”


“Aku harus dapat rumah dulu Sayang—baru bisa berkurang kesibukanku. Palingan banyak tidurnya besok, soalnya cuaca beberapa hari ini sedang buruk. Hujan terus.”


“Ya udah terserah.” Salma pasrah, keduanya saling bertukar cerita tentang kejadian yang dialami hari ini. Berulangkali Salma menahan bibirnya supaya tidak mengatakan pada Sabda. Jika dirinya terlambat datang bulan.


Hampir tiga puluh menit mereka mengobrol melalui panggilan suara. Sampai akhirnya, Sabda izin untuk istirahat karena sudah mengantuk.


Salma pun mengizinkan, namun saat tiba di dalam kamar kamar, pesan Sabda kembali hadir. Pria itu mengirimkan gambar foto rumah yang tadi dikunjungi.


Ayah Ody : Menurutku bagus, sih, Sayang. Tapi, aku nurut ke kamu aja. Mungkin tinggal dikasih kanopi aja bagian depan buat parkir mobil, kalau misalkan nanti kebeli.


Salma mengamati beberapa foto yang dikirim Sabda. Rumah sederhana dengan cat warna hijau muda. Berisi tiga kamar dan dua kamar mandi.

__ADS_1


Salma : Kalau memang cocok ambil aja, Mas. Masalah Ody pelan-pelan pasti juga akan banyak teman. Kamu lupa kalau di sini teman Ody hanya Biyan dan Aruni?


Ayah Ody : Okay deh, besok aku akan bicarakan lagi sama pak Samsul. Dia minggu depan sudah pindah soalnya. Khawatir juga kalau keduluan orang lain. Soalnya nyari rumah harga segitu agak susah. Kalau mau bangun, makin lama juga kita ketemunya.


Salma mengirim sticker tanda setuju. Tidak ada balasan apapun dari Sabda. Padahal pria itu masih online.


Salma : Mas!


Ayah Ody : Ya, Sayang ❤️


Salma memejamkan mata, memantapkan lagi keputusannya. Saat matanya terbuka dia mengetik pesan dengan gerakan cepat.


Salma : Aku telat.


Ayah Ody : Udah testpack?


Memang beda ya, ngasih tahu pada orang yang sudah berpengalaman dikirimi gitu pun sudah langsung nyambung.


Salma : Belum.


Ayah Ody : Testpack dong!


Salma : Takut hasilnya mengecewakan.


Ayah Ody : Ih, setidaknya kalau tahu hamil, kamu kan jadi lebih mawas diri.


Salma : Kayae nggak. Nggak ada tanda-tanda tek-dung kok.


Ayah ody : Besok pagi setelah pulang mengantar Ody mampir ke apotik beli testpack. Hasilnya kirim aku ya!


Salma berpikir sejenak sebelum membalas pesan Sabda.


Ayah Ody : Okay?


Salma menyesal sudah memberitahu Sabda perihal dirinya yang terlambat datang bulan. Tahu gini tadi dia testpack dulu, baru memberitahu hasilnya pada Sabda.


Salma : Okay. Tidur ya, Mas. Aku juga udah ngantuk.

__ADS_1


Ayah Ody : Siap Sayang❤️


__ADS_2