
Mobil yang ditumpangi Salma beserta keluarganya mulai meninggalkan area taman. Matahari masih terasa menyengat sore itu, cuaca hari ini sedang baik, sama hal-nya dengan suasana hati Sabda yang berbanding terbalik saat sebelum berangkat.
Saat ini, jari-jarinya terpaut manis di sela jemari Salma yang duduk di sampingnya. Pria itu enggan berjauhan dengan Salma. Seolah khawatir Farhan akan menculik calon istrinya itu.
Sepanjang tiga puluh menit mobil melaju, Sabda tak henti mengeluarkan kalimat bujukan. Dalam hatinya ingin segera meresmikan hubungannya dengan Salma.
“Ayolah, besok kamu harus balik ke Kulonprogo, kan? dari pada mondar-mandir bukankah hari ini lebih baik.”
Tidak ada respon yang diberikan Salma, Sabda kembali bersuara. “Cutiku tinggal empat hari lagi loh. Habis itu nggak ada waktu buat kita ketemuan.”
“Mas Sabda, jangan buru-buru gini. Kalaupun kamu harus kembali ke jobsite, kita bisa menikah saat kamu pulang cuti periode berikutnya, santai saja aku bakal sabar nungguin kamu, kok.”
Wajah Sabda terlihat kecewa. Dia sudah tidak sabar membawa Salma tinggal bersamanya. Apalagi bayangan setiap hari diurusi oleh Salma, pasti akan sangat menyenangkan.
“Gini loh, Sayang—kalau kita menikah saat cuti periode ini, itu akan lebih baik. Karena rencanaku, cuti depan aku mau bawa kamu ke sana, dan itu butuh persiapan banyak, aku bakalan sibuk nyiapin tempat tinggal kalian dulu, belum lagi sibuk dengan pekerjaan?” Sabda berusaha mencari alasan.
“Sesuatu yang buru-buru itu tidak baik, Mas Sabda!”
“Tapi, niat baik kan nggak boleh ditunda-tunda.”
“Udah-udah jangan debat terus, panggil ayahmu ke rumah!” pak Arif yang diam-diam mendengar keributan mereka berdua menyela.
“Tuh Pak Arif aja udah nggak sabar!” bisiknya di samping telinga Salma, dia sengaja menggoda.
“Pak, Bapak yakin? Sabda nggak maksain Bapak, kan?”
“Sedikit sih!" jawab pak Arif. "Bapak khawatir melihat tingkahnya yang nggak mau jauh dari kamu, bapak tertekan dan takut kamu hamil di luar nikah.”
“Bapak! Ada-ada aja, deh!”
__ADS_1
“Betul tu, Pak! Sabda juga takut khilaf.” Sabda membenarkan ucapan pak Arif, meski sejujurnya dia tidak akan melakukan hal di luar kendali sebelum mereka benar-benar sah menjadi pasangan suami istri.
"Jadi, saya boleh panggilan ayah buat ke rumah nih pak?" tanya Sabda memastikan lagi.
"Ya, suruh dia datang ke rumahku!" pak Arif menjawab seraya menepuk pundak Salma.
Mendengar jawaban pak Arif, Sabda sibuk menelepon pak Ageng. Supaya nanti, ketika mereka tiba di rumah pak Arif, pak Ageng sudah tiba di sana.
Di sisa perjalanan, Salma meminta tukar tempat dengan sang ibu dia memilih duduk di bangku paling belakang bersama pak Arif. Dia bertanya detail mengenai kesungguhan pak Arif yang hendak menikahkan dia dengan Sabda.
Sedangkan Bu deva yang duduk di samping Sabda, mewanti-wanti calon menantunya itu, usai melihat Sabda selesai dengan panggilan teleponnya. “Masalah rumah tangga itu akan datang silih berganti, Sabda. Kalau bisa setiap ada masalah bicarakan baik-baik!” ucapnya.
“Iya, Bu. Maaf kalau dulu kesannya Sabda ninggalin Salma. Tapi jujur Sabda berniat menyelesaikannya setelah kembali lagi ke jawa. Tapi, Sabda salah prediksi—Salma justru mengajukan perceraian ke kantor agama.”
Bu Deva menoleh ke arah belakang. “Kamu juga, Sal! Jangan gegabah, ibu nggak mau ya lihat kamu salah mengambil keputusan! Dan lagi untuk Bu habiba—
“Tenang saja, Bu. Sabda akan mengurusnya!” sela Sabda, tidak ingin calon mertuanya itu terlalu memikirkan ibunya.
Sabda mengangguk, lalu menghambur ke pelukan bu Deva. Dia seperti menemukan kehangatan dari kasih sayang seorang ibu yang beberapa tahun ini sirna dalam hidupnya.
Mobil yang mereka tumpangi tiba di rumah pak Arif. Farhan melaporkan jika Aundy yang sedari tadi ikut di dalam mobilnya masih terlelap. Dia tidak tega jika harus membangunkan gadis kecil itu.
Sabda yang tidak ingin Farhan masuk ke kamar Salma, lekas menggendong Aundy dan membawanya masuk ke dalam rumah.
“Salma, pak Arif—ibu, Farhan langsung balik ke Malang saja.”
“Nggak mau minum teh dulu, Nak? Kasihan ibu dan bapakmu pasti kelelahan.” Bu Deva mencoba menahan kepergian Farhan.
“Tidak perlu, Bu. Kebetulan tadi Farhan mendapat telepon masuk, ada masalah yang harus Farhan selesaikan.”
__ADS_1
“Oh, ya sudah. Hati-hati ya Nak Farhan. Jangan sungkan untuk main-main ke gubuk kami. Ibu akan selalu berdoa yang terbaik untukmu.” Bu Deva menepuk lengan Farhan.
Farhan tersenyum simpul. “Terima kasih, Bu.”
“Ati-ati, Mas!” timpal Salma yang dijawab anggukan kepala oleh Farhan.
Mereka bertiga menunggu mobil milik Farhan menjauh dari lokasi rumah pak Arif. Belum juga mobil itu melesat jauh, ada mobil lain yang berhenti di depan rumah.
Saat pintu mobil itu terbuka, terlihat pak Ageng keluar dari mobil warna putih. Pria itu terlihat begitu sigap dan rapi dengan busana batik yang melekat pas di tubuhnya. Rambutnya tampak klimis, aroma parfum langsung semerbak menusuk indra penciuman Salma. Wanita itu lekas mendekat, dan mengecup punggung tangan calon mertuanya. Dengan basa-basi menanyakan kabar.
Salma merasa lega melihat dua bapak-bapak itu saling melemparkan pelukan. “Maaf, aku nggak bisa membawa ibunya Sabda—tapi percaya pada ku dia tidak akan berani menyakiti Salma lagi. Aku dan Sabda yang akan menjaga Salma dan Aundy.”
“Dibawa masuk tamunya, Pak. Biar ibu siapin makanan dulu.”
Pak Arif mengangguk, tapi tak juga membawa pak Ageng masuk ke dalam rumah. Dia justru membiarkan istrinya berlalu lebih dulu.
“Jadi apa benar, Sabda akan menikah hari ini?” tanya pak Ageng. Akan sangat malu, kalau dia salah menangkap informasi yang di sampaikan Sabda. Pak Ageng melirik ke arah Salma saat tak kunjung mendengar jawaban.
“Apa tidak terlalu buru-buru, Pak?” tanya Salma. “Kita sendiri minim persiapan.”
“Aku rasa tidak, Salma. Sabda sudah menyiapkan semuanya kok. Syarat nikah kan sudah lengkap ada mempelai, mahar, sama wali. Jadi ngapain ditunda lagi?”
Salma semakin pusing, mendengar jawaban itu. Sepertinya pak Ageng juga sehati dengan Sabda yang ingin segera meresmikan hubungan mereka.
“Masuk dulu! kita bisa bicarakan ini di dalam.”
Pak Arif menuntun mereka untuk masuk ke dalam rumahnya. Mengingat sebentar lagi akan memasuki waktu Maghrib. Selain itu nggak baik juga kalau obrolan mereka sampai didengar tetangga.
Setelah berunding lama di dalam rumah pak Arif. Akhirnya, mereka sepakat untuk melaksanakan akad nikah setelah salat isya di masjid yang paling dekat dengan rumah pak Arif.
__ADS_1
Salma harus menyerah, dia tidak bisa mencegah keinginan Sabda yang ingin kembali memilikinya.