Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 21


__ADS_3

Sabda tidak memaksakan Aundy untuk melakukan perjalanan jauh menggunakan mobil. Mengingat apa yang dilakukan akan memperburuk kondisi putrinya.


Namun, diiming-imingi oleh harapan besar, tentu saja gadis berusia hampir delapan tahun itu enggan menolak. Aundy terlihat begitu antusias saat dia mengatakan hendak pergi ke Semarang.


Meski kenyataan yang terjadi, tubuh Aundy berubah kaku begitu memasuki mobil. Sepasang tangannya menggantung mesra di leher Salma, enggan terlepas. "Ak—aku mau duduk di pangkuan Bunda," pinta Aundy supaya Salma tetap memangkunya.


"Iya, Sayang. Tidurlah, supaya nanti ketika membuka mata, kamu sudah melihat uti dan Akung," kata Salma, menghibur.


Butuh waktu hampir tiga puluh menit, Aundy mau duduk dengan rileks di samping Salma. Sabda yang duduk di balik stir kemudi berusaha menyalakan lagu kesukaan gadis itu. Supaya Aundy juga lupa dengan kejadian yang pernah menimpanya.


Bak sopir pribadi yang mengangkut majikannya, Sabda berusaha melirik ke arah mereka berdua yang duduk di bangku bagian belakang. "Mau isi perut dulu, Sal?!" tawarnya.


Salma menggeleng. Menolak. Sejujurnya kondisinya belum begitu vit. Tapi demi menghadiri pernikahan Panji dia rela jauh-jauh pulang ke Semarang.


"Aku mikirin suasana di rumah. Bu Habibah enggak akan datang dan merencanakan hal buruk untuk keluargaku, kan? Atau dia akan mengacak-ngacak pesta. Berniat mencarimu yang kabur dari rumah!"


"Ibu sama sekali tidak tahu mengenai berita ini, Sal! Kalau sampai mereka mendatangi rumah pak Arif. Biarkan aku yang menjadi pelindung keluargamu. Aku janji, demi kamu dan Ody."


Salma berusaha tenang, meski timbul rasa takut yang luar biasa di pikirannya. Perlahan rasa kantuk yang menyerang membuatnya terlelap dengan kepala bersandar di jendela pintu. Dia menyusul Aundy yang sudah terlelap lebih dahulu.


Sedangkan Sabda, berusaha terjaga—fokus ke arah jalanan menuju kota Semarang. Meski rasanya butuh teman ngobrol demi mengusir kantuk yang mendadak hadir.


Sabda menyerah, dia menghentikan sejenak laju mobilnya di warung makan pinggir jalan. Dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya yang sudah dikuasai rasa kantuk, berharap dengan menyesap secangkir kopi hitam tenaganya bisa pulih kembali.


Sabda turun seorang diri, membiarkan Salma dan Aundy berada di dalam mobil. Kasihan jika harus membangunkan Salma mengingat kondisinya yang masih belum sepenuhnya pulih.


Sabda juga menyempatkan diri untuk istirahat sejenak di dalam mobil, berniat ingin sebentar saja memejamkan mata. Belum lama, kira-kira sepuluh menit dia terlelap, Salma justru terbangun. Wanita itu menanyakan menanyakan keberadaan mereka saat ini.


"Kenapa berhenti, Mas? mobilnya mogok ya?" protes Salma, menyadari tak mengenali jalanan yang mereka lalui saat ini.

__ADS_1


"Em, bukan—aku hanya kesulitan menahan kantuk. Dari pada terjadi sesuatu lebih baik istirahat dulu!" Sabda menjawab dengan setengah berbisik, khawatir menganggu Aundy yang masih terlelap. "Capek?" tanya Sabda seraya mengulurkan air kemasan kepada Salma.


Salma menggeleng pelan. "Ini jam berapa?"


"Jam satu. Kita baru satu setengah jam perjalanan."


Salma paham, setiap kerja masuk malam Sabda memang memiliki jam istirahat satu jam. Rutinitas yang dia lakukan, seakan membuatnya terbiasa akan hal itu.


"Capek? Sandarin dulu aja kursinya. Kita bisa lanjutin kalau tenagamu udah pulih!" saran Salma.


Sabda melakukan apa yang diucapkan Salma, membuat posisi kepalanya kini semakin dekat dengan wanita itu. "Nggak berniat mijitin aku, Nyah?"


"Nggak, aku juga mau tidur!" Salma mengambil posisi senyaman mungkin. Tapi, melihat posisi Sabda yang terlihat gelisah, dia tidak tega. Dengan lembut sepasang tangannya memberikan pijatan halus di bahu pria itu.


"Bayangin deh, Sal! Setiap hari aku diginiin sama kamu pasti bahagia banget, deh!"


"Apaan sih, jadi badmood deh!"


"Lebay, ih!" Cibir Salma. "pernikahan gak seindah bayangan, kan, Mas Sabda!? Kita pernah ngalamin menikah berdua. Faktanya, kita cuma ketemu tiga bulan sekali, itu pun di saat kamu cuti selalu ninggalin aku. Kamu yang lebih sering ngumpul dengan teman-teman! Dan aku ditinggalin di rumah sendiri, pulang-pulang bangunin aku minta jatah! Pernah aku mikir, kok kayae aku tuh dijadikan pelampiasan naf su aja sama kamu?"


"Amora Salmadani. Gimana mau ngajak kamu ngumpul sama anak-anak, tahu-tahu aja perut kamu sudah gede. Nggak tega lihatnya! Dan main sama mereka, kamu tahu sendiri gimana roster kerjaku di sana kaya apa. Waktuku main juga cuma saat cuti. Dan apa tadi? Sebagai pelampiasan naf su? Eh, Nyonyah Sabda! Ingat nggak sih, aku sering berhenti di tengah jalan gara-gara kamu ngeluh perih. Bukannya kebalik ya, aku dahuluin kamu capai ******* baru aku terpaksa main sendiri di kamar mandi!"


Wajah Salma yang semula cerah kini berganti murung. Ya, yang diucapkan Sabda memang benar. Salah sendiri pria itu yang tak pandai melakukan foreplay.


"Aku tahu banyak kesalahan yang udah kulakuin selama kita menikah. Dan aku berniat memperbaiki pelan-pelan. Aku menyesal sudah melakukan kesalahan itu, Sal!"


Sabda mendongak, meneliti wajah Salma, sedangkan pundaknya masih merasakan pijatan lembut yang semakin tak terasa menurutnya.


"Boleh minta kiss bentar sebelum lanjut perjalanan!" pinta Sabda.

__ADS_1


"Enggak boleh. Aku nggak mau kejadian pagi itu terulang lagi!"


"Dikit aja, nempel doang. Setelah itu udah!" bujuk Sabda.


"Nanti Ody bangun. Udah Sana! Fokus mengemudi!" perintah Salma. Mendadak canggung merasakan situasi semakin hening, seakan mendukung apa yang diminta oleh Sabda.


Dengan sedikit tarikan, tangan Sabda berhasil mendekatkan bibir Salma ke arah bibirnya. Sedikit kesusahan untuk memberikan lu matan di bibir wanita itu, mengingat posisi mereka berdua yang kurang mendukung. Meski begitu Sabda bersyukur bisa menikmati sejenak bibir manis itu, ibaratnya aroma yang disebar oleh bibir Salma berhasil mengusir kantuk yang sejak tadi menyita perhatiannya. Sebelum akhirnya Sabda menjauhkan bibirnya dengan perlahan, akibat urat lehernya terasa pegal.


"Salma, kalau ayah dan ibu nggak ngasih restu kita buat menikah lagi. Apa kamu beneran nggak mau berjuang sekali lagi untuk hubungan kita."


"Enggak mau. Aku yakin mereka memiliki alasan kuat dibalik penolakan itu. Mungkin, karena kamu tidak serius denganku! Kamu tahu bapak dan ibu bukan orang yang sulit ditaklukan!"


Sabda paham akan hal itu. Tapi, untuk berhadapan langsung dengan pak Arif, kok rasanya begitu menyeramkan. "Terus aku gimana? Kalau nggak mau berjuang denganku?Masak kamu tega biarin aku jomblo seumur hidup. Kamu enak sudah ada kandidat lain, selain aku! Masih ada Endra dan Farhan. Nah, aku! Item dekil kaya gini mana ada yang mau."


"Endra sama mas Farhan. Mereka juga bukan pria masa depanku. Sejujurnya aku mengharapkan kita benar-benar sampai akhir. Tapi aku juga nggak bisa melakukannya jika mereka menolak hubungan kita."


"Ya, udah deh. Kalau ibu dan bapak menolak, semoga masih ada kesempatan lagi untuk meluluhkan hati mereka."


"Udah, ayo! Aku udah nggak sabar buat ketemu mereka."


"Hm ... Kamu pindah ke depan dong, temenin aku ngobrol. Lumayan kan, buat tambah-tambah ngusir kantuk!" minta Sabda.


Dengan berat hati Salma menuruti ucapan Sabda. Dia turun dan duduk di samping bangku kemudi. Menemani pria itu.


Perjalanan masih cukup panjang, kurang lebih dua jam menempuh perjalanan, mereka baru memasuki kota Semarang. Dan selama itu pula, keduanya berbincang tiada henti. Rasa kantuk yang mendera Sabda pun lenyap saat wanita di sampingnya terus saja berceloteh.


Mereka seakan sedang mengulang memori yang telah lalu. Di mana keduanya terlibat dalam studytour ke kota Bandung. Tepatnya ketika keduanya sama -sama naik ke kelas dua.


Tepat saat adzan subuh berkumandang, Sabda berhasil menghentikan mobilnya di depan rumah pak Arif. Bu Deva terlihat begitu terkejut melihat keberadaan Salma di depan rumah.

__ADS_1


Ekspresi Bu Deva langsung berubah saat melihat Sabda turun dari mobil. Dia ingin sekali mengusir pria itu, tapi keberadaan Aundy yang nyaman dalam gendongan Sabda membuat Bu Deva berupaya keras menahan amarahnya.


__ADS_2