Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 6


__ADS_3

“Tapi aku enggak suka, apa yang menjadi milikku dinikmati oleh wanita lain! Kamu paham itu sejak dulu, Sabda!” Salma berusaha melepas rengkuhan kuat yang dilakukan Sabda, tapi semakin dia berontak, tulang-tulangnya semakin terasa ngilu. Sabda tak sedikitpun memberinya kesempatan untuk terbebas.


“Maaf. Kalau begitu aku minta maaf,” kata Sabda, lembut.


“Memberimu maaf sudah dari dulu Sabda. Tak ada gunanya menyesali sesuatu yang sudah terjadi. Tapi untuk memberimu kesempatan kedua aku tetap tidak bisa! Aku takut, suatu hari nanti keadaan akan mendorongmu untuk melakukan lagi. Atau bahkan bisa lebih parah dari hari itu.”


Sabda bergeming, tanpa dia sadari air matanya jatuh membasahi pipi. Buntu, dia tak menemukan jalan supaya mereka bisa kembali bersama.


“Tolong lepaskan!” Begitupun Salma, dia mati-matian menahan air matanya supaya tidak gugur. “Lepaskan aku, Sabda!”


“Enggak, aku ingin tetap begini!" Sabda justru nekad meletakan kepalanya di bahu Salma. "Tolong katakan padaku apa yang harus kulakukan supaya kamu bersedia kembali padaku, Sal. Aku masih mencintaimu.”


Salma tidak menjawab, dia ingin segera pergi untuk menjemput Aundy sekolah, karena kebetulan hari ini dia pulang pukul satu siang. “Lepaskan, aku harus pergi, Sabda!” sentak Salma, meski sudah sekuat tenaga mengeluarkan kekuatannya, tenaganya tetap saja kualahan dengan Sabda.


“Kalau panggilanmu belum ada Mas nya. Berarti kamu masih menyimpan dendam sama aku." Sabda mengingatkan. "Kenapa? Sebenarnya apa salahku, kenapa minggat jadi solusi terakhirmu sih, Salma?! Dulu juga kamu pulang ke rumah pak Arif, menghindari masalah dengan ibu. Dan kamu tahu hasilnya bukan menyelesaikan tapi justru menambah masalah kita. Buktinya kamu semakin salah paham dengan hubunganku sama Regina. Dan kamu mengulanginya, pergi ke tempat ini, sekarang justru semakin parah nuduh aku udah nikah sama Hani! Kamu misahin Ody sama aku, kamu tutup akses tanggungjawabku terhadap anak kita. Mana janjimu yang katanya akan sama -sama jadi orang tua yang baik untuk Ody. Bisa enggak sih, kita bicarakan ini baik-baik dan cari solusi bersama. Masalah enggak akan menjadi rumit kalau kamu ada dan percaya sama aku. Dan lagi, masalah ketakutanmu kalau aku akan selingkuh—lawan rasa takutmu itu, Sal! Itu nggak akan terjadi, sampai kapanpun kamu akan ada di hatiku. Dari dulu sampai saat ini, aku nggak pernah mikirin mencintai wanita lain selain kamu. Bahkan, aku sudah pernah berpikiran jahat—berharap pernikahanmu dengan Endra tidak bahagia dan aku bisa kembali lagi padamu.” Sabda berkata panjang lebar, dengan hati tenang, berharap apa yang dikatakan sampai juga ke Salma.


Air mata Salma yang sedari tadi ditahan akhirnya turun membasahi pipi. Pertahanannya runtuh saat seseorang menjelaskan semua sikap buruk yang pernah dilakuin.


“Kasih aku kesempatan buat nunjukin ke kamu kalau aku sungguh-sungguh. Waktuku tidak banyak—aku harus kembali bekerja lagi.” Sabda memohon.


Salma mengeringkan air matanya dengan tangan. Lalu memutar tubuhnya menghadap Sabda. Kemudian membalas pelukan pria itu, sama eratnya, dia menumpahkan tangisnya di dada bidang mantan suaminya.


“Kita nikah lagi?” celetuk Sabda, sambil mengusap rambut Salma. Ada perasaan lega saat Salma mau memeluknya lagi, sepertinya sinyal baik mulai memancar di sekitarnya.

__ADS_1


“Enggak. Aku belum mau kembali sama kamu—tapi aku memberikan kesempatan sama kamu untuk nunjukin seberapa besar keinginanmu itu.” Salma memejamkan mata erat—berharap keputusannya ini tidak salah.


“Terima kasih untuk kesempatannya, aku janji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.” Sabda berkata dengan sungguh-sungguh.


Pelukan Salma langsung terlepas saat Sabda berusaha menci um bibirnya. “Dasar, baru aja dikasih lampu hijau udah nyosor aja! Mau aku tarik lagi kesempatan itu?!” ancam Salma membuat Sabda tersenyum simpul.


“Aku harus pergi.” Salma melepas pelukan Sabda lalu berjalan menuju kedai kopi Kayu Manis.


Sabda setia menemaninya, berjalan sejajar di samping kanan tubuh Salma. Sayangnya, justru saat inilah—dia merasa kehabisan topik pembicaraan. Situasi canggung kian menerpa, membuat keduanya seakan memiliki jarak yang begitu jauh.


Hingga tiba di kedai, Salma lekas mendekati Aruni. “Mas Farhan di mana, Run?” tanya Salma.


“Ada di lantai atas, Mbak.” Aruni menatap Sabda, dia masih ingat aksi yang dilakukan Sabda tadi pagi, yang nekad nyelonong masuk bak maling.


Alih-alih pergi, Sabda justru berniat menunggu Salma. “Dia mau ke mana?” tanya Sabda pada Aruni yang sibuk menatap layar.


“Situ nanya saya?”


“Apa ada makhluk lain selain Anda.” Sabda membalas sama ketusnya.


“Itu banyak! ada ikan di aquarium, ubur-ubur di sana.” Aruni menunjuk hamparan pasir pantai.


“Menyebalkan!”

__ADS_1


“Ini sudah jam setengah satu, tentu saja pergi ke SD Negeri Palapa. Lagian, kalau mau deketin wanita. Minimal tahu lah statusnya! jangan asal-asalan.”


“Jemput Ody?”


Aruni tampak terkejut mendengar nama Ody disebut oleh Sabda. Mendadak ingat dengan ucapan Salma. Hanya keluarga yang biasa menyebutnya Ody. Awalnya, panggilan dari ayahnya untuk dia. Tapi semakin ke sini, semakin enak, karena singkat dan gampang diingat.


Saat Aruni hendak melemparkan pertanyaan Sabda sudah berlalu meninggalkan kedai. Dia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk mengejar Salma. Sayangnya, dia tidak menemukan Salma. Jadi mau tidak mau dia bertanya pada GMap letak SD N Palapa.


Setelah ketemu, Sabda segera menuju lokasi tujuan. Sampai sekitar dua puluh menit melajukan mobilnya, Sabda menemukan titik lokasi SD Negeri Palapa. Tepat saat itu juga anak-anak tengah berhamburan keluar. Mencari keberadaan orang tuanya yang datang untuk menjemput.


Sabda lekas turun, mencari keberadaan Salma dan Aundy. “Di mana Salma? Apa tadi sengaja menjemput Ody lebih awal,” gerutu Sabda, saat tak kunjung menemukan Aundy. Mendadak ragu dengan ucapan Salma yang ingin memberinya kesempatan kedua. Dia khawatir itu hanya trik Salma supaya lepas dari pelukannya saja.


Sabda berusaha membuang pikiran jahatnya itu. Matanya terus mengamati setiap gadis yang keluar melewati pintu gerbang.


Tak lama kemudian pandangannya jatuh pada gadis yang kini sibuk menundukan kepala, seakan tengah menghitung seberapa banyak langkah kakinya.


“Ody!” teriak Sabda, lantang.


Aundy tolah toleh, mencari seseorang yang tadi memanggilnya. Dia tidak akan pernah lupa warna suara itu. Tapi sayang, dia merasa terlalu merindukan sosok ayah Sabda, hingga bisa berhalusinasi seperti ini. "Ayah, apa kamu sama tidak berusaha mencari Ody?" ucapnya dalam hati. Dia tidak ingin Salma mendengar apa yang selama ini diimpikan olehnya.


Sabda sendiri masih terpaku, memikirkan seberapa lama waktu yang sudah dia buang. Karena kini, dia melihat Aundy yang sudah tumbuh besar. "Kenapa waktu cepat sekali berlalu?" gumamnya seraya melanjutkan langkahnya. Sabda berlari kecil, menghampiri Aundy. "Ody!" panggilnya lagi. Lalu memeluk tubuh gadis kecilnya, membuat gadis itu memberontak karena terkejut atas tindakan Sabda yang tiba -tiba.


“Ayah!” gumam Aundy.

__ADS_1


__ADS_2