Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 54


__ADS_3

"Hallo, Yah—assalamu'alaikum ...." Untuk pertama kalinya, setelah dua bulan Sabda tidak menghubungi pak Ageng. Akhirnya hari ini dia menghubungi Sang Ayah yang kini berada di Semarang. Lain halnya dengan Salma yang nyaris setiap hari menelpon mertuanya. Tiga hari saja Salma tidak menelpon, maka pihak pak Arif yang akan menelpon, mereka bilang rindu dengan Aundy.


  "Wa'alaikumsalam, Sabda. Gimana kabarmu? Kok udah lama nggak ngasih kabar ke ayah?"


  Suara di seberang sana terdengar protes. Bukan apa-apa tapi jujur Sabda masih kesal dengan sikap sang ibu. Dia khawatir tidak bisa meredam amarahnya. Dan melemparkan cacian ke ibu, dia tidak mau bersikap kasar pada ibunya.


  "Alhamdulilah sehat, Yah. Salma dan Ody juga sehat kok, mereka betah di sini. Ody tambah gendut, berat badan Salma naik dua kilo, wkwkwkw." yang ada hanya rasa bahagia ketika Sabda menceritakan sosok wanita yang dicintainya itu.


  "Syukurlah kalau begitu, Nak, itu yang ayah harapkan. Kalian bisa hidup bahagia dan saling melengkapi kekurangan kalian."


  "Aamiin, semoga Sabda akan selalu begini, Yah. Ayah jangan khawatir—Sabda udah bahagia kok. Ayah sendiri gimana? Ibu sehat kan? Ibu sudah bahagia kan?"


  "Ibu sehat. Ya, begitulah ibumu, Nak!" Terdengar suara batuk dari seberang sana.


  "Ayah sakit?" tanya Sabda. Dari suara batuknya sang ayah sedang tidak baik-baik saja.


  "Enggak, tadi ada Tejo ngangkut katul!"


  "Mikirin apa sih,Yah? Sabda kan sudah bilang berulangkali supaya jangan terlalu bekerja keras. Santai saja kerjanya, kan juga milik sendiri. Udah nggak ada tanggungan juga, kan?!"


  Pria di seberang terkekeh, lalu berdecak pelan. "Ada banyak pegawai yang menggantungkan nasibnya pada usaha kita Sabda. Ayah juga harus bekerja keras, supaya bisa meninggalkan sesuatu untuk kalian!"


  "Udah berulangkali Sabda jelasin sama ayah, kalau aku bisa mencari sendiri. Ayah nggak perlu mikirin Sabda, Ayah cukup menikmati masa tua saja!"


  Hanya kesunyian yang menyapa indra pendengaran Sabda. Cukup lama hening mengudara, sebelum pak Ageng kembali bersuara saat mendengar suara keributan dari alat berat.


  "Kamu lagi di tambang ya? Sebenarnya Ayah kangen sama Aundy," ungkap pak Ageng.


  "Iya, Yah. Ini Sabda lagi istirahat. Nanti malam ya, biar aku telpon lagi."


  "Sabda, sering-seringlah mengirim foto Aundy, setidaknya bisa mengobati kerinduan ayahmu ini!"


  "Iya, Yah. Kalau ada sesuatu terjadi, telpon Sabda ya, Yah. Mungkin Sabda bisa bantu ayah."


  "Iya, nggak usah khawatir. Di sini aman terkendali."

__ADS_1


  Rupanya pak Ageng benar-benar menjaga perasaan Sabda. Padahal dia baru saja mendapat kabar dari Rendy kalau sang ayah baru saja kena tipu puluhan juta yang membuat toko berasnya sedikit meredup. Tapi entah kenapa pria itu tidak menceritakan kerugian itu padanya.


  "Sabda, ibu mu enggak lagi berani menghubungi Salma, kan? Ayah khawatir dia akan merecoki hidup kalian lagi."


  "Sejak hari itu, ibu belum menghubungi Salma lagi kok Yah. Mungkin kesal juga sama Sabda yang tidak menelponnya."


  Mereka ngobrol di telepon cukup lama. Pak Ageng sama sekali tidak menyinggung perihal usaha beras yang sedang dikeluti. Dia justru membahas ingin menjual mobil, supaya uangnya bisa digunakan Sabda untuk membeli mobil di Tabalong. Tentu saja Sabda menolak. Dia memang memiliki niat untuk membeli mobil, dia dan Salma sedang berusaha mengumpulkan uang. Tapi, untuk menerima bantuan dari orang tua, Sabda sama sekali tidak mau.


  Hampir tiga puluh menit mengobrol dengan pak Ageng, Sabda kemudian berpamitan, mengingat jam istirahat akan segera habis, dan dia belum menyentuh nasi kotak, jatah makan siang.


Sebelum membuka nasi kotaknya, seperti biasa Sabda mengetikan pesan terlebih dahulu kepada Salma.


  Bubun Cantik ❤️ : Sayang jangan lupa jemput anak kita.


  Sembari menunggu, Sabda membuka plastik sayur, hari ini dia tidak membawa bekal, karena Salma bangun kesiangan. Itu salah dia juga yang mengajaknya begadang hingga tengah malam.


Sabda berusaha menikmati suapan yang masuk ke mulutnya, meski kini hatinya tidak tenang memikirkan kondisi sang ayah. Membantu pun sang ayah pasti akan menolak, dengan alasan tidak ingin merepotkan anak.


  Bubun Cantik ❤️ :



 Sabda mengawasi lekat gambar Aundy. Kemudian kembali mengetikan balasan.


 Bubun Cantik ❤️ : Okay, kesayanganku mirip kamu kalau pas tidur.


  Bubun Cantik ❤️ : Pas tidur aja, kalau buka mata ya kaya kamu, Yang!


  Bubun Cantik ❤️ : 😂 Ya, sudah mirip kita. Kamu juga cepet tidur siang biar gendut. 🤭


  Bubun Cantik ❤️ : Hm, aku tidur ya. Hati-hati kerjanya, Sayang.


  Bubun Cantik ❤️ : Siap.


  Sabda tidak pernah melewatkan waktunya untuk tahu apa yang sedang mereka lakukan di kala jam istirahat. Bahkan, jika masuk shift dua, Sabda tetap menanyakan kabar di sela jam luangnya. Komunikasi mereka berdua berjalan dengan baik dan Sabda merasa bersyukur bisa sebahagia seperti saat ini.

__ADS_1


  Selama tinggal di Tabalong, Salma tidak pernah mengeluh yang berlebihan. Dia begitu mandiri, dan tidak manja seperti kebanyakan cerita temannya yang minta apa-apa dianterin oleh pasangan.


  Dan kesibukan Salma setiap harinya adalah membuat kue pesanan tetangga. Bermula dari Salma yang tidak memiliki kegiatan dan membuat roti bolu. Kemudian, dibagikan kepada para tetangga kanan kiri depan. Alhasil, sekarang mereka justru memaksa Salma untuk membuka pesanan.


Kenalan Salma di kompleks juga sudah cukup banyak. Wanita itu hampir menghapal semua nama ibu-ibu satu komplek. Mengingat sekarang, dia sudah dipaksa aktive untuk mengikuti acara pengajian.


  Sabda tidak masalah selama itu tidak melewati batas, mungkin wanita itu juga bosan karena setiap hari dia hanya berada di rumah. Jika belum waktunya cuti, mereka tidak bisa bepergian ke mana-mana karena Sabda sendiri waktunya nyaris full digunakan untuk bekerja di lokasi tambang.


  Rasa lelah saat bekerja pun menghilang dengan sendirinya. Apalagi saat Salma selalu tersenyum ke arahnya. Tapi kali ini ada masalah lain yang menimpa Salma. Wanita itu mengeluh BB nya naik semenjak tinggal di Tabalong. Dia sih tidak masalah, tapi sudah tiga hari ini Salma mulai menjaga pola makannya. Kata bekennya, Salma tengah menjalani program diet.


  Bubun Cantik ❤️ : Sayang ....


Sabda pikir wanita itu beneran tidur, tapi baru lima menit dia sudah kembali menghubunginya.


  Bubun Cantik ❤️ : Kenapa, Yang?


  Bubun Cantik ❤️ : Aku diare.


  Bubun Cantik ❤️ : Ih, Sayang, JOROK! Aku lagi makan siang nih.


  Bubun Cantik ❤️: Beneran aku serius, perutku mules banget.


  Bubun Cantik ❤️ : Emang kamu habis makan apa?


  Bubun Cantik ❤️: Tadi diajak makan rujak mangga, pedesnya nggak kira-kira.


  Bubun Cantik ❤️ : Terus gimana? Kamu mau aku pulang dan antar kamu ke dokter?


  Bubun Cantik ❤️ : Nggak, Yang. Aku cuma ngasih tahu aja, biar kamu nggak berpikiran aneh-aneh karena aku nggak masak.


  Bubun Cantik ❤️: Enggak. Udah dipakai istirahat saja, aku bisa mampir beli sate dulu nanti.


  Setelah menerima kabar itu jadi terus kepikiran mengenai kondisi Salma. Hatinya tak tenang, ingin izin tapi sudah tanggung karena jarum jam sudah menunjukan hampir pukul dua siang. Sabda bertahan dengan pekerjaan yang dini menjadi tugasnya. Berusaha fokus ditengah pikirannya membayangkan wajah pucat Salma akibat menahan rasa mulas.


  

__ADS_1


__ADS_2