
Salma tercenung melihat menu sarapan sudah tersaji di atas meja. Aroma gurih serta manis menggugah seleranya yang memang beberapa hari ini tengah doyan-doyannya makan. Dia menoleh, berusaha mencari sosok yang menyiapkan sarapannya.
Mungkinkah Mas Sabda sudah pulang? Atau ini memang ibu yang menyiapkan? Batinnya berusaha mencari tahu. Hari ini, dia memang bangun telat karena semalam susah untuk memejamkan mata. Sedangkan suaminya sudah kembali bekerja, masuk shift malam—sepertinya juga belum pulang. Jadi bisa dipastikan kalau yang menyiapkan semua ini adalah mertuanya.
Tiga hari ini, tepatnya setelah mereka tinggal bersama, Bu Habibah memang selalu membantunya menyiapkan sarapan ataupun pekerjaan rumah. Tapi apa iya hari ini dia yang menyajikan menu sarapan. Bukankah mas Sabda bilang ibu nggak bisa masak?
Di kala Salma sedang berpikir keras, suara langkah terdengar mendekati meja makan. Canggung, Salma langsung membuang muka melihat Bu Habibah mendekatinya. Kini dia tinggal menunggu, makian apa yang akan menyapa pendengaran setelah Bu Habibah mendapati dia bangun terlambat. "Ma—
"Udah bangun ya, ayo sarapan dulu!" potong Bu Habibah sambil menarik lengan Salma.
Salma tidak menyangka bukan makian yang pertama kali keluar dari mulut bu Habibah. "Iya, Bu. Salma baru saja bangun, ibu dari mana?" Mendadak kenangan yang dulu pernah ada melintas di kepala—jangan sampai ibu bertemu Linda, bisa-bisa Linda memanfaatkan ibu supaya bisa deketin mas Sabda!
Trauma masa lalu tepatnya, yang sampai detik ini Salma masih was-was. Khawatir ibu masih berniat menjodoh-jodohkan lagi putranya dengan wanita yang lebih sempurna darinya.
"Ibu dari ngantar Ody. Katanya dia mau bareng Keanu ke sekolah. Nggak tega mau bangunin kamu."
Salma menelan liur. Lalu tersenyum terpaksa mendengar penjelasan Bu Habibah.
"Makanlah dulu kalau sudah lapar, Sal! Ibu mau menunggu Sabda dulu! Orang hamil nggak boleh telat makan. Kasihan anakmu! At—atau kamu nggak suka dengan masakan ibu? Kamu mau ibu beliin bubur ayam? Itu ada abang-abang yang lewat depan rumah."
Salma langsung menghentikan gerakan tubuh Bu Habibah yang hendak beranjak dari kursi. "enggak, Bu! Biar Salma makan ini saja. Salma suka kok. Ibu duduk saja kita sarapan bareng!"
Bu Habibah kembali duduk. "Tadi subuh Sabda telpon ibu, katanya kamu nggak enak badan, jadi ibu inisiatif untuk membuat sarapan. Kamu kenapa? kontraksi perutnya?!"
Salma berusaha mera ba makna dari kebaikan mertuanya. Kalau memang Bu Habibah benar-benar berubah, dia akan sangat bahagia sekali. Tapi kalau hanya untuk sementara demi mendapat pembelaan sang putra. Dia tidak tahu harus berbuat apa. "Iya, Bu. Semalam lumayan sering kontraksi. Tapi mungkin hanya kontraksi palsu." Salma membantu mengambilkan sarapan untuk mertuanya itu.
"Ibu bisa sendiri, Sal! Udah kamu duduk saja! Ngurus sendiri saja susah! Pake mau ngurusi ini!" cegah Bu Habibah diselingi tawa ringan dia merasa kasihan saja melihat Salma yang cukup kesusahan membawa perutnya.
"Kita makan bersama, Bu!" Salma mengisi piringnya. Lalu mulai menikmati sarapan bersama Bu Habibah.
"Kamu kok dikit banget makannya? Kamu nggak suka dengan masakan ibu?"
Salma meringis lalu menjelaskan. "Dokter bilang, Salma diminta ngurangin Karbo, Bu. Soalnya perkiraan berat badan bayinya sudah besar. Takutnya Salma susah buat ngeluarin nya."
"Ow, begitu." respon Bu Habibah.
Keduanya lalu diam menikmati menu sarapan di atas meja. Hingga beberapa menit berlalu, Bu Habibah kembali bersuara. "Salma, ibu mau minta maaf sama kamu—mungkin kini terdengar terlambat, bahkan sangat terlambat, tapi ibu nggak mau hutang maaf sama kamu. Banyak dosa ibu ke kamu, Nak," kata Bu Habibah tulus.
"Bu ...." Salma menghentikan gerakan tangannya.
"Enggak, Sal! sejak ayahnya Sabda pergi—ibu selalu mencari cara. Ibu selalu menyusun kalimat yang tepat supaya kamu mau memaafkan kesalahan ibu. Tapi bolak-balik ibu kembali berpikir, memang tidak ada kata yang sempurna selain kata maaf yang tulus dari dalam hati ibu. Mumpung ibu masih bernapas. Selagi ibu masih bisa berbicara, tolong terima maaf ibu. Ibu bersalah padamu, ibu tersiksa oleh cinta sepihak yang ibu rasakan! Sampai melimpahkan dendam itu padamu. Maafkan ibu, Sal!"
"Mak—maksud ibu a—apa? Cinta sepihak? Siapa?" Salma bingung, perasaan dia dan Sabda saling mencintai, dan tidak ada kata terpaksa dari hubungan mereka berdua.
"Apa bapak dan ibumu tidak pernah cerita?"
__ADS_1
Salma menggeleng tegas, dia sama sekali tidak mengerti cerita apa yang dimaksud Bu Habibah.
Bu Habibah semakin merasa bersalah. Tapi, dia berusaha menceritakan masa lalunya kepada Salma. Seburuk apapun sifatnya, dia menceritakan semuanya kepada Salma tanpa ada yang ditutupi lagi.
"Ja—jadi ibu mencintai pak Arif? Bapak Saya? Dan dulu ibu adalah sahabat ibu saya?"
"I—iya. Tapi itu dulu, Sal! Aku pernah bersumpah tidak akan berdamai dengan keluargamu. Tapi benar yang disampaikan Almarhum Mas Ageng. Nggak baik menyimpan dendam, itu justru menyiksa kita!"
Salma bergeming, dia berusaha memikirkan penjelasan Bu Habibah, sampai dia menyadari jika mertuanya itu tidak membenci dirinya. Dia hanya terbawa perasaan dan ingin membalas dendam apa yang telah didapatkan dulu.
"Ibu, sebaiknya apa yang sudah berlalu—kita lupakan. Salma akan memaafkan semua kesalahan yang pernah ibu lakuin ke Salma. Salma juga minta maaf, selama ini belum jadi menantu impian ibu. Kita sekarang keluarga, Bu. Tidak baik menyimpan dendam." Salma mendekati Bu Habibah lalu memeluk tubuh mertuanya itu. Membiarkan Bu Habibah menangis dalam pelukan.
Sejenak nasi di piring terabaikan karena dua orang itu justru sibuk saling mengungkapkan isi hatinya.
"Ih, jadi udah jadi BESTie nih, sarapan berdua sampai lupa sama aku?!" Sabda tiba-tiba saja muncul dari arah ruang tamu. Entah pria itu baru saja tiba atau dari tadi.
Sabda mencium tangan ibunya, lalu beralih ke arah Salma meninggalkan kecupan di kening. "Buatin aku, teh, Yang!" pintanya, yang langsung dituruti Salma.
"Udah cuci tangan kamu, Da! Kebiasaan loh!" Bu Habibah mengingatkan putranya yang ceroboh.
"Heheheh, iya Bu." pria itu beranjak, kemudian melangkah mendekati wastafel yang ada di dapur.
"Se-xy banget kamu, Yang! Pagi-pagi udah keramas aja!" bisiknya saat melewati tubuh Salma.
"Kepalaku sakit, rasanya berat banget. Sengaja keramas pakai conditioner juga, siapa tahu bisa mengurangi."
"Masih sama aja."
"Gara-gara susah tidur kemarin ya? Atau kenapa?"
"Nggak tahu, pokoknya berat banget rasanya."
"Mau ke dokter?" tawar Sabda. Bukan hanya Salma, mendekati HPL ini jantungnya selalu berdenyut lebih cepat ketika mendapat telepon dari istrinya. Sebenarnya semua perlengkapan bayi sudah masuk ke dalam tas. Hanya saja, mentalnya masih setengah gelas untuk menghadapi momen itu.
"Enggak usah. Belum waktunya kontrol."
"Sini kalau gitu, biar aku yang bawa teh-nya!"
Salma menahan lengan Sabda yang hendak mengambil teh tersebut. "Mas!"
"Hm?"
"Apa kamu tahu? Kalau ternyata ibu dan kedua orangtuaku memiliki masalalu?"
Sabda mengernyit, lebih baik dia pura-pura tidak tahu dari pada harus berdebat dengan Salma. "Oh, ya? Serius Yang?!"
__ADS_1
"Jadi kamu nggak tahu ya?"
Bohong dikit nggak papa, kan ya? Pikir Sabda. "Nggak."
"Ibu barusan cerita sama aku ...." Salma menceritakan ulang apa yang tadi ditangkap pendengarannya.
Sabda lega, karena Salma sama sekali tidak berniat membalas apa yang sudah dilakukan ibunya selama ini.
"Sekarang kita adalah keluarga, Sayang. Aku berharap, meski rasanya sulit menerima ibu! Aku ingin kamu memaafkan nya."
Salma menganggukan kepala. "Selain kami, dia juga keluargamu, Mas. Aku akan memperlakukan ibu dengan baik—seperti kamu memperlakukan kedua orang tuaku."
"Udah cantik! Pinter masak! Pinter ngurus anak sama suami, pinter di atas juga! Kapan lagi coba dapat yang kaya gini. Allah baik banget deh, ya, Yang! Sudah ngirim kamu buat aku! Kamu itu wujud nyata dari doa yang sering aku minta sama Allah! Eh, malahan Allah ngasih bonus banyak banget!" kata Sabda diiringi senyum dari bibirnya.
"Ih! Udah sana kita sarapan bareng!" Salma mendorong Sabda, meminta pria itu agar lebih dulu kembali ke meja makan.
"Aku tunggu kamu di sana, ya!"
Salma masih sibuk menutup toples gula. Ketika hendak melangkah menyusul Sabda. Tulang *********** terasa ngilu, hingga dia menunda kakinya untuk melangkah.
Rasa mulas pun datang dan menguasai area perutnya. Terasa begitu menyiksa, perutnya seperti dipelintir dengan kuat dan kejam.
Salma berharap ini adalah kontraksi palsu. Mengingat HPL masih dua Minggu lagi. Tapi sepertinya ia salah, rasanya ada yang mendorong, dan memaksa untuk keluar.
"Mas!" pekik Salma, berusaha meminta bantuan Sabda. "Mas Sabda!" Pria itu baru merespon.
"Kenapa?" Sabda melengok ke arah dapur, untuk mencaritahu apa yang sedang dibutuhkan Salma.
"Mas aku mau lahiran, deh!" lapor Salma sambil menahan sakit.
"Serius?"
"Iya, Mas!"
"Nggak bisa ditunda besok, Yang? Aku belum mandi! Aku cukur rambut dulu ya!" tanya Sabda yang sudah menahan tubuh Salma.
"Bu, anakmu, Buk! Tolong kasih tahu mas Sabda jangan begitu!" Salma kesal dengan respon Sabda. Dan sekarang, yang bisa menjadi tempat peraduan adalah mertuanya.
Jika dulu saat melahirkan Aundy, Bu Deva yang menemani. Sekarang, ada Bu Habibah yang setia mengusap punggungnya. Bahkan, Salma bisa melihat tetesan air mata perempuan itu ketika tangis pertama Brandon Baghaskara terdengar memenuhi ruangan.
Jangan tanya Sabda di mana, pria itu justru diusir oleh Salma karena sejak pembukaan ke lima dia terus saja menangis di sampingnya. Pasti kalau Aundy tahu, akan tertawa lantang melihat sang ayah menangis.
Tapi setelah masa berat itu berhasil dilewati, akhirnya mereka bisa menikmati kebahagian yang berlipat ganda. Dia bisa melihat senyum Sabda yang tanpa beban.
Salma bersyukur bisa kembali ke pelukan pria itu. Dalam hidupnya dia membenarkan sebuah pantun dari bahasa Jawa, bunyinya seperti ini: Teklek kecemplung kalen, timbang golek aluwung balen. Bakiak tercebur kali, daripada cari lebih baik kembali. Mungkin sebagian wanita mengharamkan itu, atau akan menjawab ngapain kembali kalau bisa dapat yang lebih baik.
__ADS_1
Buat Salma tidak semudah itu, buatnya Sabda itu sosok pria sempurna. Dia pernah mencoba dengan yang baru, tapi ternyata—menghentikan cintanya untuk Sabda tidak sesingkat saat dia jatuh cinta.