
Dengan pelan Salma menjelaskan kepada Sabda. Tentang apa yang menimpa Aundy satu tahun lalu. Kenangan buruk yang membuat gadis itu mengidap trauma parah sampai di detik ini.
Gadis yang menjadi tokoh pembicaraan hanya diam, mengaduk-aduk baksonya. Sedangkan Sabda, aliran darahnya berdesir, bulu kuduknya berdiri tegak saat membayangkan apa yang terjadi dengan Aundy hari itu.
Dalam hatinya bersyukur, Aundy masih bisa selamat dari kecelakaan naas itu—jika takdir berkata lain entah apa yang bisa dia lakukan saat ini. Mungkin dia akan hancur, sama dengan Salma. Karena Aundy adalah bentuk cinta dari mereka.
"Kalau begitu, kita datang ke dokter ya, Ody?! Kita jalani terapi, nanti ayah temani." Sabda memeluk Aundy lagi. "Emangnya Ody nggak mau naik pesawat? Naik mobil lagi, kita jalan-jalan bertiga. Mau kan?" Bujuk Sabda. Mendengar cerita Salma sering membawanya ke dokter tapi berakhir kecewa karena Aundy menolak masuk, kali ini giliran Sabda yang membujuk putri kecilnya.
"Ody takut disuntik," tuturnya setengah berbisik.
Sabda mengusap surai hitam Aundy, merapikan anak rambut Aundy yang berhamburan. "Kaya bunda aja takut suntik!" Sabda melirik ke arah Salma. "Tapi, Ody—di sana kan enggak disuntik, cuma ditanyain saja sama dokter. Emangnya Ody enggak mau liburan ke Bali? Katanya mau ke sana sama bunda sama ayah juga!" Sabda ingat dengan janji itu, dia tidak akan pernah melupakan setiap janji yang sudah diberikan kepada Aundy.
Gadis itu tampak berpikir keras.
"Udah, Mas jangan dipaksa! Ada hal yang belum aku ceritain ke kamu. Mungkin, berat juga untuk Ody melawan rasa takutnya. Pelan-pelan saja!" pinta Salma, dia belum mau menceritakan mengenai pertengkaran Farhan dan Astrid sebelum kecelakaan itu terjadi.
Bibir Sabda mendekat ke wajah Salma, tubuhnya sedikit condong. Lalu berbisik, "Gimana aku bisa tenang, aku kan pengennya segera bawa kamu ikut ke Kalimantan. Biar nggak lagi diambil orang!"
Salma memutar bola matanya malas. "Udah, udah lanjutin makannya! Aku harus segera pulang, mas Farhan sedang tidak enak badan. Enggak ada yang ngurus!"
"Kenapa enggak betah begini, sih, Salma? Kamu makan sama aku—jadi biarkan hatimu tenang denganku."
"Astaga, Mas. Tanggungjawab loh, aku kan cuma pegawai! Enggak baik kalau ditinggal lama-lama." Salma berusaha menjelaskan.
"Kedai juga tutup. Mau alasan apa lagi? lagian kalau dia mau ada yang ngurus suruh aja nyari istri lah!"
"Ayah sama bunda berantem lagi?! Nanti bakal pisah lagi ya? Enggak pelukan lagi, kan?" ucap Aundy, protes.
"Bukan begitu Ody, kita sedang menyelesaikan masalah." Sabda menyela saat Salma hendak menjelaskan.
"Iya, udah terserah! yang penting ayah sama bunda nggak boleh musuhan lagi. Ody akan marah kalau ayah sama bunda musuhan kaya tikus dan kucing." Aundy melanjutkan memakan bakso, begitupun dengan Sabda yang begitu lahap menghabiskan isi mangkoknya. Sedangkan Salma, hanya menatap kesamaan dari dua orang di depannya.
Sebelum meninggalkan warung bakso, Sabda meminta izin pada Salma hendak pergi ke toilet sebentar. "Kamu bayar dulu, aja!" Sabda menyerahkan dompet beserta ponsel yang ada di saku celana. Khawatir barang-barang nya itu akan terjatuh saat pergi ke toilet.
__ADS_1
"Bunda, Ody mau es buah!" pinta Aundy saat melihat toples aneka buah berjejeran.
"Udahlah, Ody! Kita kan mau pulang!" Salma tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Sabda. Jujur dia mengkhawatirkan dengan Farhan yang tadi terlihat pucat pasi. "Besok, ya Sayang, kan besok masih lewat!" Bujuk Salma yang dijawab anggukan kepala oleh Aundy.
Salma yang hendak beranjak dari kursi kembali mengurungkan niatnya—saat merasakan getaran dari ponsel Sabda. Tertera nama 'Hani' tengah melakukan panggilan video ke nomor pria itu. Salma menunggu hingga getaran itu mati dengan sendirinya. Dia tidak ingin merespon apapun panggilan dari Hani. "Jadi, mas Sabda masih berhubungan dengan Hani?" batinnya. Jujur Salma cukup kesal melihat Hani masih berhubungan dengan Sabda.
Belum lama dia meletakan ponsel Sabda. Notifikasi pesan masuk kembali terasa. Salma menatap layar ponsel enam inchi itu.
Hani : Pap, katanya pulang? Mana—
Salma tidak bisa membaca sepenuhnya pesan singkat yang dikirim Hani, karena tidak ingin membukanya. Tapi, sepenggal kalimat itu cukup membuat pikirannya overthingking.
Salma mendadak ragu dengan kejujuran Sabda. Apa Sabda sudah membohongiku? Atau Hani yang sengaja melakukan itu.
Di tengah-tengah pikirannya sedang semrawut Sabda kembali menyapanya—mengajak mereka untuk pulang.
"Sudah dibayar, Sal?" tanya Sabda mengambil alih dompet dan ponselnya.
"Enggak usah—biar aku aja yang bayar!" Salma menghadang Sabda yang hendak membayar tagihan makanan yang mereka makan.
"Udah, udah, Mas! berapa sih, Nggak banyak kok!" Salma berusaha menutupi kekalutan hatinya dengan senyum yang dibuat-buat. Dia kembali bimbang usai membaca pesan singkat yang dikirimkan Hani.
Mau tidak mau sabda mengalah, dia menunggu Salma menyelesaikan pembayaran.
"Aku langsung pergi dulu, ya, Sal! Aku mau ke Semarang, lihat ibu soalnya baru kemarin aku tiba di Jawa."
Ucapan Sabda semakin memperkuat dugaan Salma. "I—iya."
"Tenang aja, enggak akan lama, kok! Lusa mungkin aku datang lagi."
"Enggak usah buru-buru. Puasin aja di Semarang nya!" kata Salma tanpa menatap Sabda.
"Sebenarnya—
__ADS_1
"Udah deh, cepat sana keburu kesorean nanti!" potong Salma, memaksa pria itu untuk segera pergi.
"Ody, ayah pulang ya. Ody mau dibelikan oleh-oleh apa dari Semarang?"
Aundy menggeleng. "Ayah cepat datang lagi aja. Soalnya Ody belum puas kangen-kangenan sama ayah."
"Pasti!" Sabda membuka pintu mobil yang disewa olehnya. Ada perasaan berat yang mengganjal pikirannya saat ini. Rasanya begitu berat, pulang ke Semarang tanpa membawa mereka. "Bye, Sayang!"
Karena tak rela meninggalkan mantan istri dan anaknya. Sabda kembali merengkuh tubuh Salma. Meninggalkan kecu pan mesra di kening Salma. "Hati-hati ya, aku akan memberi kabar kamu kalau sudah sampai."
"Seingat kamu aja!" balas Salma ketus.
"Ayah, Ody mau peluk juga!" pinta Aundy sambil merentangkan tangannya ke arah Sabda. "cepat kembali ya, Ayah!" pesan Aundy, saat Sabda memeluk erat tubuhnya.
"Okay, Tuan Putri."
"Udah kalian pergi dulu!" Minta Sabda.
Tanpa basa-basi lagi Salma langsung menarik gas motor, meninggalkan Sabda yang setia mangawasinya.
"Bunda, Ody mau ke dokter. Biar bisa naik pesawat sama ayah dan bunda," tutur Aundy terdengar begitu semangat.
"Okay. Besok bunda daftarkan dulu ya!" respon Salma.
Setidaknya dengan pertemuannya dengan Sabda. Aundy mau pergi untuk menyembuhkan trauma nya. Semoga setelah ini, Aundy bisa seperti semula lagi.
Tiba di kedai kopi Kayu Manis Salma lekas memasuki bangunan sederhana itu. Dia naik ke lantai dua membiarkan Aundy bercerita kepada Aruni tentang pertemuannya dengan sang ayah.
Sebelum memasuki kamar mandi, Salma lebih dulu menge-charge ponselnya yang sudah nyaris mati karena kehabisan daya.
Setelah keluar dari kamar mandi, dia mulai memeriksa lagi ponselnya. Memberi nomor baru yang semula belum disimpan di phonebook. Ya, itu nomor Sabda Baghaskara. Salma sengaja memberi nama Mantan 👷 di nomor itu.
Salma tersenyum simpul menyadari nama yang dituliskan untuk Sabda. Dia hendak kembali mencol lokkan kabel nya. Tapi, pesan masuk dari nomor baru kembali menarik perhatian Salma.
__ADS_1
0857862xxxx : Tidak berkomunikasi denganmu. Bukan berarti aku tidak merindukanmu.