
"Pak Sabda!"
"Anjir lah! Ngagetin aja, Mas!" Celetuk Sabda, tubuhnya tersentak. Dia terkejut saat seseorang berteriak menyerukan namanya dengan lantang. "Kenapa?" selidiknya sambil memutar bola matanya malas.
"Aku jadi anak buahmu sekarang! aku dipindah di pit (lokasi) K51."
Sabda yang sedang fokus mencari keberadaan ponselnya, menghentikan gerakan tangannya. "Awas saja kalau nggak nurut, aku kasih SP!" ancam Sabda pada mantan teman sekamarnya itu.
"Justru itu, aku milih ikut pak Sabda, kan pengen sedikit santai. Kita kan udah lama kenal, jadi bolehlah kerjanya agak santai dikit."
"Heh?! emang ini perusahaanku? Aku juga masih ikut orang! Kita sama sama masih jadi kuli yang wajib taat aturan!" balas Sabda, lalu kembali fokus mencari keberadaan ponselnya. Dia bahkan mengeluarkan botol minumnya yang ada di dalam ransel demi menemukan ponselnya itu.
Sabda berusaha mengingat lagi. Tadi pagi dia bangun kesiangan karena semalam begadang main PS. Lalu dia langsung berangkat, dan sepertinya lupa mencabut ponselnya dari charge yang masih terhubung.
Pria itu hanya pasrah. "Aundy belum dibawa ya, Pak?! Aku denger -denger katanya udah sah balikan?"
Sabda menganggukan kepala. "Insya Allah cuti ini mau aku jemput."
"Alhamdulillah, dapat makan gratis!"
"Enak aja! Kalau dibawain bekal mana bisa kubagi ke kalian! aku makan sendirilah. Atau aku jual aja ke anak-anak nasi bungkus! Dari pada makan masakan catering nggak ada rasa! lumayan kan, nasi bungkus 10 ribuan nanti kukasih bundanya Ody 5 ribu. Untung deh!" Sabda merespon cepat. Akal sehatnya baru jalan, hingga menciptakan peluang usaha yang cukup menjanjikan.
"Heleh, bonus per enam bulan emang masih kurang buat ngidupin anak sama bini, Mas!"
"Cukuplah kalau buat meneruskan hidup! Kalau buat nurutin gaya hidup baru minus. Tapi aku kan butuh mobil, kasihan anakku banyak debu tambang di jalanan! Jangan sampai baru di sini sebulan kena ISPA (infeksi paru-paru)," balas Sabda sambil nyengir kuda. Dia memang ceplas ceplos kalau bicara sama Doni. Soalnya, sering ngutang padanya.
"Angkat aku jadi anakmu deh, Pak! Kayae kok makmur banget diperhatikan sama ayahnya!"
"Aku yang nggak mau punya anak kaya kamu, tiap hari mainnya slot mulu! Bisa-bisa bajuku kamu jual buat bayar, ntar!" Sabda berlenggang pergi, meninggalkan Doni di serambi masjid yang masih menertawakan ucapannya.
Pagi ini, hujan kembali turun deras. Cuaca di wilayah Kalimantan Selatan memang sedang buruk beberapa hari ini. Tapi operator yang berkerja di shift justru satu bersorak riang, jalanan licin, jadi tidak mungkin alat berat beroperasi.
Berbeda dengan yang lain yang sibuk berkumpul, Sabda memilih duduk menyendiri sambil menikmati sebatang rokok yang terselip di jemarinya. Air hujan seakan menambah subuh perasaan rindunya pada seseorang di seberang sana. Jujur dia tidak bisa lama-lama marah dengan Salma, tapi apa boleh buat ponselnya justru tertinggal di kamar.
Rasa bosan mulai hadir. Akhirnya demi mengalihkan perasaanya, Sabda memilih bergabung dengan anak-anak lain.
Beruntungnya, setelah jam istirahat rampung, hujan sudah reda, matahari mulai terlihat meski tidak terlalu menyengat. Setelah jam istirahat habis, alat-alat besar mulai beroperasi, Sabda mulai sibuk dengan pekerjaannya.
Sialnya, saat jam kerja rampung para mandor dikumpulkan untuk diberi arahan. Sabda tidak bisa fokus mendengarkan, setengah pikirannya berkeliaran, dia ingin segera kembali ke mess dan melihat ponselnya.
Pukul delapan malam Sabda baru tiba di Mess. Satu tahun yang lalu Sabda dipindahkan ke kamar khusus untuk mandor. Kamar itu hanya dihuni oleh dua orang saja. Sedangkan partnernya, hari ini masuk shift dua, jadi dia sendirian di dalam kamar itu.
Belum juga melepas seragam biru elektrik yang melekat di tubuhnya Sabda langsung membuka ponselnya.
Ada lima panggilan tidak terjawab dari Salma. Tercatat belum lama dia melakukan itu. Entah kenapa hatinya merasa senang menyadari Salma lebih dulu menghubunginya. Sabda berniat menunggu wanita itu menghubunginya lagi, baru mengangkat panggilannya.
Sembari menunggu, jemari Sabda mulai sibuk membuka pesan masuk. Dia mulai membaca dari atas ke bawah. Hingga tiba di pesan gambar yang dikirimkan oleh Salma.
Berulangkali Sabda membaca pesan yang dikirim Salma, seakan sedang memastikan jika dia tidak salah mengeja. Tanpa membalas lagi, Sabda langsung menelepon Salma. Dia tak sabar, dan ingin mendengar langsung kebenaran berita itu.
__ADS_1
Sialnya yang mengangkat justru bukan sosok wanita yang diharapkan. "Sayang, bunda mana?"
"Ih, ayah! Yang kangen kan Ody!" protes Aundy dengan suara kesal.
"Iya, bunda mana dulu? Nanti kita bicara."
"Nggak mau! ayah harus dengarkan Ody dulu."
"Ody?" bujuk Sabda.
"Ih, Ayah! Beliin dulu gaun kupu-kupu!"
"Mau buat apa?"
"Teman aku udah punya, Yah! Dia dibeliin sama ayahnya. Sayang banget kan ayahnya. Masa ayah nggak mau beliin Ody!"
"Iya, nanti kalau ayah pulang pasti dibeliin. Sekarang bunda di mana?" tanya Sabda.
"Janji ya, Yah!"
"Iya, baju mermaid juga boleh!"
"Awas loh kalau bohong, dosa Ody buat ayah semua!"
Sabda menahan tawa mendengar ucapan lugu dari seberang panggilan. "Udah, kan? Sekarang bunda mana, Sayang—ayah kangen sama Bunda."
"Bunda sudah bobo!" Aundy menjawab ketus.
"Nggak percaya ya sudah!"
"Iya deh ayah percaya. Tapi ayah minta tolong ya! Ody bangunin bunda dong! ayah mau bicara, penting!" Sabda memaksa Aundy. Hingga akhirnya terdengar suara gadis itu sibuk membangunkan Salma. Sabda menyadari jika Salma memang benar benar tidur, tapi dia harus tahu tentang kabar itu terlebih dahulu. Sebentar saja dia ingin berbicara, setelah itu dia akan membiarkan Salma tidur lagi.
"Hallo ...."
Terdengar suara serak dari seberang panggilan. Bukan bermaksud jadi pria bodoh, yang mudah luluh dengan wanita. Tapi Sabda berusaha mengendalikan egonya demi kebaikan bersama. "Ponselku ketinggalan tadi, jadi baru sempat baca pesanmu!"
"Hm ...." Salma berdehem pelan. "Sekarang udah tahu, kan?" tanya Salma.
"Iya. Aku udah baca. Terus gimana? Masih keluar flek?" tanya Sabda, ikut khawatir.
"Udah enggak. Aku minum obat dari dokter—obatnya bikin kepalaku terasa berat, maunya tiduran terus."
Sabda tersenyum simpul. "Ya udah tidur lagi aja. Aku juga mau istirahat!" saran Sabda.
Hening, Sabda mengira Salma tak kuat membuka matanya lagi, jadi dia kembali terlelap. Lebih baik dia melanjutkan besok saja obrolannya, takut Salma justru tidak bisa istirahat lagi.
"Mas!"
"Hm? masih bangun? kukira udah tidur."
__ADS_1
"Belum, Ody yang udah tidur." Salma memberitahu. "Mas Sabda ...."
"Kenapa?!" tanya Sabda , lembut.
"Maafin aku, udah nuduh kamu yang tidak-tidak!"
Sabda tersenyum simpul, itu saja sudah cukup menurutnya. Kalau Salma meminta maaf, berarti dia sadar letak kesalahannya. "Kamu udah tahu siapa pelakunya?" tanya Sabda.
"Iya, udah."
"Syukurlah. Besok lagi jangan diulangi ya!"
"Iyaa, maafin aku ya, Mas!"
"Hm ..." Sabda mengangguk seakan Salma bisa melihat jawabannya itu. "Udah makan?" Sambung Sabda, berusaha mengalihkan obrolan mengingat masalah kemarin hanya akan membuatnya kembali emosi. Jadi, lebih baik dia melupakan saja.
"Udah." Salma berkata pelan. "Aku lagi merindukanmu. Pengen ketemu tapi waktunya masih lama," kata Salma dengan suara serak.
Sedangkan Sabda hanya tertawa tanpa suara seraya tangannya sibuk membuka kancing seragam yang masih melekat di tubuhnya, menyisakan kaus singlet warna putih serta celana jeans biru.
"Ya sudah kalau begitu, apa kamu mau aku jemput lebih awal?"
"Eh, nggak usah!" tolak Salma. Sabda juga hanya becanda, tidak mungkin dia mendapatkan izin mengingat sebentar lagi akan ada peninjauan.
"Jadi ikut aku, kan?"
"Iya. Kata ibu, kewajiban seorang istri adalah taat pada suaminya."
"Lalu Aruni?"
"Ibunya akan datang ke kedai. Tapi ini baru rencana, Aruni baru akan membicarakan dengan Mas Farhan."
"Kamu sendiri gimana?"
"Hm, ya udahlah, mungkin ini memang jalan terbaik untuk dia. Aku juga nggak mau melakukan kesalahan lagi. Aku nggak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya."
Sabda tersenyum simpul mendengar kalimat yang dilontarkan Salma. Rasanya bahagia sekali mendengar ungkapan hati Salma saat ini. "Lagi ngidam nggak, Yang?" Sabda ingat di awal kehamilan saat hamil Aundy, Salma menginginkan roti bakar di tengah malam.
Beruntung ada pak Ageng yang siaga membelikan, jadi pria itu pergi untuk mencarikan roti bakar.
"Enggak, semoga kalau ngidam nggak nyusahin."
"Ngidam aku pulang nggak? Kalau iya aku ajuin cuti emergency?" goda Sabda, meski pekerjaan sedang banyak, tapi demi Salma dia bakal rela jika memang itu keinginannya.
"Nggak, Mas! Nggak perlu pulang awal, sesuai jadwal aja, sekalian nunggu calon anak kita kuat dibawa naik pesawat."
"Udah makan?"
"Ih, tanya lagi. Dibilangin udah!"
__ADS_1
Sabda memasang headset di kedua telinganya, sambil merebahkan tubuhnya yang terasa pegal. Obrolan mereka semakin mencair, keduanya kembali bertukar cerita mengenai kejadian hari ini. Salma yang lebih aktive berbicara, menceritakan masalah Aundy dan dirinya. Rencana Sabda yang hanya ingin menelpon sebentar untuk memastikan kabar bahagia itu, justru berlanjut terus. Sampai mencapai durasi 45 menit, panggilan baru terputus.