
Menyebalkan sekali ketika pesawat yang ditumpangi keluarga Sabda harus transit terlebih dahulu di bandara Soekarno Hatta. Dan baru bertolak ke Banjarmasin pukul lima sore.
Karena perbedaan waktu, mereka sampai di Banjarmasin pukul delapan malam. Perjalanan mereka masih begitu panjang karena usai turun dari pesawat mereka harus kembali menempuh perjalanan darat kurang lebih dua jam untuk tiba di kabupaten Tabalong.
Sambil mengantre mengambil bagasi, Sabda tampak sibuk menghubungi seseorang. Dia sedang mencoba menghubungi pihak office yang mengurusi bagian travel yang disediakan untuk karyawan yang membawa keluarga.
Setelah mendapat kepastian, akhirnya Sabda menggiring mereka untuk memasuki restoran cepat saji. "Kita nyari makan dulu, mereka meminta kita untuk menunggu, sekitar empat puluh menit."
"Lama sekali?" gumam Salma.
"Iya, mereka belum menyiapkan travel karena aku juga ngabarinya dadakan. Harusnya sebelum kita terbang ke Banjarmasin, aku sudah menghubungi pihak kantor untuk menanyakan travel."
"Kita nggak bisa nyari travel langsung?"
Sabda menggeleng tegas. "Enggak bisa, Sayang! Udah yuk makan dulu!" ajak Sabda setelah berdiri di depan restoran cepat saji.
"Ayah aku nggak mau makan. Aku mau burger aja."
"Oke."
Mereka masuk ke restoran, Sabda mengambil antrean, membiarkan dua wanita itu menunggunya. Di luar sana hujan deras mengguyur kotaBanjarmasin. Sepertinya air hujan turun memang sudah sedari tadi.Beruntung pesawat yang mereka tumpangi bisa landing dengan sempurna.
"Ody, habis ini minum obat anti mual lagi ya! Kita masih ada sekitar dua jam perjalanan naik mobil!"
"Pasti melelahkan."
"Iya, banget. Ayah juga lelah, bunda apalagi." Balas Sabda seraya melirik Salma. Dia memerhatikan cara Salma menikmati makan malam. "makan yang banyak biar tambah gendut!" minta Sabda, yang langsung dibalas lirikan kesal oleh Salma.
Tepat setelah makan malam, mobil travel yang disediakan sudah tiba di pintu keluar bandara. Sabda langsung meminta Salma dan Aundy masuk ke mobil supaya segera tiba di rumah.
Sepanjang perjalanan menuju Tabalong, mobil yang ditumpangi tidak berani melaju kencang. Banyak genangan air yang mengisi jalanan, membuat sang sopir harus pandai-pandai mengemudikan mobilnya. Bukan hanya itu, hujan deras juga masih setia mengguyur sepanjang perjalanan mereka membuat jarak pandang sang sopir terbatas.
Salma dan Sabda pun tidak bisa menikmati perjalanan, mereka justru terjaga, berjaga-jaga jika nanti terjadi sesuatu. Berbeda dengan Aundy yang langsung terlelap setelah mobil melaju sekitar sepuluh menit.
Saat mobil hampir dekat dengan rumah, banjir semakin parah. Sabda yang duduk di samping Salma hanya tersenyum simpul, seakan memberitahu—beginilah kota yang menjadi tempat dirinya mengais rezeki.
"Gelap sekali, Mas," gumam Salma, melihat sekeliling yang seperti kota mati yang sudah lama ditinggalkan penghuninya.
"Mungkin ada bagian trafo listrik yang kena petir jadi ada pemadaman lampu." Sabda menjelaskan singkat, entah benar apa salah yang jelas dia bisa menjawab pertanyaan Salma. Tangannya berusaha merengkuh tubuh Salma membawanya ke dalam pelukan. Dia berusaha menghangatkan tangan Salma yang terasa begitu dingin.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Alamatnya sebelah mana?" Sang sopir bertanya detail, memecah obrolan mereka berdua.
"Di perumahan Panorama, Pak. Jl. Edelweis no 21." Sabda menjawab ketika jarak hampir dekat dengan lokasi rumahnya.
Sialnya, sang sopir tidak berani memasuki komplek perumahan yang mereka tempati. Karena jalanan utama perumahan itu dipenuhi oleh genangan air hujan. "Apa masih jauh, Pak?" tanya sang sopir, seraya menghentikan laju mobilnya, dia tengah mengamati situasi jalanan saat ini.
"Lumayan sih, Pak. Sekitar tiga puluh meter masuk gangnya."
"Waduh, tapi mobilnya tidak berani masuk, Pak. Air nya cukup tinggi."
"Ya sudah kita turun di sini saja!" Sabda mengalah, lebih baik seperti ini dari pada harus menyusahkan sang sopir. Toh juga nggak begitu jauh, mereka bisa jalan kaki sambil bermain air hujan.
Setelah mobil itu berlalu, Sabda bermaksud membawa Aundy pulang terlebih dahulu. Dan meminta Salma untuk menunggu. "Aku akan cari payung dulu," ucap Sabda. "jangan ke mana-mana! Takutnya kamu tersesat!"
"Iya, tapi jangan lama-lama."
"Iya." Sabda sudah menggendong Aundy di punggungnya, bersiap menerjang air hujan yang masih turun cukup deras.
Sedangkan Salma, dia benar-benar menunggu Sabda kembali. Perjalanan panjang ini tidak akan pernah terlupakan oleh Salma. Penyambutan yang mengesankan, banjir, lampu mati. Meski begitu, dia berharap bisa betah tinggal di sini, bersama Sabda dan Aundy.
Menunggu sepuluh menit, bayangan tubuh Sabda sudah muncul kembali di depan Salma. Pria itu datang dengan payung yang sudah dibentangkan.
Saat Salma hendak menarik koper Sabda segera menahan lengannya. "Kamu cukup jalan saja!" Sabda meminta Salma untuk jalan terlebih dahulu. "hati-hati!" pesan Sabda saat langkah Salma jatuh di lubang yang cukup dalam.
"Ini sudah hati-hati, dasarnya aja lubangnya nakal ngikutin aku!"
Sabda hanya menahan tawa, dia sendiri cukup kesusahan mengangkat dua koper berisi barang Aundy dan Salma.
"Ini tidak akan pernah terlupakan, Mas!"
"Hm, aku berharap kamu betah di sini!"
"Pastinya. Asal kamu nggak nakal aku akan betah kok!" balas Salma, seraya mera ba jalanan supaya tidak masuk ke lubang yang lebih dalam lagi. Sampai akhirnya, mereka tiba di rumah warna tosca. Rumah yang baru beberapa Minggu yang lalu dibeli oleh Sabda.
"Alhamdulillah sudah sampai," ucap Sabda seraya membuka pintu. Mempersilakan Salma masuk terlebih dahulu.
"Ody mana?"
"Ada di kamar depan."
__ADS_1
Salma lantas mendekati kamar yang ditunjuk Sabda. "Terus kita tidur di mana?" Protes Salma melihat ranjang yang ditempati Aundy hanya cukup untuk satu orang saja.
"Kita di belakang, tapi belum sempat aku beresin. Ranjangnya bekas, tapi kasurnya baru!" Sabda menyalakan senter ponsel, menuntun Salma untuk berjalan lebih dalam lagi, melewati ruang keluarga demi bisa sampai ke kamar yang dia maksud.
Cahaya dari ponsel Sabda mampu memancarkan sinar hingga sudut ruang. Kamar sederhana, akan tetapi lebih luas karena terdapat kamar mandi di dalamnya. Kesan pertama, Salma sangat menyukai penataan ruangan itu.
"Aku mandi dulu ya, setelah itu biar aku rapikan ranjangnya."
Meski Salma mengangguk, dia tidak membiarkan hal itu terjadi. Melihat Sabda sudah memasuki kamar mandi, tangannya mulai aktive membongkar koper. Beruntung isi kopernya tidak basah, jadi dia berniat mengganti pakaian dan seprei terlebih dahulu.
Tepat ketika Sabda keluar dari kamar mandi. Ranjang sudah siap untuk ditempati. Pria itu hanya menggeleng melihat bagaimana Salma nekat melakukan pekerjaan. Dia tahu Salma belum sembuh total, dia hanya ingin menjaga kesehatan Salma.
"Tidur, Yuk! Besok aku harus deklarasi cuti."
Salma menurut, tanpa banyak bicara dia merebahkan tubuhnya di samping Sabda. Sepanjang malam mereka terlelap tanpa penerangan sedikitpun. Tapi tak mengurangi kualitas tidur mereka berdua.
Sabda lebih dahulu bangun saat mendengar alarm ponselnya berdering. Dia berjalan ke arah dapur menyiapkan sarapan seadanya, hanya roti tawar yang dibekalkan Bu Deva untuk Aundy, kemudian ditaburi meses coklat yang juga pemberian Bu Deva.
Setelah siap, Sabda langsung bersiap untuk pergi. "Sayang, aku pergi dulu ya?" Bisik Sabda, berusaha membangunkan Salma.
"Pulang jam berapa?" Tanya Salma sambil mengucek matanya yang masih lengket.
"Paling lama jam sepuluh. Sarapan seadanya dulu ya. Nanti kalau aku udah pulang, kita belanja."
"Hm ...."
"Tidurlah, aku berangkat!" Pamit Sabda lalu mendaratkan kecupan singkat di bibir Salma.
"Kok nggak pakai seragam?" Protes Salma setelah berhasil membuka matanya lebar.
"Iya, aku mampir ke mess dulu buat ambil seragam! Baru naik bus dari sana."
"Ya sudah hati-hati." Salma berpesan, sebelum pria itu berlalu dari kamarnya.
Sabda mengeluarkan motornya dari rumah, memanasi mesinnya terlebih dahulu, sambil menanti mesinnya panas, dia membuka gerbang rumahnya.
Motor matic itu sudah berada di luar pagar, kini dia sedang menutup kembali pintu gerbang rumah. Di saat Sabda hendak naik ke atas motor, seseorang berteriak memanggil namanya.
"Astaghfirullah, jadi ini beneran Mas Sabda!" Wanita yang berdiri di samping motor Sabda terpekik girang, sekaligus kaget melihat Sabda menjadi tetangga rumahnya.
__ADS_1
Sabda berusaha mengingat sosok wanita di sampingnya. Sepertinya dia sama sekali tidak mengingat wanita itu. "Aku buru-buru, jadi maaf ya!" Kata Sabda menolak halus saat sosok perempuan itu hendak berbicara dengannya.