Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 57


__ADS_3

Pagi ini Aundy berangkat dengan Keanu, anak tetangga rumah yang kebetulan satu sekolah dengannya—hanya saja mereka berdua berbeda kelas. Jadi, pagi ini motor matik warna hitam itu sama sekali tidak keluar dari garasi motor.



Sedangkan pemiliknya. Setelah melihat keberangkatan sang putri dia buru-buru membersihkan diri di kamar mandi.



Ketika kaki Salma melewati pintu kamar mandi. Aroma telur goreng menusuk indra penciumannya, racikan bawang Bombay dan daun bawang yang pas, begitu menggoda naf su makannya.



"Ayang, udah pulang?" Salma yang masih berada di dalam kamar bertanya dengan suara keras, memastikan jika itu adalah tindakan yang dilakukan Sabda.



"Iya. Sudah sepuluh menit yang lalu, Yang. Aku lapar—aku buka tudung saji belum ada apa-apa."



"Iya, aku lagi malas masak." Salma yang masih mengenakan handuk mandi model kimono mulai melangkah menuju dapur. Dia memeluk pinggang Sabda dari belakang, menganggu kegiatan pria itu yang sedang sibuk di depan kompor. Rasanya nyaman sekali bersandar di punggung Sabda yang bidang. Aroma parfum yang bercampur keringat di tubuh Sabda bak candu, yang semakin dalam dihirup semakin membuatnya untuk menjauh.



"Dingin. Kenyal. Ini apa sih, kok menggoda banget?" Sabda menggesekkan punggungnya, menggoda Salma.



"Heh! Mes sum—dasar otak udang! Tahunya gitu aja!" Salma menjauhkan dadanya dari punggung Sabda, tapi tak menjauhkan tangannya dari pinggang pria itu. Tangan kanan dan kirinya bertautan erat mengurung Sabda.



Pria itu terbahak, lalu berkata. "Biarpun otak udang, anaknya dari mertua aku cinta mati dong sama AKU."



Kembali Salma menyandarkan kepalanya di punggung Sabda.



"Minggir dulu, Sayang. Aku mau masukin minyak panas ke sambal bawang nih!"



"Nggak mau!" Salma mempertegas dengan gelengan kepala.



"Sayangku, cintaku, Mas sudah lapar loh."



"Aku punya kejutan buat kamu!" sela Salma, cepat.



"Waw! Aku terkejot!" Sabda berkata penuh dramatis, hingga membuat mood Salma hancur, karena suara pria itu berubah menjadi kemayu.



"Sayang, ih—aku serius!"



"Heheheh—iya, ada apa, My Queen?" Tanya Sabda dengan lembut. Pada akhirnya, karena takut kena Salma, dia menggunakan spatula untuk menuangkan minyak panas itu.



"Tebak, apa yang ada di genggamanku saat ini?" Salma menunjukan dua kepalan tangannya yang masih melingkar di pinggang sang suami.



"Apa, sih? Jangan bikin aku penasaran deh!"



"Aku mau Mas nebak dulu!"



"Kon dom?"


__ADS_1


"Bukan. Ngapain pakai Kon dom! Enakan nggak pakai! Lebih teras gesekannya!"



Sabda terpingkal lagi, menyadari Salma sedang dilanda gai rah tinggi. "Terus apa?"



"Iya makanya tebak dulu!" Katanya manja.



Tanpa membalikan tubuhnya, Sabda mulai berpikir lagi. "Ah, Sayang—kamu ...?" Ucap Sabda pelan dan terbata-bata.



"Aku kenapa?"



"Kamu tahu aja deh keinginan ku!"



"Tahu apa? Emang apa coba?" Tantang Salma.



"Ini anuu kan?" Jujur Sabda sejujurnya tidak tahu apa yang kini ada di genggaman Salma.



"Iya anu apa, SABDA!"



"Ya enggak tahu! Kan itu di tangan kamu!"



"Ih, nggak jelas banget! Udahlah males main tebak-tebakan sama kamu!" Salma melepas pelukannya hingga tak sengaja menjatuhkan benda kotak kecil yang tadi tersembunyi di genggaman.




Lirikan Sabda yang bergantian ke arah tes pack dan Salma. Membuat Salma paham kalau pria itu meminta penjelasan.



"Iya. Secepat ini! Allah baik banget sama kita, dengan cepat menggantikan dia yang sudah pergi."



Sabda berjongkok, memungut tes pack itu. Dia membalikan benda kotak kecil itu agar tahu hasil pastinya. Detik berikutnya dia membeku, saraf di dalam tubuhnya seakan berhenti berfungsi. Ada rasa takut saat teringat pesan dokter hari itu. Tapi dia tidak berani menunjukannya di depan Salma. Dalam hati dia bertekad penuh akan terus mensuport Salma, apapun yang akan terjadi.



"Serius kamu hamil, Yang?"



Sabda mendongak ke arah Salma. Hingga wanita itu bisa melihat kelopak mata Sabda yang sudah diselimuti cristal bening. Dia yakin kedip sekali saja, Sabda sudah menitihkan air matanya.



"Iya. Di perutku ada anak kita. Adik Ody." Salma menjawab dengan bibir bergetar, hingga suaranya terdengar tak terdengar jelas.



Sabda merengkuh pinggang Salma hingga kepalanya kini berada tepat di depan perut sang istri. Terlihat jelas Sabda seperti mendengar seseorang berbicara dari dalam perut sana, lalu mengakhiri dengan kecupan di perut Salma.



"Sayang, geli ih!" Salma mengingatkan membuat air mata pria itu jatuh berlinang membasahi pipi. Dia bari tahu jika Sabda secengeng ini.



"Anakku, dengarkan calon ayahmu bicara! Dengarkan baik-baik! Kamu nggak boleh bikin bunda menderita ya! Kita bertiga harus kerja sama, supaya bisa segera bertemu. Kenalin, kamu ingat -ingat warna suaraku, aku ini calon ayahmu, namaku Sabda Baghaskara. Ingat ya, jangan bandel, sehat-sehat terus di dalam sana! Nggak boleh manja sama bunda, nggak boleh cubit-cubit lambung bunda dan buat dia nggak mau makan, dan berujung asam lambung. Ingat ya, dia istriku! Paham?"



"Mas Sabda apaan sih? Dia baru embrio, baru terbentuk otaknya belum bisa dengar!" Salma menutupi rasa harunya dengan Omelan. Mendadak dia ingin menangis, menangis bahagia saat melihat hasil dua garis yang ditunjukan tes pack ditambah lagi respon Sabda yang begitu bahagia.

__ADS_1



"Iya, iya! Pokoknya aku akan selalu support kamu! Biar kamu kuat bawa anak kita ke mana-mana!"



"Eh, o ya mas. Jangan kasih tahu siapa-siapa dulu ya! Kita kasih tahu ke orang rumah setelah kehamilanku terlihat saja!"



"Siap, Bubun Cantik ... Kamu mau apa? Pengen ngidam apa?"



"Pengen gigit kamu boleh?"



"Gigit sebelah mana?"



Salma melirik penuh arti tepatnya ke arah selang kangan Sabda, membuat pria itu bergedik ngeri karena khawatir Salma akab ambil jatah pagi ini. "Sayang, besok ya! Kita harus Konsul ke dokter dulu! Baru kita main!" Sabda beranjak dari posisinya, dia kembali berhadapan dengan Salma. "Aku curiga deh anak kita bakalan lahir laki-laki. Dari kemarin kamu terus yang minta."



"Alhamdulilah, kalau gitu aku mau kasih nama Brandon."



"Aku cemburu loh, Yang! Dia yang baru embrio saja sudah mulai berebut perhatian sama aku! nggak kasihan sama aku? Kalau anak kita laki-laki sepertinya kamu bakalan lebih sayang ke anak kita dari pada aku. Rasanya kaya aku menciptakan sainganku sendiri!" Wajah Sabda berubah kesal.



"Lah, emang aku enggak. Sekarang kamu juga lebih dikuasai Ody!"



"Baiklah, berarti impas kalau begitu."



Pagi itu menjadi pagi yang bersejarah bagi mereka berdua. Salma hamil, Sabda begitu antusias menantikan waktu untuk memeriksa ke dokter.



Satu bulan, dua bulan hingga bulan ke empat, Sabda seperti menerima penderitaan yang tidak ada habisnya. Pagi mengalami morning sickness. Makan hanya buah yang bisa masuk, sedangkan makan dia merasa kesulitan tidur.



Jauh berbeda dengan Salma yang bisa terlelap asal berada di dalam pelukan Sabda. Di usia kehamilannya yang menginjak lima bulan bahkan berat badan Salma sudah naik sepuluh kilo. Sudah bisa bayangin kan gimana bentuknya? Salma yang hanya memiliki tinggi 160 cm memiliki BB 68 kg mendadak semakin minder seiring usia kehamilannya yang semakin me dekati HPL.



Tawa dan canda tak pernah luput dari rumah sederhana itu setiap harinya. Sabda dan Aundy berebut kasih sayang dari Salma. Berebut tempat untuk berbicara dengan Brandon yang kini sudah tumbuh sempurna di perut Salma.



Ya, mereka sudah mengetahui jenis kelaminnya. Dan sabda setuju jika anak kedua mereka bernama Brandon Baghaskara.



Sabda kini sedang antusias menantikan kehadiran Brandon. Dia yang membelikan sendiri perlengkapan bayi yang diperlukan. Salma pun tidak boleh bepergian jauh mengingat di usia kehamilan yang menginjak tujuh bulan ini. Dia menderita hipertensi.



Sabda selalu mewanti-wanti untuk selalu meminum obat yang diresepkan dokter bahkan tak kenal lelah untuk mengingatkan Salma.



Namun, di saat kehamilannya berusia delapan bulan, ada kabar tak mengenakan yang datang dari pulau Jawa.



Setelah hampir satu tahun tiba-tiba saja Bu Habibah menghubunginya. Malam ini, ketika Sabda sedang bekerja di tambang, Bu Habibah menyampaikan kabar buruk.



"Sabda, pulanglah—ayahmu kena serangan jantung!"



Dunia Sabda seketika berubah suram. Padahal pak Ageng sudah antusias sekali menantikan kelahiran Brandon. Pak Ageng bahkan sudah berencana hendak ikut saat Bu Deva dan pak Arif pergi ke Tabalong menamani Salma melahirkan.

__ADS_1


__ADS_2