
Salma masih sibuk mengurusi Farhan yang terkulai lemah di atas ranjang. Berulangkali tangannya mengganti kain handuk yang ada di kening Farhan. Berusaha menurunkan demam yang kini menyerang pria itu.
Jarum jam sudah mendekati angka sembilan, Salma juga harus mengurusi Aundy, khawatir gadis itu tidak bisa tidur saat tidak ada dia di sampingnya.
Rasa sungkan saat hendak meninggalkan Farhan membuat Salma tetap bertahan sampai dokter Anton tiba di dalam kamar. Dalam hatinya berharap semoga Aruni segera masuk dan menggantikan posisinya saat ini.
"Bunda!" panggilan itu membuat Salma menoleh ke arah pintu, tampak wajah Aundy sembab seperti habis menangis.
Perasaan Salma mulai cemas, mengingat tadi saat meminta Aundy masuk ke dalam kamar, putrinya itu terlihat baik-baik saja.
"Ada apa?! Jangan masuk dulu, papa Farhan lagi sakit—nanti ganggu jam istirahatnya." Salma berusaha menenangkan seraya menggiring Aundy kembali masuk ke dalam kamarnya. Salma terpaksa meninggalkan Farhan sendirian di dalam kamar.
"Bunda, ta—tadi Ody mau telpon ayah Sabda. Tapi, kenapa yang ngangkat ayah Endra?!" adu Aundy dengan napas tersengal-sengal, tangisnya kembali pecah.
"Apa, Ody?!" Tentu saja Salma terkejut mendengar pernyataan itu. Dia tidak ingin pria di seberang sana salah paham mengenai apa yang tengah dilakukan putrinya. "kamu telepon ayah Endra?!"
Aundy mengangguk. "Ayah Endra bilang sama Ody. Kalau dia kangen banget sama Ody! Dia mau ajak Ody pulang ke Semarang."
"Terus Ody jawab apa?!"
"Ody, nggak jawab apa-apa. Ody takut bunda marah sama Ody karena lancang telepon ayah Endra."
__ADS_1
Salma memeluk erat tubuh Aundy, berusaha menenangkan putrinya. Meski tahu apa yang dilakukan Aundy adalah sebuah kesalahan tapi itu semua bukan murni kesalahan Aundy, untuk pertama kalinya Salma menyesal sudah menamai nomor Sabda dengan nama 'Mantan' seharusnya dia memberi nama nomor itu dengan nama 'ayah Aundy' supaya putrinya juga tidak salah jika ingin menghubungi Sabda.
"Bunda nggak marah. Sama sekali enggak marah kok." Dengan sedikit kesusahan, Salma menggendong tubuh Aundy, naik ke atas ranjang.
"Ayah Endra juga bilang, katanya dia minta Ody sabar. Dia akan jemput Ody." Aundy menggeleng cepat. "Ody, enggak mau Bunda. Ody mau sama bunda aja. Ody nggak mau balik ke Semarang."
"Iya. Kita akan selalu sama-sama, nggak ada yang berani ngambil Ody dari dekapan Bunda." Salma menepuk punggung Aundy, berusaha membuatnya terlelap agar pikiran buruk itu hilang dari kepalanya.
Tangan satunya Salma gunakan untuk memeriksa ponselnya, dia memeriksa riwayat panggilan. Ternyata benar dugaannya nomor baru tadi adalah nomor Endra. Dan Aundy bicara dengan pria itu selama 1 menit 20 detik.
"Ody, janji ya —kalau besok atau kapan pun itu ketemu sama ayah Endra. Ody harus nunggu bunda datang dulu. Okay?!"
Aundy mengangguk paham. Tangan mungilnya kembali memeluk erat leher Salma. Dia berusaha keras untuk memejamkan mata, membuang segala pikiran buruk yang sempat melintas di kepala. "Bunda, kita jadi kan naik pesawat sama ayah Sabda?"
Pelan-pelan Salma menjauh dari posisi Aundy. Salma berniat kembali masuk ke kamar Farhan, memeriksa pria itu. Tepat ketika pintu kamarnya terbuka lebar, dokter Anton baru saja keluar dari kamar pria itu.
"Gimana kondisi mas Farhan, Dok?" tanya Salma. Kata Aruni, dokter itulah yang biasa menjadi langganan mereka saat Astrid masih ada.
"Dia hanya kelelahan, kata Aruni dia habis perjalanan jauh. Mungkin karena itu, dia terserang demam tinggi."
Benar juga sih apa yang dikatakan dokter Anton, apalagi mengingat kejadian satu tahun yang lalu, pasti juga berat untuk menerimanya. Pikir Salma.
__ADS_1
"Aku sudah memberikan resep obat ke Aruni, biarkan pegawai bawah membelikan obatnya di apotek. Kalau demamnya masih belum turun juga, telpon lagi aja!" pesan sang dokter sebelum meninggalkan lantai dua.
"Baik, Dok! Terima kasih." Salma mengantar dokter Anton hingga tempat parkir mobilnya. Pria itu menolak saat Salma hendak membuatkan secangkir kopi. Jadi, langsung pergi begitu saja setelah urusannya selesai.
Saat kembali ke lantai dua, Salma berniat melihat kondisi Farhan. Akan tetapi, saat tiba di sana cahaya lampu yang biasanya memancar dari sela-sela bawah pintu kamar Farhan sudah paham. Jadi, Salma memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamarnya, menyusul Aundy yang sudah nyenyak di atas ranjang.
Sejenak Salma memeriksa pesan yang tadi sore masuk ke nomornya. "Haruskah menamainya dengan kata mantan ke dua?!" Salma menahan tawa. "Nggak penting banget, Sal!" Gumamnya memaki dirinya sendiri.
Tak selang lama pesan dari Sabda kembali masuk. Salma heran, katanya pria itu capek dan ingin istirahat tapi kenapa justru mengajaknya chat begini. Dan pertanyaannya nggak mutu banget, hanya menanyakan 'lagi ngapain, Sayang!'
Salma : Lagi mikirin Ody, tadi salah pencet mau nelpon kamu eh, malah keliru jadi nelepon Si Endra.
Pesan itu dibaca langsung oleh Sabda, tapi pria itu tak langsung membalas pesan yang dikirim olehnya. "Mungkin, mas Sabda ketiduran jadi nggak kuat untuk mengetikan pesan," ucapnya di akhiri tawa kecil.
Ayah Ody : Kan, kubilang juga, apa?! Udahlah besok kita nikah. Bodohlah mau nikah lari atau apa, yang penting aku mau kita menikah!
Salma : Dasar! Jadi pria kok nggak sabaran banget. Emang siapa juga yang mau nikah sama kamu. Kamu itu baru kuberi kesempatan buat nunjukin ke aku keseriusan kamu. Kalau kamu buru-buru kaya gini, kesannya kaya aku udah hamil anak kamu aja. Aku belum mau menikah sama kamu. Kita masih dalam tahap meyakinkan diri! Sampai di sini paham mas Sabda?
Tidak ada balasan yang dikirim oleh Sabda, padahal Salma menunggu pesan balasan itu hingga tiga puluh menit ke depan. Tapi sialnya semuanya sia-sia, Salma justru terlelap, lelah menanti pesan balasan dari mantan suaminya.
Keesokan harinya, Salma terbangun dengan kepala yang berdenyut nyeri. Mungkin, karena pagi ini dia sedang datang bulan hari pertama, jadi terasa begitu menyakitkan. Meski begitu, dia harus tetap bangun untuk membuka kedai kopi Kayu Manis.
__ADS_1
Tiba di lantai satu, semuanya terasa sepi. Aruni yang biasa mengelap meja, kini bahkan tak terlihat.
Salma melangkah keluar, berusaha menurunkan kursi yang ada di luar kedai. Di saat Salma sedang sibuk dengan kegiatannya, tiba-tiba saja seseorang datang dan mendekap matanya rapat. Salma bergeming, berusaha mengenali sosok pria dari aroma parfum yang dikenakan.