Hallo, Mantan

Hallo, Mantan
Bab 45


__ADS_3

Kecewa itu pasti, tapi tidak ada seorang ibu yang tega meninggalkan putrinya, di saat kemalangan sedang menimpanya.


Salma terharu sekaligus lega melihat pemandangan di depannya. Di mana Bu Munawaroh, yang biasa dipanggil Bu Muna itu tengah memeluk erat tubuh Aruni. Seakan tengah sibuk mentransfer kekuatan di tubuh putrinya.


Baru saja, Aruni menceritakan kejadian malang yang menimpa dirinya. Awalnya Bu Muna begitu murka, tapi mendengar jika itu terjadi karena sebuah kecelakaan, ia pun paham jika ini berat dilalui putrinya.


“Kamu tahu, kan Ibu juga single parent sejak ayahmu meninggal. Siapapun pria itu, dia akan menyesal karena sudah melakukan ini padamu, Uni.”


Mendengar itu Salma jadi kepikiran sosok Endra, akankah dia bisa menutupi fakta itu dari Endra? Fakta jika sebentar lagi dia akan memiliki seorang anak. Tapi, mendengar cerita Aruni jika Endra mabuk berat, sepertinya pria itu tidak akan ingat sama sekali.


“Jadi kamu juga hamil ya, Nduk?” tanya Bu Muna melihat Salma yang sedari tadi hanya diam.


“Inggih Bu. Dua Minggu yang lalu kita sengaja periksa bareng, kata dokter usia calon anak saya, sama dengan calon anak Aruni.” Salma menjawab ramah.


Dua Minggu terasa begitu cepat, dan besok waktunya Salma kembali memeriksakan kehamilannya. Dia sudah tidak sabar melihat perkembangan janinnya besok. Meski Sabda memintanya untuk menunggu sampai pria itu datang, tapi dia sudah tidak sabar lagi untuk melihat kondisi janinnya. Toh, mereka juga masih bisa memeriksa setelah Sabda kembali dari Kalimantan.


“Mbak Salma, besok aku nggak jadi periksa saja. Soalnya aku nggak ngalamin keluhan apapun.”


Ya memang sebelum ini mereka sempat berkencan untuk melakukan USG bersama seperti dulu lagi. Tetapi malam ini Aruni justru mundur dan memilih pergi ke bidan, demi meminimalisir pengeluaran.


“Okay, tidak apa-apa. Aku akan langsung ke rumah sakit setelah mengantar Ody sekolah.” Pengalaman beberapa minggu yang lalu dan Salma mendapat antrian pasien ke sekian, membuatnya ingin datang lebih awal. Supaya pulangnya juga tidak terlalu siang.


“Ibu, sebaiknya ibu lekas beristirahat. Kasihan pasti lelah kan habis perjalanan jauh.” Salma mempersilakan ibu dari Aruni untuk beristirahat mengingat jarum jam sudah menunjukan pukul delapan malam. Sebenarnya Salma juga sudah mengantuk efek dari obat yang baru saja diminum.


Sejak tahu mereka berdua hamil, Farhan memberi keputusan mutlak jika kedai tutup sebelum waktu maghrib, dia tidak ingin mengambil risiko yang bisa membahayakan kesehatan bumil dua itu. Dan akan seperti itu terus sampai dia menemukan pegawai tambahan yang bisa dipercaya.


Salma yang merasakan pinggangnya mulai panas, ikut melangkah menuju kamarnya. Saat tiba di dalam kamar, terdengar suara anak gadisnya sedang berbincang di telepon. Siapa lagi kalau bukan ayahnya, padahal Sabda masuk malam, tapi Aundy tidak keberatan jika hanya mendengarkan suara radio ptt dari seberang sana.


“Ody, udah telponnya! Ayah kerja, Sayang! Besok Ody juga harus sekolah, kan?” Salma berusaha mengingatkan Aundy.


“Lima menit lagi, Bunda.”

__ADS_1


“Janji ya, lima menit dimatikan.”


Aundy mengangguk, lalu berbicara lagi dengan Sabda.


Samar-samar Salma bisa mendengar jika mereka berdua sedang merancang nama untuk nyawa yang kini ada di dalam rahimnya. Salma hanya bisa menahan tawa melihat wajah masam Aundy saat Sabda menyebut nama bambang sebagai nama calon adiknya. Mereka berdebat sengit, sampai-sampai Aundy yang merasa kesal langsung memutus panggilan itu.


Wajahnya berubah muram, kecantikannya hilang 75 persen.


“Ayah nyebelin, masak adikku mau dikasih nama bambang!”


Tawa Salma kian pecah, dia sampai harus menutup mulutnya dengan tangan agar Aundy tidak memakinya. “Ya emang kenapa kalau bambang?” tanya Salma.


“Enggak! Ody nggak suka, nama itu! ayah ngeselin, Ody kan maunya huruf depannya B tapi bukan bambang juga kali Bunda.”


Salma menenangkan. “Sudah-sudah, nggak usah dipikirin. Yang penting Ody itu istirahat besok sekolah.” Salma mengambil alih ponselnya dari tangan Aundy. Kemudian mematikan lampu kamar.


Sinar temaram membuat Aundy begitu cepat memasuki alam mimpi. Gadis itu mendengkur lirih karena sedang batuk. Salma kembali memeriksa ponselnya sebelum masuk kea lam mimpi. Rupanya Sabda mengirim pesan padanya. pesan gambar, mengenai tanda bukti pembayaran atas satu unit rumah yang baru saja didapatkan.


Salma mengernyit. Merasa keberatan saja, padahal pria itu yang bekerja keras mendapatkan uang. Tapi kenapa justru aset pertamanya justru atas namanya.


Salma : Kenapa nggak atas namamu?


Ayah Ody : Nggak. Kan ini hadiah dariku buat kamu.


Diam, kali ini Salma hanya bisa pasrah.


Salma : Kunci udah di tangan?


Ayah Ody : Udah sejak seminggu yang lalu Sayang. Pak Samsul juga udah berangkat tadi pagi.


Salma : Alhamdulillah lancar. Tinggal aku dan Ody saja yang berangkat ke sana.

__ADS_1


Ayah Ody : Iya, sama nglengkapin apa yang kurang aja. O ya, besok jadi periksa?


Salma : Jadi, besok aku langsung ke rumah sakit setelah antar Ody sekolah.


Ayah Ody : Hati-hati ya! maaf belum bisa nemenin.


Salma : Nggak papa sih, yang penting nanti pas lahiran aku maunya ditemenin sama kamu.


Ayah Ody : Pasti Sayang.


Salma : Biar kamu juga tahu gimana sakitnya melahirkan.


Ayah Ody : Iya. Udah tidur, besok takutnya kesiangan.


Salma : Hm. Kamu ati-ati kerjanya, safety first.


Ayah ody : Siap, Yank.


Setelah pesan terakhir dari Sabda Salma tidak lagi membalas. Dia memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Dan ke esokan harinya setelah mengantar Aundy pergi ke sekolah. Salma langsung pergi ke rumah sakit. Pagi ini dia mendapat nomor antrian lima jadi tidak terlalu lama menunggu gilirannya tiba.


Salma kembali bertemu dokter Wira, dia menyerahkan buku pink yang dua Minggu lalu dibekalkan padanya.


“Jadi dua minggu yang lalu belum terlihat ya?" tanya dokter Wira usai membaca sekilas tulisannya di buku KIA milik Salma.


"Belum, Dok."


"Silakan naik ke ranjang, Bu!" minta sang dokter, seraya mempersilakan Salma naik ke atas ranjang pemeriksaan.


Kali ini Salma jauh lebih rileks, mungkin efek dari alunan music classic yang diputar oleh sang dokter jadi sedikit menenangkan dirinya.

__ADS_1


“Jadi gimana, Dok? Calon anak saya sehat, kan?” tanya Salma, saat dokter Wira masih saja sibuk menggerakan transducer di atas perutnya. Dia penasaran sudah sebesar apa calon anaknya itu.


__ADS_2