
"Bunda, kapan ayah nyampe-nya?" Aundy merengek sambil bergayut manja di lengan Salma, khas anak kecil yang sudah tak sabaran menanti kehadiran cinta pertamanya, yaitu ayah.
Sepertinya, kerinduan yang mendera sudah mencapai titik akut. Mungkin, imbas dari kebiasaan Aundy yang tak luput dari perhatian Sabda setahun terakhir ini. Sama hal-nya dengan Salma. Selayaknya donat, yang ada lubangnya di tengah, begitulah dia tanpa kehadiran Sabda Baghaskara di sisinya.
Sebenarnya, ketika kabar duka itu sampai di telinganya. Salma ingin mendampingi Sabda yang diyakini pasti tengah kacau atas kepergian sang ayah. Tapi pria itu melarang keras, karena tidak ingin terjadi sesuatu padanya. "Nanti, tengah malam, mungkin. Ody tidur dulu saja! kalau ayah sudah sampai rumah biar bunda bangunkan kamu."
Wajah Aundy tertekuk, bibirnya manyun beberapa centi. Dia masih ingin menunggu sang ayah, membongkar oleh oleh dan titipan Akung Arif. Tapi karena rasa kantuknya sudah tidak bisa dibendung lagi. Ia pun segera masuk ke dalam kamar. Berharap saat matahari terbit sang ayah sudah ada di rumah, menyambutnya dengan pelukan.
"Mimpi indah, Ody!" kata Salma seiiring langkah kaki Aundy yang bergerak memasuki kamar.
Melihat pintu kamar Aundy sudah tertutup rapat, Salma yang masih duduk di depan layar tv kembali memakan buah naga di pangkuan. Tidak peduli dengan jarum jam yang sudah menunjukan pukul 10 malam. Si utun malam ini bergerak aktive, seolah protes sedang kelaparan. Biasanya kalau nggak dituruti, mualnya bisa sampai subuh. Dan Salma nggak mau, mengingat tidak ada siapapun selain mereka berdua di rumah.
Salma meraih ponselnya. Dia ingin mencaritahu apa pria itu sudah perjalanan ke rumah atau belum mengingat dua jam yang lalu Sabda mengatakan, jika sudah sampai di bandara.
Ayah Ody : Yang, sampek mana?
Melihat nomor Sabda sedang online, Salma buru-buru mengirimkan pesan ke nomor Sabda. Dan benar pria itu langsung membalas pesannya.
Ayah Ody : Lagi stop buat makan malam. Kamu udah makan, Yang? Mau aku bawain sesuatu?
Salma membidik kamera, mengirimkan foto buah naga yang menjadi santapannya malam ini.
Ayah Ody : Lagi makan buah naga, Yang. Si B mau ibu nya gendut. Masa dari tadi nendang nya aktiv banget. Kayanya retak deh tulang rusukku kena tendangan Brandon.
Ayah Ody : lah? Serius? Besok aku anterin rontgen ya. Itu si Brandon kangen di tengok ayahnya, bukan lapar, Yang!
Salma tertawa kecil. Lalu kembali mengetikan balasan.
Ayah Ody : Yang kangen aku bukan si B. Buruan pulang yang! Kangen kelon!
__ADS_1
Ayah Ody : 😂 Dasar, jablay. Kamu! Tidur sana, Yang! Udah malam. Aku bisa masuk lewat belakang.
Salma mengirimkan foto selfie, bergaya sok imut dengan rambut di sampirkan di salah satu bahunya.
Ayah Ody : Brandon nangis nih, masa bundanya di olok jablay hanya karena ingin kelon.
Ayah Ody : Iya aku pulang, nih. Pulang bawa oleh-oleh banyak buat kalian. Udah kirim fotonya, jangan bikin adikku tegang!
Ayah Ody : 😘😘😘 amit-amit, dibuka aja belum udah tegang.
Cukup, Salma menghentikan aktivitasnya mengirim pesan ke nomor ayah Ody. Hal itu hanya akan membuat bibirnya terus menebar senyum dan berimbas pada perutnya yang keram.
Setelah buah naga di pangkuan Salma habis, wanita itu segera masuk ke dalam kamar. Perlu beberapa kali membolak-balikkan tubuhnya agar menemukan posisi yang nyaman untuk terlelap. Sampai akhirnya alam mimpi pun menyambutnya dengan hangat.
Saat tengah malam tiba, terdengar suara mobil ELF berhenti di depan rumah. Salma nyaris saja melompat dan lari ke luar kamar bersiap untuk membuka pintu. Dia sudah tidak sabar ingin mencium wangi Sabda, memeluknya erat mengobati kerinduan.
Namun, gerakan tangan Salma yang hendak membuka handle pintu terhenti saat terdengar suara perempuan berbicara di teras rumahnya. Suara yang sangat dikenali, membuat Salma ragu untuk menyambut kepulangan Sabda.
Salma kembali ke posisinya, terlentang meski rasanya begah. Semakin sesak karena diam-diam menyimpan kekesalan di dalam dada. Dia kecewa, karena Sabda tidak meminta pendapatnya dulu? Main ambil keputusan sendiri? Padahal pria tahu jelas, kalau hubungannya dengan sang mertua tidak baik-baik saja!
Suara pintu terbuka terdengar, mata Salma langsung terkatup rapat, menyadari Sabda sudah masuk ke kamar.
"Assalamualaikum...."
Salma tahu apa yang dilakukan saat ini adalah dosa. Dia sengaja tidak menjawab salam suaminya, karena rasa kesalnya belum sembuh.
"Sayang, udah tidurkah?" tanya Sabda. Lalu menyelimuti tubuh Salma saat tak menerima respon apapun. Sabda kembali keluar kembali menemui Bu Habibah yang ikut ke Tabalong.
"Salma udah tidur, Bu. Gimana kalau ibu tidur sama Ody?"
__ADS_1
Samar-samar Salma yang masih berada di dalam kamar masih bisa mendengar ucapan suaminya yang meminta Bu Habibah tidur dengan Aundy. Hati Salma semakin perih, rasanya tidak ikhlas saja.
Setelah lima menit berlalu sepertinya Bu Habibah sudah mendapatkan tempat yang nyaman untuk tidur. Terbukti Sabda saat ini sudah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Salma kesal karena kini tidak bisa kembali terlelap. Dia kesulitan memikirkan apa yang akan terjadi besok saat dia bertemu dengan Bu Habibah.
"Kenapa nggak minta pendapatku dulu sebelum membawa ibu ke rumah?" Lelah berpura-pura, Salma langsung melempar pertanyaan itu kepada Sabda yang baru saja merebahkan tubuhnya di sampingnya.
Sabda menoleh ke arah Salma. Lalu mencoba menebarkan senyuman. "Aku maunya begitu, tapi aku yakin bakal menerima penolakan darimu, Yang!" Sabda tidak ingin menjadikan itu sebagai pilihan. Jadi, langsung saja membawa ibunya ke Tabalong untuk tinggal dan hidup bersama mereka. "Sayang, seburuk-buruknya ibuku, itu tetap ibuku juga. Aku nggak tega ninggalin dia sendirian di Jawa."
"Ya udah kalau gitu biarkan aku dan Ody pergi dari hidupmu!"
Helaan napas panjang Sabda lakukan, ini respon yang dihindarinya. Dia tidak mau memilih satu dari mereka. "Kenapa bicara begitu? Sayang—hidupku nggak bakal baik-baik saja tanpa kamu. Tapi mengingat kembali kebaikan ibu, yang sudah melahirkan dan merawatku, mendidikku sampai aku mandiri, dan bisa seperti ini rasanya apa pantas jika aku menelantarkan ibu? Aku nggak tega meninggalkan dia sendirian."
"Sayang, kamu juga seorang ibu! Sebentar lagi kamu juga akan memiliki anak laki-laki. Kamu nggak mau kan Brandon mengabaikan mu?"
Salma memutar tubuhnya membelakangi Sabda, dia hanya khawatir kejadian yang dulu pernah terjadi kembali terulang. Dia hanya takut pernikahannya bubar dan kali ini dipisahkan oleh Bu Habibah.
"Yang—kalau memang kamu nggak bisa menerima ibu. Besok pagi-pagi aku akan nyari tempat yang baru untuk ibuku. Udah kamu jangan marah. Kasihan Brandon, di sini nanti ikut kepikiran." Sabda berusaha mengungkapkan solusi dari masalah pernikahannya saat ini.
"Aku harus gimana? Aku takut ibu belum berubah dan ingin misahin kita, Mas. Kamu nggak ada di rumah 24 jam, bisa saja dia jelek-jelekin aku di belakangmu! Ngadu ini itu ke kamu," Kata Salma sambil terisak.
"Apaan sih, Yang? Kita udah lama bareng-bareng, lho, Yang! Aku udah hapal luar dalam sifatmu. Kalaupun memang ada yang jelek-jelek in kamu. Kalau itu fakta artinya aku yang salah nggak bisa mendidikmu dengan baik. Dengar ya ... Apapun yang terjadi, percayalah Mas Sabda yang memesona ini nggak bakal ninggalin kamu!" Sabda merangkul tubuh Salma dari balik tubuhnya, tangannya mengusap lembut perut Salma yang membuncit, mengobati kerinduannya menyentuh si Brandon yang sibuk menendang.
"Kalau begitu, begini aja. Biarkan ibu di sini tapi kalau sifat dan wataknya masih kaya dulu. Kamu wajib mencarikan kontrakan buat aku dan Ody. Katamu kan nggak bisa di dalam satu atap ada dua ratu. Harus satu kan? Takutnya aku dan ibu berantem dan hubungan kami semakin buruk." Salma memutar tubuhnya, menghadap Sabda. "Gimana? Setuju?"
"Okay, aku setuju." Sabda mencium kening Salma cukup lama. "Kamu tahu siapa yang menyarankan aku untuk membawa ibu?"
"Siapa?" tanya Salma cepat.
__ADS_1
"Ibu mertua."