
"Astagfirullah, kenapa nggak bilang dulu sih, Sal! katanya Ody masih trauma kenapa dibawa naik mobil!" protes Bu Deva mengomeli tindakan Salma, meskipun bibirnya tak henti mengomel dia tetap menunjukan kamar kosong, meminta Sabda untuk meletakan Aundy di sana. "Kamar mu belum ibu bersihkan!" imbuhnya seraya melirik ke arah Salma.
"Iya, enggak papa, Bu! Ody begitu semangat saat kukasih tahu Panji hendak menikah, pas juga mas Sabda cuti. Karena mereka anak kami berdua, ya kamu berusaha untuk menyembuhkan Ody, Bu." Salma menjelaskan ulang.
"Bandelnya tetep nggak sembuh ya!" Cibir Bu Deva, seraya melirik kesal ke arah Sabda yang sedang merebahkan tubuh Aundy ke atas ranjang.
"Aku pamit ya, Sal!" lirih Sabda.
"Emang Mas Sabda mau tidur di mana?" tanya Salma penasaran.
"Biasa, ngungsi dulu tempat Rendi. Tenang aja, aku nggak jauh -jauh kok. Kalau ada apa-apa kirim wa-wa aja!" Pesan Sabda. Kemudian berpamitan pada Bu Deva. Sabda berusaha ramah, menanyakan keberadaan pak Arif saat ini. Mendengar jawaban Bu Deva jika mantan mertuanya itu sedang pergi ke masjid, ia pun bergegas pamit.
Bu Deva langsung melemparkan tatapan curiga ke arah Salma, setelah pintu kamar berhasil ditutup rapat oleh Sabda. Seakan protes mengenai kedekatan Sabda dengan wanita itu. "Kenapa harus Sabda sih, Sal?" tanya Bu Deva, seraya membantu Salma melepas jaketnya.
"Hah?"
"Kenapa harus pria itu?"
Salma meringis. "Soalnya cuma dia yang mau sama Salma, Bu."
"Dasar kamu ini! Banyak kalau kamu nya mau. Tapi sepertinya cuma Sabda yang kamu anggap laki-laki!"
Salma tersenyum malu-malu. "Tapi, ibu setuju, kan dengan pilihan Salma?"
"Ibu itu masih sakit hati, dia selingkuh, Sal! Coba lihat dulu anaknya pak Rudi—pasti kamu bakalan suka."
Salma menggeleng sebagai aksi penolakan atas apa yang disarankan ibunya. "Bu Deva yang terhormat, Salma udah malas mengenal cowok baru, Bu. Tunggu sebentar Salma mau tanya, Ibu kenal sama Regina kan? Mantan menantu teman ibu yang buka salon itu. Bukankah Bu Rembulan juga pernah cerita kalau putranya salah paham mengenai perselingkuhan istrinya. Posisi Salma saat ini sama dengan Mas Raffa, Bu. Yang membedakan adalah jenis kelamin kita dan, Salma sudah pernah menikah dengan pria lain."
"Berarti ini semua salahmu? Kamu yang salah, karena gegabah mengambil keputusan? Begitu? Sebenarnya Sabda nggak selingkuh? Kamu mau bicara begitu, kan?" tebak Bu Deva.
Sejujurnya bukan hanya itu yang menjadi pertimbangan dulu Salma mengambil solusi untuk bercerai. Tapi jika Salma menceritakan perlakuan buruk mertuanya, pasti ibu akan semakin gencar menolak hubungannya dengan Sabda.
__ADS_1
"I—iya, Bu! Salma dulu terlalu muda, mudah terpancing emosi dan Salma tidak bisa mengendalikan emosi Salma yang menggebu-gebu. Apalagi melihat suami mesra sama wanita lain!" Salma membuang napas berat. "Ibu, please—kasih kesempatan kedua ya! Aku yakin mas Sabda bisa menjaga kami."
Kini giliran Bu Deva menarik napas dalam-dalam. Menentang pun percuma. "Ibu sudah membicarakan ini dengan Bapakmu. Semalam sebelum kami tidur, ibu sengaja menceritakan kehadiran Sabda di hidupmu. Ibu yakin, selama setahun ini Sabda bingung mencari keberadaan kalian. Mungkin berkat usaha kerasnya juga dia bisa menemukanmu dan Ody." Bu Deva kembali bungkam membuat Salma semakin penasaran dengan hasil keputusan obrolan orang tuanya semalam.
"Lalu? Apa jawaban bapak?" tanya Salma mulai tak sabaran.
"Bapak masih ingin melihat, keseriusan dan sejauh apa upaya yang dilakukan Sabda. Kalau Bapakmu merasa sudah cukup puas, mungkin kalian bisa mendapatkan restu darinya."
Salma tersenyum lega. Sebenarnya restu kedua orang tuanya tidak sesulit yang dia bayangkan. Yang lebih sulit itu membujuk Bu Habibah.
"Kalau ibu sendiri, gimana? Dengar Bu! Salma nggak akan mau menikah tanpa restu dari ibu."
Bu Deva tersenyum masam dengan mata sudah digenangi cristal bening. "Ibu bisa apa kalau kenyataanya kamu udah bucin banget sama Sabda. Cuma, seandainya nanti kalian benar-benar rujuk, ibu mau minta syarat ke Sabda supaya tidak menempatkan kalian dengan bu Habibah. Ibu trauma dengan cerita tetangga, anaknya Bu Rosiana, masak dia cerai gara-gara mertuanya yang terlalu ikut campur. Ibu akan mengajukan syarat supaya kamu tetap di sini atau dia membawaku ke tempat kerja."
"Bu, mas Sabda bilang ke Salma dia diusir dari rumah. Bukan bermaksud senang dengan perilaku mas Sabda saat ini. Tapi Salma lebih kekasihan aja sama mas Sabda karena dari dulu hidupnya diatur oleh ibunya. Dia mangkir dari perjodohan Bu. Dan membuat Bu Habibah marah dan mengusirnya."
"Dia ninggalin orang tuanya demi kamu?"
Salma mengangguk, ragu takut kena omel. Di mana-mana melawan orang tua itu tidak diperbolehkan apalagi ibu. Tapi, entahlah dia merasa saja kalau Sabda berada di jalur yang benar, saat teringat dengan sifat dan watak Bu Habibah.
"Doa aja, Bu. Doa supaya Salma dijodohkan sama mas Sabda."
"Emang dasar kamu ya! Cinta kok sampai segitunya."
Obrolan mereka terjeda saat terdengar salam dari luar kamar. Sama hal nya dengan Bu Deva, pak Arif begitu shock sekaligus senang melihat putri kesayangan yang setahun nggak pulang itu ada di depan mata. Pelukannya tidak mau lepas, seakan dua menit tidak cukup bisa untuk melepas rindu.
"Uti, Akung!"
Suara itu menyita perhatian lansia yang ada di bibir pintu. Gadis kesayangan bukan lagi Salma, melainkan Aundy yang baru saja membuka mata.
"Eh, cucu Akung udah bangun! Ayo mau gendong nggak?! Akung udah siapin boneka besar buat kamu!"
__ADS_1
Aundy malu-malu, tapi tak mengurungkan niatnya untuk langsung naik ke gendongan Akung nya. "Kung, apa laki-laki itu mencariku? Yang dulu kutonjok sampai ibunya datang?"
Pak Arif terpingkal-pingkal. "Enggak sih, tapi dia setiap hari datang—mompain sepedanya," godanya. "Ody kelas berapa sekarang?"
Suara itu semakin mengecil di pendengaran Salma. "Bu, Salma mau istirahat dulu ya. Dari kemarin tubuh Salma rasanya nggak enak banget."
"Kamu nggak sedang hamil kan, Salma?!" tanya Bu Deva curiga.
Mata Salma membulat sempurna. "Salma masih waras, Bu! Nggak lah, Bu! Salma justru sedang bermasalah dengan perut Salma."
"Syukurlah— ibu nggak mau kamu hamil tanpa suami."
"Ih, ibu—enggaklah, Bu! Jangan sampai." Salma membalas, sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.
"Tidurlah, nanti kalau sarapan udah siap ibu bangunin kamu!"
"Ya." alih-alih langsung memejamkan mata, Salma justru membuka ponselnya.
Ayah Ody : Salmaaaaaa
Salma : Nggak jelas banget sih!
Ayahe Ody : Salmaaaa, I love you.
Salma : Gila!
Ayahe Ody : Besok acara Panji pakai batik ya.
Salma : Udah tidur!
Ayahe Ody : Nggak bisa! Eh iya mumpung kita lagi di Semarang. Aku antarin kamu buat medical check up sekalian ya!
__ADS_1
Salma : Enggak usah. Kalau penyakitku ketahuan, tidurku malah nggak bisa tenang.
Ayahe Ody : Nggak terima penolakan, lusa setelah acara Panji aku bawa kamu ke RS.