
Dengan tangan bergetar Salma berusaha merogoh ponselnya di dalam tas. Sudah sejak sepuluh menit yang lalu dia keluar dari ruangan dokter Wira. Tapi tetap saja dia belum bisa merasa tenang. Kabar buruk yang baru saja disampaikan oleh dokter begitu menyakitkan, hingga Salma kesulitan mengontrol kesedihannya.
Cukup lama Salma menatap nanar layar ponselnya. Setelah merasa cukup siap, Salma menekan nomor Sabda. Ya, jika itu mengenai kesehatan calon anak mereka yang dihubungi pertama adalah pria itu. Beda lagi jika dia memiliki masalah dengan Sabda maka hanya ibu yang bisa memberinya nasihat -nasihat menenangkan.
Perlu dua kali percobaan akhirnya Salma bisa mendengar suara Sabda. Dia berusaha tenang, bicara pelan-pelan dan meminta pendapat pria itu.
"Hallo, Mas ...."
Hanya terdengar suara berisik dari seberang telepon. Dia yakin saat ini Sabda sedang tidak berada di kamarnya. "Mas Sabda lagi di mana?" tanya Salma.
"Hai, aku lagi main ke barak lama, liatin anak-anak main PS." Lalu terdengar teriakan Sabda, mengumpat akibat kalah dengan lawan sepermainan. Itu artinya dia sedang tidak melihat melainkan memainkan game. "Hai, Sayang ... Ada apa?"
Kali ini Salma bisa mendengar dengan jelas suara Sabda. Pria itu mulai fokus dengannya. "Emang nggak capek ya habis masuk malam langsung main gitu?"
"Capek sih, tapi nanggung, kalau aku pakai tidur nanti kelewat salat Jum'at nya."
Salma me remas ujung blouse coklat yang dikenakan. Berusaha menahan dadanya yang semakin terasa ngilu dan sesak. Satu kekhawatirannya, Sabda kecewa atau bahkan marah padanya.
"Aku balik kamar, deh! Sepertinya serius banget," kata Sabda. Tak lama terdengar suara langkah dari seberang panggilan, suara keramaian yang tadi menyapa pendengaran Salma berubah samar, perlahan dan pasti suara itu benar-benar hilang, berganti dengan keheningan.
"Hari ini Mas Sabda libur kan?" tanya Salma.
"Iya. Besok masuk pagi. Kenapa? Kok kedengarannya sedih gitu."
Salma nggak bisa bayangin gimana perasaan Sabda dan Aundy setelah tahu jika mereka bakal kehilangan mimpi yang setiap malam selalu menjadi obrolan keduanya.
"Mas, aku punya kabar buruk untukmu. Aku nggak tahu harus apa, dan dengan siapa aku harus membagi kesedihanku selain kamu, Mas!"
__ADS_1
"Sayang ... Jangan begini, cerita aja, aku udah sampai kamar, nih! Aku siap dengar setiap kata yang kamu sampaikan."
Salma mengumpulkan keberanian untuk menyatakan semuanya kepada Sabda. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum memulai ceritanya. "Mas, dokter bilang nggak ada harapan buat ngelanjutin kehamilanku. Kita harus mengambil tindakan karena dokter bilang janinnya berkembang di luar rahim."
Hening, Salma tidak mendengar respon apapun dari Sabda. Sepertinya, pria itu juga sedang memikirkan kondisinya.
"Ya, sudah segera ambil tindakan, Yang!" sahut Sabda, tegas.
Tanpa malu Salma menangis di kursi tunggu yang kini ditempati. "Aku udah dengar detak jantungnya, Mas. Aku nggak tega ...." Adunya, seiring napas Sabda yang terdengar memburu. "Dia udah bisa gerak-gerak! Tapi ...."
Suara tangis Salma lebih mendominasi, hingga yang keluar hanyalah napasnya yang tersendat-sendat. "Dok—ter bilang, janin itu berkembang di saluran tuba. Kalau nggak segera diambil tindakan, itu akan merusak saluran tubaku dan mengakibatkan pendarahan. Aku harus gimana, Mas?!" Bingung, Salma bingung harus menyikapi seperti apa. Di sisi lain dia masih ingin memiliki bayi itu terlebih saat tadi mendengar detak jantungnya, ada rasa tidak tega untuk menghentikannya. Tapi di sisi lain jika dia tetap mempertahankan janinnya, itu akan mengancam nyawanya sendiri.
"Udah, kamu tenang dulu! Sebaiknya ikuti kata dokter. Mereka pasti udah banyak menemui pasien seperti kamu. Jika dokter menyarankan seperti itu sebaiknya lakukanlah, Yang. Aku nggak mau terjadi hal buruk denganmu!"
Air mata Salma semakin mengalir deras, mendengar suara serak dari seberang panggilan. Pasti keadaan ini juga menyiksa Sabda. "Ak—aku mau coba ke dokter lain dulu. Bisa saja dokter itu salah diagnosa."
"Dua kali, Mas? Dulu juga gitu. KENAPA HARUS KITA LAGI?"
"Karena Allah tahu kamu bisa melewati ini, Sayang! Kamu sedang diperhatikan Allah, dia menyayangimu. Allah tahu kapan waktu yang tepat untuk kita memiliki bayi lagi. Jangan sedih, ikhlas memang tidak semudah kata, tapi yakinlah di depan sana akan ada hal baik untuk keluarga kecil kita."
Salma tidak bisa berkata-kata lagi. Dia butuh waktu sendiri, menenangkan pikirannya yang kacau. "Aku pamit dulu, aku akan cari dokter lain."
"I—iya. Hati-hati ya! Kabari aku apapun hasilnya, okay? Aku akan menunggu kabar mu."
Salma tidak merespon dia langsung memutus panggilan tersebut. Setelah mulai tenang dia keluar dari rumah sakit umum, dia mencari alternatif dokter lain berharap dengan dokter lain akan beda hasilnya.
Akan tetapi semuanya sama. Dokter Yeslin, Sp.Og seorang dokter perempuan yang sudah lama jam terbangnya pun berkata sama. Dia mengalami kehamilan ektopik di mana janin berkembang di luar rahim. Dan calon anak Salma berkembang di saluran tuba, jika janin semakin besar dan tidak segera diambil tindakan, saluran tuba bisa pecah dan bagian yang rusak terpaksa harus diangkat.
__ADS_1
Hati Salma semakin hancur, kram di perutnya mulai terasa menyakitkan. Yang jauh lebih mengganggu pikirannya, bagaimana nanti menjelaskan semua ini kepada Aundy. Memberi pengertian jika dia harus merelakan adiknya demi dia bisa selamat.
Salma kembali mengadu pada Sabda usai menemui dokter. Dia selesai pukul tiga sore. Bahkan tadi sempat mengutus Biyan untuk menjemput Aundy di sekolah.
"Nggak bisa, Mas. Jalan satu-satunya memang harus seperti itu. Kita harus menghentikan perkembangan janin demi menyelamatkan aku." Salma mengadu.
"Ya sudah. Nggak papa, kamu ikhlaskan saja! Nyawamu lebih berharga! Aku dan Ody masih pengen kamu di sini."
Kali ini Salma menangis tanpa suara, hari ini tiga dokter ia temui mereka menyatakan bayinya sehat detak jantungnya normal. Tapi, sekarang dia harus merelakan anaknya kembali ke pangkuan Tuhan.
"Sayang, Salma ... panggil ibu ya! Minta ibu dan Bapak buat datang ke Kulonprogo. Aku akan menelpon mereka."
Salma memang butuh dukungan dari keluarga di saat seperti ini. Dia pun merasa sungkan untuk menelpon ibu karena sebenarnya mereka belum mengetahui mengenai kehamilannya.
"Yang, sebaiknya kamu pulang dulu. Tenangkan dirimu, okay!"
"Iya ..." Jawab Salma lemah.
"Tenanglah, secepatnya aku akan ngajuin cuti emergency! Aku akan pulang secepatnya."
"Ya."
Biasanya Salma akan menolak, tapi kali ini dia tidak menolak karena butuh dukungan Sabda.
Saat tiba di rumah, Salma bisa melihat Aundy bermain dengan Biyan. Sedangkan Bu Muna dan Aruni baru menghitung penghasilan kedai hari ini.
Salma berusaha menutupi apa yang terjadi pada janinnya, dia berusaha tersenyum menutupi apa yang saat ini dirasakan.
__ADS_1