
Endra tahu. Dia sangat paham sifat Salma yang enggan memberikan kesempatan kedua bagi seorang pengkhianat seperti dirinya. Tapi, perasaanya untuk Salma begitu menggebu.
"Ya aku tahu, Salma. Dan aku akan mengemis kesempatan kedua padamu!" ujarnya penuh percaya diri.
Salma tidak begitu excited dengan perkataan Endra. Dia justru fokus ke arah ombak yang mendatangi langkah mereka.
"Salma, kasih aku kesempatan ke dua. Aku ingin jadi suami yang baik untukmu! aku ingin menebus kesalahan yang udah aku lakuin ke kamu. Jadi, please beri aku waktu buat itu semua."
"Maaf, Mas. Aku tidak bisa!" tolak Salma, tegas. "Sudah ada orang lain di hatiku. Buatku, mas Endra adalah bagian dari pelajaran hidup."
Kedua tangan Endra yang berada di samping tubuhnya mengepal kuat. "Si—siapa orang itu?!"
Salma menggeleng, pelan. "Aku tidak akan memberitahu siapapun, sebelum kami benar-benar resmi."
__ADS_1
"Kalau begitu, artinya kamu membohongiku? Kamu masih bebas atau kamu takut aku akan merusak hubungan kalian?"
Salma terkekeh, dia tidak begitu paham dengan jalan pikiran Endra. "Kenapa juga aku harus membohongimu, Mas. Asal Mas Endra tahu aja, setelah aku datang ke kantor pengadilan hari itu, aku berusaha keras membuang semua tentangmu. Dan itu sangat mudah karena apa yang kamu lakuin bersama Arienta teramat menyakitkan dan pantas buat dibenci!"
"Enggak, enggak! enggak boleh gitu, Sal! kasih aku kesempatan kedua buat benahi semuanya!"
"Kamu sendiri yang bermain -main dengan pernikahan kita, Mas!"
"Kamu nggak ngerti bingungnya aku. Apa yang harus aku lakuin tanpa kamu, Sal?! Jadi, please!" rengek Endra memohon.
Salma memberontak dengan kuat, meminta Endra supaya melepas pelukan itu. Tapi tubuh Endra yang kuat dan besar tak mampu dijauhkan darinya. "Lepas, Mas!" Pinta Salma. "Lepaskan, aku enggak bisa napas!" Tangannya terus bergerak, berusaha menjauh dari Endra.
"Sebentar saja, Sal!" Pinta Endra, memelas. "Setenang ini diriku memelukmu! Hidupku sedamai ini saat bersamamu." Endra berkata lirih, menjelaskan apa yang tengah dirasakan hatinya saat ini. Selama ini dia seperti kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya, dan ternyata dia menyadari sudah kehilangan Salma. Dia tidak bisa hidup tanpa Salma.
__ADS_1
"Maafkan aku, Sal! maaf!"
"Aku udah maafin Mas Endra kok. Nggak ada gunanya juga menyimpan dendam. Kita masih bisa berhubungan, tapi sebatas kenal saja!" Salma pikir, Endra hanya ingin memeluknya tapi kepalanya yang menunduk dan gerakannya yang tiba-tiba membuat Salma tersentak. Bibirnya kini sudah dibungkam oleh bibir Endra. Tangannya terus bergerak, Salma memberontak, berusaha menjauhkan tubuhnya dari Endra. Mulutnya terkatup rapat, enggan memberi akses Endra untuk menikmati bibirnya jauh lebih lama.
Isi kepala Salma mendadak kosong, jantungnya berdegup lebih cepat antara takut dan khawatir diketahui orang. "Lepas!" Gumamnya dengan mulut masih tersimpan di bibir Endra. Hingga suaranya tak terdengar jelas.
Bukannya melepas Endra justru semakin asyik menikmati bibir Salma. Satu tangan Pria itu menekan hidung Salma, menutup akses napas, supaya mulutnya bisa terbuka. Salma yang merasa dilecehkan hanya bisa menitihkan air mata. Dia menyesal sudah memberi waktu pada Endra.
"Gila, kamu mas!" Umpat Salma usai cium man itu terlepas. Kakinya mundur, berusaha membentangkan jarak dengan Endra. Satu tangan Salma langsung menampar keras pipi kanan Endra, sebagai hadiah atas perbuatannya.
"Aku mencintaimu, aku nggak bisa tanpa kamu, Sal! kita harus sama-sama!" mohon Endra sambil mengusap pipinya yang terasa panas.
Salma tidak peduli lagi dengan ucapan pria gila di depannya. Dia berniat kembali ke kedai, meninggalkan pria itu sendiri.
__ADS_1
Namun, saat tubuhnya berbalik, pandangannya jatuh pada sosok Sabda yang berlenggang ke arahnya. Wajah merekah yang ditampilkan Sabda, terlihat jelas pria itu sedang menahan amarah.